Biografi Syekh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi

 
Biografi Syekh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi

Daftar Isi Profil Syekh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Guru di Masjidil Haram
  5. Sosok yang Menyelamatkan Kitab Imam Syafi'i
  6. Pendapat Ulama tentang Dirinya
  7. Karyanya Belum Ditemukan

Kelahiran

Syekh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi lahir pada tahun 1890 M di Lasem Kab. Rembang Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abdul Aziz dan ibu Mukminah binti Mahali.

Keluarga

Hubungan ta’aruf Syekh Muhaimin dan Nyai Khairiyyah dimulai dari kegiatan surat menyurat. Saat itu usia Nyai Khairiyyah 17 tahun setelah ditinggal wafat KH. Ma’shum Kwaron suami pertama. Syekh Muhaimin dari Makkah berkirim surat isinya menanyakan kesediaan Nyai Khairiyyah menjadi istrinya. Saking bingungnya tidak terasa membaca surat itu sambil berjalan dari Tebuireng sampai Kantor Kecamatan Diwek.

Kemudian dijawab Nyai Khairiyyah, menanyakan keberadaan istri pertama Syekh Muhaimin. Langsung dijawab dengan mengirim surat keterangan kematian istrinya. Tidak beberapa lama Syekh Muhaimin mengutus KH. Bisri Syansuri menyatakan keinginannya kepada KH. Hasyim Asy’ari. Lalu memanggil Nyai Khairiyyah, menjadi heran kok sudah saling kenal. Kemudian KH. Bisri sambil tersenyum-senyum menerangkan bahwa keduanya sebelumnya sudah surat-suratan.

KH. Hasyim Asy’ari kemudian bersikukuh agar anaknya  menikah dengan Syekh Muhaimin. Untuk maksud itu Oktober 1928 KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan KH. Bisri Syansuri ke Sarang, Kab. Rembang.

Selanjutnya pihak keluarga mengutus KH. Ahmad bin Syueb Sarang (seusia Syekh Muhaimin) agar mengikuti  musyawarah dan memutuskan syarat Nyai Khairiyyah untuk menikah dengan Syekh Muhaimin harus dibawa ke Makkah.

Aqdun Nikah dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem yang diasuh KH. Baidlowi bertindak mewakili keluarga, karena KH. Abdul Aziz sudah wafat. KH. Bisri Syansuri mewakili Syekh Muhaimin. Akhirnya resmilah Nyai Khairiyyah menjadi istri Syekh Muhaimin diantar ke Mekkah oleh adiknya, KH. Abdul Karim Hasyim. Adapun putrinya, Abidah 13 tahun dan Jamilah 8 tahun tidak ikut ke Makkah, namun Ikut kakeknya, KH. Hasyim Asy’ari di bawah asuhan beliau di Tebuireng.

Dalam kehidupan rumah tangga, Syekh Muhaimin memberikan Nyai Khairiyyah keleluasaan uang belanja kebutuhan sehari-hari, karena memahami harga sembako sewaktu-waktu bisa berubah. Hal ini sangat melegakan hatinya, seperti pernah diceritakan kepada ponakannya, Pak Muhsin. Bahkan Syekh Muhaimin menyediakan uang  dalam lemari. Apabila kurang, ia mempersilahkan istrinya mengambil uang di lemari satunya lagi.

Pendidikan

Syekh Muhaimin memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama kepada ayahnya, KH. Abdul Aziz. Kemudian masa remaja, beliau belajar ke KH. Umar Pondok Pesantren Sarang bersama kedua adiknya antara lain Suyuthi.

Setelah selesai, kemudian Syekh Muhaimin melanjutkan belajar kepada KH. Chasbullah Tambakberas Jombang sambil mengajar. Akhirnya ia diambil menantu oleh KH. Chasbullah, dan kehadirannya pun mewarnai proses belajar mengajar di pesantren tersebut, menjadi sangat ramai dibanjiri santri, memberi berkah tersendiri.

Berita ramainya Pondok Pesantren Tambakberas membuat KH. Hasyim Asy’ari terkesan, kemudian putrinya, Khairiyyah dinikahkan dengan KH. Maksum bin Ali, keluarga Pesantren Maskumambang, Desa Dukun Kab. Gresik, yang kemudian lebih dikenal dengan nama KH. Maksum Ali.

KH. Maksum adalah kakak kandung KH. Adlan Ali Cukir Jombang di tahun 80an Rois ‘Am Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah.

Tahun 1923  istri Syekh Muhaimin, kakak kandung dari KH. Wahab Chasbullah wafat, tidak dikaruniai keturunan. Kemudian Syekh Muhaimin langsung mukim di Makkah. Pertama kali menginjakkan Makkah sudah dikenal alim. Sempat belajar memperdalam lagi kepada adik KH. Ahmad Dahlan Yogyakarta. Di saat bersamaan KH. Maksum, suami Nyai Khairiyyah wafat. Dikarunia keturunan antara lain Nyai Abidah suami KH. Mahfud Ahli Falakiyah berputra antara lain H. Hakim, lainnya Nyai Jamilah berputra antara lain Dr. Umar Faruq.

Guru di Masjidil Haram

Syekh Muhaimin tercatat salah seorang pengajar di Masjidil Haram. Menunjukkan otoritas keilmuannya diakui. Diantara muridnya, KH. Umar Blora, Makkah.

Di Makkah Syekh Muhaimin pernah memimpin Darul Ulum, pusat dakwah dan pendidikan (madrasah atau jam’iah) berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jamaah sebagai Rois Jam’iyyah. Termasuk pengajar atau guru besarnya antara lain Sayid Ali Al-Maliki Mufti Makkah.

Pada mulanya Madrasah Darul Ulum didirikan oleh Sayyid Muchsin Musana Palembang pada tahun 1927. Sepeninggal Syekh Muhaimin, Mudir Darul Ulum dipimpin oleh Syekh Yasin Al-Padani, seorang ulama besar Makkah yang terutama sejak tahun 80’an sampai Akhir hidupnya amat terkenal dan disegani menjadi rujukan hukum dan sumber restu ulama NU di Indonesia. 

Untuk membedakan 2 nama Yasin, Syekh Muhaimin memberi nama 1. Syekh Yasin (Al Padani), 2. Syekh Yasin (Palembang). Dalam riwayat yang masyhur, memang guru Syekh Yasin Al Padani antara lain :1. KH. Ma’shum Lasem, 2. KH. Baidlowi Lasem.

Di antara murid di Madrasah Darul Ulum Makkah masa dipimpin Syekh Yasin adalah Syekh Mur’i, kini Mudir Universitas Darul Ulum, Hudaidah, Yaman. Yang banyak memberi beasiswa mahasiswa asal Indonesia.

Lulusan Darul Ulum Makkah yang diasuh Syekh Muhaimin banyak yang menjadi ulama besar. Tersebar di Makkah, Indonesia dan Yaman yang memerlukan keuletan melacaknya, karena mereka berdomisili di berbagai  Negara. Termasuk KH. Basyuni ayah mantan Menteri Agama RI dan KH. Dahlan Makkah asal Kediri. KH. Maimun Zubair Pengasuh Pesantren Al Anwar Sarang mengaku alumni Darul Ulum waktu belajar di Makkah, masuk tahun 1950, disampaikan saat ceramah walimah pernikahan di rumah KH. A.Rozzaq Imam Bonang Lasem besanan dengan KH. Siraj Makkah. Menjadi menantu KH. Baidlowi dari Nyai Fahimah putrinya, dikaruniai anak antara lain Gus Ubab dan Gus Najih. Ayahnya, KH. Zubair lahir tahun 1885. Leluhurnya Buju’ Su’ud Desa Klampis Arosbaya Bangkalan Madura. Bukan yang Bindere Su’ud di Sumenep.

Sosok yang Menyelamatkan Kitab Imam Syafi'i

Sayang dalam perjalanannya kemudian Darul Ulum yang didirikan dengan susah payah penuh suka duka oleh Syekh Muhaimin dan dilanjutkan oleh Syekh Yasin Al-Padani, kelahiran tahun 1335 Hijriah, setelah kepemimpinan mereka mungkin karena pengelolaannya kurang terurus, menjadi tidak berkembang dan maju, sehingga diambil alih oleh Pemerintah Saudi Arabia dari Dinasti Su’udiyyah yang beraliran Wahabi, termasuk mengambil alih perpustakaannya yang memiliki banyak koleksi kitab-kitab penting. Darul Ulum pun turun drastis kompetensi keilmuannya, mengikuti persamaan tingkat dasar. Berubah menjadi sekolah umum (kurikulum nasional), mulai dari  tingkat MTs sampai jenjang berikutnya. Seperti halnya Ash-Sholatiyyah meski tetap dipegang swasta. Begitu juga Al-Falah, namun dikelola masyarakat Arab di Makkah.

Pendapat Ulama tentang Dirinya

Menurut Syekh Shodiq bin Muhammad bin Hasan Asy’ari ahli sejarah murid Syekh Yasin Al-Padani seperti juga KH. Hasan Iraqi Sampang saat hidup Syekh Muhaimin masih berusia 9 tahunan, Syekh Muhaimin salah satu ulama besar Makkah asal Jawa terkenal alim.

Menurut KH. Maimun Zubair, sebagai contoh barometer kefaqihan Syekh Muhaimin adalah kemampuannya mendirikan dan memimpin Raudlatul Munadzirin, suatu lembaga bahtsul masail satu-satunya yang paling prestisius di kalangan ulama Makkah, pesertanya terutama diikuti semua ulama asal Asia Tenggara seperti Indonesia, Campa, Patani, Mindanao dan Malaya. Diantara anggotanya, KH. Zubair, ayah KH. Maemun Zubair. Keputusan bahtsul masail Raudlatul Munadzirin memiliki bobot inlektualitas keagamaan yang tidak diragukan.

Kumpulan keputusan bahtsul masail Raudlatul Munadzirin yang telah ditashih oleh Syekh Muhaimin selaku Pimpinan Darul Ulum menjadi ensiklopedi hukum ijma’ yang tidak ternilai. Seperti yang pernah disampaikan oleh seorang narasumber dalam sebuah halaqah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin, Leteh, Rembang, pimpinan KH. Musthofa Bisri atau Gus Mus.

Karyanya Belum Ditemukan

Namun sangat disayangkan, koleksi kitab karya Syekh Muhaimin selama hidupnya memimpin Darul Ulum termasuk Raudlatul Munadzirin, hingga sekarang belum ditemukan. Di Makkah, Syekh Muhaimin pernah menulis risalah tentang bedug dan kentongan menurutnya perlu dipertahankan.

Sayyid Ali Mufti Makkah saat itu awalnya sempat marah membaca sekilas risalah tersebut, karena menganggapnya bid’ah. Risalah tersebut berdasarkan sumber Al-Quran, Al-Hadits dan Kaidah Ushul Fiqh yangh jelas.

Syekh Muhaimin juga menguraikan latar belakang filsafat Jawa, bahwa bedug ditabuh di masjid berbunyi deng..deng pertanda ruangan masjid masih cukup untuk sholat berjamaah, kentongan dipukul di musholla berbunyi tong..tong…memberi isyarat musholla masih kosong menunggu jamaah datang.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya