19 Oct 2021 ยท 2.457 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta – Usai berkunjung ke Fahmina Institute, dua orang tamu, Dr. Fachruddin dan kang Eji, kami makan malam di sebuah rumah makan sederhana ditemani Habib Saleh. Lalu terjadi diskusi soal fenomena hafalan dan penalaran. Mana yang lebih utama? Masing-masing ada penggemarnya dan sebaiknya kedua-duanya. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan menjalani keduanya (hapal dan nalar) akan menghasilkan keunggulan dan kemampuan yang sama?
Aku menyampaikan. Ini pertanyaan yang konon pernah dibahas para ulama zaman klasik. Mungkin menarik pandangan Al-Jahiz, Abu Utsman Amr, (w. 868 M), sastrawan dan teolog Mutazilah terkemuka. Dia menulis dalam bukunya yang terkenal Rasail Jahizh:
ู ุชู ุงุฏุงู ุงูุญูุธ ุงุถุฑ ุฐูู ุจุงูุงุณุชูุจุงุท ูู ุชู ุงุฏุงู ุงูุงุณุชูุจุงุท ุงุถุฑ ุฐูู ุจุงูุญูุธ
"Menekankan kebiasaan menghapal bisa mengurangi kemampuan menganalisis, dan kebiasaan menganalisis bisa mengurangi kemampuan menghapal." (Rasail al-Jahizh)
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan โ tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+