Biografi KH. Ghazali Ahmadi

 
Biografi KH. Ghazali Ahmadi

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

 

3          Penerus Beliau
3.1       Putera-puteri
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karya, dan Karier
4.1       Karya-karya Beliau
4.2       Karier Beliau

5         Teladan   
5.1      Kesederhanaan KH. Ghazali Ahmadi
5.2      Berdakwah dari Desa ke desa

6         Referensi

 

1          Riwayat Hidup dan Keluarga


1.1       Lahir

KH. Ghazali Ahmadi Lahir di Dusun Arjasa Lao’ Desa Arjasa Kabupaten Sumenep Madura pada tanggal 04 Mei 1945. Beliau berasal dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya rajin berkhidmah pada orang-orang alim dengan harapan agar Ghazali kecil kelak juga menjadi orang alim. 

1.2       Riwayat Keluarga

Tanggal 15 September 1969, KH. Ghazali Ahmadi mempersunting putri pertama sang paman sekaligus gurunya, yaitu Nyai Hj. Luthfiyah binti KH. Syarfuddin Abdusshomad. Dan dikaruniai 5 anak putera dan puteri.

1.3       Wafat

Karena rasa cinta beliau terhadap dakwah sungguh besar, seminggu sebelum wafat beliau masih aktif memberikan pengajian dan berdakwah. Beliau wafat pada Jumat, 16 Juli 2021, bertepatan dengan 6 Dzulhijjah 1434 pada usia 76 tahun.

KH. Ghazali Ahmadimeninggal sesuai dengan keinginan beliau, yaitu ingin meninggal di rumah pribadi (bukan di rumah sakit atau di tempat yang jauh dari rumah), ingin wafat pada hari Jumat, ingin wafat dengan sakaratul maut yang mudah, dan tidak ingin meninggal dengan sakit yang lama.

Beliau menjemput kematian dengan iringan dzikir dan tahlil, serta tidak mengeluhkan sakit apapun, tidak demam, tidak batuk dan flu, tidak sesak nafas, tidak sakit kepala, saturasi oksigen dan tekanan darah pun normal.

Sebelum meninggal, beliau juga telah mempersiapkan liang lahat, kain kafan, dan tempat untuk dimandikan dengan sendiri. Sebab beliau tak ingin merepotkan orang lain, termasuk anak-anaknya.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

KH. Ghazali Ahmadi bukan hanya sekolah melainkan juga mengaji. Di samping belajar di SDN Arjasa 1 Sumenep, orang tuanya menyerahkan pelajaran agama Ghazali pada pamannya sendiri, KH. Syarfuddin Abdusshomad. Di sebuah surau kecil, KH. Syarfuddin mengajari Ghazali kecil mengeja huruf Hija’iiyah hingga mengaji kitab Imrithi dan syarah Jurumiyah.

KH. Ghazali Ahmadi juga mengaji selama 8 bulan pada KH. Abdul Adhim Cholil (1930-1992). Tahun 1959, dengan diantar KH. Abdul Adhim Cholil dan KH. Syarfuddin, Ghazali Ahmadi mondok di Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo. Ia diterima di kelas 5 Madrasah Ibtida’iyah. Dan pada akhirnya, beliau menyelesaikan seluruh jenjang studinya di pesantren yang didirikan KH. R Syamsul Arifin ini, mulai dari Madrasah Ibtid’iyah, MTs, Madrasah Aliyah hingga lulus Sarjana Muda (BA) di Fakultas Syari’ah Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo.

Di samping belajar, di Pesantren Sukorejo ini beliau juga mengajar. KH. R As’ad Syamsul Arifin mengangkatnya sebagai ustadz sejak KH. Ghazali Ahmadi duduk di bangku kelas 3 MTs Sukorejo. Kiai As’ad menunjuknya sebagai guru bidang fikih di kelas 1 MTs Sukorejo Putri yang salah satu muridnya adalah putri Kiai As’ad sendiri, yaitu Nyai Hj Zainiyah As’ad. Setelah lulus sarjana muda,KH. Ghazali Ahmadi mengajar Fathul Wahhab di Madrasah Aliyah. Di antara muridnya saat itu yang sekarang terkenal adalah: KH. Afifuddin Muhajir (Rais Syuriah PBNU) dan KH. Salwa Arifin (Pengasuh Pesantren sekaligus Bupati Bondowoso Jawa Timur). 

Tak hanya mengajar di ruang kelas, Ustadz Ghazali juga menggelar pengajian bandongan di Masjid Jami’ Pesantren Sukorejo. Di pengajian bandongan itu, KH. Ghazali Ahmadi membaca banyak kitab terutama di bidang fikih seperti Kitab Fahul Mu’in, dan lain-lain. Beliau juga telah menulis kitab Sabilul Jannah, kitab fikih ibadah dalam bahasa Madura.  Namun, tak ingin hanya menekuni ilmu fikih, KH. Ghazali Ahmadi juga ingin memasuki dunia tarekat. Tahun 1973, KH. Ghazali Ahmadi talqin Tarekat Naqsyabandiyah pada KH. Ali Wafa Ambunten Sumenep. Setelah Kiai Ali Wafa wafat (1886-1976), KH. Ghazali Ahmadi melanjutkan bimbingan tarekatnya pada KH. Ahmad Sofyan Miftahul Arifin (1915-2012) Sletreng Situbondo.

2.2       Guru-Guru Beliau

Di antara guru-guru KH. Ghazali Ahmadi saat beliau menuntut ilmu adalah:

1. KH. R As’ad Syamsul Arifin (1897-1990) yang kisah perjuangannya sudah cukup masyhur. Tak perlu dikisahkan lagi di sini. Hanya sedikit ingin saya informasikan bahwa Kiai As’ad pernah menjadi dosen beliau dalam mata kuliah Ilmu Tauhid ketika Abah menjadi mahasiswa di Universitas Ibrahimy (UNIB), satu perguruan tinggi di Pesantren Sukorejo yang didirikan oleh Kiai As’ad sendiri.

2. KH. Dhofir Munawar (1923-1985). Di samping berguru kepada Kiai As’ad, selama puluhan tahun mondok di Pesantren Sukorejo Situbondo, beliau banyak mengaji kitab kepada KH Dhofir Munawar, menantu sekaligus sepupu Kiai As’ad yang dikenal sangat alim-allamah. Kepada Kiai Dhofir, beliau mengaji kitab al-Luma’ karya Abu Ishaq al-Syairazi, Kifayatul AkhyarIqna’Fathul Wahhab, dan Tafsir Jalalain. Kiai Dhofir sendiri pernah mondok di tiga pesantren, yaitu Pesantren Guluk-Guluk Sumenep, Pesantren Sidogiri Pasuruan, dan Pesantren Lasem Rembang

3. KH. Sya’rani Parante Asembagus Situbondo. Dengan berjalan kaki kadang naik delman atau dokar dari Pesantren Sukorejo Banyuputih ke Parante Asembagus (11 km), beliau mengaji kitab Jam’ul Jawami’ kepada Kiai Sya’rani. 

Kiai Sya’rani adalah teman seangkatan Kiai As’ad ketika keduanya studi di Mekah. Kiai Sya’rani bercerita kepada KH. Ghazali Ahmadi bahwa dirinya bersama Kiai As’ad pernah ziarah ke kuburan ulama legendaris yang terkenal dengan “kecerdikannya”, Abu Nuwas.

4. KH. Umar Sumberwringin Jember (1904-1982), ayahanda Alm. KH Khotib umar (Mustasyar PBNU 2010-2014). KH. Ghazali Ahmadi sering mengaji waktu bulan Puasa ke Kiai Umar. Beliau biasanya tinggal di Pesantren Sumberwringin sepanjang bulan Ramadlan.

Tak lebih dari 11 kitab kecil-kecil yang beliau mengaji pada Kiai Umar sampai khatam seperti kitab NuruddhalamQathrul GhaitsTijanud Darari, dan lain-lain. Selain mengaji kitab, yang tak terlupakan oleh beliau dari Kiai Umar adalah ketika Kiai Umar meminta Abah untuk bersalaman dengan Nabi Hidir di belakang masjid. 

Kiai Umar juga teman Kiai As’ad Syamsul Arifin waktunya dua-duanya mondok di Pesantren Banyuanyar Pamekasan, asuhan Kiai Abdul Hamid ibn Itsbat (wafat di Mekah tahun 1931, dikebumikan di Pekuburan Ma’la, dekat dengan kuburan Sayyidah Khadijah bintu Khuwailid, istri Baginda Nabi SAW.

5. KH. Ali Wafa (1886-1976), dari Ambunten Sumenep, salah seorang santri Syaikhuna KH. Muhammad Cholil Bangkalan. Tahun 1973, beliau berbai’at Tarekat Naqsyabandiyah kepada Kiai Ali Wafa, yang dikenal sebagai Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah sangat berpengaruh saat itu terutama di Kabupaten Sumenep.

Namun, setelah dibai’at zikir Tarekat Naqsyabandiyah, Kiai Ali Wafa dawuh kepada KH. Ghazali Ahmadi, “Sampeyan mengamalkan zikir tarekatnya nanti saja setelah Kiai As’ad Syamsul Arifin wafat”.

Mengikuti dawuh Kiai Ali Wafa dan perintah Kiai As’ad, praktis aktivitas KH. Ghazali Ahmadi di masyarakat dipenuhi aktivitas dakwah, ngaji, dan berjuang melalui NU. Beliau tak menjalankan zikir Tarekat Naqsyabandiyah.

6. KH. Sofyan Miftahul Arifin (1915-2012) dari Pondok Pesantrem Sumberbunga Sletreng Situbondo. Ketika Kiai As’ad sudah wafat tahun 1990 dan seperti disyaratkan Kiai Ali Wafa, maka Abah mulai menjalankan zikir tarekatnya kepada Kiai Sofyan, salah seorang murid Kiai Ali Wafa Ambunten yang menjadi Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah.

Kiai Sofyan adalah alumni Pondok Pesantre Genggong Probolinggo. Beliau diasuh dan didik langsung oleh KH Moh Hasan Sepuh Genggong (1843-1955) yang dikenal sebagai “waliyullah”. Dari Genggong, Kiai Sofyan melanjutkan belajarnya pada KH Zaini Mun’im (1906-1976), Pendiri dan Pengasuh Pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Selanjutnya Kiai Sofyan berbait tarekat kepada Kiai Ali Wafa Ambunten Sumenep.

Sebenarnya banyak kisah yang disampaikan Abah tentang bimbingan, perhatian, dan arahan Kiai Sofyan untuk Abah. Sebab, sepeninggal guru-gurunya yang lain terutama Kiai As’ad, maka Kiai Sofyan lah yang banyak membimbing dan mengarahkan Abah terutama dalam menghadapi soal-soal pelik di masyarakat. Lain kali insya’a Allah akan saya ceritakan.

Masih banyak mungkin ratusan guru-gurubeliau yang lain, tanpa mengurangi rasa hormat, tak bisa disebut satu persatu seperti KH. Abdul Adhim Cholil (1930-1992, Pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah Arjasa Sumenep), KH. Thaha (Pendiri Pesantren Bindung Situbondo), termasuk paman yang kemudian menjadi mertuanya KH. Syarfuddin Abdusshomad, dan lain-lain. Khusus KH. Abdul Adhim, terima kasih telah mengantar beliau ke Pesantren Sukorejo dan mempertemukan beliau dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin.

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

Pendirian Pesantren Zainul Huda Lama tertahan di Situbondo, dan baru tahun 1981 KH. Ghazali Ahmadi bisa mutasi ke kampung halamannya, Arjasa Sumenep Madura. Namun, jauh sebelum pulang kampung, KH. Ghazali Ahmadi telah membuat syarat bahwa dirinya bisa menetap di kampungnya kalau sudah disediakan lahan tanah untuk dibangun pondok pesantren. Tanpa berfikir lama, khawatir cucu kesayanganya (Nyai Luthfiyah) akan dibawa menetap di Situbondo oleh KH. Ghazali Ahmadi, maka Nyai Hanimah binti Umat yang dikenal tuan tanah dan notabene adalah mertua KH. Syarfuddin menyerahkan sebidang tanah untuk tujuan tersebut.

Dengan disetujui KH. Syarfuddin, maka KH. Ghazali Ahmadi kelak menamai pesantren tersebut dengan nama Pondok Pesantren Zainul Huda Duko Lao’ Arjasa Sumenep.  Sebelum pulang kampung, KH. Syarfuddin dengan didukung oleh seluruh masyarakat sekitar sudah memulai pembangunan Madrasah Ibtida’iyah, surau kecil di atas tanah wakaf Nyai Hanimah tersebut. Kini di atas nama wakaf itu juga telah berdiri Madrasah Ibtida’iyah, Madrasah Diniyah Sufla, Kantor Pesantren Zainul Huda dan Masjid Zainul Huda. Tak hanya wakaf untuk pesantren, Nyai Hanimah binti Umat juga menghibahkan tanah untuk anak-anak perempuan dari pasangan KH. Syarfuddin dan Nyai Mu’awanah binti Nyai Hanimah.

Karena tanah warisan dari pihak perempuan, maka yang menetap di area dalam Pesantren Zainul Huda adalah anak-anak perempuan Nyai Mu’awanah, sedangkan anak laki-lakinya berada di luar pesantren. Pesantren ini terus dikembangkan dan pengembangannya tak lepas dari peran KH. Ghazali Ahmadi.

Telah berdiri misalnya Madrasah Diniyah Wustho, SMP Islam Zainul Huda. Beberapa tahun terakhir, KH. Ghazali Ahmadi memimpin sendiri pembangunan gedung SMA Zainul Huda dan Madrasah Diniyah Ulya.

3          Penerus Beliau

3.1       Putera-puteri Beliau

Putera-puteri KH. Ghazali Ahmadi yang menjadi penerus beliau adalah:

  1. Kiai Abdul Moqsit Ghazali
  2. Kiai Hatim Ghazali
  3. Nyai Mu'tiyah Ghazali
  4. Istianah Ghazali
  5. Abd. Muiz Ghazali.


3.2       Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau saat dia mengajar di pondok pesantren adalah:

  1. Nyai Hj Zainiyah As’ad
  2. KH. Afifuddin Muhajir
  3. KH. Salwa Arifin
  4. Murid-murid beliau yang menjadi santri di pesantren Pesantren Zainul Huda Sumenep.

4          Karya, dan Karier


4.1       Karya-karya Beliau

Kitab hasil karya beliau adalah:

Kitab Sabilul Jannah


4.2       Karier Beliau

Karier KH. Ghazali Ahmadi :

  1. Guru MTs Sukorejo
  2. Pengasuh Pesantren Zainul Huda Sumenep
  3. Menjadi syuriah MWC NU Kecamatan Arjasa
  4. Menjadi Ketua MUI Kecamatan Arjasa Kangean

5          Teladan

5.1      Kesederhanaan KH. Ghazali Ahmadi

Selain sebagai tokoh masyarakat, ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Zainul Huda, beliau juga merupakan sosok pribadi yang dikenal sebagai “hamba ilmu”, yakni orang yang tidak pernah merasa puas dalam menuntut ilmu. Alhasil, pada masa mudanya, hidup KH. Ghazali Ahmadi banyak dihabiskan untuk belajar dari sekolah umum hingga ke pesantren. Pun, yang tak kalah menariknya adalah “kehausannya” akan ilmu pengetahuan melekat dalam diri beliau hingga akhir hayatnya.

Meskipun tidak seperti kebanyakan para kiai liannya yang kerap belajar ke Makkah, yang pada saat itu diyakini sebagai salah satu tempat terbaik menuntut ilmu, khususnya ilmu di bidang keagamaan. Akan tetapi, kepiawaian dan kedalaman ilmunya di bidang agama tidak ada seorang pun yang meragukannnya. Bahkan, tatkala masih menjadi santri di Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo, Kiai Ghazali adalah termasuk salah satu santri kinasih Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Tak ayal, apabila KH. Ghazali Ahmadi banyak digandrungi oleh para ulama, cendekiawan, akademisi dan masyarakat maupun generasi setelahnya sampai saat ini. Seluk-beluk hidupnya banyak dijadikan inspirasi dan panutan/teladan oleh kebanyakan orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik perilakunya, tutur kata dan bahkan sepak terjangnya dalam menyebarkan agama Islam yang penuh dengan kesabaran dan ketabahan.

Salah satu kepribadian atau perilaku KH. Ghazali Ahmadi yang patut diteladani, adalah ihwal kesederhanaannya dalam menjalani roda kehidupan. Pada masa KH. Ghazali Ahmadi, kehidupan masyarakat Kangean, khususnya Desa Arjasa Laok (selatan) dan Desa Duko Laok, notabene masyarakatnya adalah “petani”. Bahkan, bertani menjadi salah satu penopang hidup (mata pencarian) paling utama bagi kedua desa tersebut.

Tidak heran, tatkala “musim hujan” seluruh masyarakat Arjasa Laok dan Duko Laok turun ke sawah untuk bertani, begitu pula dengan Kiai Ghazali. Dari saking urgennya “urusan pertanian”, beliau tak segan-segan terjun langsung ke sawah laiknya kebanyakan seorang petani pada umumnya. Menariknya, kendati beliau seorang Kiai dan tokoh masyarakat tetapi dalam bertani tak seperti kebanyakan kiai pada umumnya yang kerap mempekerjakan orang. Namun, Kiai Ghazali menggarap sawahnya sendiri tanpa bantuan dari masyarakat. Sebab, Kiai Ghazali tidak mau merepotkan orang lain selama ia mampu mengerjakannya sendiri.

Yang tidak kalah menariknya dari sifat kesederhanaannya adalah ketika Kiai Ghazali masih menjadi santri di Pondok Pesantren Sukorejo. Suatu ketika, beliau bercerita sendiri ihwal pengalamannya di pesantren. Pada waktu menjadi santri, Kiai Ghazali pernah makan nasi tanpa ikan dan bahkan beliau pernah makan sisa-sisa nasi yang tidak dimakan oleh temannya. Sebab, pada masa itu mode transportasi “kapal” dari Pulau Kangean-Jawa tidak seperti sekarang yang setiap hari selalu ada. Bahkan, satu bulan satu kali, itupun kalau ada. Sehingga, tatkala KH. Ghazali Ahmadi di kirimi bekal oleh orang tuanya, sedikit demi sedikit beliau makan.

Karena, menurut KH. Ghazali Ahmadi seseorang yang menuntut ilmu harus berani hidup sengsara dan melarat (hidup sederhana). Itu artinya, dalam menuntut ilmu tentu saja membutuhkan pengorbanan disertai keteguhan hati yang cukup dahsyat supaya memperoleh manfaat beserta buah dari ilmu tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Ta’lim Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji.

Lebih dari itu, Kiai Ghazali tidak pernah berjarak (menjauh) dengan masyarakat setempat. Terbukti, pada saat masyarakat mengadakan “kerja bakti”, tanpa berpikir panjang Kiai Ghazali selalu terlibat secara langsung di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, tidak jarang beliau membawakan bekal untuk mereka yang mengikuti kerja bakti.

Dengan sikapnya yang demikian, tidak heran apabila Kiai Ghazali banyak dicintai oleh masyarakatnya. Sifatnya yang tidak egois dan sederhana menjadikan beliau senantiasa dikelilingi dan dicintai seluruh masyarakat tidak sekadar Arjasa Laok dan Duko Laok, tetapi seluruh masyarakat Kangean. Tampaknya, sifat ini melekat dalam diri Kiai Ghazali sejak kecil hingga tumbuh menjadi tokoh masyarakat, ulama dan pengasuh pesantren.

5.2      Berdakwah dari Desa ke desa

Kiai Ghazali seperti berbagi tugas dengan mertuanya, KH Syarfuddin. Sekiranya Kiai Syarfuddin menenggelamkan diri dalam proses belajar mengajar di pesantren, maka Kiai Ghazali lebih banyak bergerak ke luar. Di samping pernah masuk di jajaran syuriah MWC NU Kecamatan Arjasa, Kiai Ghazali juga pernah menjadi Ketua MUI Kecamatan Arjasa Kangean. Melalui organisasi keislaman itu, Kiai Ghazali berdakwah siang malam; melewati jalan-jalan terjal, menyeberangi sungai, hingga ke pulau-pulau terpencil. Ia kadang berjalan kaki berjam-jam, naik kuda, naik perahu kecil. Desa-desa yang menjadi sasaran dakwahnya adalah desa-desa yang sebagian besarnya belum teraliri listrik. Jangan bayangkan Kangean dalam kondisi sekarang, tapi perhatikanlah Kangean tiga puluhan tahun silam.

Kangean tempo dulu adalah daerah yang angka buta hurufnya masih sangat tinggi. Jangankan membaca al-Qur’an, tata cara shalat dan wudhu’ saja banyak yang belum paham. Karena itu, jika Islam ala Ahlussunnah Waljamaah berkembang pesat di Kangean sekarang, maka itu tak bisa dilepaskan dari jerih payah santri-santri Kiai As’ad Syamsul Arifin seperti KH Abdul Adhim Cholil, KH Qasdussabil, dan KH Ghazali Ahmadi. Dua yang pertama sudah wafat. Sekarang tinggal Kiai Ghazali dari deretan kiai senior Kangean yang terus mendakwahkan Islam. Tak seperti waktu muda, volume aktivitas dakwah Kiai Ghazali sudah menurun. Berdakwah ke tempat-tempat jauh dan terpencil kini lebih banyak didelegasikan ke ustadz-ustadz muda yang masih fresh. Sementara beliau berdakwah hanya di daerah-daerah yang mudah dijangkau saja.

Sambil masih aktif berdakwah di kalangan bawah, Kiai Ghazali juga mengelola pengajian bulanan dengan membaca kitab al-Hikam karya Ibn Atha’illah al-Sakandari. Membaca kitab al-Hikam, Kiai Ghazali biasanya merujuk pada tiga kitab syarah al-Hikam, yaitu Ib’ad al-Ghumam ‘an Iyqadh al-Himam karya Ibnu Ajibah al-Hasani, Syarh al-Hikam karya Ibn ‘Ubbadi al-Nafari al-Randi, dan al-Hikam al-‘Atha’iyyah karya Ahmad ibn Muhammad Zarruq. Yang ikut dalam pengajian ini kurang lebih ada tiga puluhan orang terdiri dari pengurus NU, muballigh-muballigh muda, dan lain-lain. Akhirnya pengajian itu menjadi reservoir, tempat anak-anak muda mengeruk ilmu dan kearifan.

Tak mudah menemukan kiai Kangean dengan kemampuan orasi seperti beliau. Suaranya bariton, retorikanya memukau, gaya bertuturnya rapi-terstukrur, kaya tamsil dan vokabuler. Dalam ceramahnya, beliau menuturkan  kisah keteladanan para sufi seperti dalam kitab Jami’ Karamah al-Auliya’, dan lain-lain. Agar tak membosankan, beliau pun menyisipkan humor. Tapi, sisipan humornya bukan hanya berguna menyegarkan suasana melainkan juga punya fungsi didaktis yang kuat untuk menyadarkan umat. Mungkin karena itu, ceramah-ceramah Kiai Ghazali mendapat gema yang luas di masyarakat. Undangan ceramah tak berhenti sekalipun tak semuanya bisa dipenuhi Kiai Ghazali.

Ala kulli hal, untuk sampai pada posisinya sekarang, Kiai Ghazali menghadapi banyak tantangan. Siapa yang berkata bahwa dakwah Islam bisa berjalan tanpa hambatan, itu adalah perkataan dusta. Sebagaimana yang lain, dalam berdakwah, Kiai Ghazali juga banyak menghadapi ujian, luar dan dalam. Ia dicibir, dicaci dan dimaki. Bahkan, berdakwah adalah menyabung nyawa. Ancaman pembunuhan sering dialami para pendakwah. Tapi itu semua dihadapinya dengan penuh kesabaran. Di siang hari berjuang menegakkan agama Allah, di tengah malam beliau selalu bangun bermunajat meminta bantuan Allah. Wallahul musta’an.

Mungkin ada banyak kiai seperti Kiai Ghazali yang berjuang di level akar rumput. Hanya kisah perjuangannya tak terliput media. Tak ada peneliti yang merekam dan mendeskripsikan secara tebal sejarah pengabdiannya ke masyarakat. Padahal, orang-orang seperti Kiai Ghazali inilah yang berfungsi sebagai batu bata yang susun-menyusun membentuk piramida Islam Ahlussunnah Waljamaah di Indonesia. Tanpa peran kiai-kiai kampung, Islam Aswaja hanya akan gagah di atas tapi keropos di bawah.

6          Referensi

https://zainulhuda.wordpress.com/

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya