Biografi KH. Hasan Abdul Wafi

 
Biografi KH. Hasan Abdul Wafi

Kiai Haji Hasan Abdul Wafi adalah salah seorang pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, dan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, di tahun 1980-an. Ulama pendidik yang dikenal tegas dalam urusan fiqih dan mengajar santri ini adalah aktifis NU yang mendedikasikan hidupnya untuk membesarkan organisasi ulama itu, pesantren serta pengembangan wawasan keagamaan masyarakat.

KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam satu pidatonya di tahun 2001 di Surabaya pernah menyatakan bahwa ada empat tokoh ulama di Jawa Timur yang tidak kuasa baginya untuk menolak perintahnya: KH. Imam Zarkasyi Djunaidi Banyuwangi (wafat 2001), KH. Ahmad Sofyan Miftahul Arifin Situbondo (wafat 2012), dan KH. Khotib Umar Jember (wafat 2014), dan KH. Hasan Abdul Wafi sendiri. Perlu diketahui, KH. Ahmad Sofyan Miftahul Arifin adalah kakak kandung KH. Hasan Abdul Wafi.

Riwayat dan Kelahiran

KH. Hasan Abdul Wafi lahir pada tahun 1923 di Desa Sumberanyar, Tlanakan, Pamekasan, Madura, dengan nama kecil Abdul Wafi. Sejak kecil Lora Abdul Wafi – demikian beliau disapa dan “lora” semakna dengan “gus” di Jawa – telah mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahandanya, KH. Miftahul Arifin. Terutama dalam pelajaran al-Quran, fiqih dan tafsir.

Sekitar tahun 1938, ketika berusia enam tahun, beliau harus rela kehilangan ibunda tercintanya untuk selama-lamanya. Lima tahun kemudian, ayahandanya wafat.

Mengarungi Samudera Ilmu

Beliau nyantri dan berguru pada KH. Abdul Majid bin KH. Abdul Hamid bin KH. Isbat Banyuanyar (wafat 1957) di Pesantren Bata-bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan. Pesantren ini didirikan pada tahun 1363 H./1943 dengan nama Pesantren Mamba’ul Ulum, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Pesantren Bata-bata.

Di pesantren ini, beliau langsung dipercaya oleh Kiai Abdul Majid untuk membantu mengajar dan mendidik para santri. Dalam mengajar, Lora Abdul Wafi merupakan sosok guru yang telaten. Tak jarang beliau membantu beberapa santri yang mengalami kesulitan dalam muthala’ah (mengulang materi pelajaran).

Meski demikian, tak jarang pula beliau marah jika mengetahui ada muridnya yang malas muthala’ah. Lora Abdul Wafi kemudian diminta oleh gurunya untuk memperdalam ilmunya ke Probolinggo dan berguru kepada KH. Zaini Mun’im (wafat 1976), pendiri Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Tapi beliau belum bisa segera melaksanakan perintah gurunya tersebut. Atas izin dan perkenan gurunya juga, beliau meneruskan proses belajarnya ke Tanah Suci Mekkah sekaligus menjalankan rukun Islam kelima, naik haji. Sepulang dari tanah suci, nama beliau kemudian ditambah dengan nama Hasan di depan, sehingga menjadi KH. Hasan Abdul Wafi.

Sepulang dari Mekkah beliau berguru lagi ke beberapa ulama di sejumlah pesantren di Jawa. Di antaranya kepada KH. Sahlan di Pesantren Krian, Sidoarjo, belajar tasawuf selama dua tahun. Selanjutnya pada KH. Musta’in Ramli di Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang, beliau belajar tasawuf sekaligus Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Di Peterongan Kiai Abdul Wafi berteman akrab dengan KH. Hasyim Zaini, putra sulung Kiai Zaini Mun’im. Lalu, pada KH. Munawwir di Pesantren Krapyak Yogyakarta, beliau belajar ilmu-ilmu al-Quran, tafsir dan qira’at.

Baru pada tahun 1957 beliau kemudian nyantri ke Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, bersama kakaknya, KH. Ahmad Sofyan Miftahul Arifin. Di sana beliau nyantri sekaligus membantu kiai pengasuh mengajar. Kiai Abdul Wafi dikenal sebagai orang alim kedua di Nurul Jadid setelah gurunya.

Bahkan sudah hafal kitab Fathu-l-Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari dalam bidang fiqih. Beliau juga sudah hafal kitab Alfiyah dalam 40 hari. Teman-temannya yang sama-sama nyantri di Paiton adalah KH. Badri Mashduqi (keponakan beliau), KH. Wahid Zaini (putra pengasuh pondok), dan Mudawwir (khadam kiai pengasuh).

Kealiman beliau itu ditunjukkan dalam cerita berikut. Suatu ketika salah seorang dosen dari jurusan ilmu hukum Akademi Dakwah Ilmu Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU, berdiri dalam lingkungan Pesantren Nurul Jadid pada tahun 1969) mengajar di kelas. Di antara seorang mahasiswanya adalah Kiai Hasan Abdul Wafi.

Saat ceramah sang dosen menyinggung perkara tauhid. Kiai Abdul Wafi kemudian berdebat dengan sang dosen, seraya meragukan kompetensi dosen, dengan alasan masalah tauhid bukan keahlian dosen ilmu hukum. Perdebatan tersebut tidak kunjung berakhir. Akhirnya keduanya diadukan ke pengasuh pondok, KH. Zaini Mun’im.

Kiai pengasuh kemudian mengusulkan pengganti dosen tersebut. Yang ditunjuk adalah Mudawwir, santri favorit Kiai Zaini. Namun khadam kiai pengasuh ini mengajukan nama lain untuk pengganti dosen itu: KH. Badri Mashduqi, keponakan Kiai Hasan. Kontan saja Kiai Badri jadi bimbang atas tawaran itu, sambil berujar dalam bahasa Madura: “Kadiponapah, se daddi mahasiswanah, Man Toan (Waduh, bagaimana ini... Yang jadi mahasiswanya di sana adalah Man Toan [sapaan akrab KH. Hasan Abdul Wafi]!)”.

Keluarga Beliau

Pada tahun 1958 dalam usia 35 tahun Kiai Hasan Abdul Wafi menikah dengan Nyai Hj. Aisyah Zaini, putri kesayangan Kiai Zaini Mun’im. Mereka dikaruniai 12 putra-putri.

Hasil pernikahan dengan puteri kesayangan gurunya ini, Kiai Hasan dikaruniai 12 putera-puteri, yaitu:
1) M. Ramli (wafat di usia 9 bulan)
2) seorang perempuan (wafat di usia balita dan  belum sempat diberi nama)
3) KH. Kholilurrahman
4) Ny. Hj. Ja’faroh
5) Ny. Hj. Hamidah
6) Ny. Hj. Salma
7) Ny. Hj. Latifah
8) Ny. Hj. Nur Khotimah
9) M. Maemun
10) Ny. Hj. Hilmiyyah Makkiyyah
11) Abdurrahman
12) M. Amin.

Mengabdi di Pesantren Nurul Jadid

Pondok Pesantren Nurul Jadid memang menjadi pilihan terbaik bagi Kiai Hasan Abdul Wafi untuk mengamalkan ilmu sambil melanjutkan proses belajarnya kepada ayah mertuanya. Beliau turut membantu mengajar, mendidik santri dan mengasuh pesantren mendampingi KH. Zaini Mun’im selama hidupnya maupun ketika putra-putra kiai pendiri itu menjadi pengasuh pesantren menggantikan posisi ayah mereka.

Sejak tahun 1976 hingga wafatnya Kiai Hasan Abdul Wafi dipercaya menjadi Dewan Pengawas Pesantren Nurul Jadid. Adapun kitab-kitab yang beliau ajarkan di antaranya adalah kitab Ihya Ulumiddin, Riyadlush-Shalihin, al-Iqna, Tafsir al-Jalalain, Alfiyah, Syarah Ibnu al-Aqil atas kitab Alfiyah, dan Bulughul Maram.

Selain mengajar kitab kuning di mushalla di lingkungan Pesantren Nurul Jadid, beliau juga mengajar di Muallimin 6 tahun dan Perguruan Tinggi Islam dan Dakwah (PTID) Nurul Jadid. Materi keilmuan yang biasa beliau ajarkan adalah fiqih. Juga mengajar di beberapa pesantren di sekitar Probolinggo.

Santri-santri beragam beragam, dari kalangan santri, pelajar, mahasiswa hingga pengurus NU dan kiai-kiai. Pendidik yang dikenal sangat disiplin dan keras ini juga membantu mengajar di Ma’had Ali Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, asuhan KH. As’ad Syamsul Arifin. Ini adalah Ma’had Ali pertama yang didirikan di tahun 1990.

Selain menekuni dunia pendidikan, beliau juga mempunyai perhatian dalam bidang pertanian dan perdagangan. Kiai Hasan Abdul Wafi tidak lupa melibatkan para santri untuk menggeluti dunia tersebut agar mereka tidak mengalami kesulitan mencari nafkah hidup jika nantinya sudah terjun ke masyarakat.

Beliau biasanya memberikan kesempatan pada para santrinya untuk mengolah sawahnya. Hasilnya dibagi bersama secara adil dan merata, sesuai dengan ketentuan fiqih. Yakni menurut sistem musyarakah-mudharabah, yang sudah dipraktikan oleh kalangan umat Islam Nusantara sebelum masuknya penjajahan bangsa Eropa.

Sistem ini dibahasakan dalam Pasal 33 UUD 1945 dengan nama “usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. “Saya ini menerapkan sistem syirkah atau musyarakah. Sebagian hasilnya untuk saya dan sebagian lagi untuk anak santri yang mengerjakan sawah saya,” ujar beliau yang dikenal dermawan dalam membantu santri-santri senior mendapatkan modal usaha.

Kiai Hasan Abdul Wafi memang punya semangat mencetak santri agar benar-benar menjadi orang, bukan “orang-orangan”. Santri tidak boleh nanggung atau mentah dalam belajarnya, tapi harus punya cita-cita yang tinggi untuk mengamalkan ilmunya. Dan bukan sekedar pintar baca kitab maupun jadi sarjana. Para santri harus sungguh-sungguh berjuang untuk agama dan bangsanya.

Beliau juga sering mendorong para santrinya untuk membangun pesantren sendiri di kampungnya. “Alasan beliau meminta saya mendirikan pesantren agar bisa shalat berjamaah secara istiqamah. Kalau kamu andalkan keluarga shalat berjamaah secara istiqamah tidak bisa. Sebab keluargamu suatu saat bisa terkena uzur. Sedangkan kalau punya santri, kamu bisa ajak mereka selalu shalat berjamaah,” tutur salah seorang santri menuturkan nasehat gurunya itu.

Perjalanan Karier Beliau

Selama dekade 1970-an Kiai Hasan Abdul Wafi aktif dalam politik. Awalnya di Partai NU dan menjadi anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari tahun 1971 hingga 1976. Setelah NU kembali ke Khittah 1926 dalam Muktamar Situbondo tahun 1984, Kiai Hasan Abdul Wafi mulai meninggalkan politik, dan fokus mengurus NU dan pesantren.

Keterlibatan Kiai Hasan Abdul Wafi di NU bermula dari penunjukan gurunya, Kiai Zaini Mun’im. Awalnya sejak pertengahan 1960-an beliau dipercaya sebagai Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Paiton. Selama menjabat Rais Syuriyah MWCNU Paiton, pengajian di tingkat ranting berlangsung rutin digelar.

Kekompakan para pengurus juga memudahkan pelaksanaan kegiatan-kegiatan NU. Beliau menekankan perhatian pada penguatan ranting-ranting NU yang merupakan basis massa NU di tingkat bawah. Beliau mengibaratkan sawah dimana ranting NU adalah sangata atau tempat masuknya air ke petak sawah.

Sementara MWC adalah saluran yang mengalirkan air itu hingga menyuburkan tanah dan menumbuhkan padi. MWCNU Paiton pula di bawah kepemimpinan beliau yang pertama kali menggelar acara Hari Lahir (Harlah) NU secara besar-besaran yang melibatkan warga masyarakat dari tingkat bawah.

Selanjutnya Kiai Hasan dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Kraksaan, Probolinggo, dalam dua periode sejak tahun 1971. Selama menjabat Rais Syuriyah PCNU Kraksaan, Kiai Hasan Abdul Wafi tetap meneruskan semangat disiplin dan kekompakan seperti yang beliau tanamkan di MWCNU Paiton demi jalannya roda organisasi.

Hubungan harmonis antara pengurus syuriyah dan tanfidziyah selalu dijaga, meski Kiai Wahid Zaini diganti oleh Rasyid AR yang bukan termasuk keluarga Pesantren Nurul Jadid sebagai ketua tanfidziyah.

Bukti kekompakan itu adalah keduanya saling bersilaturahim. Saking seringnya beliau berkunjung ke rumahnya, Rasyid pernah berujar kepadanya: “Kiai, saya ini tidak pantas dikunjungi Kiai. Karena saya ini hanya seorang tanfidziyah yang santri.” Mendengar perkataan ini, Kiai Hasan langsung menimpali: “Pengurus tanfidziyah dan syuriyah itu harus menyatu.”

Kiai Hasan Abdul Wafi merupakan sosok ulama yang berdedikasi tinggi untuk membesarkan organisasi NU. Kepada para santrinya, Kiai Hasan selalu menganjurkan mereka untuk aktif berjuang di NU. Dan jangan menyimpang dari NU. Beliau juga merupakan sosok pemimpin yang mengetahui detail sejarah perjalanan NU.

Menurut beliau, NU lahir dan berkembang dari masyarakat, bukan dari pemerintah. Beliau mengharap agar NU bisa mandiri dan tidak bergantung pada pemerintah. Sehingga, beliau akan sangat marah melihat ada acara NU tapi pengurus NU tidak mengundang masyarakat untuk ikut serta.

Oleh karena itu tidak heran kalau Gus Dur sendiri sangat ta’zhim kepada beliau, bahkan menyapa beliau sebagai “sayyidi-l-walid” (orang tua sendiri).

Pulang ke Rahmatullah

KH. Hasan Abdul Wafi wafat pada hari Rabu tanggal 31 Juli 2000 dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, tidak jauh dari komplek pemakaman para kiai pengasuh Nurul Jadid.

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber