Biografi KH. Zainul Arifin Junaidi

 
Biografi KH. Zainul Arifin Junaidi

Daftar Isi Profil KH. Zainul Arifin Junaidi

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Kisah Bersama Presiden Ke-4
  4. Karier di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Zainul Arifin Junaidi atau yang kerap disapa dengan panggilan Arjuna lahir pada 17 Mei 1959, di Desa Pucangrejo, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari HA Djoenaedy, seorang tokoh masyarakat setempat

Kakek buyut Arjuna juga dikenal sebagai ulama berpengaruh di daerah itu dan tidak jauh dari garis perjuangan NU.

Pondok Pesantren Al-Ittihad Poncol yang berdiri sejak tahun 1885 adalah salah satu peninggalan dari buyutnya, KH. Misbah dan kakeknya KH. Hasan Asy’ari. Dan sejak 2007 ia diberi amanah oleh keluarga untuk memimpin  pesantren tersebut hingga sekarang.

Pendidikan

Semasa kecil Arjuna belajar mengaji kepada KH. Ahmad Al-Asy’ari, pamannya, di Pondok Poncol. Setelah itu nyantri ke Pesantren Al-Hidayah Kendal yang diasuh oleh KH. Ahmad Abdul Hamid Al Qandaliy.

Sebagai anak tokoh NU yang hidup di tengah masyarakat NU, Arjuna juga tidak pernah lepas dari pendidikan NU. Mula-mula di Madrasah Diniyah NU di kampung (1970), lalu MTsNU di kota kecamatan (1973) dan PGA NU 6 tahun di kota kabupaten (1976).

Setelah selesai pendidikan menengah, kemudian melanjutkan studinya dengan belajar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1985) dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam, ketika kuliah beliau juga ikut mengaji di Pesantren Al-Munawwir Krapyak yang diasuh oleh KH. Ali Ma’shum.

Setelah lulus beliau kemudian menikah. Setelah menikah beliau sesekali ikut belajar beberapa pesantren, diantaranya, di Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh KH. M Yusuf Hasyim, Pesantren Nurul Jadid Paiton yang diasuh oleh KH. A Wahid Zaini, Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati yang diasuh oleh KH. MA Sahal Mahfudz, dan beberapa pesantren lainnya.

Selain menempuh pendidikan formal di kampus, penghobi organisasi dan kuliner itu juga mengikuti berbagai program pelatihan di luar negeri, seperti program konsultan manajemen MIM (Manittoba Institute of Managemen), Canada (1990); program pertanian di School of Wind Chiba, Japan (1990); program pengembangan masyarakat di Chulalangkorn University Bangkok, Thailand (1989); hingga program bahasa/sosiologi di Bond University Gold Coast Queensland, Australia (1996).

Kisah Bersama Presiden Ke-4

Terhitung sejak 11 Januari lalu, saat Arjuna menjadi Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Maarif NU, beliau juga menjadi orang kepercayaan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tak tanggung-tanggung, ia mendampingi perjalanan Gus Dur 24 tahun lamanya.

Berbagai jabatan pernah dipercayakan kepadanya, mulai dari Sekpri, Wakil Sekjen PBNU, Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB  dua periode, Ketua Komisi IV DPR RI, Sekretaris FKB  MPR RI, hingga Sekretaris Presiden.

Hebatnya, sepanjang  masa pertemanan itu, bahkan sampai Gus Gur wafat, hubungan keduanya tidak pernah mengalami konflik serius apalagi putus seperti para tokoh yang lain. Kalau dimarahi sih sudah biasa. Mana ada orang yang tidak pernah dimarahi Gus Dur.

“Hampir tiap hari saya dimarahi Gus Dur. Tapi sekarang saya rasakan hal itu sebagai sesuatu yang manis, karena ternyata melecut saya untuk menjadi seperti sekarang ini,” kenang Arjuna.

Tidak hanya dimarahi, dipecat pun telah berulang kali. Namun anehnya, setiap kali dia dipecat,  beberapa hari kemudian Gus Dur datang ke rumah Arjuna dan memintanya untuk bergabung kembali.

“Ini menunjukkan betapa beliau tidak gengsi mengakui kesalahan atau kekeliruannya,” kenang mantan Manajer Program Nasional UNDP itu tentang tokoh idolanya.

Kesediaan mantan wartawan itu untuk menerima amanat sebagai pemimpin tertinggi di lembaga yang menangani pendidikan di NU itu pun ternyata juga masih berkaitan dengan Gus Dur. Lho, kok Gus Dur lagi. Gus Dur kan sudah wafat? Yah, harus diakui, Arjuna sempat bimbang menerima amanat sebagai Ketua PP LP Maarif NU, mengingat dirinya tidak punya latar belakang ilmu kependidikan.

Beruntung ia ingat kata-kata Gus Dur ‘Saya jadi presiden juga gak pake latar belakang’, menjadikan dirinya tidak ragu-ragu lagi untuk melangkah.

“Sejak saya ingat kata-kata Gus Dur itu, saya jawab siap, asal dibantu dan didukung semua pihak,” ucap mantan Ketua Dewan Syuro DPP PKB setelah Gus Dur mangkat itu berkelakar.

Karier di Nahdlatul Ulama (NU)

Di Nahdlatul Ulama (NU) ia meniti karier mulai dari Wakil Sekjen dan salah seorang Ketua PB PMII (1985-1989) dengan Ketua Umum Drs H Suryadharma Ali, Wakil Sekretaris PP LTN (1985) dengan Ketua Drs HM Ichwan Sam.

Berlanjut menjadi Sekretaris dan terakhir menjadi Ketua (1989-1994), Ketua Divisi Dokumentasi, Divisi Pelayanan Informasi PP Lakpesdam, dengan Ketua MM Billah (1989-1994), Sekretaris PP LBM dengan Ketua KH. Ma’ruf Amin (1989-1994).

Sekretaris PP RMI dengan Ketua KH. A Aziz Masyhuri dan Ketua Perwakilan Jakarta KH. Nur Muhammad Iskandar (1990-1992), Ketua Divisi Pengembangan Lajnah Falakiyah PBNU dengan Ketua KH. Mahfudz Anwar (1992-1994), Ketua Departemen Kesejahteraan (1985-1990) dan salah satu Ketua PP GP Ansor (1990-1995) dengan Ketua Umum Drs. H. Slamet Effendi Yusuf.

Setelah itu Arjuna lebih banyak aktif di PKB mendampingi Gus Dur. Mulai dari perintisan partai (sebagai Ketua Tim Sembilan PBNU, yang ditugasi PBNU untuk membentuk partai politik), anggota DPR RI dua periode, Sekretaris Dewan Syuro, hingga Sekpri Presiden. Kini, kalau ditarik lagi untuk aktif di NU kembali, bagi saya tidak ada masalah. Hanya seperti pindah gerbong begitu saja.

Konsultan beberapa LSM itu mengaku, berbagai pengalaman dan banyaknya jaringan yang ia miliki akan dipergunakan untuk membantu perjuangan NU melalui LP Maarif.

“Saya berobsesi, anak-anak bersekolah di sekolah atau madrasah LP Maarif itu merasa bangga, karena sekolah dan madrasah LP Maarif memang membanggakan,” Arjuna menggambarkan tekadnya.

Sampai saat ini pendidikan di bawah naungan NU masih dikelola beberapa lembaga. TK, RA,  PAUD oleh Muslimat; pendidikan  formal tingkat dasar dan menengah oleh LP Maarif, madrasah diniyah oleh RMI dan LTM, perguruan tinggi oleh LPTNU, sedangkan para guru tergabung dalam Pergunu. Sekadar diketahui, jumlah sekolah dan madrasah di lingkungan LP Maarif (seluruh Indonesia) saja, mencapai hampir 13.000, dengan tenaga pendidik sebanyak 200.000 dan siswa mencapai sekitar 9 juta. Jauh lebih besar dari jumlah sekolah dan madrasah di lingkungan Muhammadiyah yang sekitar 5.500 buah.

Namun keunggulan kuantitas itu belum diimbangi dengan keunggulan kualitas. Karenanya peningkatan kualitas lembaga pendidikan harus diutamakan.

“Dengan tercapainya kesimbangan antara kuantitas dan kualitas, saya berharap LP Maarif dapat berkontribusi dalam menyiapkan anak: baik otak (knowledge), fisik (skill) maupun jiwa (attitude) sehingga bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat, sebagaimana yang dikatakan Sayid Sabiq,” kata Arjuna.

Peningkatan kualitas pendidikan, menurut tokoh yang dikenal santun dan serba bisa itu, dapat dilakukan dengan meningkatkan “pendapat” dan “pendapatan”. Pendapat, artinya pengetahuan, wawasan, ketrampilan dan sikap; sedangkan pendapatan adalah honor, gaji, tunjangan, dll, para tenaga didik.

“Dengan demikian akan terwujud expertise (keahlian), experience (pengalaman) dan consistency (kesetiaan) sebagai syarat profesionalisme tenaga didik di lingkungan LP Maarif,” tuturnya.

Arjuna mengaku siap memanfaatkan jaringan yang dimilikinya untuk kepentingan tersebut. Ia minta agar teman-teman di LP Maarif untuk meneruskan kerjasama dengan lembaga atau instansi manapun yang selama ini sudah berjalan dengan baik, sedangkan dirinya bertugas merintis dan membuka jalur kerjasama dengan lembaga atau instansi yang lain.

Menurut Arjuna, saat ini sudah berjalan kegiatan kerjasama dengan MPR RI, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Segera menyusul realisasi kerjasama dengan lembaga atau instansi lain, baik swasta maupun pemerintah.

Sebagai murid Gus Dur, Arjuna mengaku tidak pernah melupakan pesan gurunya tersebut, bahwa prestise hanya dapat dicapai dengan reputasi, reputasi hanya dapat dicapai dengan prestasi, dan prestasi hanya dapat dicapai dengan super aksi.

Kalau pesan dari KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal lain lagi. Kalau kita mau maju, harus disiplin, bukan diselipin,” kelakarnya.

Selain itu, darah aktifis tampaknya mengalir deras dalam dirinya. Terbukti, sejak masa kuliah Arjuna sudah aktif di NU, pers maupun jaringan aktifis kampus. Bergabung dengan Majalah Arena (dari reporter hingga Pemimpin Umum), Harian Umum Pelita (dari koresponden hingga Kepala Perwakilan Jateng-DIY), Tabloid Warta NU (dari reporter hingga Pemimpin Redaksi), reporter Majalah Tempo, redaktur tamu Majalah Amanah, dlsb, semua telah dijalaninya dalam rentang waktu yang panjang.