Biografi Junaid Al Baghdadi

 
Biografi Junaid Al Baghdadi
Sumber Gambar: Foto istimewa

Laduni.ID Jakarta – Nama lengkap Abu al-Qasim al-Junaid ibn Muhammad al-Junaid al-Kharaz al-Qawariri al-Baghdadi memiliki julukan (laqab) Abu al-Qasim. Julukan “al-Qawariri” disandarkan kepada profesi ayahnya, penjual kaca. Al-Junaid kemudian mendapat julukan al-Kharaz, yang artiya pedagang sutera, karena memang ia seorang pedagang sutera di kota Baghdad.

Al-Junaid adalah salah seorang sufi terkemuka di samping seorang ahli fikih. Dalam fikih, beliau bermazhab kepada Imam Abu Tsur. Al-Junaid sudah memberikan fatwa-fatwa hukum dalam mazhab tersebut saat usianya masih 20 tahun. Al-Junaid salah satu sufi yang memiliki jasa besar dalam menjaga kemurnian tasawuf. Faham-faham dan akidah-akidah menyesatkan yang hendak masuk dalam ajaran tasawuf habis dibersihkan oleh beliau. Karena itu, banyak ungkapan-ungkapan beliau yang di kemudian hari menjadi landasan utama dalam usaha menjaga kebenaran tasawuf dan kemurnian ajaran Islam.

Baca Juga:   Biografi Abu Daud

Contents

Riwayat Hidup

Lahir

Lahirdi Baghdad, tahun kelahiran Junayd masih belum bisa ditentukan secara pasti sampai sekarang Namun, diperkirakan dia lahir sekitar tahun 210 H. Bedasarkan penghitungan masa mudanya ketika belajar hadis dan fikih di bawah bimbingan Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al-Kalbi al-Baghdadī (w. 240 H), di mana pada saat itu diperkirakan Junaid berumur 20 tahun, sedangkan pendidikannya hanya memakanwaktu 3 sampai 5 tahun.

Baca Juga:    Biografi Abu Ya'qub bin Yusuf bin Yahya Albuwaiti

Wafat

Junaid wafat di Baghdad, kota kelahirannya, pada hari Jum’at petang tahun 298 H.

Pendidikan dan Sanad Keilmuan

Beliau lama bergaul dan belajar kepada pamannya sendiri, yaitu :

  1. Muhammad ibn al-Qashshab al-Baghdâdi 
  2. Imam Al Hasan bin Muhammad As Shabah Azza'Farani 
  3.  Imam Bukhari 
  4. Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman At Tujibi  
  5. Abu Tsur Alkalbi Al Baghdadi
  6. Imam Abu Ali Husein bin Ali Alkarabisi 
  7. Harmalah bin Yahya bin Abdullah At Tujibi 
  8. Imam Ahmad bin Hanbal
  9. Muhammad bin Syafi'i
  10. Ishaq bin Rohaweh 
  11. Abu Ya'qub bin Yusuf bin Yahya Albuwaiti  
  12. Abdullah bin Zubair bin Isa Abu Bakar Al Humaidi
  13. Imam Sarri as-Saqthi
  14. al-Harits al-Muhasibi

Penerus

Ajaran tasawuf Junaid diterus oleh banyak ulama sufi lainnya, terutama kaum sufi sunni. Bahkan banyak tarekat yang silsilahnya tersambung dengannya. Di antara ulama-ulama yang meneruskan ajaran Junaid adalah:

  1. Ja’far al-Khuldi
  2. Abu Muhammad al-Jariri
  3. Abu Bakar asy-Syibli
  4. Muhammad bin Ali bin Habisy
  5. Abdul Wahid bin Alwan
  6. Imam Nasai 
  7. Ibnu Al Qadhi Ibnu Suraij 
  8. Ibnu Mundzir
  9. bnul Qoshi
  10. Abu Ishaq Al Marwazi
  11. Al Mas'udi
  12. Abu Ali At-Thabari
  13. Al Qaffal Al Kabir Asy-Syasyi
  14. Ibnu Abi Hatim

Pemikiran Tasawuf Junaid al-Baghdadi

Tentang Tasawuf

Menurut Junaid al-Baghdadi, tasawuf adalah menjaga waktu (dapat menggunakan waktu secara benar), juga seseorang tidak berbuat di luar kemampuannya, tidak menyetujui sesuatu kecuali dari Allah, tidak menyertakan perbuatan-perbuatan lain selain waktunya. Lalu seseorang bertanya kepada Junaid, “Apakah tasawuf itu ?” Junaid lalu berkata: ”Tasawuf ialah bersatunya hati seseorang dengan yang Maha Benar (Allah), dan hal ini tidak bisa dicapai kecuali dengan menghilangkan keinginan-keinginan hawa nafsu demi untuk menguatkan jiwa dan berada bersama dengan yang Maha Benar (Allah).”

Adapun kaedah tasawuf menurut Junaid al-Baghdadi adalah ; “Memurnikan atau membersihkan hati atau jiwa dari pengaruh keduniaan, menjauhkan diri dari sifat-sifat yang tercela, mengendalikan sifat-sifat kemanusiaan (biologis), menghindar dari godaan hawa nafsu, menghias diri dengan hal-hal yang bersifat ruhaniyah dengan melalui ilmu-ilmu hakekat, lebih cenderung pada sesuatu yang bersifat kekal atau abadi, selalu memberikan nasehat kepada manusia tentang kebenaran dan mengikuti Rasulullah dalam syari’at.”

Tauhid

Pandangan Junaid al-Baghdadi secara umum mengenai tauhid adalah:

Orang-orang yang Meng-Esa-kan Allah (muwahhid) ialah mereka yang merealisasikan ke-Esa-anNya dalam arti yang sempurna, menyakini bahwa Ia adalah Maha Esa. Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Menafikan segala bentuk yang mensyarikatkan-Nya, Ia tidak diserupakan, tidak bisa diuraikan, tidak bisa digambarkan dan tidak bisa ditamsilkan. Tuhan itu Maha Esa tanpa padanan dengan sesuatupun, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sedangkan tauhid dalam perspektif sufistik, Junaid al-Baghdadi menyatakan bahwa:

“Tauhid adalah hal yang berhubungan dengan penyucian Allah dari sifat-sifat yang baharu. Bahkan ia juga menafikan dari hal-hal yang dapat meleburnya sesuatu yang lain kepada Allah. Maka tauhid menurut Junaid al-Baghdadi adalah kita mengetahui dan meng-ikrarkan bahwa Allah itu sejak zaman azali sendiri, tidak ada dua beserta-Nya, dan tidak ada sesuatu perbuatan yang sama dengan perbuatan-Nya, dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Tauhid adalah jalan untuk mengenal Allah (ma’rifatullah). Hal ini didasari oleh keyakinan dan pembenaran iman, bukan dengan keraguan. Pandangan ini menunjukkan penolakan Junaid terhadap konsep al-ittihad atau al-hulul dan juga wahdat al-wujud. Ibarat yang demikian menunjukkan bahwa ia adalah seorang sufi muslim dan mukmin yang dikenal dengan paham wahdat asy-syuhud. 

Ajaran wahdat asy-syuhud Junaid al-Baghdadi sebagaimana dikemukakan Muhammad Jalal Syarif adalah ; ”persatuan dalam kesaksian, yaitu adanya pembatas bagi setiap sufi ketika berakhir atau tercapainya cita-citanya menuju jalan Allah. Suatu keadaan di mana perasaan seorang hamba menyaksikan kehadiran Allah dalam segala sesuatu, sedangkan wujud Allah adalah milik Allah.

Tauhid yang hakiki menurut Junaid al-Baghdadi adalah buah dari fana’ terhadap semua selain Allah. Ia menyatakan bahwa tauhid secara khusus dalam terminologi sufistik adalah adalah pemisahan yang qidam dari yang hudus, keluar dari alam dirinya dan memutuskan cintanya kepada hal-hal yang duniawi, dan meninggalkan apa yang diketahui dan tidak diketahui dengan menjadikan Tuhan sebagai tempat bagi semuanya. Jadi hakekat tauhid itu adalah betul-betul mengesakan-Nya, Dia adalah Dia. Ini adalah kesadaran tertinggi bagi seorang muwahhid dalam mengesakan-Nya.

Pengertian tauhid menurut Junaid Al-Baghdadi mengandung unsur utama “pemisahan yang baqa’ dan yang fana’. Atau dengan kata lain pemisahan yang qidam dan hudus. Ketika menjelaskan sebuah hadis : “Manakala Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, hingga melalui Aku ia mendengar,” Junaid al-Baghdadi berkata: ”Kalau demikian, maka Allah-lah yang memampukannya. Dialah menjadikannya mampu mencapai hal ini. Dialah yang menuntunnya dan mengkaruniakan padanya hakekat dan kebenaran. Dengan demikian, ia adalah perbuatan Allah lewat dirinya.

Baca Juga:    Biografi Imam Ahmad bin Hanbal

Fana’

Pengertian tauhid secara khawas atau sufistik menurut Junaid al-Baghdadi dapat dicapai manakala sang sufi membuat dirinya fana’ terhadap dirinya dan makhluk sekitarnya, dengan sirnanya perasaan dan gerakannya, akibat apa yang dia kehendaki dikendalikan yang Maha Benar. Dalam hal ini Junaid al-Baghdadi menyatakan bahwa tasawuf berarti bahwa “Allah akan menyebabkan engkau mati dari dirimu sendiri dan hidup di dalam-Nya.” Peniadaan diri ini oleh Junaid disebut fana’.

Dengan kefanaan dalam tauhid, seorang sufi bisa merealisasikan ‘keinginan untuk keluar dari ruang sempit menuju kefanaan abad luas.’ Fana dalam tauhid adalah jalan ilmu dan ma’rifah, keadaan dan kesempurnaan, yang kepadanya tidak datang kebathilan baik dari depannya maupun dari belakangnya, dan tidak ada penyimpangan baik pada permulaannya maupun penghjungnya. Konsep kefanaan dalam tauhid ini pertama kali dikemukakan oleh Junaid al-Baghdadi, dan didukung oleh para sufi Sunni sesudahnya.

Ma’rifat

Para kaum sufi berbeda pendapat tentang ma’rifat itu sendiri. Masing-masing mereka mengemukakan pendapatnya. Mengenai pengertian ma’rifat ini, Junaid al-Baghdadi berkata : “Ma’rifat adalah adanya kebodohan pada dirimu dikala berkembangnya ilmu kamu.” Lalu ada seseorang meminta kepadanya, “Ceritakanlah kepada kami dengan lebih banyak lagi.” ”Suatu ketika Dia sebagai subyek (Yang Mengetahui), dan di ketika yang lain Dia sebagai obyek (yang diketahui),” kata Junaid. Artinya, sesungguhnya kamu tidak mengetahui-Nya karena dirimu, tetapi sesungguhnya kamu mengetahui-Nya karena Dia.

Abu Bakr Muhammad Al-Kalabazi menyatakan bahwa Junaid al-Baghdadi pernah berkata ;

Ma’rifat itu ada dua macam, yaitu ma’rifat ta’arruf dan ma’rifat ta’rif. Ma’rifat ta’arruf adalah bahwa Allah memberitahukan kepada orang banyak akan diri-Nya dan memberi tahu orang banyak akan hal-hal yang menyerupai-Nya seperti perkataan Nabi Ibrahim as., “Saya tidak menyukai barang sesuatu yang terbenam.” Adapun arti ma’rifat ta’rif adalah Allah memberi tahu orang banyak akan bekas-bekas kekuasaan-Nya dalam cakrawala dan dalam diri manusia.

Kemudian secara halus terjadilah kejadian benda-benda yang menunjukkan kepada orang bahwa mereka itu ada yang menciptakan, yaitu Allah. Semua orang tidak mendapat ma’rifat terhadap hakikat Allah kecuali karena-Nya sendiri. Dalam pandangan Junaid al-Baghdadi, seorang sufi tidak akan mencapai ma’rifat kecuali melalui maqamat dan al-ahwal. Sebagaimana ia menyatakan, tidak akan sampai seseoang hamba kepada hakikat ma’rifat dan kemurnian tauhid, sehingga ia melalui ahwal dan maqamat.

Syathahat

junaid al-Baghdadi sebagai imam kaum sufi, ketika ditanya tentang syathahat sufi, ia menjelaskan : “Syathahat itu adalah keadaan seorang sufi dalam kondisi yang tidak sadarkan diri. Dan cenderung lebih banyak diam, tetap pada posisinya daripada berbicara dan bergerak.” Dalam hal ini, seorang sufi sedang mengalami suatu tingkatan yang membatasi dirinya dengan penciptanya. Dan kepribadiannya lebur ke dalam zat Ilahi, kemudian naik ke alam cahaya, di mana di hadapannya hal-hal yang ghaib terungkap.

Dari konsep di atas, jelas sekali perbedaan antara Junaid al-Baghdadi dengan para sufi pantheis (penganut paham wahdat al-wujud). Ia secara tegas menetapkan pemisahan antara Allah dengan makhluk. Sementara para sufi penganut pantheis menyatakan tidak adanya perpisahan antara keduanya, dan wujud adalah satu dan tidak berbilang sama sekali. Sebagai tokoh sufi, Junaid al-Baghdadi memahami syathahat yang dialami sufi sebagaimana pengalaman Abu Yazid al-Bustami. Junaid al-Baghdadi menandaskan bahwa dalam keadaan trance, sorang sufi tidak mengucapkan tentang dirinya sendiri, tentang apa yang disaksikannya pada saat mengalami keadaan trance, yaitu Allah Swt.

Suatu ketika diriwayatkan kepada Junaid al-Baghdadi, bahwa Abu Yazid al-Bustami mengatakan, “Maha Suci Aku ! Maha Suci Aku ! Aku inilah Tuhanku yang Maha Luhur.” Maka Junaid al-Baghdadi berkata, “Dia begitu terpesona oleh penyaksian terhadap Allah sehingga dia mengucapkan apa yang membuatnya terpesona. Penglihatan terhadap yang Maha Benar membuatnya terbuai, di mana tidak ada yang dia saksikan kecuali yang Maha Benar, sehingga ia meratapi-Nya. Abu Yazid al-Bustami, sekalipun agung kondisinya dan tinggi isyaratnya, tidaklah keluar dari kondisi permulaannya, dan darinya belum pernah aku mendengar sepatah kata un yang menunjukkan kesempurnaan pada kesempurnaan dan akhir.

Pendapat Junaid al-Baghdadi ini mempunyai makna bahwa Abu Yazid al-Bustami dan juga al-Hallaj, adalah kelompok sufi yang tidak bisa mengendalikan diri, serta orang yang tunduk pada intuisi. Dengan sendirinya hal itu membuat mereka tetap dalam keadaan permulaan, dan tidak bisa menjadi panutan bagi sufi lainnya.

Baca Juga:    Biograf Imam Syafi'i

Sumber:

  1. Grafis Sanad Keilmuan Nahdlatul Ulama
  2. Kitab Siyar A’lâm an-Nubalâ’ Juz 14 karya Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, hlm. 67. 
  3.  https://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=2738&idto=2738&bk_no=60&ID=2599      
  4.   https://alif.id/read/redaksi/tarekat-junaidiyah-kisah-al-junaid-1-b208190p/      
  5.    https://kajianagamadanfilsafat.blogspot.com/2011/11/imam-junaid-al-baghdadi-studi-atas.html           
 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya