Dzikir Ibarat Teknologi untuk Mempercanggih Software Manusia

 
Dzikir Ibarat Teknologi untuk Mempercanggih Software Manusia

LADUNI.ID, Jakarta - Allah menciptakan dua alam: alam nyata dan alam maya. Istilah lainnya: alam dhahir dan alam bathin; alam dunia dan alam akhirat; alam jasad dan alam ruh; alam kasar dan alam ghaib; alam hardware dan alam software. Sebagai manusia kita wajib mengimani kedua alam tersebut (اللذين يؤمنون بالغيب).

Kita, manusia, dawuh Tuan Syeikh Saefulloh Maslul Ra, “bukan makhluk alam akhirat karena masih di alam dunia. Juga bukan makhluk alam dunia karena akan berpindah ke alam akhirat”. Demikian, kita mesti belajar hidup di dua alam itu.

Untuk mengenal, lebih mengetahui, mengeksplorasi alam dhahir, Allah sudah anugerahkan kepada kita piranti panca indera (five senses) yang dipadukan dengan akal pikiran (mind) untuk menggali dan men-discovery pengetahuan yang dengannya memberi manfaat untuk hajat hidup manusia di dunia.

Dari sinilah lahir ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology). Berbagai temuan teknologi tercipta, semua, untuk mempermudah urusan manusia, sebagian, untuk mempernyaman kehidupan mereka di dunia. Teknologi telekomunikasi, automotif, aerodynamic, arsitek, digital, icloud sampai yang paling mutakhir artificial intelligence (AI).

Teknologi terakhir ini pelan tapi pasti telah mengambilalih tugas, peran, dan pekerjaan manusia. Manusia yang skillsnya terbatas dan tidak mengupdates kemampuan serta pengetahuannya bisa  tersingkir, tergantikan oleh teknologi AI ini. Dan sekarang banyak sekali jumlah manusia yang jadi korban penggilasan kemajuan teknologi modern.

Namun sayangnya, seiring dengan banyak terlahirnya teknologi super canggih, alih-alih membuat tenang dan senang kehidupan manusia, banyak yang justru resah dan gelisah. Hidupnya dilanda gundah gulana jauh dari bahagia. Kehidupan di sekelilingnya sudah dilengkapi fasilitas high technology tapi jauh di kedalam hatinya mereka banyak yang terasing.

Kesimpulannya, banyak manusia yang sukses menciptakan teknologi yang bikin nyaman fisik mereka tapi gagal menemukan teknologi terbaik yang bisa membuat nyaman jiwa mereka. Kebanyak mereka merasa hampa, bahkan tertekan. Ya, stres dan depresi menjadi penyakit yang banyak di temui era kemanjuan teknologi ini.

Salah kaprah lagi, untuk menyembuhkan, mereka berusaha menciptakan teknologi baru, teknologi kimia, yang hanya menyembuhkan sementara. Alih-alih memulihkan, tercipta ketergantungan baru yang memperpuruk mental mereka. Ujungnya banyak yang, untuk mengakhiri penderitaan, memilih bunuh diri. Jumlah statistik mereka yang memilih jalan ini terus meningkat di kota-kota yang super modern teknologinya.

Lalu, teknologi apa yang bisa memperbaiki batin manusia? (Nantikan tulisan selanjutnya).(*)

***

Penulis: K.H. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD., Pemerhati teknologi software manusia/Pembantu Khusus Abah Aos.
Editor: Muhammad Mihrob

 

 

Tags