Biografi KH. Shodiq Mahmud

 
Biografi KH. Shodiq Mahmud

Daftar Isi Profil KH. Shodiq Mahmud

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Lembaga Pendidikan
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama
  7. Melawan Penjajah

Kelahiran

KH. Shodiq Mahmud lahir pada 3 Maret 1925 di Ponpes Sabilut Thoyyibah, Bugur Lor, Pasuruan. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Mahmud Shiddiq dan Nyai Hj. Jauharoh Makmunah.

Ayah Kiai Shodiq adalah saudara lain ibu dari KH. Ahmad Shidiq, tokoh nasional NU. Beberapa tahun kemudian, Shodiq kecil pindah ke Jember karena ikut ayahnya sebagai penghulu agama.

Wafat

Kiai Shodiq wafat pada 4 April 1998. Jenazah beliau dikubur di pemakaman umum Cukil Gebang, bersebelahan dengan istrinya.

Keluarga

Pada tahun 1948, KH. Shodiq Mahmud melepas masa lajangnya dengan menikahi Elok Mu’awanah. Buah dari pernikahannya, beliau dikarunia 6 anak.

Pendidikan

KH. Shodiq Mahmud memulai pendidikannya dengan belajar di pesantren Talangsari asuhan KH. Mahfudz Shiddiq. Saat umur sekitar 10 tahun, Shodiq dikirim ke Pesantren Tebuireng yang diasuh KH. Hasyim Asy’ari. Setelah cukup lama di pesantren tersebut, Kiai Shodiq pulang ke Jember.

Mendirikan Lembaga Pendidikan

Sambil bertugas di Kodim, Kiai Shodiq menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Jember, dan lulus tahun 1964. Pada tahun itu juga, NU Jember menggelar konferensi, yang salah satu rekomendasinya adalah mendirikan perguruan tinggi, dengan nama Institut Agama Islam Djember (IAID).

Setahun kemudian, IAID resmi berdiri, dan Kiai Shodiq ditunjuk sebagai dekannya. IAID kemudian dinegerikan menjadi Fak. Tarbiyah, dan sekian tahun kemudian diresmikan menjadi IAIN Sunan Ampel oleh Menteri Agama RI, Prof. KH. Saifuddin Zuhri.

Selain itu, pada tahun 1984, Kiai Shodiq juga ikut mendirikan Universitas Islam Jember (UIJ), dan mengajar di Fak. Hukum dan Tarbiyah UIJ hingga tahun 1996.

Jiwa kependidikan Kiai Shodiq terus menggelora. Di sela-sela tugasnya sebagai dekan, ia bersama KH. Muchit Muzadi dan beberapa kiai lain mendirikan Sekolah Persiapan IAIN (kini MAN 1 Jember). Saat itu kepala sekolahnya diserahkan kepada KH. Muchit Muzadi.

Kiai Shodiq akhirnya pensiun dari PNS. Pensiun sebagai abdi negara, bukan berarti pensiun sebagai abdi umat. Salah satu bentuk pengabdiannya adalah mendirikan pesantren mahasiswa “al-Jauhar” di Jl. Nias III/5 Jember, tanggal 15 September 1991. Kiai Shodiq juga masih meluangkan waktu mengajar di Universitas Islam Malang (UNISMA) dan menjadi anggota senat.

Peranan di Nahdlatul Ulama

Ketokohan Kiai Shodiq terus meroket. Ketika NU Jember menggelar konferensi (1971), Kiai Shodiq terpilih sebagai ketua. Sedangkan kursi Rais Syuriah diraih KH. Dhofir Salam.

Melawan Penjajah

Ketika beliau berada di Jember, situasi Indonesia yang masih dalam cengkeraman Belanda saat itu, membuat Shodiq muda sulit beraktifitas. Jiwa juang Shodiq terpanggil untuk mengusir penjajah dengan memimpin pasukan rakyat. Ia menyamar dengan nama Pak Jampir. Wilayah gerilyanya meliputi Mangli, Rambipuji, Ajung, Curahmalang dan sekitarnya. Kerabat sekaligus kawan seperjuangan Kiai Shodiq adalah KH. Abdullah Shiddiq, memakai nama samaran Pak Jibun.

Rupanya Pak Jampir sudah menjadi target operasi Belanda, dan keberadaannya terus diendus. Belum genap setahun setelah menikah, ia ditangkap serdadu Belanda, dan ditahan di Lapas Kalisosok, Surabaya. Medio 1949, Kiai Shodiq bebas. Pengapnya penjara tak membuat semangat juang Kiai Shodiq mengendur. Ia kemudian memimpin Gerkaan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Sedangkan istrinya, Elok Mu’awanah juga aktif di GPII putri.

Tahun 1955, Kiai Shodiq diangkat menjadi anggota Pusrah Rawatan Rohani Angkatan Darat (imam tentara), bertugas di Kodim Jember.