Biografi KH. Zulfa Mustofa

 
Biografi KH. Zulfa Mustofa

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Majelis Taklim

3          Karya, dan Karier
3.1       Karya-karya Beliau
3.2       Karier Beliau

4          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Zulfa Mustofa dilahirkan di Jakarta 7 Agustus 1977. Ayahnya KH. Muqarrabin berasal dari Pekalongan, sedangkan ibunya adalah Nyai hajjah Marhumah Latifah berasal dari Kresek 12 kilometer dari Tanara. Ibunda KH. Zulfa Mustofa merupakan anak Nyai Hajjah Maimunah yang juga ibunda dari ulama terkemuka di Indonesia, KH. Ma’ruf Amin. Berarti KH. Zulfa Mustofa juga merupakan cucu kemenakan dari Syekh Nawawi al-Bantani.

1.2       Riwayat Keluarga

Beliau menikah dengan Hulwatin Syafi`ah dan dikaruniai beberapa orang anak.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Pendidikan formalnya KH. Zulfa Mustofa mulai di Jakarta hingga kelas tiga SD di SD Al-Jihad, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ketika naik kelas empat SD, beliau melanjutkan sekolah ke Pekalongan sampai tamat. Beliau kemudian meneruskan pendidikan tsanawiyah ke Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon. Saat naik ke kelas 2 tsanawiyah, beliau pindah ke Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Ada dua orang gurunya yang sangat berwibawa dan berkesan untuknya selama nyantri di Kajen, yaitu KH. M. A. Sahal Mahfudh (Ketua Umum MUI Pusat sekarang) dan KH. Rifa`i Nasuha yang merupakan guru dari Kyai Sahal. Pada tahun 1996, setelahbeliau selesai menyelesaikan pendidikan madrasah aliyahnya, pada bulan Ramadhan, beliau kembali ke Jakarta.

Namun, keinginannya untuk kuliah ke Timur Tengah, ke Al-Azhar atau ke Makkah, tidak bisa ibeliau wujudkan karena ayahnya wafat tepat pada malam Idul Fitri. Sepeninggal ayahnya, beliau kemudian menggantikan posisi ayahnya untuk mengajar di majelis-majelis taklim yang diasuh ayahnya semasa hidup, sekitar lima majelis taklim, walau ketika itu usianya masih sangat muda, 19 tahun. KH. Zulfa Mustofa sendiri mempunyai majelis taklim yang ia namakan Darul Musthofa. Pada tahun 2000.

2.2       Guru-Guru Beliau

Guru-guru beliau saat menuntu ilmu di pesantren:

  1. KH. M. A. Sahal Mahfudh
  2. KH. Rifa`i Nasuha

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Majelis Taklim

KH. Zulfa Mustofa mendirikan dan mengasuh majelis taklim yang ia namakan Darul Musthofa

3          Karya, dan Karier

3.1       Karya-karya Beliau

Dan baru-baru ini, muncul KH. Zulfa Mustofa dengan dua kitabnya yaitu kitab al-fatwa wa Ma La Yanbaghi Li al-Mutafaqqih Jahluhu dan yang kedua kitab Diqqat al Qonnas fi Fahmi Kalam al Imam al-Syafi’i. kitab yang pertama terdiri dari empat bab; bab yang pertama membahas tentang masalah-masalah fatwa dan hal yang berkaitan dengannya seperti kedudukan fatwa, mufti, tantangan-tantangan fatwa dan sebagainya termasuk bagian-bagian ijtihad.

Bab yang kedua dari buku karya KH. Zulfa Mustofa yang berjudul al-Fatwa ini menerangkan tentang sumber-sumber pengambilan sebuah fatwa, didalamnya diterangkan berbagai macam sumber yang disepakati dan yang tidak disepakati; bab yang ketiga menjelaskan tentang metodologi-metodologi fatwa yang dilakukan oleh para mujtahid, diantaranya tentang hubungan antara ijtihad dan istinbath; pengakomodiran maqashid al-syari’ah dalam istinbath; peran ‘aqal dalam ijtihad dan interaksinya dengan nash dan memahami maqashid; dan diterangkan pula tentang metodologi bahtsul masa’il dikalangan Nahdlatul Ulama, metodologi tarjih Muhammadiyah, dan metodologi fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI).

Sedangkan bab yang terakhir menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang digunakan ulama Indonesia dalam menghadapi dalil-dalil kontradiktif dan bagaimana sikap mereka menghadapi perbedaan-perbedaan ulama dalam fikih.Kitab yang tebalnya mencapai 325 halaman ini disajikan oleh ulama muda Banten ini dengan bahasa yang memadukan antara bahasa Arab Klasik dan Bahasa Arab Modern.

Kitab yang kedua yang KH. Zulfa Mustofa tulis adalah kitab Diqqat al Qonnash fi fahmi Kalam al-Imam al-syafi’i, kitab ini menerangkan tentang bagaimana hukum hanya bisa digali dari dua sumber yaitu nash dan haml ala al-nash, metode pertama dilakukan ketika suatu kejadian hukum ditemukan nash atau dalilnya secara langsung; dan haml ala al-nash yaitu dengan dua metode yaitu istinbath qiyasi dan istinbath maqosihidi.

3.2       Karier Beliau

Karier KH. Zulfa Mustofa saat ini adalah:

  1. Mutasyar PBNU
  2. Sekjen MUI DKI
  3. Wakil MUI 

4         Referensi

https://rminubanten.or.id/

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya