Biografi KH. Abdul Haq Zaini

 
Biografi KH. Abdul Haq Zaini

Daftar Isi

1         Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Organisasi dan Karier
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau
4.2.1     Kepala Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid
4.2.2    
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid

5          Referensi

1         Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir
KH. Abdul Haq Zaini adalah putra ke enam dari pasangan KH. Zaini Mun’im dan Nyai Hj Nafi’ah. Beliau memiliki lima orang kakak, yaitu KH. Moh. Hasyim Zaini, KH. Abdul Wahid Zaini, Ny. Hj. Aisyah, KH. Fadlurrahman Zaini, KH. Moh. Zuhri Zaini, dan memiliki seorang adik laki-laki bernama KH. Nur Chotim Zaini.

Semasa hidupnya, beliau adalah sosok pria yang sehat dan senang olah raga. Hampir setiap hari selepas subuh, beliau bersama istri tercinta senantiasa menyempatkan diri berolahraga ringan. Berjalan-jalan menghirup segarnya embun pagi di sekitar pesantren Nurul Jadid, sambil menyapa para petani yang mencangkul sawah di pinggiran pesantren.

KH. Abdul Haq Zaini lahir pada tanggal 5 Mei 1953 di Karanganyar, Paiton Probolinggo. Ra (Gus) Abdul Haq kecil lahir dalam keadaan tidak normal. “Tubuhnya terbungkus semacam kulit tipis,” kata Ratib (61) santri senior yang pernah menjadi guru Ra Abdul Haq di Madrasah Aliyah Nurul Jadid.

Melihat keganjilan tersebut, KH. Zaini Abdul Muním, ayahandanya berdoa kepada Allah agar bayi Ra Abdul Haq bisa tumbuh normal. Seiring doa ayahandanya, akhirnya telinga Ra Abdul Haq kecil mulai keluar dari kulit yang membungkus seluruh tubuhnya. Kemudian perlahan-lahan menjadi normal sebagaimana layaknya anak kecil lainnya. “Hanya saja, di ujung bagian telinga kanannya berlubang,” kata Ratib.

Sejak kecil, Ra Abdul Haq senang olah raga. Salah satunya adalah pencak silat. Saat itu beliau berniat berguru kepada ayahandanya. Namun karena tingginya tingkat kesibukan ayahandanya, ia dianjurkan untuk berguru pada orang lain. Selain gemar olah raga, saat remaja Ra Abdul Haq dikenal sebagai pemuda yang sangat pandai bergaul dengan orang lain. Beliau paling mudah akrab dengan para santri, dan tidak membeda-bedakannya.

1.2       Riwayat Keluarga

Beliau melepas lajangnya dengan menikahi Ny Hj Nuri Firdausiyah dan dikaruniai 4 anak

1.3       Wafat

Beliau wafat sekitar pukul 00.30 WIB, Senin 18 Mei 2009 di kediamannya di kompleks Ponpes Nurul Jadid. Wafatnya KH. Abdul Haq Zaini membuat para santri maupun alumni terkejut, karena sebelum wafat, KH. Abdul Haq tidak pernah mengidap sakit keras dan malam itu usai menghadiri pengajian di kawasan Maron. Jenazah dimakamkan di pesarean (asta) keluarga di kompleks Ponpes Nurul Jadid.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Latar belakang pendidikan KH. Abdul Haq Zaini, setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah di Nurul Jadid, melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Nurul jadid, lalu ke Madrasah Aliyah Paiton. Kemudian beliau melanjutkan kuliahnya di Surabaya. Beliau sering menyamar sebagai kernit atau sopir waktu kuliah di Surabaya, beliau bekerja sembari menghafalkan Al-Quran sampai 30 juz.

Dalam pendidikan, beliau acapkali tidak masuk sekolah. Beliau lebih senang bermain bersama kawan-kawannya. Namun demikian, nilai ujiannya di sekolah senantiasa baik mulai dari MI, MTs hingga MA. Selain dikenal cerdas, beliau juga dikenal sebagai anak yang memiliki budi pekerti yang baik. Beliau selalu memperhatikan materi yang diberikan guru dengan seksama. Beliau juga selalu hormat kepada guru-gurunya.

Perhatian terhadap akhlak tersebut senantiasa beliau jaga hingga menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Di balik wajah beliau yang keras, bibir beliau senantiasa mengembang tulus bila bertemu dengan para santri, dan juga orang lain.

Beliau sempat menempuh kuliah di beberapa Perguruan Tinggi di Surabaya. Seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel dan IKIP Surabaya. Namun dua-duanya tidak sempat diselesaikan sampai sarjana.

Melihat hal itu, ayahandanya mengutus kakaknya, alm KH. Abdul Wahid Zaini untuk membujuknya agar bersedia menempuh pendidikan di Umul Quro, Makkah. Akhirnya beliau pun bermukim di mekkah selama enam tahun. Pantas saja kalau keilmuannya diakui oleh para kiai lainnya.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. KH. Zaini Abdul Muním
  2. KH. Moh. Hasyim Zaini

2.3       Mengasuh Pesantren

Beliau adalah pengasuh pesantren di Pondok Pesantren Nurul Jadid menggantikan KH. Abdul Wahid Zaini pada tahun 2000

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

KH. Fahmi Abdul Haq Zaini

3.2       Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau adalah para santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

4          Organisasi dan Karier

4.1       Riwayat Organisasi

Tahun 2002, KH. Abdul Haq Zaini menjadi Ketua Dewan Syuro Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa Probolinggo. Alasan beliau bersedia masuk dalam politik antara lain karena banyak kalangan yang meminta beliau untuk meneruskan tongkat estafet kakak kandungnya, KH. Abd Wahid Zaini yang terbukti memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Beliau menjabat ketua Dewan Syura DPC PKB sebanyak dua kali. Pada tahap terakhir, sebenarnya beliau enggan. Namun desakan dari para kader partai tak jua mereda. Akhirnya beliau memberikan syarat, bila ada satu kader partai yang tidak sepakat beliau menjadi ketua dewan syura, maka beliau akan mengundurkan diri. Saat pemilihan digelar, ternyata KH. Abdul Haq Zaini terpilih secara aklamasi. Karir terakhir politik Kiai Abdul Haq berada di Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama (PKNU).

Terkait perjuangannya di Nahdlatul Ulama (NU). Beliau memang tidak pernah masuk di struktur NU. Namun perjuangannya yang dilakukan selalu di balik layar dan itu bukan hal yang baru bagi KH. Abdul Haq Zaini.

4.2       Karier Beliau

4.2.1     Kepala Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid

Pada tahun 1986, beliau terpilih menjadi Kepala Biro Kepesantrenan Nurul Jadid. Dalam kepemimpinannya, beliau lebih senang menempatkan diri sebagai mitra kerja dengan para pengurus pesantren dari pada sebagai salah satu dari jajaran pengasuh. Sikap beliau tersebut, membawa angin segar dalam tubuh Biro Kepesantrenan. Roda organisasi berjalan dinamis. Para pengurus menjadi lebih leluasa berdiskusi dengan pemimpinnya, dan mereka menjadi lebih bersemangat dalam bekerja.

Suasana  akrab membuat beliau merasa senang. Karena tujuan beliau bersikap demikian adalah agar para pengurus bisa berterus terang saat menyampaikan sesuatu. Meski beliau dikenal akrab dengan para pengurus pesantren, namun pada saat tertentu di mana beliau dituntut untuk menjadi salah seorang dari jajaran pengasuh, maka beliau pun menjadi sosok kiai yang sangat disegani oleh para pengurus pesantren.

Sebagai Kepala Biro Kepesantrenan, beliau tak jemu-jemu melakukan kaderisasi kepada para pengurus Biro Kepesantrenan. Misalkan, bila muncul persoalan di antara santri, beliau tak langsung menanganinya. Biasanya persoalan itu diberikan terlebih dahulu kepada pengurus. Ini beliau lakukan, selain untuk menjalankan job discription masing-masing bagian dalam Biro Kepesantrenan, juga untuk melihat sejauh mana kemampuan para pengurus pesantren bisa meredakan pelbagai persoalan yang muncul di antara santri.

Sebagai seorang Kepala Biro Kepesantrenan, tak jarang beliau terjun langsung di lapangan. Misalkan saat menerima laporan bahwa debit air yang mengaliri kamar mandi para santri menurun, KH. Abdul Haq Zaini segera melakukan cek kebenaran laporan tersebut. Setelah mengetahui bahwa laporan itu benar, beliau segera mengumpulkan para pengurus dan memberikan arahan tentang bagaimana menyelesaikannya.

Hal lain yang mengagumkan para pengurus pesantren adalah cara beliau menghadapi santri nakal yang telah direkomendasikan para pengurus untuk dikembalikan kepada orang tuanya. Menghadapi rekomendasi ini, tak jarang beliau menolak rekomendasi tesebut, dan memilih santri nakal itu untuk beliau bina secara langsung. Biasanya santri nakal itu beliau beri berbagai macam kegiatan. Misalkan menjadi sopir atau hadam beliau.

Dengan kegiatan yang bisa dipantau langsung, KH. Abdul Haq Zaini bisa melakukan komunikasi lebih dalam dengan santri nakal tersebut. Lewat pendekatan ini, perlahan-lahan tingkat kenakalan santri nakal itu mereda. Pendekatan yang beliau lakukan kepada para santri nakal itu, selain diilhami pendidikan dari ayahanda beliau, juga berangkat dari pengalaman KH. Abdul Haq Zaini saat berkenalan dan berteman dengan pelbagai golongan masyarakat saat menempuh kuliah di Surabaya.

4.2.2      Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid

Setelah wafatnya KH. Abd Wahid Zaini pada tahun 2000, KH. Abdul Haq Zaini dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selama kurang lebih delapan tahun, tak sedikit hasil usaha beliau yang saat ini sudah bisa dinikmati, baik oleh santri, alumni dan masyarakat. Di antaranya adalah pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), penertiban keuangan pesantren, mekanisme pengangkatan guru dan dosen, pembangunan bank mu’amalat, pendirian P4NJ serta lainnya.

Sebagai ketua Yayasan, beliau sangat bersemangat sekali. Terakhir adalah pembelian tanah yayasan seluas 1,3 hektar sebelah timur pesantren dan 2,3 hektar sebelah selatan KUA yang menurut rencana akan dijadikan pusat pendidikan.

5        Referensi

https://www.nuruljadid.net/10575/kh-abdul-haq-zaini-kiai-moderat-yang-merakyat

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya