Biografi Suraih Alharits bin Harits Alkindi

 
Biografi Suraih Alharits bin Harits Alkindi
Sumber Gambar: Foto istimewa

LADUNI.ID Jakarta – Beliau Suraih Alharits bin Harits Alkindi, qadhi 5 khalifah. Ketika Umar menetapkan Suraih bin al-Harits sebagai qadhi, beliau bukanlah sosok yang asing di kalangan masyarakat Madinah. Beliau adalah orang yang memiliki kedudukan di antara para ahli ilmu, tokoh-tokoh terkemuka, para sahabat dan para tokoh tabi’in.

Beliau termasuk dalam bilangan ulama yang terhormat dan utama, diperhitungkan dalam tingkat kecerdasan, kebagusan perilaku, banyaknya pengalaman, dan kedalaman wawasannya.

Baca Juga: Biografi Al Qamah bin Qalis An Nakho'i

Contents

Riwayat Hidup

Lahir

Beliau dilahirkan pada 43 tahun sebelum Hijriyah di Yaman kota al-Kindi termasuk orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, turut menyambut dakwah menuju hidayah dan kebenaran.

Keluarga

Istri beliau adalah Zainab binti Hadhir dari Bani Hanzhalah.

Wafat

Terjadi perselisihan diantara para ulama’ tentang wafatnya Syuraih bin Al-Harits. Wafat pada tahun 87 H, pada usia 100 tahun. Abu Nu’aim berpendapat bahwasanya beliau wafat pada tahun 76H. Sedangkan Ali bin Al-Madini berpendapat pada tahun 97 H, yang lain berpendapat pada tahun 99 H. Asy’ats bin Suwar mengatakan bahwa beliau wafat pada usia 120 tahun.

Baca Juga:  Biografi Masruq bin Ajda Alhamadani

Pendidikan

Suraih selalu mengikuti majelis Ali bin Abi Thalib.

Teladan

Kisah Awal menjadi Hakim

Pada suatu ketika Umar bin Khathab membeli seekor kuda dari seorang dusun. Setelah membayarnya, beliau menaiki kuda tersebut dan bermaksud pulang menuju rumahnya. Namun tak seberapa jauh dari tempat itu, tiba-tiba kuda tersebut menjadi cacat dan tak mampu melanjutkan perjalanan. Maka Umar membawanya kembali kepada si penjual seraya berkata, Umar, “Aku kembalikan kudamu, karena ternyata dia cacat.” Penjual, “Tidak wahai amirul mukminin, tadi aku menjualnya dalam keadaan baik.” Umar, “Kita cari seseorang yang akan memutuskan permasalahan ini. Penjual, “Aku setuju, aku ingin Suraih bin al-Harits al-Kindi menjadi hakim bagi kita berdua.”

Amirul mukminin Umar bin Khathab bersama penjual kuda tersebut mendatangi Suraih. Umar mengadukan penjual itu kepadanya. Setelah mendengarkan juga keterangan dari orang dusun tersebut, Suraih menoleh kepada Umar bin Khathab sambil berkata,

Suraih, “Apakah Anda mengambil kuda darinya dalam keadaan baik?” Umar, “Benar.” Suraih, “Ambillah yang telah Anda beli wahai amirul mukminin, atau kembalikan kuda tersebut dalam keadaan seperti tatkala Anda membelinya.” Umar, “Hanya beginikah pengadilan ini? Kalimat yang singkat, dan hukum yang adil. Berangkatlah ke Kufah, karena aku mengangkatmu menjadi qadhi di sana.”

Siapapun yang mengetahui keutamaan dan keistimewaan pribadinya berandai sekiranya Suraih lebih cepat sampai ke Madinah dan bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat, tentu beliau bisa menggali ilmu dari sumbernya secara langsung tanpa perantara. Beliau bisa mendapat bagian kehormatan sebagai sahabat setelah mendapatkan hidayah itu, hanya saja apa yang telah ditakdirkan untuknya telah terjadi.

Menjadi Qadhi selamat 60 Tahun

Bukanlah berarti gegabah jika al-Faruq Umar bin Khathab menyerahkan jabatan dalam pengadilan agung itu kepada seorang tabi’in, meski dalam masyarakat Islam saat itu masih banyak sahabat Nabi yang bersinar cemerlang bagai cahaya bintang. Waktu pun telah membuktikan betapa firasat dan pilihan Umar radhiyallahu ‘anhu adalah tepat. Terbukti, Suraih menjadi qadhi di pengadilan selama 60 tahun secara berturut-turut sejak masa khilafah Umar bin Khathab, lalu Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib, Muawiyah serta khalifah setelah Mu’awiyah dari Bani Umayyah. Hingga akhirnya beliau mengundurkan diri pada awal pemerintahan Hajjaj bin Yusuf sebagai wali di Irak.

Mengadili Khalifah yang Kehilangan Baju Perangnya

Di antara kisah tersebut adalah ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kehilangan pakaian perang yang menjadi kesayangannya. Lalu dia dapatkan bahwa barang tersebut berada di tangan seorang kafir dzimmi (kafir yang dilindungi di negeri Islam) yang tengah berjualan di pasar Kufah. Begitu melihatnya, spontan Ali berkata: “Ini adalah milikku yang jatuh dari ontaku pada malam anu di tempat anu.” Namun dia mengelak dan berkata, “Ini adalah barangku dan berada di tanganku wahai amirul mukminin!” Ali berkata, “Ini milikku, aku tak merasa pernah menjualnya kepada orang lain atau memberikannya hingga sampai berada di tanganmu.” Orang dzimmi berkata, “Kalau begitu kita datang kepada qadhi!” Ali berkata, “Engkau adil, mari kita ke sana!”

Maka pergilah keduanya menuju qadhi Suraih. Setelah masuk dan duduk dalam sidangnya, bertanyalah qadhi Suraih, Suuraih: “Apa tuduhanmu wahai amirul mukminin?” Ali: “Kudapati barangku berada di tangan orang ini. Barang itu jatuh dari ontaku pada malam anu di tempat anu, lalu sampai di tangan orang ini, padahal aku tidak menjual kepadanya tidak pula kuberikan sebagai hadiah.” Suraih: “Bagaimana jawaban Anda?” Dzimmi: “Barang ini milikku, dia ada di tanganku. Tapi aku tidak menuduh amirul mukminin berdusta.”

Suraih: “Aku tidak meragukan kejujuran Anda wahai amirul mukminin, bahwa barang ini milikmu. Tetapi harus ada dua orang saksi yang membuktikan kebenaran tuduhanmu.” Ali: “Baik, aku punya dua orang saksi, pembantuku Qanbar dan putraku Hasan.” Suraih: “Tetapi kesaksian anak bagi ayahnya tidak berlaku wahai amirul mukminin.” Ali: “Subhanallah, seorang ahli surga ditolak kesaksiannya? Apakah Anda tak pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Hasan dan Husein adalah pemuka para pemuda penduduk surga?” Suraih: “Aku mengetahui itu wahai amirul mukminin, hanya saja kesaksian anak untuk ayahnya tidak berlaku.”

Mendengar jawaban itu, Ali menoleh kepada si dzimmi dan berkata, “Ambillah barang itu, sebab aku tak punya saksi lagi selain keduanya.” Si dzimmi berkata, “Aku bersaksi bahwa barang itu adalah milik Anda wahai amirul mukminin. Ya Allah, amirul mukminin menghadapkan aku kepada seorang hakimnya, dan hakimnya memenangkan aku. Aku bersaksi bahwa agama yang mengajarkan seperti ini adalah agama yang benar dan suci. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Wahai qadhi, ketahuilah bahwa barang ini adalah milik amirul mukminin, waktu itu aku mengikuti pasukannya ketika menuju ke Shiffin. Pakaian ini jatuh dari onta, lalu aku mengambilnya.” Berkatalah Ali kepada si dzimmi: “Karena kini Anda telah menjadi muslim, maka aku hadiahkan pakaian ini untukmu, dan aku hadiahkan kuda ini untukmu juga.”

Qadhi yang Adil, Meskipun Mengadili Anaknya

Bukti akan ketegasan Suraih nampak di saat putranya berkata, “Wahai ayah, aku sedang memiliki masalah dengan suatu kaum, Aku berharap ayah mempertimbangkannya. Jika kebenaran ada dipihakku, maka putuskanlah di pengadilan, tetapi jika kebenaran ada di pihak mereka, maka usahakanlah jalan damai.” Lalu dia menceritakan semua masalahnya. Suraih berkata, “Ajukanlah masalahmu ke pengadilan!”

Kemudian putra Suraih mendatangi orang yang berselisih dengannya dan mengajak mereka untuk memperkarakan masalah antara mereka ke pengadilan dan mereka pun setuju. Begitu menghadap Suraih, ternyata kemenangan tidak berada di pihak putranya.

Sesampainya Suraih dan putranya di rumah, putranya berkata, “Wahai ayah, keputusanmu telah membuatku malu. Demi Allah, kalau saja sebelumnya aku tidak bermusyawarah denganmu, tentulah aku tidak menyalahkanmu.”

Suraih berkata, “Wahai putraku, demi Allah aku mencintaimu lebih dari dunia dan seisinya. Tetapi, bagiku Allah lebih agung dari itu semua dan dari dirimu. Aku khawatir jika aku beritahukan terlebih dahulu bahwa kebenaran berada di pihak mereka, maka engkau akan mencari jalan damai dan itu merugikan sebagian hak mereka. Oleh sebab itu, aku putuskan perkara seperti yang kau dengar tadi.”

Baca Juga:  Biografi Al Aswad bin Yazid Ibnu Qois An Nakho'i

Anjuran Tidak Mengeluh kepada Manusia

Salah seorang sahabatnya bercerita, “Suatu kali, Suraih mendengar keluhanku kepada seorang teman. Kemudian beliau mengajakku ke suatu tempat lalu berkata, “Wahai putra saudaraku.. janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah.. karena sesungguhnya barangsiapa yang mengeluh kepada selain Allah berarti dia mengeluhkannya kepada teman atau kepada musuh. Jika mengeluh kepada teman berarti kamu telah membuat temanmu bertambah sedih.. dan jika kau keluhkan terhadap musuh (orang yang membencimu) niscaya dia akan meledekmu.” Kemudian beliau berkata, ‘Lihatlah sebelah mataku ini, demi Allah aku tidak bisa melihat orang ataupun jalan dengannya selama lebih dari 15 tahun, tapi aku tidak pernah memberitahukannya kepada siapapun kecuali engkau sekarang ini. Tidakkah Anda mendengar ucapan hamba Allah yang shalih:

“Aku hanya mengeluhkan segala kesedihan dan keresahanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86) Maka jadikanlah Allah sebagai tempat pengaduanmu dan mencurahkan keresahanmu setiap kali musibah menimpa dirimu, sebab Dia Maha Pemurah dan sangat dekat.”

Pernah beliau melihat seseorang minta sesuatu kepada orang lain, maka beliau berkata, “Wahai putra saudaraku, barangsiapa meminta kepada orang lain untuk suatu hajat, maka dia menyiapkan dirinya untuk diperbudak. Bila diberi, maka dia dibeli, bila ditolak, keduanya menjadi hina. Yang satu karena kikirnya, yang satu karena ditolak. Ketahuilah bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah, tidak ada pertolongan kecuali dari Allah.

Tingkatan Keulamaan

Diriwayatkan dari Hubairah bin Yaryim, bahwa suatu ketika Ali mengumpulkan orang-orang di lapangan, lalu ia berkata, “Aku akan meninggalkan kalian, maka berkumpullah di lapangan.” Mereka kemudian bertanya kepadanya hingga habislah pertanyaan yang ada pada mereka dan tidak tersisa disitu kecuali Suraih. Kemudian Suraih berlutut seraya bertanya kepada Ali, maka Ali berkata kepadanya, “Pergilah, karena kamu Qadhi yang hebat di Arab.”

Diriwayatkan dari Amir, dia berkata, “Telah datang seorang perempuan kepada Ali radhiallahu ‘anhu yang bermusuhan dengan suaminya dan suaminya menceraikannya. Dia berkata, ‘Aku telah mengalami haid tiga kali dalam dua bulan (dalam riwayat yang lain ‘satu bulan’ dan inilah yang shahih. pen)’. Kemudian Ali berkata kepada Suraih, ‘Putuskan perkara keduanya’. Suraih berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, bagaimana aku akan memutuskan sedangkan anda ada di sini?’ Ali radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Putuskan perkara keduanya’. Suraih berkata, ‘Jika ada diantara keluarganya yang agamanya baik dan terpercaya mengatakan bahwa dia telah haid tiga kali dan suci tiga kali dalam dua bulan, lalu mengerjakan shalat, maka boleh baginya (atas pengakuannya tersebut, pen). Namun jika tidak, maka tidak boleh (dalam riwayat yang lain ‘berarti dia adalah berdusta’, pen)’. Ali radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Qalun’.” Kata qalun adalah bahasa Romawi yang berarti ‘Kamu benar’.

Ibnu Sirin berkata, “Suraih pernah berkata kepada dua orang saksi, ‘Kalian telah memberikan keputusan kepada orang ini, dan aku sangat berhati-hati kepada kalian, maka berhati-hatilah kalian berdua’.”

Baca Juga:   Biografi Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar

Sumber:

Grafis Sanad Keilmuan Nahdlatul Ulama

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya