Biografi KH. Mahfudz Ma’shum

 
Biografi KH. Mahfudz Ma’shum

Daftar Isi Profil KH. Mahfudz Ma’shum

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Mengasuh Pesantren
  5. Kiprah
  6. Teladan

Kelahiran

KH. Mahfudz Ma’shum lahir pada 6 Mei 1942 M di Desa Dukunanyar Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 13 bersaudara, dari pasangan KH. Ma’shum Sufyan dan Nyai Hj. Masrifah.

Tiga belas saudara kandung diantaranya yang sudah wafat 5 dan yang masih hidup ada 8. Berikut adalah nama-nama dari saudara KH. Mahfudz Ma’shum:

  1. Mahfud Ma’shum (Almarhum)
  2. Ma’mun Ma’shum (Almarhum)
  3. KH. Mahfudz Ma’shum (Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaul Ulum dari 1991 sampai sekarang)
  4. Sakina (Almarhum)
  5. KH. Abdullah Afif Ma’shum, M.M. (Adik KH. Mahfudz Ma’shum dan Ketua Umum Pengurus Perkumpulan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum)
  6. KH. Robbach Ma’shum, M.M. (Adik KH. Mahfudz Ma’shum dan Pengawas 1 Pengurus Perkumpulan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum)
  7. Muhammad (Almarhum)
  8. KH. Sa’dan Maftuh Ma’shum (Adik KH. Mahfudz Ma’shum dan Ketua Umum 1 Pengurus Perkumpulan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum)
  9. Dra. Hj. Sakinah Ma’shum (Adik KH. Mahfudz Ma’shum dan Sekretaris Pengurus Perkumpulan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum)
  10. Ahmad Mutammam (Almarhum)
  11. Dra. Hj. Robi’ah Ma’shum (Adik KH. Mahfudz Ma’shum)
  12. Hj. Maziyah Ma’shum, S.Pd. I. (Adik KH. Mahfudz Ma’shum)
  13. Dra. Hj. Wafiroh Ma’shum (Adik KH. Mahfudz Ma’shum dan Bendahara Pengurus Perkumpulan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum).

Berdasarkan garis silsilah dan nasab KH. Mahfudz Ma’shum merupakan kiai yang memiliki garis keturunan Joko Tingkir Sultan Panjang. Hal ini dilihat dari nenek moyang KH. Ma’shum Sufyan yaitu Mbah Kiai Onggoyudo, beliau adalah keturunan kelima dari Sultan Pajang alias Joko Tingkir, dan KH.  Ma’shum Sufyan menikah dengan Nyai Masrifah, beliau juga kalau dirunut dari keturunan ibu, nasabnya pun bertemu di Pangeran Somoyudo, itu adalah gelar dari Mbah Kiai Abdul Jabbar Jojogan, yang terakhir adalah cucu Joko Tingkir.

Keluarga

Pada tahun 1962 KH. Mahfudz Ma’shum menikah dengan Nyai Hj. Tika yang kebetulan adalah tetangga rumahnya sendiri. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 11 anak, 8 laki-laki dan 3 perempuan. Berikut nama-namanya:

  1. H. Ahmad Najib Mahfudz, Lc., SH.
  2. Drs. H. Ahmad Hilal Mahfudz, Ahmad (wafat)
  3. Hj. Dzurroh Khumairoh, SQ.
  4. Drs. H. Ahmad Wafa Mahfudz.
  5. H. Daniel.
  6. H. Fairuz Zabadi
  7. Hj. Fitrotin
  8. Hj. Zulfaroh S.Kom
  9. H.Khalif Afnaf
  10. H.Fahim Rusdi.

Anak beliau rata-rata lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Seiring berjalan waktu, kharisma dari KH. Mahfudz semakin terpancar, oleh karena itu Pondok Pesantren Ihyaul Ulum semakin banyak santri yang berdatangan. Tidak hanya masyarakat sekitar namun dari luar Kabupaten Gresik seperti Kabupaten Lamongan dan sekitarnya.

Pendidikan

Saat KH. Mahfudz Ma’shum beranjak dewasa, beliau memulai pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir yang pada saat itu diasuh oleh KH. Ali Maksum, yang berada di daerah Krapyak Yogyakarta.

Pondok Pesantren Kiai Ali Maksum itu juga sangat kental tradisi Nahdlatul Ulama’. Cukup lama beliau di Pondok Pesantren Kiai Ali sampai beliau mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikannya di Mesir. KH. Mahfudz Ma’shum adalah santri yang cerdas, beliau terpilih diantara ratusan santri yang mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa tersebut dan KH. Mahfudz adalah dua diantara santri yang terpilih mendapatkan beasiswa tersebut.

Mengasuh Pesantren

Ketika ingin melanjutkan studinya ke Mesir, beliau tidak mendapatkan izin dari ayahnya pada waktu itu kondisi ayahnya sedang sakit. Selain itu, dikhawatirkan juga, jika KH. Mahfudz Ma’shum jadi berangkat, nanti tidak ada yang mengurusi Pondok Pesantren Ihyaul Ulum.

Oleh karena itu, semasa ayahnya sakit dan pada saat KH. Mahfudz Ma’shum yang masih berumur 18 tahun ini keadaan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum mengalami penurunan yang drastis, karena santri-santri banyak yang meninggalkan pondok sehingga jumlahnya berkurang.

Hal tersebut, justru tidak membuat KH. Mahfudz Ma’shum putus asa, tapi dengan sikap kegigihan KH. Mahfudz Ma’shum, beliau melakukan musyawarah dengan ayahnya, agar pendidikan di desanya itu tetap hidup dan semakin banyak santri yang berminat untuk mengembangkan ilmunya, maka KH. Mahfudz dengan tekadnya yang sudah bulat membangun kembali pondok dan madrasah lagi. Semua itu dilakukan KH. Mahfudz Ma’shum dengan sungguh-sungguh sampai berbuah hasil dengan semakin banyak santri yang berminat untuk belajar ilmu agama.

Sampai pada tahun 1962, KH. Ma’shum Sufyan mendadak menikahkan KH. Mahfudz Ma’shum dengan tetangga rumahnya sendiri yaitu Nyai Hj. Tika, meskipun masih terlalu muda. Semua itu dilakukan karena desakan masyarakat untuk mendirikan Madrasah Lil Banat (sekolah khusus perempuan), karena menurut KH. Ma’shum Sufyan kurang pantas bagi laki-laki yang masih bujangan, belum nikah dan belum punya istri itu membuka madrasah khusus perempuan.

Setahun kemudian direktur baru diberi izin oleh pengasuh pondok untuk membuka Madrasah Lil Banat yang dituntut masyarakat. Izin ini menjadikan KH. Mahfudz Sufyan bersama para pengurus pondok untuk mempersiapkan tenaga pengajar, pengadaan perlengkapan dan sarana penunjang untuk madrasah, baru pada awal 1965 M madrasah putri itu dapat diresmikan.

Selain menjadi seorang direktur di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, KH. Mahfudz Ma’shum juga sebagai pengajar di madrasah maupun di pengajian kitab-kitab kuning yang biasanya dilakukan secara rutin di pondok.

Tidak terlepas dari peran beliau yang sangat fokus mengembangkan kemajuan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, KH. Mahfudz Ma’shum juga sempat melanjutkan pendidikannya di Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya, beliau termasuk mahasiswa yang pandai sampai mendapat gelar sarjana muda. Setelah itu beliau kembali lagi ke desanya untuk mengamalkan ilmunya kepada santri-santrinya..

Kiprah

Kiprah KH. Mahfudz Ma’shum di Tengah Masyarakat, beliau adalah sosok yang sangat disiplin, tekun dan dekmokratis. Beliau adalah seorang yang gigih memperjuangkan keinginannya ketika sudah ada keinginan. Beliau adalah tipe orang yang demokratis dalam membangun hubungan sosial yang erat dengan masyarakat, memberikan pemahaman tentang kesetaraan gender, membentuk kehidupan pesantren secara integratif antara nilai spiritual, moral dan material, dan mempunyai kharisma yang luar biasa.

KH. Mahfudz Ma’shum adalah sosok yang sederhana, aktif, berwawasan luas, berfikiran modern, teguh pendirian dan istiqomah dalam beribadah, kosisten mendidik santri dan mengolah pesantren, sampai ada tawaran untuk menjadi anggota dewan atapun pejabat. Meskipun sangat aktif dibeberapa organisasi yang masih berwarna Nahdlatul Ulama’ dan sempat menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat 2 periode dari tahun 1982-1992, beliau tetap konsisten dan fokus juga mengelola Pondok Pesantren Ihyaul Ulum.

Kiai bukan hanya me“manage”, “teach” dan “lead” secara spesial, melainkan secara total “mendidik kehidupan secara utuh”, dan melibatkan diri dengan konsekuen, lillahi ta’ala sekuat-kuatnya. Kepedulian terhadap peningkatan manajemen mutlak dilakukan secara sadar dan aktif, meskipun terkadang harus terjun langsung, turut campur sebagai contoh keteladanan dengan segala resiko pengorbanan yang kebanyakan tidak tertulis. Pesantren tidak banyak mempertimbangkan untung-rugi, tapi benar-salah, manfaat-madarat atas dasar

Teladan

KH. Mahfudz Ma’shum juga sosok tauladan bagi santri, guru dan masyarakat. Shalat Tahajjud, shalat dhuha, puasa sunnah telah menjadi kebiasaan beliau sejak beranjak dewasa dari beliau mengenyam pendidikan di pesantren ayahnya sendiri sampai terbawa saat beliau nyantri di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogjakarta. Setiap hari beliau menularkan ilmu, pemikiran dan pengalaman kepada santri-santriwati, baik dalam forum pengajian maupun pengajaran formal di kelas.

Awal-awal KH. Mahfudz Ma’shum pulang dari Krapyak Yogyakarta disamping membangun lagi pesantren yang pada saat itu mengalami penurunan jumlah santri yang sangat drastis, beliau juga sering aktif di organisasi-organisasi desanya. Disaat itu usia KH. Mahfudz masih tergolong sangat muda 18 tahun untuk menjadi seorang pengelola pondok pesantren, namun keadaan yang mengharuskan KH. Mahfudz untuk menjadi pengelola pondok pesantren karena saat itu ayahnya sakit.

Banyak masyarakat yang pada saat itu meragukan beliau, akan tetapi keoptimisan KH. Mahfudz dalam menghidupkan kembali pesantren sangatlah keras, sehingga dalam waktu yang cukup singkat KH. Mahfudz membuktikan itu. KH. Mahfudz menginginkan santri-santriwati Pondok Pesantren Ihyaul Ulum bisa menjadi orang-orang yang saleh shaleha, berilmu, taat, bermanfaat, sukses dan maju sebagaimana isi doa yang selalu beliau panjatkan. Sejak awal baliau menjadi pengelola pesantren tahun 1959 sampai sekarang, beliau selalu memperhatikan penanaman nilai keIslaman, jiwa kepondokan, kedisiplinan, kemandirian, ketrampilan, pengalaman berorganisasi dan pembelajaran ilmu-ilmu umum.

Beliau selalu mengingatkan para guru dan santri tentang pentingnya penguasahan keterampilan, ilmu umum dan bahasa yang menjadi kunci bagi menguasai ilmu agama Islam, sains modern dan komunikasi global. KH. Mahfudz Ma’shum di masyarakat merupakan sebagai suri tauladan bagi masyarakat sekitar, karena sebagian orang menganggap beliau itu orang yang berwawasan dan berilmu.

Semua orang tahu bahwa KH. Mahfudz biasa dibuat contoh terutama dalam hal akhlaq ibadah, dan beliau juga memiliki keturunan istimewa yaitu KH. Ma’shum Sufyan, ayahnya yang dari sekitar umur 6-7 tahun sudah fasih dan terampil membaca ayat-ayat al-Qur’an dan waktu 12 tahun sudah hafal semua ayat suci Al-Qur’an dalam waktu 3 bulan saja, semua masyarakat sudah mengetahui.

Sebagian besar orang mengetahui termasuk Ihyaul Ulum maju bukan karena dari iklan-iklan tetapi mutu alumni dan keteladanan kiainya, jadi KH. Mahfudz merupakan kiai yang benar-benar bisa dicontoh buat santri-santrinya karena setiap hari ada di pondok dan setiap subuh mengisi ceramah dan ngaji, hidupnya selalu ada buat pondoknya. Orang bisa melihat langsung bahwa  bagaimana model kiai sehari-hari termasuk masyarakat Dukunanyar. Disamping itu beliau juga masih tetap mengajar, dulunya mengajar banyak mata pelajaran sekarang mulai dikurangi karena umurnya sudah mulai tua.

Disela-sela kesibukan mengelola pondok pesantren, beliau juga aktif menjalin hubungan silaturrahmi dengan banyak orang. Sehingga beliau dekat dengan berbagai kalangan, baik masyarakat biasa, pendidikan, politisi, pejabat maupun kalangan lainnya. KH. Mahfudz Ma’shum dalam kiprahnya di masyarakat sebagai da’i di Dukunanyar, juga jadi Rois Syuriah Nahdlatul Ulama’ di Kabupaten Gresik. KH. Mahfudz Ma’shum ternyata melihat dengan kritis semua fenomena yang terjadi di Indonesia. Walaupun beliau dalam kesehariannya mengasuh santri di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, namun beliau juga mampu tampil dalam pemikiran politiknya melalui forum organisasinya.