Biografi KH. Muhammad Miftah Tegal

 
Biografi KH. Muhammad Miftah Tegal

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa, Organisasi dan Karier
4.1       Jasa Beliau
4.2       Organisasi Beliau
4.3       Karier Beliau

5          Keteladanan Beliau

6          Referensi

1 Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Miftah. Beliau merupakan salah seorang mubaligh karismatik yang berasal Desa Kajen, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Tokoh ini lahir pada 6 Juni 1920 dari pasangan KH Mahmud dan Nyai Naimah.
Beliau merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Saudara-saudarinya adalah Nyai Mazinah, KH Mawardi, H Malawi, Nyai Mariah, Hajjah Solihah, Nyi Maemunah, dan Abdul Makin.

Saat Miftah masih berusia tiga tahun, ayah beliau meninggal dunia. Tiga tahun kemudian, ibu beliau juga menyusul dipanggil oleh Allah SWT. Beliau pun mengalami kesedihan yang mendalam. Perjalanan hidupnya untuk menjadi ulama besar dilaluinya dengan cobaan dan ujian.

Setelah kehilangan kedua orang tuanya, KH. Muhammad Miftah ikut bersama kakaknya, KH. Mawardi di Pekalongan. Kakak beradik ini menghuni rumah di Jalan Kergon kenayagan Gang III No 15.

1.2   Riwayat Keluarga

Pengembaraan beliau yang cukup lama di pesantren Lirboyo membuahkan hasil. KH. Muhammad Miftah akhirnya menjadi seorang ulama yang mengamalkan ilmunya. Saat pulang ke kampung halaman beliau, KH. Muhammad Miftah disambut dengan suka cita oleh warga setempat.

Beliau pun menjadi seorang tokoh panutan masyarakat, khususnya di kawasan Tegal. Setelah pulang ke kampung halamannya di Kajen, KH. Muhammad Miftah sempat menikah dengan putri salah satu tokoh Kajen yang bernama Malikha. Namun, saat pernikahannya baru berusia tujuh hari, Nyai Malikha berpulang ke rahmatullah. Selama lebih dari setahun, KH. Muhammad Miftah hidup menduda.

Karena kasihan melihat kondisi sang kiai, mertua beliau kemudian menjodohkan beliau dengan seorang wanita bernama Nyai Hj Umi Kulsum. Sejak saat itu, beliau pun mulai membina keluarga. Di tengah masyarakat pun, perannya kian besar sebagai pembimbing umat.

1.3 Wafat

Setelah melakukan pengabdian dan berjuang mewujudkan kemerdekaan, beliau wafat pada Senin, 7 Nopember 1994.  Jenazah beliau dimakamkan di desa Kajen, kec. Talang, kab. Tegal.

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1   Mengembara Menuntut Ilmu 

Memasuki usia 8 tahun, remaja KH. Muhammad Miftah membantu pekerjaan dan sekaligus mengaji kepada sang kakak, KH. Mawardi, di sebuah pesantren di Pekalongan. Di pesantren kakaknya beliau mengaji Alquran dan nahwu-shorof (gramatika Bahasa Arab). Kitab yang dipelajari KH. Muhammad Miftah muda meliputi Jurumiyah, Imriti, dan Alfiah. Saat berusia 11 tahun, santri KH. Muhammad Miftah sudah hafal kitab Alfiah Ibnu Malik di luar kepala.

Setelah dua tahun belajar di Pekalongan, kemudian KH. Muhammad Miftah melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat. Kemudian, KH. Muhammad Miftah melanjutkan rihlah keilmuannya ke Pondok Pesantren Watu Congol Magelang yang diasuh oleh Mbah Dalhar. Setelah itu, barulah beliau memantapkan hati beliau untuk belajar ke Pondok Pesantren Hidayatul Mutadiin Lirboyo, Kediri.

Pada waktu itu pengasuh Pesantren Lirboyo adalah KH. Abdul Karim atau yang lebih dikenal dengan Mbah Manab. KH. Muhammad Miftah belajar di pesantren tersebut kurang lebih 21 tahun lamanya. Beliau dikenal sebagai santri yang tawadlu, tidak sombong, tidak merasa alim dan selalu mengikuti perintah kiai beliau. Karena itu, beliau pun menjadi santri kesayangan Mbah Manab dan menjadi panutan santri Tegal di Lirboyo.

Layaknya santri yang sudah lama di pesantren, maka KH. Muhammad Miftah menjadi tempat mengaji para santri junior yang ingin menambah ilmu di Lirboyo. Beliau mengajar para santri junior tersebut di kamarnya sendiri.Beliau tidak mengajar di masjid karena tawadhu’ terhadap pengasuh.

Saat di Lirboyo, KH. Muhammad Miftah memang mendapat kepercayaan dari gurunya dan beliau diberikan izin khusus oleh pengasuh untuk mengajar di pesantren. Padahal, persyaratan santri untuk mengajar di pesantren saat itu sangatlah berat.

2.2   Guru-guru Beliau
       
  Guru-guru beliau sewaktu belajar menuntut ilmu adalah:

  1. KH. Mawardi
  2. KH. Dalhar
  3. KH. Abdul Karim

2.3  Mendirikan Lembaga Pendidikan

Awalnya sang istri beliau yang pertama kali mengajarkan Alquran dan qir'aat kepada jamaah. Setelah itu, ada beberapa masyarakat yang mengusul kan agar KH. Muhammad Miftah juga ikut mengajar.

Dengan begitu, pasangan ini menjadi guru keagamaan bagi masyarakat. Akhirnya, KH. Muhammad Miftah memulai membuka majelis pengajian yang membahas Tafsir Jalalain di rumahnya sendiri. Setelah 10 hari mengajar di rumahnya, lokasi pengajian beliau kemudian dipindah ke Masjid Al Rodloh. Demikianlah keadaannya sampai menjelang akhir hidupnya.

Selain itu, KH. Muhammad Miftah juga mengembangkan ilmu agama melalui pendidikan formal, dianta ranya beliau mendirikan Yayasan Taman Penawaja (pendidikan ahli sunnah waljamaah) yang membawahi pendidikan formal SMP dan SMA.

Dalam perkembangannya Penawaja mendapatkan sambutan dan respon positif dari masyarakat. Setelah berhasil mendirikan Yayasan Taman Penawaja, KH. Muhammad Miftah juga terlibat dalam mendirikan Perguruan Tinggi Islam di Kabupaten Tegal, yaitu Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal.

 Beliau juga mendirikan MTs Nahdaltul Ulama (NU) dan SMA NU Wahid Hasyim, MTs NU Sunan Kalijaga, dan Yayasan Amal Umat Islam (Yaumi). Masyarakat Muslim Kabupaten Tegal tidak akan melupakan nama KH. Muhammad Miftah karena jasa-jasanya dalam pembangunan umat.

3  Penerus Beliau           

3.1  Anak-anak Beliau 

   Anak-anak beliau yang menjadi penerus perjuangan di antaranya:

        1. KH. M. Hamam Miftah
        2. Gus Yafi Kajen

3.1  Murid-murid Beliau 

   Murid-murid beliau di antaranya:

       Murid-murid beliau adalah :

1. Para siswa di MTs Nahdaltul Ulama (NU) dan SMA NU Wahid Hasyim, MTs NU Sunan Kalijaga
2. Para mahasiswa di Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal.

4  Jasa, Organisasi, dan Karier             

4.1 Jasa-jasa Beliau

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus1945, tepatnya 20 Oktober 1945, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan sebuah rapat di Surabaya. Dalam rapat itu dirilis statemen PBNU, atau lebih dikenal dengan "Resolusi Jihad".

Dengan lahirnya Resolusi Jihad, spirit mempertahankan kemerdekaan segera berkobar di seluruh penjuru Tanah Air. Dan, kalangan pesantren pun turut serta mengirim para santrinya pada dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Menjelang pertempuran itu, Pesantren Lirboyo mengirim pasukan (Laskar Santri) yang terbagi dalam dua gelombang, selanjutnya, mereka bergabung dengan kekuatan tentara rakyat.  Gelombang pertama di bawah pimpinan KH. Machrus Ali; adapun gelombang kedua di bawah komando KH. Muhammad Miftah .

4.2  Riwayat Organisasi
KH Miftah telah banyak berkecimpung di berbagai organisai di antaranya:

       1. Rois Syuriyah PC NU Kab. Tegal dari 1972 sampai 1984
       2. Syuriyah PWNU Jawa Tengah
       3. Tim 9 Lajnah Falakiyah PBNU

4.1  Karier Beliau

   Karier dengan keilmuannya beliau, posisi karier yang diduduki di antaranya:

        1. Pemimpin yayasan Taman Penawaja
        2. Tim Itsbat Departemen Agama RI

5  Keteladanan Beliau

KH. Muhammad Miftah selalu menghargai dan menghormati yang lebih muda, tidak banyak bicara kecuali yang bermanfaat, tawaduk. Dirinya menerapkan pola hidup sederhana. KH. Muhammad Miftah adalah orang yang santun, tak banyak bicara, tetapi sekali bicara maka kata-katanya selalu bermanfaat dan mengandung mutiara hikmah.

Kebanyakan ulama pewaris nabi memang mempunyai sifat pendiam seperti itu. Artinya, beliau akan diam kalau memang tak perlu berbicara.

Namun, ketika ditanya hukum agama, beliau mampu menjelaskannya secara gamblang. Ketika ditanya soal hukum Islam, biasanya KH. Muhammad Miftah akan membuka kitab untuk ditunjukkan kepada si penanya. Hal ini untuk menunjukkan bahwa fatwanya tidak asal-asalan, tapi ada dasar pengambilannya.

Walaupun KH. Muhammad Miftah merupakan sosok ulama yang alim dan menguasai berbagai bidang ilmu keislaman, seperti fikih, tauhid, tasawuf, ilmu falak, dan ilmu alat, kedalaman ilmunya tidak menjadikannya sombong. Sebaliknya, beliau justru lebih tawaduk, rendah hati, dan merasa belum alim.

6  Referensi

https://books.google.co.id/books?id=4BKVDwAAQBAJ&pg=PA83&lpg=PA83&dq=Yayasan+Taman+Penawaja&source=bl&ots=TrLW6BFCfp&sig=ACfU3U3cu4Aw0ZF5ukOH6xrrOs5echHeAA&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiQx_zY7Zf3AhUAzTgGHYuEDTUQ6AF6BAgQEAM#v=onepage&q=Yayasan%20Taman%20Penawaja&f=false

https://www.suaramerdeka.com/nasional/pr-04122194/kiai-miftah-talang-komandan-laskar-santri

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya