PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp 0. Donasi Sekarang
 
PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta

Profil
PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta berdiri tepatnya pada tanggal lima bulan Mei tahun 2005 05-05-2005 di Manggisan Baturetno Banguntapan Bantul. Mutiara, adalah sebuah permata. Mutiara menjadi simbol keindahan dan sesuatu yang bernilai tinggi. Sebagaimana anak, adalah amanah Allah, kebanggaan orang tua, dan kekayaan yang tak ternilai harganya. Dengan filosoi itulah maka lembaga pendidikan anak ini diberi nama “Mutiara”, Secara lengkap lembaga pendidikan prasekolah ini diberi nama “Taman Pengasuhan Anak, Play Group dan TK Islam Plus Mutiara”, yang selanjutnya pada Tahun Ajaran 20132014 menjadi satu kesatuan Lembaga “PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta”.

Visi dan Misi PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta

1. Visi dari PAUD Terpadu Mutiara terbagi menjadi dua yaitu visi lembaga dan visi pendidikan.
Visi lembaga PAUD Terpadu Mutiara yaitu:
“menjadikan 96 PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan anak yang unggul dan terke muka di Daerah Istimewa Yogyakarta”.
Visi pendidikan PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta yaitu:
“mengantarkan siswa menjadi anak yang sholeh, cakap, mandiri, dan percaya diri” .

2. Misi yang ingin diwujudkan oleh PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta yaitu:
1 menyelenggarakan program Pendidikan Anak Usia Dini yang professional dan islami,
2 menyelenggarakan layanan dan pencerahan bagi komunitas lingkungan anak usia dini
3 sebagai Laboratorium Pendidikan Anak Usia Dini.

Selain misi yang telah dijelaskan di atas, PAUD Terpadu Mutiara Yogyakarta juga memiliki misi ke dalam yaitu lulusan PAUD Terpadu Mutiara diharapkan dapat menjadi anak yang sholeh, cakap, mandiri, dan percaya diri yang diimplementasikan ke dalam kebiasaan sehari-hari, yaitu sebagai berikut:
1 Sholeh Dengan harapan lulusan Mutiara memiliki bekal keagamaan melalui materi unggulan atau plus seperti terkait dengan pembiasaan keagamaan 98 meliputi pembiasaan sholat, hafalan surat, hafalan hadist, doa sehari-hari, asmaul husna, asmaussuar
2 Cakap Memiliki bekal untuk masuk SD melalui stimulasi di sentra persiapan seperti stimulasi baca tulis huruf hijaiyah dan huruf abjad, dan juga privat baca cepat untuk menumbuhkan budaya cinta baca pada anak baik disekolah maupun dirumah. Selain itu melalui pos perpustakaan agar anak terbiasa membaca.
3 Mandiri Melalui program membawa baju ganti dan makan, targetnya anak memiliki kemandirian dalam memenuhi kebutuhan sendiri, membentuk karakter anak, seperti melepas baju, berganti baju, makan.
4 Percaya Diri Dua bulan sekali dilaksanakan pentaspanggung gembira dengan harapan anak memiliki rasa percaya diri. Anak dilatih pidato, hafalan,bernyanyi karena orang sukses bukan karena mereka pintar tetapi karena mereka percaya diri.

Tujuh Pilar Pendidikan
1. Pendekatan Keislaman Secara Integratif
Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional, tidak berbeda dengan lembaga lain. Yang membedakan adalah pendekatannya. Semua materi dan kegiatan yang dilakukan berpusat pada nilai-nilai Islam secara integratif, sehingga tidak ada dikotomi, pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Dengan demikian terjadi proses internalisasi nilai keIslaman dalam setiap kegiatan anak.
2. Berpusat Pada Anak.
Semua program kegiatan dirancang mengacu pada kebutuhan dan kondisi anak. Walaupun pelaksanaan kegiatan dilakukan secara klasikal, namun perhatian yang diberikan bersifat individu.
3. Meliputi Seluruh Aspek Kepribadian.
Aspek yang dikembangkan bukan hanya kognitif saja. Melainkan seluruh aspek kepribadian anak. Bukan hanya kecerdasan intelektual saja (IQ), tapi juga pusat kecerdasan yang lain seperti kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
4, Belajar Sambil Mencoba (Learning by doing)
Semua fasilitas dan setiap peristiwa disikapi sebagai sumber ilmu, dalam upaya memahami kebesaranNya. Hal ini didekati dengan praktik nyata, Anak mencoba dan merasakan secara langsung, sehingga terhindar dari pemahaman semu dan sebatas kognitif semata.
5. Pembiasaan (Habbit Forming)
Pembentukan kepribadian yang positif dan tangguh memerlukan proses panjang. Tahap awal diperlukan latihan secara berulang dan terus menerus. Pengabaian terhadap aspek ini menimbulkan kepribadian yang pecah, yakni menyadari akan nilai kebajikan, namun tidak mampu mengamalkan karena tidak terbiasa.
6,. Keteladanan (Uswatun Hasanah)
Anak adalah peniru ulung. Dia akan menirukan segala yang dilihat dari orang  yang dikagumi. Orang tua adalah guru pertama dan utama, sedang  pendidik adalah guru kedua. Guru bukan sekedar sumber ilmu, melainkan sumber belajar secara menyeluruh. Untuk itu diperlukan guru yang mampu menjadi figur dan contoh tauladan bagi anak.
7. Program Full Day
Sebagai konsekuensi dari konsep diatas, maka dibutuhkan rentang waktu yang lebih panjang (plus). Seperti konsep “praktik langsung” dan “pembiasaan”. Sebagai contoh, aktivitas ‘sholat’ dan ‘makan’, tidak cukup hanya teori saja, namun perlu dipraktikkan secara langsung dan dibiasakan setiap hari, sehingga berbentuk kebiasaan dan nilai positif yang menyatu dalam diri anak.

Alamat
Manggisan Baturetno Banguntapan Bantul Yogyakarta
Kode Pos 55197
Telepon: 0877-3640-5000