Biografi Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (Bondowoso)

 
Biografi Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (Bondowoso)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Nasab
1.3       Riwayat Keluarga
1.4       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Mencari Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau

4          Karomah 
4.1      Sepucuk Telegram dari Pekalongan
    
5          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Habib Muhammad Al-Muhdhor lahir di desa Quwaireh, Du’an Al-Ayman, Hadramaut, pada tahun 1280 H atau sekitar tahun 18633 M. Ayahnya, Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor, seorang ulama rujukan para ahli ilmu di zamannya. Beliau lahir di Ar-Rasyid Ad-Du’aniyah 1217 H dan wafat pada tahun 1304 H bertepatan dengan tahun 1886 M.

1.2       Nasab

Beliau adalah al-Habib Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Thalib bin Alwy bin Abu Bakar bin Umar Al-Mukhdor bin Syekh Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman As-Seqqaf bin Muhammad Mauladawileh bin Ali Maula Darak bin Alwy al-Ghuyyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali Qasam bin Alwy bin Muhammad bin Alwy bin Ubaidullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Ar-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibthi bin Ali Abi Thalib ibin Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.

1.3       Riwayat Keluarga

Habib Muhammad Al-Muhdhor menikah dengan putrinya Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, dikaruniai 8 anak, 5 putera dan 3 puteri.

1.4       Wafat

Setelah beberapa hari menjalani perawatan di Surabaya akibat sakit yang di deritanya, pada malam selasa 21 Syawal 1344 H, bertepatan dengan 4 Mei 1926 M, Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdhor wafat.  Beliau dimakamkan disamping makam mertuanya Habib muhammad al habsy.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Mencari Ilmu

Lingkungan keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Itulah yang terjadi pada kalangan Alawiyin di Hadramaut masa itu hingga saat ini. Sebagaimana lazimnya pendidikan para Alawiyin di Hadramaut, Habib Muhammad mendapat bimbingan agama langsung dari ayahnya. Beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dan belajar berbagai kitab keilmuan pada ayahnya. Beliau juga belajar kepada kakaknya, Al-Habib bin Ahmad Al-Muhdhor. Jika kita perhatikan kita dapat mengetahui, bahwa pendidikan para ulama bain alawi di Hadramaut menghasilkan sanad keilmuan dari seorang wali bin wali dan seterusnya, hingga bersambung kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Setelah belajar kepada ayah dan kakaknya, Habib Muhammad kemudian belajar mendapatkan ijazah dari para ulama dan auliya’ di saat itu.  Salah sarunya adalah Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas. Dan Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas inilah yang merupakan guru pembentuk karakter dan kepribadian Habib Muhammad Al-Muhdhor. Ketika itu, Haibi Muhammad selalu mengikuti majelis Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, dan beliau pula yang meyertai kemana pun sang guru ini pergi.

Dalam kitab Tajul A’ras halaman 469 di ceritakan bahwa, Habib Muhammad Al-Muhdor mengisahkan salah satu peristiwa dalam kehidupannya ketika menuntut ilmu pada waktu itu.

“Saya membaca kitab Al-Muhadzab kepada Al-Imam Al-Walid Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas. Tetapi ketika itu tidak mudah bagi kami untuk menyelesaikan, beliau meminta saya untuk menemaninya dalam perjalanan pulang ke Huraidhah, desa di mana beliau tinggal. Maka saya pun menuruti perintah beliau. Dalam perjalanan itulah saya membaca kitab tersebut bersama beliau, sampai akhirnya saya dapat menyelesaikan pembacaan kitab itu pada hari keberangkatan kami dari Gaidun. Ketika itu kami berjalan mengendarai dua kuda berdampingan”.

Selanjutnya, ketika ayah beliau wafat. Bersama Habib Hamid kakaknya, Habib Muhammad melakukan perjalanan dakwah ke berbagai negeri untuk merayu ke Jalan Allah dan Rasulnya. Berdua mereka melakukan perjalanan ke Singapura dan Indonesia. Dimana pun tempat beliau singgah, mereka selalu di sambut oleh para penduduk negri dengan suka cita dan penuh penghormatan. Setelah itu, berdua mereka kembali ke kampung halaman di Hadramaut.

Selang beberapa waktu, Habib Hamid kakaknya, melakukan perjalanan ke tanah suci, untuk melaksanakan ibasah haji dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di Madinah. Sekembalinya kakak beliau dari tanah suci, pada tahun 1308 H, Habib Muhammad melakukan perjalanan dakwah ke kota Heydrabad di India. Beliau datang untuk memenuhi undangan Sultan ‘Awad bin Umar Al-Qu’aythi. Di India, beliau mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakatnya, ribuan manusia segala lapisan dan golongan berbondong-bondong datang untuk menemui beliau. Dari India, beliau melanjutkan perjalanan dakwahnya ke Indonesia, dan beliau memilih Bondowosao.

Disanalah beliau menetap dan berdakwah. Beberapa waktu kemudian, Habib Muhammad Al-Muhdhor beremu dengan Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya). Dari pertemuan itulah yang mendorong beliau untuk berguru kepada Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Idrus AL-Habsyi. Karena eratnya hubungan keduanya, akhirnya Habib Muhammad Al-Muhdhor menikah dengan putrinya Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor(Ayah beliau)
  2. Al-Habib bin Ahmad Al-Muhdhor
  3. Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas
  4. Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

Anak-anak beliau yang menjadi ulama penerus beliau adalah:

  1. Al-Habib Abdullah bin Muhammad Al-Muhdhor
  2. Al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Muhdhor
  3.  Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Muhdhor
  4.  Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Muhdhor
  5. Al-Habib Muhdhor bin Muhammad Al-Muhdhor             

4        Karomah

4.1       Sepucuk Telegram dari Pekalongan  

Salah satu diantara tokoh Habaib yang dekat dengannya adalah al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Attas, Pekalongan Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor menganggap Al-Habib Ahmad Al-Attas adalah guru dan orang tuanya. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor sering sekali berkunjung ke Pekalongan.

 Apabila beliau datang, Al-Habib Ahmad Al-Attas menyuruh para muridnya untuk menyambutnya dengan tabuhan rebana dan untaian sya'ir Meski Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor lebih muda dan menganggap dirinya sebagai guru, namun Al-Habib Ahmad Al-Attas sangat menghormatinya luar biasa. 

Al-Habib Ahmad Al-Attas pun sering mengunjunginya di Bondowoso, bahkan, ketika telah lanjut usia dan kakinya sudah lumpuh,Al-Habib Ahmad Al-Attas bersama isteri, anak, dan sejumlah muridnya mengunjungi Al-Habib Muhammad Al-Muhdhor di kediamannya di Bondowoso.
Perhatikanlah, bahwa inilah akhlak para pendahulu kita. Akhlak yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Bukankah Nabi Muhammad SAW mengatakan dalam sebuah hadis yang artinya :
"Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak menyayangi yang lebih muda "
 Al-Habib Ahmad Al-Attas yakin bahwa Al-Habib Muhammad Al-Muhdhor adalah seorang yang do'anya mustajab suatu ketika, Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor datang ke Pekalongan, setelah beberapa hari, beliau meminta izin kepada Al-Habib Ahmad Al-Attas untuk melanjutkan perjalanannya ke Jakarta, saat itu Al-Habib Ahmad Al-Attas berkata kepadanya :
"Saat ini aku teringat anakku yang bernama ali yang berada di Hadramaut. aku menginginkannya datang pada hari raya tahun ini."

 Lalu Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor mengatakan kepada Al-Habib Ahmad Al-Attas :
"Tahun ini ia pasti datang dan berhari raya di tempat antum"
 Hari berganti hari dan hari raya pun semakin dekat, sedangkan al-Habib ali masih berada di hadramaut dan tak ada tanda-tanda akan kedatangannya. Maklum, Al-Habib Ahmad Al-Attas sendiri juga tidak mengirimkan surat kepada anaknya Ali agar datang ke indonesia ketika Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor telah sampai di jakarta masyarakat berduyun-duyun datang menyambutnya.

Beliau menuju rumah seorang muhibbin yang bernama Ahmad bin Abdullah Basalamah lalu pada sorer harinya mengadakan rauhah Diantara hal yang diceritakan olehAl-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor dalam majelis tersebut adalah pertemuannya dengan Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atas, Pekalongan, hingga membahas perihal Ali, anak Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atas.

 Keesokan harinya menjelang Maghrib, dtanglah seorang tukang pos membawa sepucuk telegram untuk Al-Habib Muhammad Al-Muhdhor. Diujung surat itu tertulis dari Habib Ahmad bin abdullah bin Thalib al-Attas di Pekalongan, setelah dibuka, isinya:

 "Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor di Betawi. semoga Allah swt selalu membahagiakanmu. Anakku Ali telah sampai singapura dan esok ia akan menuju jawa. Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Attas, Pekalongan"  

 Setelah membaca isi telegram itu, tersenyumlah al-Habib Muhammad al-Muhdhor. hal ini merupakan salah satu karamah al-Habib Muhammad al-Muhdhor dari sekian banyak karamah-karamah beliau Wallahu a'lam

5         Referensi

Pustaka Pejaten

 

 

 

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya