Biografi Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudh

 
Biografi Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudh
Sumber Gambar: Dok. Laduni.ID (ist)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Organisasi, dan Karier
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau    

5          Penghargaan   

6          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Nyai Nafisah Sahal lahir dari pasangan suami istri KH. Abdul Fattah Hasyim dan Nyai Hj. Musyarofah pada tanggal 8 Februari 1946 di Jombang, Jawa Timur. Ibundanya adalah pendiri Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyyah, Bahrul Ulum, Tambakberas. Sedangkan ayahandanya adalah pendiri Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

1.2       Riwayat Keluarga

Di tengah perjalanan, tepatnya setelah satu tahun beliau menempuh bangku perkuliahan, beliau dinikahkan oleh Kiai Fattah dengan putra Kiai Mahfudh, yang tidak lain adalah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dari Kajen, Pati, Jawa Tengah. Ikatan pernikahan yang dijalin tidak serta merta sebagai penghalang bagi Nafisah muda untuk meyelesaikan pendidikannya. Dengan penuh keikhlasan, sang suami memberi kesempatan kepada istrinya untuk tetap kuliah di Yogyakarta hingga wisuda, sedangkan Kiai Sahal melanjutkan nyantri kembali di wilayah Sarang.

Selepas wisuda dari IAIN Sunan Kalijaga, bersama suami, Nyai Nafisah memutuskan untuk tinggal di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Bermula dari suatu proses perjuangan keadaan ekonomi yang menuntutnya untuk lebih giat dan menjadi salah satu penopang dalam mencari rezeki di keluarga kecilnya. Bersama Kiai Sahal beliau meminta izin untuk sekadar membantu memenuhi pundi-pundi rupiah agar kebutuhan keluarganya tercukupi. Segala hal beliau lakukan, mulai dari membuat hiasan dinding dari kain strimin, menjahit tangan, hingga menjual hasil kebunnya ke pasar.

Sifat yang melekat dalam jiwa Nyai Nafisah begitu gigih, terampil, ulet, dan penuh kewaspadaan. Hal ini bisa dilihat dalam perilaku beliau yang penuh kehati-hatian dalam mengelola uang yang beliau miliki dan dapatkan. Terlebih di kala beliau mendapat gaji dari keanggotaan Dewan Perwakilan Daerah. Beliau menekankan atas perintah suami Kiai Sahal Mahfudh bahwa uang dari hasil anggota DPR tersebut jangan sampai masuk ke dalam perut. Alasannya adalah jika uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga dan sudah mendarah daging nanti akan berpengaruh terhadap karakter dan ibadahnya. Dikarenakan beliau paham betul bagaimana gaji yang diberikannya itu berasal. 

Dalam mendidik putra tunggalnya, beliau juga sangat disiplin. Bersama KH. Sahal Mahfudh, beliau mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan dan tidak memberikan kemudahan-kemudahan karena jabatan dan kolega. Hal ini terbukti ketika Gus Rozin tidak naik kelas saat belajar di Perguruan Islam Mathali’ul Falah meskipun ayahnya menjabat sebagai direktur di Madrasah Mathali’ul Falah. Artinya KH. Sahal Mahfudh memberikan didikan mental yang kuat kepada putranya bahwa jika ingin berhasil maka harus mau belajar dengan rajin. Bahkan ketika putranya meminta uang disaat sedang ada tamu, maka Nyai Nafisah tidak mengizinkan putranya tersebut mengambil uang sendiri, melainkan harus Nyai yang mengambilnya. Gus Rozin pun patuh pada aturan orang tuanya.

Meskipun Kiai Sahal sudah menjadi sosok Kiai yang sangat dihormati banyak orang, namun tidak lantas menjadikan beliau bergelimang harta. Bahkan suatu ketika Nyai tidak mampu membeli telur ayam dalam jumlah yang banyak, maka hanya Gus Rozin kecil saja yang makan telur ceplok kesukaannya, sedangkan Kiai Sahal dan Bu Nyai Nafisah hanya makan dengan sambel.  Hal-hal yang terlihat sepele ini benar-benar telah mendidik putra beliau menjadi pribadi yang disiplin dan sederhana serta sangat menyayangi keluarganya. Hingga Gus Rozin menjadi sosok yang mampu mengikuti jejak kedua orang tuanya yaitu memperjuangkan umat dengan mengabdi pada negara.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Nyai Nafisah Sahal semasa belajar dari bangku madrasah ibtida’iyah hingga perkuliahan selalu bersamaan dengan Nyai Hj Sinta Nuriyah yang merupakan istri dari Mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau biasa dikenal dengan Gus Dur. Karena ternyata antara Nyai Nafisah dan Nyai Hj Sinta Nuriyah masih memiliki hubungan darah yakni nenek beliau merupakan adik kakak. Hal ini yang menjadikan kedekatan antara mereka berdua selalu beriringan kemanapun mereka menuntut ilmu.

Selama menempuh pendidikan di Yogyakarta, beliau tinggal di pesantren yang diasuh langsung oleh Prof. Dr. KH. M. Tolchah Mansoer yang merupakan pendiri Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Rais Syuriah PBNU periode 1984-1986, juga guru besar hukum Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Prof. Dr. KH. M. Tolchah Mansoer berkiprah pula di kancah politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) mewakili Partai NU dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Sebenarnya, selama tinggal di Yogyakarta beliau juga ngangsu kawruh kepada KH. Ali Maksum yang pada saat itu memimpin  Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak (tahun 1968-1989 M). Beruntung bagi Nyai Nafisah Sahal dapat belajar banyak ilmu dari dua tokoh kiai besar pada zaman itu, maka tidak salah jika beliau memiliki ilmu pengetahuan agama dan wawasan yang luas. 

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. KH. Abdul Fattah Hasyim
  2. Nyai Hj. Musyarofah
  3. Prof. Dr. KH. M. Tolchah Mansoer
  4. KH. Ali Maksum

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

Jiwa yang tertanam pada diri Nyai Hj. Nafisah Sahal bak seorang pejuang tangguh yang berlayar di luasnya samudera. Berawal dari niatan beliau untuk mendirikan sebuah Pondok Pesantren Putri di wilayah Kajen, dikarenakan melihat begitu mirisnya sebuah pendidikan yang belum sempat diterima oleh kaum putri layaknya kaum laki-laki pada masa itu. Dengan penuh kayakinan beliau meminta izin kepada suaminya bahwa niatan beliau untuk mendirikan pondok pesantren adalah cikal bakal perkembangan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai agama. Hal ini sempat ditentang oleh Kiai Sahal dengan alasan bahwa Kiai Sahal masih ragu. Akan tetapi, Bu Nyai Nafisah Sahal ini berkeyakinan bahwa apa yang beliau lakukan ini hal baik.

Hingga pada suatu hari tanpa disangka disaat Nyai Hj. Nafisah tertidur dan beliau bermimpi bahwa beliau melihat Ayahnya yakni KH Abdul Fattah bersama seseorang yang mirip sekali dengan suaminya tidak lain adalah Abah mertuanya yaitu KH Mahfudh yang merupakan Ayahanda dari Kiai Sahal. Dalam mimpinya terlihat beliau berdua sedang mengitari sebuah lahan sambil membawa senter dan melakukan semacam ritual manaqiban. Kemudian Nyai Hj Nafisah menceritakan perihal mimpinya kepada Kiai Sahal, alhasil beliau dapat menyimpulkan bahwa niatan Nyai Hj Nafisah sudah diberi restu oleh para sesepuh. Lalu dibangunlah sebuah pesantren di lokasi tepat seperti mimpi beliau.  Pendirian pesantren tidak langsung bisa berdiri, lagi-lagi perekonomian yang menjadi alasan hingga pada akhirnya santri juga turut serta tidur di ndalem

Beruntung pada saat itu beliau menjadi anggota DPRD II Kabupaten Pati dengan gaji yang beliau dapatkan maka bisa digunakan untuk membantu mendirikan sebuah Pondok Pesantren Putri dengan nama Al-Badi’iyah. Meskipun Kiai Sahal Mahfudh juga telah mengelola Pondok Pesantren peninggalan dari ayahandanya yaitu Pondok Pesantren Maslakul Huda yang hanya tersisa 6 orang santri seusai beliau pulang nyantri dari Sarang. 

Kiai Sahal memang benar-benar memberikan ruang terhadap Nyai Nafisah untuk mengelola Pondok pesantren yang beliau asuh dengan sistem mereka sendiri. Mereka berdua bertekad kuat untuk memulihkan kembali peran pesantren yang tidak hanya menjadi alternatif tetapi juga sebagai pilihan. Hal ini terbukti dengan banyaknya santri ataupun santriwati yang belajar di pondok pesantren yang mereka berdua asuh. 

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin 

3.2       Murid-murid Beliau

Murid beliau adalah para santri di Pesantren Putri  Al-Badi’iyah Pati.

4          Organisasi, dan Karier

4.1       Riwayat Organisasi

Setelah menyelesaikan pendidikannya dan menjalani tugas sebagai istri, Nyai Nafisah Sahal tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Namun beliau mengabdikan ilmunya di Perguruan Islam Mathali’ul Falah sejak tahun 1972. 

Beliau juga mulai berorganisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) Pati yaitu mulai aktif dan ditunjuk untuk menghidupkan kembali musimat NU cabang Pati yang sebelumnya sempat vakum. Bahkan beliau dipercaya menjadi ketua muslimat 2 periode (1976-1982 dan 1982-1987 dan selanjutnya beliau dipercaya untuk memimpin muslimat NU wilayah Jawa Tengah selama 2 periode (1993-1999 dan 1999-2005). 

Dalam memimpin organisasi Muslimat NU, banyak sekali keberhasilan yang telah dicapai oleh Nyai Nafisah Sahal diantaranya Muslimat NU Pati mampu mendirikan Rumah Sakit Islam Pati dan Panti Asuhan Darul Hadlonah yang dikelola yayasan kesejahteraan Muslimat NU. Ketika menjadi ketua muslimat NU Pati, Nyai Nafisah mulai membangun kerjasama dengan BKKBN. Kerjasama ini terus berlanjut hingga dirinya memimpin muslimat NU wilayah Jawa Tengah. Beliau sangat menyadari bahwa sosialisasi tentang kesehatan, reproduksi, kependudukan dan alat kontrasepsi sangat penting bagi masyarakat terutama anggota muslimat. Beliau terpilih sebagai satu-satunya ulama’ perempuan yang menjadi pembicara dalam Traveling Seminar di Sulawesi yang bekerjasama dengan BKKBN. Bersama sang suami beliau mengadakan Traveling Seminar yang bertajuk membina keluarga maslahah keliling indonesia serta Kiai Sahal keliling hingga kawasan Asia. 

Nyai Nafisah Sahal juga seorang pembicara di panggung-panggung atau mubalighoh. Citranya di masyarakat juga sangat selaras mengadakan pengajian rutinan setiap bulan di mana beliau tinggal yaitu di desa Kajen. Tidak hanya menjadi pembicara di kampung halaman saja tapi juga di luar daerah. Bahkan beliau pernah harus naik gethek (perahu kecil) hanya untuk sampai di rumah yang mengundangnya berdakwah. Banyak hal baik suka maupun duka telah beliau jalani  dalam berdakwah sejak masih muda. Karena beliau selalu diajarkan tentang arti perjuangan hidup demi menggapai ridlo illahi oleh keluarganya. 

Kiprah beliau dalam terjun ke suatu organisasi yang membawanya hingga beliau tercatat sebagai anggota dewan pakar PP Muslimat NU, dan menjadi salah satu dari tiga perempuan yang tercatat sebagai mustasyar PBNU. Hal ini menuai keunikan sebab mustasyar PBNU rata-rata adalah seorang laki-laki

4.2      Karier Politik

Nyai Nafisah Sahal adalah salah satu sosok politisi perempuan di Indonesia yang kita kenal. Pada tahun 1977-1982 beliau menjadi anggota DPRD II Kabupaten Pati. Ketika itu, beliau merupakan satu-satunya perempuan anggota DPRD II dari Partai Islam. Namun, Nyai Nafisah Sahal memutuskan tidak maju lagi pada periode selanjutnya. Meskipun  dorongan dari berbagai pihak sangat kuat untuk beliau terjun ke dunia politik lagi, tetapi beliau megatakan tidak berambisi untuk mencari kedudukan, karena menurut beliau jabatan itu adalah amanah yang tidak bisa dibuat main-main.

            Namun pada akhirnya ketika banyak pihak meminta Nyai Nafisah Sahal untuk maju dalam pemilihan calon anggota DPD dalam masa jabatan 2004-2009, beliau tak dapat menolak, apalagi juga mendapat dukungan dari Kiai Sahal Mahfudh. Bahkan beliau memperoleh suara terbanyak di antara para anggota DPR RI se-Indonesia.

            Selama lima tahun menjabat sebagai DPD RI, Nyai Nafisah selalu berupaya menjalankan semua tugasnya, baik sebagai abdi masyarakat, istri, ibu, dan guru. Bahkan beliau harus bolak balik Pati-Jakarta setiap minggu dengan membagi waktunya empat hari di Jakarta dan tiga hari di Pati. Dengan demikian beliau masih tetap bisa mengajar di Perguruan Mathali’ul Falah maupun di pesantren yang ia asuh.

Setelah satu periode berakhir, Nyai Nafisah dengan tegas menolak untuk dicalonkan kembali sebagai anggota DPD. Peraih penghargaan Eksekutif Berprestasi dan Citra Kartini Indonesia 2004 serta Man & Women of The Year Tahun 2005 ini berpendapat bahwa politik zaman sekarang sangat berbeda dengan politik zaman dahulu. Dulu orang berpolitik dengan niat berjuang tapi sekarang orang terjun ke dunia politik demi uang dan kedudukan.

5        Penghargaan

  1. Peraih penghargaan Eksekutif Berprestasi dan Citra Kartini Indonesia 2004 
  2. Man & Women of The Year Tahun 2005

6         Referensi

https://pesantren.id/


 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya