Biografi KH. Mohammad Najib Banjarnegara

 
Biografi KH. Mohammad Najib Banjarnegara

Daftar Isi Profil KH. Mohammad Najib Banjarnegara

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Wasiat
  4. Keluarga
  5. Pendidikan
  6. Pengasuh Pesantren
  7. Metode Pengajaran
  8. Mursyid Thariqah
  9. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  10. Teladan

Kelahiran

KH. Mohammad Najib atau yang kerap disapa dengan panggilan Gus Najib dilahirkan di Banjarnegara. Beliau merupakan putra dari KH. Hasyim Hasan Fatah.

Wafat

Gus Najib wafat dalam usia 51 tahun atau tepatnya pada Selasa 2 Januari 2018 pukul 17.00 WIB di rumah duka Jl S Parman, Km 3, Komplek Pesantren Al-Fatah, Parakancanggah, Banjarnegara, Jawa Tengah. 

Wasiat

Sekitar dua minggu sebelum wafat ia berpesan kepada pengurus pondok, “Hormatilah dan muliakanlah gurumu. Kelak hidupmu akan mulia. Contohlah seperti Mbah KH. Hasyim As’ary. Akan tetapi, selain memuliakan, kalian juga harus pintar.”

Selain itu pesan Gus Najid pada saat yang sama adalah, “Kalian juga harus memuliakan tamu dengan cara bertanya dan menjamu seperti yang dilakukan Mbah dan Abah dulu. Insyaallah anak turun kalian tidak akan kekurangan makanan.”

Keluarga

Gus Najib melepas masa lajangnya dengan menikahi Ny Nur Laely Hikmawati. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai tiga anak yaitu Tamlikho Tajun Nuhudh, Maksal Mina Fathun Nuhudh dan Syakira Zahiyatal Anjumi.

Pendidikan

Gus Najib menempuh pendidikan di RA dan MI Al-Fatah hingga kelas dua. Kelas tiga sampai empat di Al-Irsyad Purwokerto, lalu pindah ke SD Cokro Banjarnegara kelas lima sampai enam. Jenjang menengah pertama di SMP 2 Banjarnegara, dan jenjang menengah atas di SMA 1 Banjarnegara. Kelas dua pindah ke SMA Jember dan mulai mondok. Kelas tiga SMA ia pindah ke Pakistan. Ia kuliah di STIE Banjarnegara semester dan pindah ke UNWIKU Purwokerto sejak semester 2. 

Semasa muda ia belajar ilmu hikmah kepada KH. Hamzah yang sekaligus kakek dan menantu dari KH. Abdul Fatah dari putri pertamanya, Hj Umu Kultsum. Ia menuntut ilmu kajian kitab Sulam at-Taufiq, al-Taqrib, Daqoiq al-Akhbar, al-'Usfurriyah, Qothru al-Ghois sampai Tafsir Jalalain pada KH. Ahmad Dailimi. 

Dalam perjalananya menuntut ilmu, ia juga berguru kepada paman dari ibunya, di Lasem. KH. Ahmadi adalah guru ilmu tata bahasa arab, ilmu Nahwu. Kemudian kepada Kiai Muhammad Azizi yang juga pamannya, dirinya belajar shorof dan Nashoih al- 'Ibad. 

Gus Najib juga belajar banyak dari seorang kiai dari Yogyakarta. KH. Ali Maksum, Krapyak adalah salah seorang guru ia dalam belajar shorof selama 5 hari. Ketika mengaji di Jember, Gus Najib menuntut ilmu kepada KH. Ahmad Shiddiq. Ia mengaji kitab tasawuf Riyadh as-Sholihin, Al-Siyasah as-Sar'iyah. 

Dalam tata bahasa Arab, ia juga belajar kepada KH. Durmuji Ibrahim, Lirap, Kebumen, di Pondok Pesantren Nahwu-Shorof; dan kepada KH. Ahmad Abdul Haq, Watu Congol Magelang, di mana ia belajar mondok Ramadhan sewaktu kecil. 

Dalam pengetahuan ilmu tauhid, ia juga belajar kepada Syeikh Mas'ud, Kawunganten, Cilacap. Tentang ilmu tauhid, kitab Al-Dasuqy Ummul Al-Baroghin.

Gus Najib pernah belajar kepada Maulana Arsyad Ubaid, Maulana Abdurruhman, dan Maulana Musa di Jam’iyah Al-Asrofiyah Lahore, Pakistan. Ia mengaji ilmu hadist dan ilmu mantiq. Di Lahore pula, Gus Najib belajar Al-Qur'an kepada Qori' Syarif.  KH Hamid Baidhowi dan KH Mujtahidi adalah dua guru mengaji Al-Luma' lil Imam As-Syairozi, Usul Fiqih. Kepada Abuya Dimyathi, Banten, Gus Najib belajar Ihya' Ulum ad-ddin, 'Awarifu al-Ma'arif, kitab Syamsiyyah, Tafsir Al-Baidhowi, Tafsir Khozin, Shohih Muslim, Bukhori, Ibnu Majah, Al-Ithqon Fi Ulumil Qur'an, Manaru al-Huda, al-'Asyr Fi Qiroat al- 'Asyr, al-taisir (Qiroah Sab'ah), kitab Bahjah, kitab Jabrul Kasar, Mafakhir al- 'Aliyyah, Al-Mushtashfa, Ushul Fiqh. 

Pengasuh Pesantren

Pondok Pesantren Al-Fatah Banjarnegara pertama kali didirikan oleh KH. Abdul Fatah, kakek buyut Gus Najib, beliau mengasuh mulai 1860-1941. Setelah kakek buyutnya wafat, kemudian dilanjutkan oleh kakeknya, KH. Hasan Fatah (1941-1991). Lalu diteruskan oleh ayahndanya KH. Hasyim Hasan Fatah yang memimpin pesantren sejak 1990-2013.

Dan terkahir estafet kepemimpinan pesantren tersebut sampai kepada Gus Najib. Beliau memimpin Pesanten Al-Fatah dari 2013 hingga 2018.

Metode Pengajaran

Kiai Najib yang kokoh dengan metode pendekatan pendidikan salaf, yaitu identik dengan penyampaian ceplas-ceplos (blak-blakan) untuk pendidikan akidah. Pendekatan pendidikan yang ia terapkan dan sampaikan cenderung apa adanya. Hal ini dinilai baik dari sisi pendidikan karakter, sehingga akar kesantrian juga akidah akan kokoh dan tertanam sampai murid usai belajar di pesantren.

Pendekatan pembelajaran tersebut jika diangkat dalam suatu penelitian maka akan terlihat sedikit keras, tapi justru menanamkan karakter yang baik bagi santri, apalagi saat di bangku kuliah nanti yang berbagai macam pelajaran didapat, khususnya studi keagamaan (keislaman). 

Ia sering memberikan nasihat kepada murid-muridnya, “Kalau kelak kalian pulang dari pesantren, walaupun kalian alim, jangan sekali-kali ingin dihormati. Dan hormatilah orang-orang yang sudah memperjuangkan agama terlebih dahulu di desamu.”

Mursyid Thariqah

Setelah ayahnya meninggal, ia meneruskan perjuangan untuk mengurus dan membimbing jamaah sebagai Mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Gus Najib adalah sosok yang gemar berorganisasi. Pada tahun 1984 - 1986, ia menjabat sebagai Ketua PC IPNU Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1988 Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1988, ia masuk dalam kepengurusan DPP II KNPI Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1996-1998, menjabat sebagai Sekjen DPC PPP Kabupaten Banjarnegara. 

Jabatan lainnya tahun 1999 sebagai Ketua DKC Garda Bangsa Banjarnegara. Pada tahun 1999-2012, ia masuk sebagai perwakilan rakyat di DPRD Kabupaten Banjarnegara. Tahun 2002-2012, ia Ketua DPC PKB Kabupaten Banjarnegara. Pada tahun 2012-2017, sebagai Wakil Ketua DPW PKB Jawa Tengah.

Teladan

Gus Najib, adalah sosok yang membanggakan keluarga dan daerahnya, Banjarnegara. Ia dikenal masyarakat tidak hanya sebagai kiai, akan tetapi juga sebagai politisi, pebisnis, dan seniman.

Ia juga merupakan sosok tegas, keras, penyayang, dermawan. Ia pemimpin dan pengayom masyarakat kalangan bawah. Ia membawa kesan tersendiri di hati para sahabat, keluarga, dan masyarakat Banjarnegara. 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya