Biografi KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga

 
Biografi KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga

Daftar Isi Profil KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga lahir pada 8 Agustus 1909, di Purbalingga, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari Abdul Kariem.

Wafat

KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga wafat pada Hari Kamis Kliwon 4 Jumadil Akhir 1410 H atau bertepatan dengan tanggal 12 Januari 1989 M.

Keluarga

Pada tahun 1927, KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga melepas masa lajangnya dengan menikahi Rumiyah, seorang putri dari Carik Desa Kalijaran.

Pendidikan

KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga memulai pendidikan formalnya dengan belajar hanya sampai di Sekolah Dasar (SD). Selain sekolah formal, beliau juga rajin ngaji kepada ustadz di kampungnya. Kemudian beliau berguru kepada Kiai Dahlan di Desa Kaliwangi Mrébét. Di Pondok Leler Banyumas, beliau berguru kepada Kiai Zuhdi, dan di Pondok Jampes Kediri berguru kepada Kiai Dahlan.

Secara khusus, dalam bidang qiroatul Qur'an, Kiai Hisyam berguru kepada Kiai Yusuf Buntet Cirebon, dan Kiai Nuh Pager Aji Cilongok. Dalam bidang Thoriqoh, beliau berguru kepada Kiai Rifa'i Sokaraja.

Mendirikan Pesantren

Usai nyantri di berbagai pesantren, dengan restu sang guru, Syekh Dahlan Ihsan, KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga kemudian mendirikan Pondok Pesantren Sukawarah di Pedukuhan Sokawera, Desa Kalijaran, Karanganyar, Purbalingga.

Ketika pada masa perang kemerdekaan, Pesantren Sukawarah Kalijaran menjadi semacam tempat pengaderan para pejuang. Selain mengaji, sebagian dari santri juga dibekali ilmu-ilmu lain seperti baris-berbaris, belajar huruf morse, dan juga belajar pertolongan pertama dalam kecelakaan. Mereka dilatih oleh kader pemuda Ansor setempat. Tentang gambaran pesantren ini di zaman lampau pernah dikisahkan pula oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren (1974).

“Suatu hari aku mengunjungi Pesantren Kalijaran Purbalingga. Sebuah Pesantren dengan lebih kurang 700 santri yang datang dari segala pelosok di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Pesantren itu terletak di pegunungan, jauh dari kota. Tak ada kendaraan yang dapat digunakan untuk mencapai pesantren itu, bersepeda pun amat susahnya, karena harus menyeberangi sungai yang deras airnya, penuh dengan batu kali pada tebing-tebingnya. Aku sangat letih berjalan kaki sejauh 12 Km dari kota distrik Bobotsari, tempat pemberhentian bis terakhir,” kenang Kiai Saifuddin.

Pada perkembangannya, Pondok Kalijaran, sekitar tahun 1969 di sana sudah dibangun MTsAIN (Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri). Sebuah Nama sekolah yang cukup berwibawa didengar waktu itu. Sebab, di Jawa Tengah baru ada dua Tsanawiyah Negeri. Di Babakan Tegal dan Karanganyar Purbalingga. Pondok ini kemudian diasuh oleh KH. Muzammil dan KH. Musta'id Billah, dan santrinya berjumlah ribuan.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Selain menjadi pengasuh pesantren, KH. Hisyam Abdul Karim Purbalingga juga aktif di NU. Dirinya tercatat pernah menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Purbalingga selama tiga periode, yakni periode tahun 1973-1975, 1975-1978, dan 1978-1983.