Biografi KH. Ahmad al-Hadi Bali

 
Biografi KH. Ahmad al-Hadi Bali

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa, Organisasi dan Karier
4.1       Jasa-jasa Beliau
4.1.1     Pendiri NU Pertama di Bali
4.2       Riwayat Organisasi
4.3       Karier Beliau
4.4       Karya-karya Beliau

5         Referensi

1         Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir
Raden Ahmad Al Hadi, beliau lahir dari hasil pernikahan KHR. Dahlan Al Falaki Bin KHR. Abdullah At Tirmasi (seorang Kiai pengusaha yang sukses banyak memiliki toko di pasar Johar) dengan RA. Siti Zahroh Binti KH. M. Soleh Darat. Raden Ahmad al-Hadi tidak lain adalah cucu KH Sholeh Darat. Nama aslinya adalah Ahmad. Sebutan al-Hadi muncul belakangan ketika seorang gurunya, KH. Idris Jamsaren, memberikan julukan itu kepadanya. Selain isyarat sayang, gelar itu juga menandakan pengakuan dari kalangan alim ulama terhadap tekad lelaki ini di dunia dakwah Islam.

1.2       Riwayat Keluarga
Beliau mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Mas’udah, dan dikaruniai beberapa anak.

1.3       Wafat
KH. Ahmad al-Hadi atau Ustadz Semarang sendiri tutup usia pada tahun 1976 dan dikuburkan di depan masjid Agung Loloan Timur. Makamnya yang berdampingan dengan Kubur Syarif Abdullah al-Qadri, Adik Sultan Abdurrahman al-Qadri dari kerajaan Pontianak Kalimantan merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya bagi perkembangan Islam di Bali.

Ahmad al-Hadi atau Ustadz Semarang sendiri tutup usia pada tahun 1976 dan dikuburkan di depan masjid Agung Loloan Timur. Makamnya yang berdampingan dengan Kubur Syarif Abdullah al-Qadri, Adik Sultan Abdurrahman al-Qadri dari kerajaan Pontianak Kalimantan merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya bagi perkembangan Islam di Bali.

Sumber: https://www.nu.or.id/tokoh/kh-ahmad-al-hadi-pendiri-nu-pertama-di-bali-MPWWm

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
Masa muda KH. Ahmad al-Hadi dihabiskan untuk berguru kepada sejumlah ulama ternama di Tanah Jawa. Riwayat pendidikannya dimulai dari Pondok Pesantren Buntet Cirebon, Jawa Barat.

Tidak hanya mengkaji ilmu-ilmu agama, ia pun mempelajari ilmu bela diri, khususnya silat, selama di sana. Selanjutnya, beliau belajar ilmu nahwu dan sharaf kepada Kiai Umar di Sarang, Jawa Tengah. Ilmu Alquran dipelajarinya saat nyantri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, yang diasuh KH. Munawwir.

Masih haus akan ilmu-ilmu agama, KH. Ahmad al-Hadi melangkahkan kaki ke Termas. Di sana, beliau belajar kepada pamannya sendiri, KH. Raden Dimyati. Sesudah itu, beliau mengaji kepada Kiai Idris di Pesantren Jamsaren Solo dan Madrasah Manba’ul Ulum. Dari Jawa Tengah, kesempatan untuknya bertolak ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan haji sekaligus melanjutkan rihlah keilmuan.

Dengan penuh komitmen dan disiplin, KH. Ahmad al-Hadi belajar di Tanah Suci. di Makkah kebetulan di Jeddah beliau bertemu dengan murid murid paman beliau KH. R. Mahfud At Tirmasi yang banyak membantu beliau untuk belajar di Makkah dan Madinah. Banyak guru dan syekh ditemuinya guna mendapatkan ilmu dan hikmah. Dalam periode itu,beliau semakin matang sebagai seorang mubaligh yang alim. Tiga tahun kemudian, beliau kembali ke Tanah Air.

Kecintaan akan ilmu-ilmu agama membuatnya terus menjadi santri. Sepulang dari Hijaz, beliau sempat berguru kepada Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Setelah itu, atas saran sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu, beliau berangkat ke Bangkalan, Madura. Tujuannya adalah belajar kepada KH. R Muhammad Kholil Bangkalan.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. Kiai Umar
  2. KH. Munawwir.
  3. KH. Raden Dimyati
  4. KH. Idris Jamsaren
  5. KH. R. Mahfud At Tirmasi
  6. Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari
  7. KH. R Muhammad Kholil Bangkalan

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Setahun lamanya, ia menuntut ilmu di Madura. Selanjutnya, Syaikhona sendiri yang menugaskannya untuk berdakwah di Bali.

Pertama-tama, lelaki kelahiran Semarang itu diperintahkan untuk menemui seorang santri yang bernama Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad di Loloan Timur, Jembrana. Dalam sejarah syiar Islam, TGH Muhammad termasuk seorang perintis dakwah di Bali. Tempatnya mengajar adalah Masjid Baitul Qadim, yang tidak lain masjid tertua di seluruh Jembrana. Kelak, di sanalah KH Ahmad al-Hadi mendirikan madrasah pertamanya.

Setelah bertemu dengan TGH Muhammad di Bali, KH. Ahmad al-Hadi menyampaikan salam Saikhona Kholil Bangkalan kepadanya. Setelah menjawab salam tersebut, ulama asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu pun bersyukur. Sebab, gurunya telah mengirimkan seorang pengganti untuk meneruskan dakwah Islam di Bali. Apalagi, pada saat itu mubaligh yang lama berkiprah di Jembrana itu sedang sakit.

Setelah pertemuan itu, KH. Ahmad al-Hadi bersama dengan Datuk Hasan berpamitan untuk pulang. Datuk Hasan sangat kagum akan kealiman sosok yang diutus Kiai Kholil tersebut. Kepada dialah, pedagang Muslim ini mempercayakan pendidikan anak-anaknya. Mereka pun menjadi santri pertama KH. Ahmad al-Hadi di Bali.

TGH Muhammad meninggal dunia. Bersama kaum Muslimin setempat, Datuk Hasan meminta KH. Ahmad al-Hadi untuk menggantikan posisi almarhum sebagai pemuka Muslim Jembrana. Sejak itulah, beliau kemudian menetap di Kampung Timur Sungai, wilayah setempat, untuk mengajarkan ilmu agama. Pada mulanya, aktivitas dakwahnya dipusatkan di Masjid Bait al-Qadim.

Datuk Hasan memandangnya seperti anak sendiri. Segala kebutuhan hidup KH. Ahmad al-Hadi pun disokong sepenuhnya. Murid Syaikhona Kholil itu sudah menjadi bagian dari penduduk Loloan yang mayoritasnya bersuku Bugis-Melayu. IBeliau berperan sebagai ulama muda yang sangat bersemangat dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama. Masyarakat setempat, wabilkhusus para santri, kerap memanggilnya sebagai “Ustadz Semarang”.

Setelah setahun bermukim di Kampung Timur Sungai, KH. Ahmad al-Hadi dapat mendirikan pondok pesantren. Lembaga itu kini telah berkembang menjadi Pondok Pesantren Manba’ul Ulum. Pondok Pesantren Manba’ul Ulum menjadi pesantren tertua se-Pulau Bali. Berdiri sejak 11 Agustus 1930, institusi ini memiliki hubungan erat dengan masyarakat Muslim di Bali, khususnya Loloan Timur dan Kabupaten Jembrana.

3          Penerus Beliau

3.1      Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau yang menjadi penerus ilmu beliau adalah:

  1.  KH. Muhammad Tohir
  2.  KH. Muhammad Yatim
  3.  KH.Abdur Rahman
  4.  KH. M. Imran

4          Jasa, Organisasi, Karier, dan Karya

4.1       Jasa Beliau

4..1.1    Pendiri NU Pertama di Bali
Pada tahun 1933 Jembrana dijadikan target penyebaran faham Islam puritan pertama di Bali. Gerakan keagamaan yang mengatasnamakan purifikasi agama ini mengkampanyekan pembersihan agama dari Takhayyul, Bid'ah dan Khurafat serta menghujat praktik bermazhab di kalangan umat Islam, sebuah gerakan yang meresahkan kehidupan masyarakat muslim di Jembrana. Hal ini menyebabkan Pondok KH. Ahmad al-Hadi tidak bisa tinggal diam. Ia maju untuk mempertahankan tradisi keagamaan umat Islam di Jembrana yang sudah berjalan berabad-abad lamanya.

Beliau menantang untuk melakukan debat terbuka terhadap siapapun yang berani mengutak-atik dan menyerang tradisi keagamaan yang disebutnya sebagai faham Ahlussunah wal Jama'ah. Bahkan untuk menjawab kecaman kelompok puritan terhadap praktek bermadzhab, KH. Ahmad al-Hadi malah menunjukkan mewajibkan penggunaan "awik" atau cadar kepada semua santri dan murid perempuannya sebagai bukti kesetiaannya terhadap madzhab Syafi'i. Namun untuk melawan gerakan Islam puritan yang terorganisir dengan baik tidak cukup hanya dengan perlawanan personal. Harus ada wadah persatuan yang dapat mengamankan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah dari serangan kelompok-kelompok Islam lain.

 Hal inilah yang menyebabkan Kiai Wahab Chasbullah didatangkan ke Bali pada tahun 1934. Dengan hanya mengendarai Jukong, Kiai Wahab Chasbullah menyeberangi selat Bali dan mendarat di pelabuhan Jembrana waktu itu pelabuhan yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Bali terletak di daerah Cupel. Setelah beristirahat sejenak di Cupel, Kiai Wahab Chasbullah melanjutkan perjalanan menuju kampung Timur Sungai. Disamping Masjid Agung Baitul Qadim Loloan Timur, Kiai Wahab Chasbullah mengenalkan NU kepada para alim ulama masyarakat Islam Jembrana.

Dalam Kesempatan itu Kiai Wahab Chasbullah berpidato: “Kalau boleh diibaratkan sebagai penjual obat, Saya ingin menjajakan saya punya obat kepada tuan-tuan, jika cocok alhamdulillah jika tidak cocok tidak apa-apa” [obat yang dimaksud adalah Nahdlatul Ulama]. Dalam pertemuan tersebut sempat terjadi tanya-jawab seputar masalah-masalah agama. Para ulama dan tokoh lokal Jembrana merasakan ada kecocokan antara ajaran Islam tradisional yang hidup di Jembrana dengan ideologi Ahlussunnah wal Jama'ah NU. Oleh karena itu, diplomasi Kiai Wahab Chasbullah dalam menawarkan NU ini dengan cepat dapat diterima dan menarik minat para ulama, para tokoh serta masyarakat setempat untuk bergabung ke dalam NU.

 Mulai saat itulah organisasi NU berdiri dan memiliki struktur keorganisasian yang jelas. Sementara KH. Ahmad al-Hadi segera dipilih secara aklamasi sebagai Rais `Am Cabang NU Jembrana yang sekaligus menjadi cabang NU pertama di pulau Bali. Di bawah kepemimpinannya, Gerakan NU di Jembrana segera mendirikan sejumlah madrasah di daerah-daerah yang menjadi basis umat Islam Jembrana. Walhasil, pada masa ini NU berhasil mendirikan madrasah di kampung Barat Sungai, Cupel dan Tukadaya sedangkan di kampung Timur Sungai sendiri telah berdiri madrasah yang beliau dirikan sebelum terbentuknya NU.

4.2    Riwayat Organisasi
KH. Ahmad al-Hadi diangkat Rais Aam Cabang NU Jembrana pertama di Bali

4.3     Karier Beliau
Beliau menjadi pengasuh pesantren Mamba'ul Ulum

4.4      Karya Beliau
Di luar kesibukannya mengajar, KH. Ahmad al-Hadi juga produktif menulis. Selama hidupnya, sang alim telah menulis beberapa kitab. Di antaranya adalah, A'mal al-Khairat yang berisi tentang ilmu tajwid, ilmu fikih, doa-doa, serta beberapa amalan.

Ada pula gubahan syair-syairnya yang mengandung hikmah ajaran Islam. Karya sastra itu terhimpun dalam buku Kumpulan Sya'ir: KH. R Ahmad al-Hadi bin Dahlan al-Falaki (1895-1976).

5        Referensi

Rangkuman https://digilib.uinsby.ac.id/32466/1/Rohil%20Zilfa_F530115029.pdf

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya