Biografi Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi

 
Biografi Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Murid-murid Beliau

4          Kepribadian
4.1       Dermawan dan Mencintai Anak Yatim Piatu

5          Wasiat   
5.1       Wasiat Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi 

6          Referensi

 

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Beliau lahir di kota Khola' Rosyid, Hadramaut, Yaman Selatan, pada tahun 1265 H atau 1845 M. Sejak kecil beliau diasuh oleh pamannya yaitu Al-Habib Sholeh bin Muhammad Alhabsyi. Sejak itu beliau menjadi besar dalam didikan pamannya, sehingga mengikuti jalan dan perilakunya.

Ayah beliau, Al-Imam Al-'Arif Billah Al-Habib Idrus bin Muhammad Alhabsyi telah bepergian ke Indonesia untuk berdakwah, Sejak kecil beliau diasuh oleh pamannya, Habib Shaleh bin Muhammad Al-Habsyi dan wafat di kota Cirebon serta dimakamkan disana. Ayahandanya, Habib Idrus bin Muhammad Alhabsyi, berdakwah ke Indonesia dan wafat pada 1919 M di Jatiwangi, Majalengka. Sedangkan ibu beliau adalah Syeikhoh Sulumah binti Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al hadhrami (putri Syekh Salim bin Smeer penyusun kitab Safinah Najah).

1.2      Wafat

Beliau wafat di Surabaya pada malam Rabu, 12 Rabi’ul Akhir 1337 H /1917 M. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Ampel Gubah, Kompleks Masjid Ampel, Surabaya.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

Pada masa mudanya, Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi telah menuntut ilmu agama yang cukup mendalam, menguasai dan memahaminya. Berbagai ilmu agama yang beliau dapatkan dari ulama masa itu diantaranya ilmu tafsir, hadits dan fiqih. Para ulama dan orang-orang sholeh saat itu telah menyaksikan ketaqwaan dan kedudukan beliau sebagai ulama yang 'aamil (mengamalkan ilmunya).

Seperti hanya para ulama yang lain, di masa mudanya Habib Muhammad juga rajin menuntut ilmu agama hingga sangat memahami dan menguasainya. Beberapa ilmu agama yang belisu kuasai, antara lain, tafsir, hadits dan fiqih. 

Status sebagai anak yatim tidak berpengaruh kepada terhadap diri beliau, karena ibunya dengan penuh kesabaran mendidiknya dan tidak menikah lagi. Di tambah lagi asuhan dan perhatian dari para pamannya, terutama Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Habsyi yang menjadi munshib Al-Habsyi di negerinya, beliau dibesarkan dalam didikan pamannya ini sehingga mengikuti jalan dan perilakunya.

Sebelum genap berusia tujuh tahun, beliau telah mulai mempelajari Al-Qur’an kepada mu’allim Ali Syuwa’i pada tempat pengajian umum di Hauthah. Kemudian beliau menghatamkannya pada Syaikh Ahmad Al-Baiti, munsyid di kubah datuknya, sayyidina Ahmad bin Zain Al-Habsyi. Dalam perjalanan menuntut ilmunya beliau mengerahkan seluruh segala kemampuannya untuk belajar baik ketika masih di Hauthah maupun di berbagai tempat lain di Hadramaut. Disebagian tempat beliau menetap dalam waktu lama dan di sebagian yang lain beliau hanya tinggal beberapa saat. Al-Ghorfah, Sewun, Tarim, Syibam dan Du’an adalah sebagian diantara kota-kota yang didatanginya.

Selain mempelajari Al-Qur’an, sejak kecil beliau juga belajar ilmu fiqih, hadits, tafsir, tasawwuf, nahwu, sharaf, dan sebagainya. Di dalam Qurrah al-‘Ain disebutkan, di antara kitab-kitab yang dibacanya pada pamannya, Al-Habib Sholeh dan pamannya yang lain Al-Habib Abdullah, adalah kitab Ar-Risalah Al-Jami’ah karya datuknya Al-Habib Ahmad bin Zain, Bidayah Al-Hidayah dan umdah as-Salik dalam fiqih, Al-Jurummiyah dan Al-Mutammimah dalam nahwu. Kepada gurunya Al-Habib Abdullah bin Thoha Al-Haddar Al-Haddad, beliau belajar membaca kitab Fathul-Mu’in, rujukan sangat penting dalam fiqih syafi’i.

Guru-gurunya yang lain dalam fiqih dan tasawwuf adalah Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Al-Habib Idrus bin Umar  Al-Habsyi, Al-Habib Idrus bin Abdul Qadir bin Muhammad Al-Habsyi, Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Hasan bin Husein bin Ahmad Al-Haddad, dan lain-lain. Di antara semua gurunya yang menjadi syaikh fath (guru pembukanya) adalah Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.

Sejak kecil beliau sering didoakan dan diilbas (dikenakan pakaian, yang tujuannya sebagai pengangkatan atau pengakuan) oleh para alim ulama. Muridnya, Al-Allamah As-Sayyid Abdullah bin Thahir Al-Haddad mengatakan dalam kitab qurrah Al-‘Ain bahwa, di antara yang mendoakan dan meng-ilbas-nya adalah Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr seorang ulama terkemuka. Banyak gurunya yang telah melihat kelebihannya sejak kecil. Mereka telah melihat tanda-tanda kewalian pada dirinya.

Tahun 1281 H, pada usia 16 tahun beliau menunaikan haji untuk pertama kalinya dengan menaiki kapal dagang yang menuju ke Jeddah. Setelah itu kembali ke negerinya, Hauthah. Tetapi hanya beberapa bulan berada di tengah-tengah keluarganya, setelah itu beliau kembali lagi ke Hijaz untuk menunaikan haji yang kedua, setelah musim haji selesai beliau tidak pulang melainkan menetap di Haramain dan menimba ilmu kepada para ulama.

Di antara para gurunya di Haramain adalah sayyid Fadhl bin Alwi bin Alwi bin Muhammad bin Sahl maulad Dawileh (yang kemudian menjadi tokoh habaib di Turki, Al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti syafi’I di Makkah, Al-Allamah Sayyid Umar bin Abdullah Al-Jufri, dan Al-Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-‘Azab, beliau juga mendalami tajwid kepada sayyid Muhammad An-Nuri.

Kemudian takdir Allah menentukan beliau untuk pergi ke India, tetapi karena hatinya merasa tak tenang tinggal disana akhirnya beliau menuju Singapura dalam perjalannya di Jawa. Selama beberapa tahun beliau tinggal di Jakarta menggeluti perdagangan di samping belajar kepada Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Attas, Al-Allamah Al-Habib  Umar bin Hasan Al-Jufri  dan sejumlah tokoh ulama lainnya.

2.2       Guru-guru Beliau

Guru-guru beliau saat menuntut Ilmu

  1. Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Habsyi
  2. mu’allim Ali Syuwa’i
  3. sayyidina Ahmad bin Zain Al-Habsyi
  4. Al-Habib Abdullah
  5. Al-Habib Abdullah bin Thoha Al-Haddar Al-Haddad
  6. Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi
  7. Al-Habib Idrus bin Umar  Al-Habsyi
  8. Al-Habib Idrus bin Abdul Qadir bin Muhammad Al-Habsyi
  9. Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf
  10. Al-Habib Hasan bin Husein bin Ahmad Al-Haddad
  11. Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi
  12. Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr
  13. sayyid Fadhl bin Alwi bin Alwi bin Muhammad bin Sahl maulad Dawileh (yang kemudian menjadi tokoh habaib di Turki)
  14.  Al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (mufti syafi’I di Makkah)
  15.  Al-Allamah Sayyid Umar bin Abdullah Al-Jufri
  16. Al-Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-‘Azab
  17. sayyid Muhammad An-Nuri
  18.  Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Attas
  19. Al-Allamah Al-Habib  Umar bin Hasan Al-Jufri

3          Penerus Beliau

3.1      Murid-murid Beliau

Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi memiliki murid-murid diantaranya:

  1. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar
  2. Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi
  3. Al-Habib Thahir bin Alwi Al-Haddad
  4. Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf

4       Kepribadian

4.1       Dermawan dan Mencintai Anak Yatim Piatu

Habib Muhammad sebagai ulama yang berakhlak mulia, dan sangat dermawan. Beliau begitu ramah dan penuh kasih sayang, sehingga siapa pun yang sempat duduk di sampingnya merasa dirinyalah yang paling dicintai. Beliau selalu tersenyum, tutur katanya lemah lembut. Itu semua tiada lain karena beliau berusaha meneladani akhlaq mulia Rasulullah SAW.

Anak-anak yatim yang dipelihara oleh beliau, mereka menilai bahwa Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi lebih baik dari ayah-ayah mereka, karena beliau menyamakan anak-anak yatim itu dengan anak-anaknya sendiri, di dalam memberikan pakaian, makanan, minuman dan tempat tidur. Apabila anak-anak yatim itu telah besar, beliau mengurus perkawinan mereka dan memberikan apa-apa yang mereka butuhkan. Tidak mengherankan beliau adalah ayah dari anak-anak yatim dan miskin.

Tak heran jika masyarakat di sekitar rumahnya, bahkan juga hampir di seluruh Surabaya, sangat mencintai, hormat dan segan kepadanya. Beliau juga dikenal sebagai juru damai. Setiap kali timbul perbedaan pendapat, konflik, pertikaian di antara dua orang atau dua fihak, beliau selalu tampil mencari jalan keluar dan mendamaikannya. Sesulit dan sebesar apa pun beliau selalu dapat menyelesaikannya.

Sebagai dermawan, beliau juga dikenal gemar membangun tampat ibadah. Beliau, misalnya, banyak membantu pembangunan beberapa masjid di Purwakarta (JawaBarat) dan Jombang (Jawa Timur). Beliau pula yang pertama kali merintis penyelenggaraan haul para waliyullah dan shalihin. Untuk pertama kalinya, beliau menggelar haul Habib Muhammad bin Thahir Al-Haddad di Tegal, Jawa Tengah. Beliau juga merintis kebiasaan berziarah ke makam para awliya dan shalihin.

5        Wasiat          

5.1       Wasiat Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi 

  1. Setiap apa-apa yang menimpa dirimu ataupun orang lain dari hal-hal yang menyimpang atau kesulitan-kesulitan, gangguan-gangguan dan cobaan-cobaan, semua ini penyebabnya adalah mereka meremehkan perintah Allah, tidak menganggap dan tidak perduli atas  hak-hak Allah yang seharusnya dipenuhi oleh hamba-Nya. 
  2. Sebagaimana yang telah engkau saksikan, seseorang itu apabila istrinya tidak melaksanakan shalat maka dia diam saja tanpa memberi tindakan padanya, Tetapi apabila sang istri merubah rasa masakan yang biasa dimakannya atau tidak mencucikan pakaiannya, maka seketika itu juga timbul amarahnya kepada istrinya. 
  3. Inilah masalah yang sering terjadi didepan mata kita, maka seharusnyalah manusia itu supaya secepatnya bertaubat setiap pagi, siang, sore dan malam hari bahkan kalau perlu bertobat setiap saat selama hidupnya, karena manusia itu setiap saat tidaklah selamat dari dosa yang diperbuatnya, kecuali orang-orang yang telah diselamatkan oleh Allah ta'ala dan itupun sedikit sekali.  
  4. Semoga Allah selalu menjadikan kita dan kaum muslimin sebagai orang-orang yang selalu berjalan diatas jalan yang sesuai dengan orang-orang yang mendapat petunjuk. Amiiin................
  5. Tanda-tanda dari lemahnya iman adalah berpalingnya manusia dari qodho dan qodar. Oleh karena itu engkau akan melihat seseorang apabila ia tidak berhasil memperoleh apa-apa yang diinginkannya, maka ia akan merasa sangat bersedih dan sangatlah susah dirinya. Sehingga keadaan ini menjadikan tabiatnya berubah menjadi keras terhadap keluarga dan anak-istrinya. 
  6. Seandainya ia mengerti bahwa semua itu adalah merupakan irodah (kehendak) dan qodho (ketentuan) dari Allah semata, maka hatinya akan menjadi teduh dan akan menyerahkan semua urusan yang dialaminya kepada Allah Ta’ala.
  7. Keadaan seperti ini tidaklah diperoleh kecuali dengan memberi kabar gembira pada hati kita dengan adanya iman yang telah melekat di dalamnya, sehingga akan membangkitkan rasa selalu ingat kepada Allah Ta’ala dan akan tercegah dari masuknya setan ke dalam hati, serta juga akan menyelamatkan hati dari berpaling kepada hal yang buruk.
  8. Menerima apa yang telah terjadi itu adalah merupakan suatu lautan yang sangatlah dalam.

6         Referensi

https://wiki.laduni.id/index.php?title=Habib_Muhammad_bin_Idrus_Al_Habsyi&oldid=2709"

 

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya