Biografi KH. Hasan Saifur Rijal Genggong

 
Biografi KH. Hasan Saifur Rijal Genggong

Daftar Isi Profil KH. Hasan Saifur Rijal Genggong

  1. Kelahiran
  2. Kisah Semasa Kecil
  3. Wafat
  4. Keluarga
  5. Pendidikan
  6. Pengasuh Pesantren
  7. Pejuang Kemerdekaan
  8. Keistimewaan

Kelahiran

KH. Hasan Saifur Rijal lahir pada 28 Oktober 1928 atau yang bertepatan pada 13 Jumadil Awal 1347 H di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Mohammad Hasan dan Nyai Hj Siti Aminah binti H. Bakri.

Nama kecil KH. Hasan Saifur Rijal adalah Non Ahsan. Nama Hasan Saifur Rijal didapatkannya saat menunaikan ibadah haji.  Nama tersebut diajukannya kepada seorang wali dan ulama besar dimasanya yaitu Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi. Ketika nama itu diajukan Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi mengatakan, saya belum pernah memberi nama seperti ini, Sayyid Amin bertanya,kamu dari mana? Dari Indonesia jawab Non Ahsan.

Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi bertanya lagi, kamu putranya siapa? Non Ahsan menjawab saya putra Kiai Muhammad Hasan Genggong.

Sayyid Amin Al-Kutbi berkata kepada Non Ahsan bahwa Kiai Muhammad Hasan adalah seorang Allamah (sangat Alim dan luas pengetahuan ilmu agamanya) setelah itu Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi menyetujui nama itu untuk digunakan Non Ahsan.

Kisah Semasa Kecil

Kisah Non Akhsan semasa kecil, banyak memberikan gambaran betapa sulitnya beliau menjalani kehidupan. Tak banyak kisah indah yang beliau lalui kala itu. Hal itu bermula ketika kedua orang tua beliau, KH Mohammad Hasan dan Nyai Hj Siti Aminah mengalami firaq (perceraian). Pada perkembangannya, Non Akhsan menjalani kehidupan bersama sang ibunda.

Non Akhsan dan ibundanya pernah tinggal di Kabupaten Bondowoso selama beberapa saat. Selain itu ibu-anak ini juga tinggal di Jl KH. Ahmad Dahlan, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Mayangan, (kini Kecamatan Kanigaran), Kota Probolinggo. Hingga kini, rumah tersebut ditempati kerabat Non Akhsan dari ibundanya.

Banyak kisah sedih yang harus beliau jalani selama kebersamaannya dengan Nyai Hj Siti Aminah. Riwayat yang berkembang di kalangan masyarakat, Non Akhsan juga turut membantu kehidupan ekonomi keluarganya. Beliau tak segan berjualan makanan ringan. Ya, beliau menjadi pedagang asongan.

Lokasinya berjualan kebanyakan di kawasan terminal Bayuangga. Namanya juga pedagang asongan, yang dijual tentu makanan seperti kacang, telur asin, permen, dan minuman. Tak hanya di terminal, beliau juga menjajakan dagangannya pada saat ada pertandingan sepakbola. Untuk melepas penat, sesekali beliau bermain bola bersama-sama teman sebayanya. Khususnya pada saat lapangan sepak bola tidak sedang digunakan. Beliau juga mengantarkan kacang goreng dan makanan ringan lainnya ke toko-toko.

Kondisi yang sama juga beliau lalui ketika masih tinggal di Kabupaten Bondowoso. Hal itu beliau jalani dengan ikhlas dan sabar. Sebagai seorang putra ulama besar, tentu kisah ini cukup memilukan. Namun beliau juga mampu menunjukkan kebesaran jiwa selama menjalani kehidupan tersebut. Tak mudah menjalani kehidupan sekeras itu bagi seorang anak manusia yang belum menginjak remaja.

Didikan yang tepat dari kedua orang tua membuat Non Akhsan tumbuh menjadi pribadi yang mengesankan. Beliau dikenal sebagai anak tawaddhu' (patuh). Sikap patuh yang tinggi diwujudkan dalam kesehariannya. Di hadapan sang ibunda, tak sekalipun Non Akhsan mengucapkan kata “tidak”. Khususnya ketika beliau diperintahkan untuk melakukan sebuah tugas.

Sikap itu juga ditunjukkan ketika ibundanya marah karena suatu hal. Non Akhsan hanya menundukkan kepala. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya sebagai bentuk membantah. Justru beliau memohon pada ibundanya agar sudi mengampuni kesalahannya. Sikap itu ditularkannya kepada kerabatnya yang lain.

Setiap kali Non Akhsan hendak keluar rumah, ia selalu berpamitan kepada sang ibunda. Ia akan keluar jika ibundanya mengijinkan. Namun sebelum benar-benar keluar rumah, Non Akhsan pasti menanyakan lebih dulu, apakah ibundanya membutuhkan Non Akhsan untuk sejumlah keperluan. Jika sang ibunda memerlukan, Non Akhsan pun mengurungkan niat keluar rumah.

Cara Non Akhsan berpamitan pada ibunya, tak seperti kebanyakan orang. Ia dengan sepenuh hati selalu mengecup sekujur telapak kaki ibundanyanya. Bicara kalimat bijak “surga di bawah telapak kaki ibu”, Non Akhsan sudah melakukannya sejak kecil, tanpa perlu mengucapkan kalimat itu sendiri.

Non Akhsan secara istiqamah berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat. Ia juga mengajak kerabatnya ke masjid. Tak hanya itu, beliau juga senantiasa membimbing bocah lain yang setara atau lebih muda usianya. Rutinitas beribadah di masjid itu beliau lakukan setiap hari, sepanjang hidupnya.

Non Akhsan pantang terlambat dalam menunaikan shalat berjamaah. Beliau memahami betul manfaat dari shalat berjamaah itu. Hal itu mendasari beliau untuk terus mengajak keluarganya, untuk istiqamah menunaikan ibadah shalat berjamaah di masjid.

Wafat

Jauh-jauh hari KH. Hasan Saifur Rijal telah mengetahui bahwa ia akan wafat hari Jum'at. Suatu hari, ia sempat meminta kepada putra-putrinya agar tidak dibawa ke rumah sakit, meski saat itu ia sedang sakit parah. Pernah di hari Senin karena parahnya sakit yang diderita, ia merasakan kakinya sudah dingin, detak jantungnya melemah namun KH. Hasan Saifur Rijal berkata, aku kok mau dicabut sekarang, aku mau meninggal hari Jum'at.

Siang hari Jum'at 13 Juni 1991 ketika salah seorang khadimnya Anam sedang menungguinya. KH. Hasan Saifur Rijal bertanya kepada Anam. Kamu mau minta apa padaku? Anam pelayan kiai menjawab, tidak minta apa-apa Kiai. Pertanyaan itu diulang sampai 3 kali, Anam pun menjawab dengan kalimat yang sama.

Setelah itu KH. Hasan Saifur Rijal menepuk bahu Anam sebanyak 3 kali seraya mengatakan, Akhlaq, Akhlaq, Akhlaq Nam. Tak lama setelah itu KH. Hasan Saifur Rijal wafat.

Keluarga

KH. Hasan Saifur Rijal melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj Himami Hafshawati pada tahun 1952.

Pendidikan

Kehidupan Non Akhsan bersama ibunya boleh dibilang tidak serba berkecukupan. Meski berangkat dari kondisi yang seperti itu, beliau masih bersemangat untuk menuntut ilmu. Baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Beliau tercatat sebagai salah satu murid di bangku Madrasah Ibtidaiyah di wilayah Kota Probolinggo hingga kelas 5. Sementara pendidikan kelas 6 dijalani di sekolah rakyat (SR; setingkat SD) di Bondowoso pada tahun 1940.

Memasuki usia 16 tahun, saat itu tahun 1944, Non Akhsan diminta untuk kembali ke Ponpes Genggong oleh sang ayahanda, KH. Mohammad Hasan. Sang ibunda mengijinkan Non Akhsan berkumpul kembali dengan ayahandanya itu.

Panggilan sang ayahanda dipenuhi Non Akhsan. Sekitar 2 tahun hingga berusia 18 tahun, Non Akhsan menuntut ilmu di Ponpes Genggong. Beliau belajar langsung di bawah bimbingan dan pengawasan ayahandanya yakni KH. Muhammad Hasan Genggong.

Menginjak remaja, KH. Hasan Saifur Rijal kembali ke Pesantren Genggong. KH. Hasan Saifur Rijal merupakan teladan yang istiqamah. Beliau, tidak pernah meninggalkan sholat wajib berjamaah, salat sunah dhuha berjamaah, dan membaca wirid.

“Kalian harus rajin salat berjamaah. Saya sendiri, tidak pernah meninggalkan salat berjamaah sejak usia 12 tahun dan salat duha tidak pernah lowong sejak usia 15 tahun,” ujar Kiai Saiful Islam putranya menirukan pesan KH. Hasan Saifur Rijal.

Pada tahun 1946 atau pada saat usia beliau 18 tahun, Non Akhsan berangkat menuntut ilmu di sejumlah pondok pesantren. Khususnya Ponpes yang diasuh oleh sahabat-sahabat ayahandanya saat mondok di Madura. Di antaranya Pesantren Tebuireng Jombang, di mana Non Akhsan berguru kepada KH. Hasyim Asy’ari. Beliau juga sempat mengenyam pendidikan di Ponpes Peterongan, Jombang, dan juga Ponpes Lirboyo, Kediri.

Pengasuh Pesantren

KH. Hasan Saifur Rijal merupakan pengasuh pesantren ketiga Pondok Pesantren Genggong. Didirikan oleh KH. Zainal Abidin pada awal abad 19, pengasuh kedua ponpes ini adalah KH. Mohammad Hasan. Beliau menjadi pengasuh pada kurun 1890-1952 masehi. KH. Mohammad Hasan sendiri wafat pada 1955. Namun sebelum wafat, KH. Mohammad Hasan menyerahkan tongkat kepemimpinan pesantren kepada KH. Hasan Saifur Rijal pada 1952.

Prosesi penyerahan amanat itu cukup mengharukan. KH. Mohammad Hasan memberikan sebuah peci berwarna putih. Peci itu dipakaikan langsung oleh beliau sebagai simbol pergantian kepemimpinan. Sejak itulah segala hal yang bersangkutan dengan pesantren diserahkan kepada KH. Hasan Saifur Rijal.

Kematangan pengetahuan beliau tak hanya di bidang yang lumrah dikenal seorang ulama. Namun beliau juga memiliki kemampuan menggubah syair, menciptakan lagu, hingga mengaransemen sendiri lagu tersebut. Vokalisnya adalah para santri sendiri, putra-putri. Pada 1990-an, sebuah album musik pesantren diterbitkan. Album ini cukup populer di kalangan sejumlah ponpes lain binaan Ponpes Genggong.

Lain lagi ketika Kiai Hasan berinisiatif membentuk grup drum band yang beranggotakan para santri. Awalnya langkah tersebut sempat ditentang kalangan ulama. Namun langkah itu justru diikuti kalangan ulama tersebut. Justru ponpes-ponpes lain berlomba-lomba membentuk drum band. Kiai Hasan Saifourdizall menunjukkan bahwa pesantren bukanlah kalangan yang kaku.

Jiwa seni rupanya cukup kuat mengalir dalam darah KH. Hasan Saifur Rijal. Bahkan hal itu tampak di waktu-waktu senggang. Misalnya untuk mengusir kegalauan dan kepenatan pikiran, beliau sering berdendang atau mendengarkan lagu. Baik lagu padang pasir, lagu barat ataupun instrumentalia. Bahkan juga lagu jenis love story, juga menjadi koleksi musik yang diidolakan beliau.

Pejuang Kemerdekaan

Menilik pada sejarah panjang kehidupan beliau, patriotisme membela negara adalah salah satu bentuk ibadah dan pengabdiannya kepada bangsa. Seakan beriringan dengan semangat kelahiran sumpah pemuda yang bersamaan dengan kelahiran beliau.

Sebuah bukti, tak lain ketika terjadi agresi militer belanda ke-2 pada 1948. Kala itu usia beliau masih 20 tahun, KH. Hasan Saifur Rijal sudah memimpin perang gerilya di Tulangan, Sidoarjo. Beliau tergabung dalam laskar Hizbullah.

Sebelum terjun ke medan Sidoarjo, KH. Hasan Saifur Rijal pernah menggranat toko seorang antek Belanda. Usai menggranat, ia menyampaikan kejadian itu kepada sang ayahanda, KH. Mohammad Hasan. Namun sang putra ditegur ayahanda. “Kok digranat nak? Nanti Belanda marah. Kasihanilah masyarakat,” tegur KH. Mohammad Hasan.

Sejak kejadian itulah KH. Hasan Saifur Rijal diizinkan menjadi tentara dan bergabung dengan pasukan Hizbullah. Restu ayahandanya itu makin mendorong Akhsan untuk berjuang di garis terdepan.

KH. Hasan Saifur Rijal mendapat tugas dari ayahnya untuk melakukan penyimpanan senjata para gerilyawan di pesantren Genggong. Rupanya tugasnya ini tercium oleh mata-mata antek Belanda, yang kemudian melaporkannya ke pihak pasukan Belanda.

Tidak lama kemudian datanglah pasukan Belanda ke pesantren dan mengadakan penggeledahan. Tapi mereka tidak menemukan sepucuk senjata pun.

Karena penasaran dan marah, mereka menangkap KH. Hasan Saifur Rijal dan bermaksud membawanya ke markas pasukan Belanda dengan Truk.

Namun saat truk hendak dijalankan, tiba-tiba mesin truk itu mati. Akhirnya KH. Hasan Saifur Rijal tidak jadi dibawa ke markas pasukan Belanda.

Setelah KH. Hasan Saifur Rijal turun dari truk mesin truk kembali bisa dihidupkan dan dapat dijalankan, kemudian mereka menaikkan kembali KH. Hasan Saifur Rijal ke atas truk dan kembali truk tersebut mati. Akhirnya Belanda menyerah dan kembali ke markas dengan tangan kosong. Entah kenapa di tengah perjalanan 3 km dari arah Utara Pajarakan truk Belanda tersebut terguling.

Keistimewaan

KH. Hasan Saifur Rijal Muda dikenal sosok pemuda yang cerdas. Kecerdasan itulah yang memudahkannya menuntut ilmu. Karena itu cukup sering KH. Hasan Saifur Rijal diajak sang ayahanda untuk mengikuti berbagai acara pengajian. Bahkan pernah diundang untuk berceramah di pengajian umum. Pertama kali menjadi mubaligh usia beliau masih 10 tahun. Saat itu, beliau masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI).

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya