Biografi KH. Badri Masduqi 

 
Biografi KH. Badri Masduqi 

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa, Organisasi, dan Karier
4.1       Jasa Beliau
4.1.1    Melawan PKI
4.2       Riwayat Organisasi
4.3       Karier Beliau

5          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Badri Masduqi lahir di desa Parenduan Sumenep Madura, dua tahun sebelum kemerdekaan Indonesia yaitu pada tanggal 1 Juni 1942, dari seorang ayah KH Mashduqi dan Nyai Musyarroh. 

Kiai Badri tumbuh besar di bawah asuhan tunggal sang ibu. Selain didikan dari ibundanya, ia mendapat pengajaran dan asupan ilmu dari sang kakek, Kiai Miftahul Arifin, serta sang paman, Kiai Sufyan, yang berasal dari Situbondo.  Dari sang paman, ia mendapat pelajaran tauhid, fikih, dan mengaji kitab Ta'llim al-Muta'allim. Badri kecil belajar agama pada malam hari, sedangkan pada siang harinya ia mengikuti pendidikan formal di sekolah rakyat pada 1950 tetapi hanya sampai kelas IV.

1.2       Wafat

 Beliau wafat pada tanggal 30 November 2002, Kraksaan Probolinggo.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

KH. Badri Masduqi tumbuh besar di bawah asuhan tunggal sang ibu. Selain didikan dari ibundanya, beliau mendapat pengajaran dan asupan ilmu dari sang kakek, Kiai Miftahul Arifin, serta sang paman, Kiai Sufyan, yang berasal dari Situbondo. 

Dari sang paman, beliau mendapat pelajaran tauhid, fikih, dan mengaji kitab Ta'llim al-Muta'allim. KH. Badri Masduqi kecil belajar agama pada malam hari, sedangkan pada siang harinya beliau mengikuti pendidikan formal di sekolah rakyat pada 1950 tetapi hanya sampai kelas IV.

Di bangku sekolah dasar ini beliau sudah menampakkan kecerdasannya. "Berkat kecerdasannya, beliau ( dikenal memiliki ilmu laduni," kata teman sejawat beliau, Ali Maki Hasan. 

Pada 1950-an, KH. Badri Masduqi remaja melanjutkan mondok di Pesantren Zainul Hasan Genggong. Tak puas menimba ilmu, beliau kembali nyantri di sejumlah pesantren, yaitu Pesantren Bata-Bata Pamekasan Madura sampai pada 1956, Pesantren Sidogiri sampai 1959, dan Pesantren Nurul Jadid Paiton (1959-1965).

Di Bata-Bata dan Sidogiri inilah KH. Badri Masduqi sering berpuasa dan aktif berdiskusi sesuai usia dan ilmunya yang terus bertambah. Di pesantren Bata-Bata, KH. Badri Masduqi hafal kitab Alfiyah Ibnu Malik) dalam waktu cepat. 

Di Pesantren Bata-Bata, KH. Badri Masduqi dikenal cerdas dan dikagumi tidak hanya oleh kalangan santri. Bahkan gurunya, KH. Ahmad Djauhir, mengakui kecerdasannya melebihi santri-santri lain.

Kelebihan KH. Badri Masduqi semakin menonjol saat nyantri di Pesantren Sidogiri. Beliau merintis Jamiyah Khithabiyah, klub belajar pidato. Sejak saat itu beliau lebih dikenal sebagai "Singa Podium". Karamahnya pun mulai tampak.

Beliau sering mengunci diri dalam kobong (atau kamar bagi santri yang diisi oleh beberapa orang santri) sampai puluhan hari. Di dalam kamar, beliau menjejerkan kitab-kitab, buku, dan majalah yang seolah-olah di dalam kamarnya terdapat seorang guru yang tengah mengajarinya.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. KH. Ahmad Djauhir
  2. KH. Cholil Nawawi
  3. KH. Abd. Adzim bin Oerip 

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

Pada 28 Januari 1967, beliau mendirikan  Pesantren Badridduja, Krakasaan, Porbolinggo, Jawa Timur, di atas lahan seluas kurang lebih satu hektare. Setelah berhasil mengembangkan pesantren, pada 1969 beliau mendirikan madrasah ibtidaiyah dan tiga tahun kemudian pada 1972 mendirikan madrasah tsanawiyah.

Semula madrasah ini menggunakan kurikulum pesantren tradisional. Lima tahun kemudian sejak didirikan, madrasah mulai mengadopsi kurikulum Departemen Agama agar para siswa dapat berkiprah di berbagai bidang, baik di pemerintahan atau mengabdi di sosial kemasyarakatan.  

Berbekal ilmu yang diperoleh di sejumlah pesantren, tak heran bila KH. Badri Masduqi kemudian dikenal sebagai sosok ulama yang ahli di bidang ilmu fiqh dan tasawuf. Saat mendirikan pesantren, 28 Januari 1967 silam, konon pelajaran fiqh dan tasawuf mendapatkan porsi lebih.

Awalnya, di tanah seluas satu hektar itu hanya berdiri bangunan masjid dan rumah sederhana yang ditempati KH. Badri Mashduqi. Dalam waktu yang tak lama, pesantren yang dikepalainya sudah memiliki kantor dan ruangan yang representatif sebagai tempat belajar.

Sebagai seorang kiai, beliau memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan pesantren. Tidak heran bila aktivitas sehari-harinya beliau gunakan untuk mengajar, mendidik di pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo.

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

  1. KH. Tauhidullah Badri
  2. KH Mustofa Qutby Badri MA
  3. KH Muzayyan Badri
  4. KH. Mohammad Jaiz Badri Masduqi

3.2       Murid-murid Beliau

Muird-murid beliau adalah para santri di pesantren Badridduja

4          Jasa, Karya, dan Karier

4.1      Jasa Beliau

4.1.1     Melawan PKI 

Karakter kepemimpinan dan keberaniannya sudah terbentuk sejak belia. Sewaktu masih berstatus santri di Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Porbolinggo, beliau sudah menjabat ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kraksaan. Posisi itu dinilai sangat vital, terlebih menyusul memanasnya ketegangan yang ditimbulkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada 3 Oktober 1965 di wilayah Demak, Jawa Tengah, ditemukan sebuah dokumen berisi daftar beberapa nama ulama seluruh Demak yang hendak diculik dan dibunuh oleh PKI. Pada hari itu juga, pemuda Ansor beserta Banser Demak melakukan operasi penumpasan tokoh-tokoh PKI.

Sebagai ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kraksaan, KH. Badri Masduqi mengerahkan dan mengoordinasikan anggota-anggotanya. Pada malam Kamis, 1965, beliau membekali mereka dengan batu hitam berisi jaza dan amalan-amalan lain. Ada sekitar 22 orang anggota yang masing-masing mendapatkan tiga buah batu hitam untuk dilemparkan kepada rombongan PKI.

Batu hitam yang sudah berisi kalimat-kalimat suci itu dilemparkan ke rombongan PKI yang melintas menggunakan truk. Seketika satu kompi anggota PKI tertidur pingsan. Para pemuda Ansor berhasil menggagalkan niat jahat PKI yang akan membunuh para ulama.

Peristiwa Gestapu akhirnya mampu menyatukan jutaan orang, terutama para demonstran di Jakarta untuk merumuskan tuntutan mereka yang kemudian populer dengan isitilah Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat.

4.2     Riwayat Organisasi

  1.  Beliau pernah menjadi Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Anshor, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
  2. Menjadi Ketua Syuriyah Pengurus Cabang NU Kraksaan, serta masuk dalam jajaran Pengurus Wilayah NU Jawa Timur.
  3. Kiai kharismatik kelahiran Prenduan, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura ini, juga dikenal sebagai tokoh muqaddam Tarekat Tijaniyah, serta memiliki wawasan luas sehingga sering disebut sebagai kiai multidimensi.

4.3      Karier

Menjadi pengasuh pesantren Badridduja
 

5         Referensi

https://badridduja.org/

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya