Biografi KH. Achmad Badjuri

 
Biografi KH. Achmad Badjuri

Daftar Isi Profil KH. Achmad Badjuri

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Mendirikaan Pondok Pesantren Madinul 'Ulum
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Teladan

Kelahiran

KH. Achmad Badjuri adalah anak kesebelas dari sebelas orang bersaudara, dari pasangan H. Puslan bin H. Thohir dengan ibu Hj. Sulmi binti Jayadi. Beliau lahir di Desa Campurdarat Tulungagung pada tahun 1938 M.

Keluarga

Pada usia 25 tahun, tepatnya pada tahun 1963, KH. Achmad Badjuri menikahi Hj. Muslihah binti H. Ahmad Salam, seorang gadis dari dari desa Jengles Pare kediri. Buah dari pernikahannya mereka dikaruniai 6 anak. Putra-putri beliau diantaranya :

  1. Ibnu Mundzir (meninggal usia 7 hari)
  2. Ali Mubarok
  3. Anis Rohillah (meninggal usia 6 tahun)
  4. Dewi Saudah
  5. H. Ali Musta’in
  6. Ali Imron

Kemudian KH. Achmad Badjuri menikah kembali dengan Hj. Namlatus Sholihah binti Haji Sholeh dari desa Campurdarat. Dari pernikahan yang kedua ini beliau di karuniai 5 anak. Putra-putri beliau diantaranya :

  1. Drs H. Ali Ma’dum
  2. H. Ali Ma’sud
  3. Lailatul Istifaiyah
  4. Siti Rohmah
  5. Ali Masykur

Pendidikan

KH. Achmad Badjuri kecil, memulai pendidikannya di sekolah dasar. Tapi dalam menempuh pendidikan dasarnya pada saat itu, sempat terganggu, karena pada tahun 1948, di Madiun ada peristiwa pemberontakan PKI dan dan agresi Belanda pada tahun 1949. Sehingga membuat beliau tamat sekolah tahun 1953.

Walaupun pendidikan sekolah dasar terganggu, justru membuat beliau semakin bersamangat untuk mendalami disiplin ilmu al-Qur’an. Beliau mengaji kepada sesepuh Campurdarat diantaranya, KH. Shodiqun, KH. Umar, dan KH.  Zaini.

Beliau juga tabarukan pada almarhum Hadrotus Syekh KH. Dimyati Campurdarat (Beliau ini kakak kandung dari ibu Hj. Sulmi).

Pada Tahun 1945 M. Beliau berangkat mencari ilmu ke Pondok Pesantren Sumbergayam Jajar Kabupaten Trenggalek yang diasuh KH. Badrudin, KH. Abi Sujak atau KH. Darwi dan KH. Mahfud.

Setelah dua setengah tahun di sana karena Mbah Badruddin wafat, maka beliau oleh Mbah Darwi diperintah untuk pindah ke Pondok Pesantren Sidorangu, Krian Sidoarjo yang diasuh oleh KH. Sahlan, untuk belajar Ilmu hal (Ilmu tingkah laku/tasawuf).

Sesudah dua setengah tahun berguru disana, beliau terdorong untuk melanjutkan pendidikannya, kemudian, beliau pindah ke Pondok Pesantren Berasan Banyuwangi yang diasuh oleh KH. Abdul Manan dan KH. Iskandar.

Di sana beliau mengaji kitab Tafsir Jalalain dan al-Qur’an Kepada KH. Abdul Manan, dan kitab Ihya’ Ulumuddin kepada KH. Iskandar. Dengan modal pengetahuan yang sudah beliau peroleh maka semakin tinggi hasrat beliau untuk meningkatkan pengetahuan.

Untuk itu beliau lalu melanjutkan memperdalam Ilmu agama Ke Pondok Pesantren Kajen, Bulu Manis, Juwono, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. Abdul Haq. Disana beliau mendalami Ilmu manteq (Imu Logika), Ilmu Balaghoh (Jawahirul ma’nun), dan Ilmu Usul Fiqih. Yang semuanya itu beliau tempuh dalam jangka waktu satu tahun.

Selain itu, KH. Achmad Badjuri juga pernah mengaji dan mempelajari Ilmu Hisab (Ilmu Falak) kepada KH. Mahfudz Pengasuh Pondok Pesantren Ambulu Kabupaten Jember. Tak kurang dari 6 bulan, beliau telah menyelesaikannya.

Karena semakin tingginya hikmah KH. Achmad Badjuri untuk mendalami Agama, maka pada tahun 1960 memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Tertek Pare Kediri yang diasuh oleh KH. Zuaini.

Di sana beliau mengaji kitab-kitab Hadis. Setelah selesai mengaji Kitab-kitab Hadis tepatnya pada tahun 1963 KH. Achmad Badjuri, melanjutkan kembali di pondok Tareqat, Kauman Tulungagung yang diasuh oleh KH. Mustakim Husin untuk Bai'at Tareqat syadaliyah wal qodiriyah.

Pada masa-masa belajar, KH. Achmad Badjuri sangat beminat mendalami bebagai macam disiplin Ilmu, akan tetapi yang beliau gemari adalah cabang aqidah, syari’ah dan kususnya Ilmu tasawuf.

Dalam bidang tasawuf beliau sangat menguasai dan menjiwai, sehingga pada waktu membacakan kitab Bidayatul Hidayah karya Al Ghozali dan Kifayatul Atqiya’, seakan-akan tanpa melihat teksnya, karena sepertinya beliau sudah hafal, begitu juga ketika membacakan kitab Hikam karya Syekh Al’-arif Billah Ahmad Bin ’Atho’illah Assakandari, beliau dengan jelas mentasawurkan atau menerangkan dan mudah menerima.

Mendirikaan Pondok Pesantren Madinul 'Ulum

Selama masih ada kesempatan, bagaimana pun juga harus digunakan untuk menimbah ilmu itulah prinsip KH. Achmad Badjuri. Tapi beberapa gurunya, meminta agar beliau mensudahi mondok dan supaya mendirikan pondok pesantren, karena sudah dianggap mampu mengembangkan ilmunya di masyarakat.

Adapun para guru yang memerintah ialah KH. Dimyati, KH. Kholil Dawuan Gurah Kediri Mursyid Thoriqoh Naqsabandi Kholidiyah, KH. Njajar Trenggalek, dan KH. Mustakim Husain Tulungagung Mursid Thoriqoh Sadzaliyah Qodiriyah.

Sebenarnya masyarakat Campurdarat sudah lama menginginkan KH. Achmad Badjuri segera pulang dan mengembangkan ilmunya di masyarakat. Maka dengan taat perintah guru dan memenuhi keinginan masyarakat, beliau menyelesaikan mondok dan riyadhoh sekaligus melaksanakan perintah guru.

Sebagai realisasi dari amanat para guru tersebut, mula–mula beliau beserta masyarakat sekitar membuat musala kecil yang atapnya terbuat dari rumput alang–alang dan dindingnya dari anyaman bambu, sedangkan tiangnya dari bambu ori untuk peribadatan dan menampung penduduk yang ingin mengaji.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1965 beliau membangun musala tersebut menjadi sebagian tembok dan sebagian lainnya dari anyaman bambu (kloneng) yang bahan materialnya beliau dapat dari rumah kedua orang tuanya yang telah diberikan kepada beliau, supaya dijadikan musala.

Untuk mengisi kegiatan musala, selain mengaji beliau juga mendirikan jam’iyah thoriqoh, manaqib dan jamiyah al-Barzanji.

Hingga akhirnya semakin banyaknya santri yang ikut mengaji, akhirnya KH. Achmad Badjuri mendirikan Pondok Pesantren Madinul 'Ulum.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada tahun 1965 beliau diminta oleh organisasi kemasyarakatan untuk menjadi Syuriah NU di Campurdarat. Untuk melengkapi dan menjalankan program NU, pada tahun 1968 beliau mendirikan Madrasah Wajib Belajar ( MWB). MWB ini kemudian berubah menjadi MI, atau stara dengan SD.

Khusus pada bidang keagamaan beliau ingin mencetak kader-kader Ulama yang akan meneruskan perjuangan ulama-ulama NU di masa mendatang, maka dari itu beliau mendirikan madrasah diniyah dan pada tahun 1969, tercatat mempunyai siswa kurang lebih 600 siswa.

Dari hari kehari, perkembangan siswa dan jama’ah semakin bertambah, maka dirasa perlu membenahi segala sesuatunya. Untuk itu tepatnya pada tahun 1977, beliau merehab musala yang semula terdiri dari sebagian tembok dan sebagian anyaman bambu, menjadi bangunan permanen dari tembok dengan ukuran 10 x 7 M.

Selang satu tahun kemudian, datanglah santri dari luar daerah. Karena semakin hari semakin bertambah, maka mulai saat itulah dibangun pondokan untuk menampung santri yang datang dari luar daerah.

Hingga pada tahun 1979, beliau membangun gedung madrasah yang terdiri dari dua lokal dengan ukuran 14x 6 M. Karena sarana yang sudah ada tidak memadai lagi, mulai saat itulah perkembangan pondok pesantren semakin stabil bahkan dapat dikatakan pesat, karena jumlah santri dan fasilitas gedung semakin bertambah.

Untuk meningkatkan kualitas santri, pada tahun 1985, beliau telah memulai membacakan beberapa kitab di antaranya Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abi Dawud, Ihya’ Ulumuddin dan Hikam.

Selang satu tahun sepulang dari tanah suci, tepatnya pada tahun 1991, beliau di perintahkan Syekh Habib Ahmad Al Mukhdor sebagai sang guru, supaya membangun masjid, dengan berbekal batu merah sebanyak 70.000 buah. Berkat do’a Syekh Habib Ahmad Al Mukhdor juga ridho Allah SWT, pembangunan masjid dapat di selesaikan berikut menaranya dalam jangka dua tahun ,dengan menelan biaya Rp. 60.000.000.-. Masjid di bangun di atas tanah 20 x 18 m.

Semua itu dapat terwujud karena ridho Allah SWT dan semangat pengabdian juga keikhlasan hati serta ketaatan KH Achmad Badjuri kepada sang guru yaitu Syekh Habib Ahmad Al Mukhdror Bendilwungu Ngunut Tulungagung.

Dengan mendirikan Pondok Pesantren, masyarakat sekitar yang pada mulanya belum mengenal ilmu agama, seperti masyarakat daerah pegunungan Wates, Gamping, Ngentrong, Pakel, Campurdarat dan sebagainya, akhirnya punya keinginan untuk mendidik putra putrinya lewat pesantren. Dahulu warga Campurdarat belum ada yang hafal al-Qur’an, setelah berdirinya Pondok Pesantren pimpinan KH. Achmad Badjuri tersebut, pada tahun 1991 sudah ada empat warga Campurdarat yang hafal al-Quran.

Teladan

Di dalam mencari Ilmu, KH. Achmad Badjuri senantiasa mengalami berbagai cobaan, namun didalam menghadapinya dengan tabah, meskipun krisis ekonomi, berbagai kesusahan beraneka ragam keprihatinan adalah teman beliau pada waktu menimba Ilmu.

Seringkali sewaktu beliau menimba Ilmu di berbagai Pondok Pesantren mengalami kehabisan bekal, namun dihadapinya dengan tegar tanpa memperlihatkan kesusahan yang menggangu proses belajar berkat ketabahan, ketekunan, dan keikhlasan serta birulwalidan kepada kedua orang tua yang dilakukan, dalam waktu yang relatif singkat beliau dapat menguasai materi - materi pelajaran yang disampaikan guru-guru beliau.