Biografi Syekh Abdul Hamid

Biografi Syekh Abdul Hamid

Syekh Abdul Hamid adalah Ulama termashyur yang asal-usulnya dari Kudus, Jawa Tengah, kelahiran Mekah yang diriwayatkan ini sekurang-kurangnya ada tiga sumber karangan orang Arab dalam bahasa Arab dan dapat dibandingkan 22 buah karangan beliau sendiri yang memperkirakan tahun kelahirannya. Syeikh Nawawi al-Bantani (lahir 1230 H/1814 M), adalah guru dan lebih tua daripada Syeikh Abdul Hamid Kudus. Syeikh Abdul Hamid Kudus lahir di Mekah, dalam Mukhtashar Nasyrun Naur waz Zahar dinyatakan lahir 1277 H/1860 M, dan dalam Siyar wa Tarajim dinyatakan lahir 1280 H/1863 M. Beliau juga wafat di Mekah tahun 1334 H/1915 M. Nama lengkap ialah Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus / Kudus bin Abdul Qadir al-Khathib bin Abdullah bin Mujir Qudus / Kudus.

Syekh Abdul Hamid merupakan ulama generasi kedua yang menimba ilmu di al-Azhar setelah Syekh Ahmad Pattani (Thailand). Tidak hanya Mesir, Syekh Abdul Hamid pun menuntut ilmu hingga negeri Syam. Syekh Abdul Hamid sangat produktif dalam menulis berbagai bidang keilmuan, seperti sejarah Nabi dan keluarganya, dan ilmu-ilmu syariat.  

Para ulama besar yang terkenal dan menjadi guru beliau ialah Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Sayid Utsman Syatha dan saudaranya Sayid Abu Bakri Syatha. Dalam bidang khusus mengenai ushul fiqh, hadis, tafsir dan tasawuf Syekh Abdul Hamid Kudus memperdalamkannya kepada Sayid Husein al-Habsyi. Syekh Abdul Hamid Kudus pula adalah orang kepercayaan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dalam bidang keilmuan setelah Syekh Ahmad al-Fathani. Hubungan antara Syekh Abdul Hamid Kudus dengan Syekh Ahmad al-Fathani sangat dekat. Syekh Abdul Hamid Kudus selain dilantik sebagai salah seorang pentashih kitab, beliau seringkali diutus oleh Syekh Ahmad al-Fathani ke Mesir dalam urusan cetak mencetak kitab, terutama hubungan dengan Syekh Mushthafa al-Halaby, pemilik syarikat cetak kitab yang terbesar di Mesir pada zaman itu.

Doktor Ridha Muhammad Shafiyuddin, Dosen Studi Islam di Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, menyampaikan, koleksi kitab dan karya belaiu sendiri mencapai 1820 kitab dalam bidang tafsir, hadis, fikih, bahasa dan sastra Arab. Semua koleksi tersebut dihadiahkan oleh ahli warisnya untuk Perpustakaan Mekah. Perpustakaan pribadi miliki Syekh Abdul Hamid ini merupakan perpustakaan terlengkap setelah perpustakaan pribadi milik Syekh Muhammad Majid Kurdi. Doktor Abdul Wahhab Abu Sulaiman menyebutkan beberapa karya Syekh Abdul Hamid sebagai berikut:

Karya-karya Syekh Abdul Hamid dalam Bidang Syariat

  1. Syarhul araba’in an-nawawiyyah
  2. Syarhul basmalah fima yata’allaq biha min fan haditsil mushtafa
  3. Al-anwarus saniyyah ‘alad duraril bahiyyah
  4. Irsyadul muhtadi ila syarh kifayatil mubtadi
  5. Nubdzatun tata’allaq bil basmalah wal mabadiil ‘asyrah min ‘ilmit tauhid, wa ushulil fiqh, wal fiqh, wat tashawwuf
  6. Lathaiful isyarat ‘ala tashilit thuruqat li nazhmil waraqat fil ushulil fiqhiyyat
  7. At-tuhfah al-mardhiyyah fatwa fi jawaz tafsiril quran bil a’jamiyyah
  8. Al-futuhat al-qudsiyyah fi syarhil qashidah ar-rajaziyyah
  9. Dhiyaus syams ad-Dhahiyah ‘alal hasanat al-mahiyah
  10. Al-jawahirul mudhi‘ah fil akhlaq al-mardhiyyah
  11. Indzarul hadhir wal bad, dan lain sebagainya

 

Karya-karya Syekh Abdul Hamid Terkait Sejarah Nabi dan Keluarganya

  1. Al-Dzakhair al-qudsiyyah fi ziyarah khairil bariyyah
  2. Majmu’ zahir wa tartib fakhir
  3. Nailul is’ad wal is’af bil ma’mul fi madhi sayyidatina jiddah al-asyraf az-zahra al-batul
  4. Nafahatul qabul wal ibtihaj fi qishatil isra wal mi’raj
  5. Daf’us syiddah fi tasythiril burdah

 

Ulama Berdarah Yaman atau Jawa?
Relasi antara Indonesia (Nusantara) dengan Yaman telah berjalan sejak beratus-ratus abad yang lalu. Van Den Berg, orientalis asal Belanda menyebutkan dalam bukunya Le Hadramaut et Les Colonies Arabes dans L’archipel Indien, migrasi para pedagang dan ulama Hadramaut, Yaman, mulai datang secara masal ke Nusantara sejak akhir abad ke-18. Saat inilah diduga kuat bahwa ayah Syekh Abdul Hamid, Syekh Muhammad Ali, ikut dalam rombongan orang Arab Hadramaut melakukan migrasi ke Nusantara.

Tidak ada data yang pasti menyebutkan kapan ayah Syekh Abdul Hamid sempat bermigrasi ke tanah Jawa. Namun demikian, menurut catatan Van Den Berg, orang Arab Yaman tiba di Jawa setelah tahun 1820 M. Hal ini diperkuat dengan catatan kaki (atas kitab al-mafakhir al-sunniyyah fi al-asanid al-‘aliyah al-qadasiyyah) Doktor Ridha Muhammad Shafiyuddin, Dosen Studi Islam di Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, yang menyampaikan bahwa sebagian ulama mengaitkan keluarga Syekh Abdul Hamid pada nisbat al-Jawi, al-Samarani (Jawa, Semarang).

Menurut Doktor Ridha Muhammad Shafiyuddin, nisbat kota Quds (قدس) yang melekat pada nama Syekh Abdul Hamid bukanlah kota Kudus yang berada di Jawa Tengah. Menurutnya, nisbat wilayah asal yang tepat untuk Syekh Abdul Hamid adalah Qadas (قدس), salah satu kota di Yaman yang kini berada di Provinsi Taiz. Akar tradisi kuno dialek Himyar di Yaman menyebutkan, penamaan Qadas berkaitan erat dengan letak strategis wilayah tersebut. Hal ini karena pada masa lampau, Qadas merupakan daerah yang maju dalam kebudayaan dan agama. Selain itu, Qadas juga merupakan wilayah pegunungan yang subur. Oleh karena itu, bila pun orangtua atau kakek moyang Syekh Abdul Hamid pernah bermukim di Jawa, itu bukanlah kota Kudus, namun kota Semarang.

Dalam catatan sejarah, ayah Syekh Abdul Hamid tidak selamanya menetap di Jawa. Ayah beliau diperkirakan pindah ke Mekah pada pertengahan abad ke-19. Syekh Abdul Hamid pun lahir di Mekah pada tahun 1277 H/1861 M. Syekh Abdul Hamid memiliki pemahaman terhadap ilmu-ilmu Islam yang baik berkat beberapa ulama tersohor di Mekah pada masanya. Di antara guru beliau adalah Syekh Muhammad Ali ayahnya sendiri, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Umar Syatha, Syekh Utsman Syatha, Syekh Bakri Syatha, Syekh Husain bin Muhammad al-Habsyi, Syekh Muhammad bin Abdul Baqi al-Ahdal, dan lain sebagainya.    


Syekh Ali anak Syekh Abdul Hamid Kudus mendapat pendidikan langsung daripada ayahnya. Selanjutnya juga belajar kepada Syekh Muhammad Mahfuz Termas, Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughri (Bogor), kedua-duanya adalah ulama yang berasal dari dunia Melayu yang pengetahuannya setaraf dengan ulama-ulama bangsa Arab yang berada di Mekah pada zaman itu. Syeikh Ali Kudus selain meneruskan martabat ulama seperti ayahnya, Syeikh Abdul Hamid Kudus sekaligus beliau juga menghasilkan karangan, di antaranya ialah ar-Raddu `ala ar-Rawafidh. Kandungannya merupakan penolakan pegangan golongan Rafidhiyah, yaitu salah satu firqah golongan Syiah yang dianggap menyeleweng daripada ajaran Islam. Selain itu beliau juga menulis banyak artikel yang dimuat dalam majalah. Dalam tahun 1343 H/1925 M Syekh Ali Kudus bersama keluarganya pindah dari Mekah ke Jawa Timur mendirikan sebuah madrasah di sana. Selanjutnya pindah pula ke Sulawesi, di sana juga menyebarkan ilmu-ilmu demi memartabat agama Islam yang dianutnya. Selain itu, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang juga merupakan murid dari Syekh Abdul Hamid.
 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page

 

Pengikut Biografi Syekh Abdul Hamid