Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Imam Taqiyuddin Ibnu Daqiqil ‘Id
✓ Terverifikasi Tim Riset

Imam Taqiyuddin Ibnu Daqiqil ‘Id

lahir 1228 M · 19.804 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu Al Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ Al Qusyairi Al Manfaluthi Ash Sha’idi Al Maliki Asy Syafi’i.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil Imam Taqiyuddin Ibnu Daqiqil ‘Id

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Guru Guru
  5. Penerus Beliau
  6. Mengajar di Madrasah
  7. Sosok yang Dermawan
  8. Karomah
  9. Karya-Karya

Kelahiran

Taqiyuddin Abu Al Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ Al Qusyairi Al Manfaluthi Ash Sha’idi Al Maliki Asy Syafi’i atau yang kerap disapa dengan panggilan Imam Taqiyuddin Ibnu Daqiqil ‘Id lahir pada bulan Sya’ban tahun 625 H, di dekat Yanbu’, Hijaz.

Wafat

Ibnu Daqiq al-Id meninggal pada hari Jum'at 11 Safar 702 H di makamkam di bukit Muqattam, hari itu adalah hari yang tak terlupakan. Orang-orang bergegas ke tempat itu, tentara antri menyalatinya dan sekelompok pembesar, sastrawan di Kairo dan Qaus meratapinya.

Pendidikan

Taqiyuddin menghabiskan masa kecilnya di Qaus (selatan Mesir) di mana ayahnya mengajar di madrasah yang dibangun oleh al-Najib bin Hibatullah tahun 607 H. Si cerdas yang kelak lebih terkenal dengan nama Ibn Daqiq al-Id ini berguru pada ayahnya sendiri yang mengajar fiqh madzhab Maliki dan Syafi'i. Ibunya juga dari Qaus, putri seorang yang terkenal yaitu Imam Taqiyuddin al-Mudhoffar bin Abdullah bin Ali bin Husein. Dengan demikian ia bernasab mulia baik dari pihak ayah maupun ibunya.

Ibnu Hajar dalam kitabnya “al-Durar al-Kaminah” mengatakan, bahwa Taqiyuddin tumbuh di Qaus dalam satu aktifitas saja yaitu diam, hati-hati dalam berucap dan berbuat, sibuk dengan ilmu, konsisiten dengan agama dan sangat menjauhi najis. Tentang hal terakhir ini ibu tirinya pernah bercerita : “Ayahnya menikahi saya ketika dia berumur 10 tahun, suatu ketika saya melihat dia sibuk mecuci lumpang (sejenis tempat air berukuran kecil) lama sekali. Karena ingin tahu saya bilang pada ayahnya: "Apa yang dilakukan si kecil itu", kemudian ayahnya bertanya pada sikecil "Muhammad, apa yang kamu lakukan?”, Dia menjawab : "Aku ingin mengisinya dengan tinta, maka dari itu aku mencucinya supaya suci dan bersih".

Taqiyuddin, kendatipun konsisten, wara', dan takwa ia juga suka bercanda, meskipun tetap menjaga ibadah dan ke-wara’-annya. al-Adfuwi dalam hal ini mencatat : "Orang-orang di Qaus bercerita padaku bahwa beliau pernah bermain catur –pada masa kecilnya- dengan saudara iparnya. Ketika datang waktu shalat Isya keduanya beranjak untuk shalat. Kemudian beliau berkata: "Kita main lagi" dan iparnya berkata: "Boleh, kalau jarum jam bisa berputar mundur". Maka beliaupun tidak bermain lagi.

Mula-mula Taqiyuddin belajar membaca Alquran sampai mantap, kemudian pergi menuntut ilmu-ilmu syariat dan hadits ke Damaskus dan Iskandariah setelah ia belajar fiqh dan hadits dari ayahnya, juga ulama dan fuqoha' lain di Qaus yang marak di Shaid Mesir (daerah selatan mesir) pada waktu itu. Ia belajar bahasa Arab pada Syarafuddin Muhammad bin Abil Fadl al-Mursi dan juga yang lain, dan belajar ushul fiqh pada ayahnya dan mengikuti pengajian Qodhi Syamsuddin ketika menjadi hakim di Qaus.

Guru Guru

  1. Abu Hasan Ali bin Wahab (Ayah)
  2. al-Baha’ al-Qufthi
  3. Ibnu Daqiqil'id, Muhammad bin Fadh al-Mursi
  4. Ibnu al-Muqirah
  5. Ibnu al-Jumaizi
  6. Sabth as-Salafi
  7. al-Hafizh Zakiyuddin
  8. Ibnu Abdid Da’im dan Abul Baqa’ Khalid bin Yusuf

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+