Tirakat KH. Hasyim Asy'ari saat Mentashih Rumusan Pancasila.

 
Tirakat KH. Hasyim Asy'ari saat Mentashih Rumusan Pancasila.

LADUNI.ID, Jakarta -  Bangsa Indonesia yang membangun kembali negara nasional (negara bangsa) memahami identitasnya yang jamak (majemuk). Hal ini diwujudkan oleh pada pendiri bangsa agar rumusan dasar negara mendukung kepentingan bersama. Kepentingan bersama ini menjadi prinsip terdepan untuk membangun persatuan sehingga lahirlah Pancasila.

Proses merumuskan Pancasila ini bukan tanpa silang pendapat, bahkan diskusi yang sengkarut terjadi kompilasi Islam tertentu ingin memperjelas identitas keislamannya di dalam Pancasila. Padahal, sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang dirumuskan sepenuhnya dan penuh makna oleh KH Wahid Hasyim merupakan prinsip tauhid dalam Islam.

Di antara tirakat Kiai Hasyim adalah puasa tiga hari. Selama puasa tersebut, beliau meng-khatam-kan Al-Qur'an dan membaca Al-Fatihah.Setiap membaca Al-Fatihah dan sampai pada ayat iya kana 'budu waiya kanasta'in , Kiai Hasyim mengulangnya hingga 350.000 kali. Kemudian, setelah puasa tiga hari, Kiai Hasyim Asy'ari melakukan shalat istikharah dua rakaat.

Rakaat pertama dia membaca Surat At-Taubah sebanyak 41 kali, sedangkan rakaat kedua membaca Surat Al-Kahfijuga sebanyak 41 kali. Kemudian beliau istirahat tidur. Sebelum tidur Kiai Hasyim Asy'ari membaca ayat terkahir dari Surat Al-Kahfi sebanyak 11 kali.

Paginya, Kiai Hasyim Asy'ari mengundang pasangan Wahid Hasyim dengan mengatakan bahwa Pancasila sudah dipertaruhkan oleh apa yang ditulis dalam Piagam Jakarta (Ketuhanan dengan pengantar syariat Islam untuk pemeluk-pemeluknya) perlu ditiru oleh Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sebagai ketauhidan dalam Islam.

Sila-sila lain yang termaktub dalam sila ke-2 hingga sila ke-5 juga sudah sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip pengajaran Islam.

Karena mengajarkan Islam juga menangani kesadaran, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Atas lahir, batin Kiai Hasyim Asy'ari ini, akhirnya rumusan Pancasila dapat diterima oleh semua pihak dan menjadi pemersatu bangsa Indonesia hingga saat ini.

Sumber: KH.Ahmad Muwafiq