Mengenal Imam asy-Syarqawi

Mengenal Imam asy-Syarqawi

Al-Imam Asy-Syarqawi, Nama lengkap beliau ialah Syeikh ‘Abdullah bin Hijaz bin Ibrahim, lahir tahun 1150H/1737M. dan wafat pada tahun 1227H. bermaqam di Mesir.

Beliau adalah murid dari Universitas Al-Azhar Mesir, dan kemudian sampai menjadi salah seorang pengajar (Syeikh dari Universiti
Al-Azhar itu). Kehebatan ilmu beliau diakui sehingga beliau dilantik menjadi Syeikhul Azhar pada zamannya.

Beliau adalah seorang Ulama’ Besar Syafi’iyah di Mesir pada zaman itu dan banyak mengarang kitab-kitab fiqih Syafi’i dan lain-lain kitab yang sampai sekarang masih dicetak dan disiarkan di seluruh dunia Islam.

Di al-Azhar beliau menimba ilmu kepada para ulama terkemuka sehingga beliau menjadi mufti mazhab Syafi’i. Kemudian beliau menapak jalan sufi dengan berguru kepada Syaikh al-Kurdi. Beliau hidup bersahaja dan sederhana meskipun telah dikelilingi harta dunia.

Dengan bimbingan al-Hifni sendiri, Imam as-Syarqawi mulai menekuni dan menelusuri Thariqah Khalwatiyah. Tidak sia-sia kiranya usaha yang dilakukan oleh as-Syarqawi tersebut, tetapi pada saat as-Syarqawi hampir mencapai keberhasilannya, beliau terkena goncangan jiwa yang menyebabkannya harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Dalam beberapa hari as-Syarqawi berhasil disembuhkan. Setelah sembuh, as-Syarqawi sangat bersyukur, lalu mulai tekun membaca dan mengaji kepada Syekh Muhammad al-Kurdi, sampai pada akhirnya ia berhasil menyandang gelar at-Taj dari al-Kurdi.

Setelah berhasil menyandang gelar at-Taj itu, as-Syarqawi mengajarkan ilmu-ilmu yang pernah ia tekuni selama ini kepada kaum muslimin dan para pelajar di beberapa tempat. Ketinggian ilmu dan kearifannya mengantarkan as-Syarqawi sebagai seorang figur terpandang. Bahkan meninggal saja sang guru, “Syekh al-Kurdi”, Imam as-Syarqawi termasuk salah satu dari pengganti beliau dan semua murid al-Kurdi pindah kepada Imam as-Syarqawi.

Tahun 1218 H/1793 beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Ahmad Musa al-‘Arusi. Pada Masa kepemimpinan beliau Mesir dijajah oleh Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte. Syaikh Abdullah al-Syarqawi adalah salah satu dari sepuluh ulama Dewan Syuro Mesir yang berusaha didekati Napoleon. Beliau menasehati hakim Mesir saat itu untuk bersikap adil kepada rakyat dan tidak membebani mereka dengan pajak yang tinggi. Atas saranan beliau juga, hakim Mesir mengirimkan surat kepada Napoleon untuk memberi penghormatan secara militer kepada para ulama dan memuliakannya.

Napoleon Bonaparte takjub dengan kepribadian para ulama al-Azhar yang dikepalai oleh Syaikh Abdullah al-Syarqawy. Dia juga kagum terhadap Islam dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw, terutama setelah dia pulang dari Syam. Napoleon mengatakan bahwa dirinya mencintai Islam, mengagungkan Nabi Muhammad Saw, menghormati al-Qur’an dan membaca setiap hari. Di Mesir dia bermaksud membangun masjid terbesar di dunia dan ingin pula dia memeluk agama Islam.

Napoleon mengatakan bahwa jika dirinya masuk Islam maka dia akan mampu untuk mengislamkan seluruh tentaranya. Dalam sebuah pertemuan dengan para ulama al-Azhar Napoleon meminta Syaikh al-Syarqowi berfatwa kepada rakyat Mesir untuk taat dan patuh kepada dirinya. Kemudian Syaikh al-Syarqawi menegaskan kepada Napoleon bahwa jika dia masuk Islam maka seratus ribu tentara Arab akan berada di bawah benderanya dan membantunya menaklukkan dunia Timur. Namun Allah berkehendak lain, Napoleon tidak masuk Islam.

Di antara karya beliau dalam fiqih Syafi’i adalah yang berjudul “Asy-Syarqawi Al-Attahrir” iaitu kitab fiqih Syafi’i untuk mensyarah
kitab Tahrir karangan Imam Zakaria Al-Ansori . Kitab Syarqawi itu terdiri atas dua jilid besar dengan 525 halaman setiap jilidnya, dimulai
dengan “Al-Hamdulillah Iladzi Faqqaha” dan disudahi dengan “Walhamdulillah Rabbil ‘Alamiin”. Kitab Syarqawi selepas dikarang beliau tahun 1192H. Jadi beliau seorang ulama’ Syafi’i pada akhir abad ke XII, tetapi karena wafat beliau pada tahun 1227H maka beliau
dimasukkan dalam barisan Ulama Syafi’i pada abad ke XIII. Karya beliau yang lain, di antaranya :
1. At-Tohfatul Bahiyah fi Tabaqatisy Syafi’iyah, yaitu kitab untuk menerangkan ulama’-ulama’ besar Syafi’iyah dari abad ke IX sampai abad ke XII.
2. Tohfatun Nazirin, dicetak di Mesir tahun 1281H.
3. Kitab Usuluddin “Syarqawi Syarah Sanusi” (144 halaman).

Selesai dikarang beliau 13 Ramadhan 1194H. Keistimewaan beliau ini adalah mempunyai “Serban Besar”, sehingga pada zaman itu diambil menjadi tamsil, yaitu untuk menyatakan sesuatu yang besar, dikatakan orang: “Sebesar serban Syarqawi”.

Salah satu jasa beliau adalah membangun ruwaq Syarqawiyah di masjid al-Azhar. Hidup beliau diabdikan untuk al-Azhar dan rakyat Mesir, hingga akhirnya beliau wafat pada hari Khamis 2 Syawwal 1227 H.
 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page