Nasihat Berharga Menjadi Perempuan dan Ibu yang Baik

Nasihat Berharga Menjadi Perempuan dan Ibu yang Baik

LADUNI.ID, Jakarta - Ny. Hj. Tutik N. Jannah menjelaskan tentang pentingnya peran ibu dalam kehidupan dan pendidikan anaknya, karena sosok ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya.  Berikut adalah pesan-pesan dari Ny. Hj. Tutik N. Jannah untuk semua perempuan.

"Wong wedok kui kudu ngalim dewe, ojo dadi bunyai Mudhof ilaih, surgo nunut neroko katut," (Seorang perempuan itu harus alim, jangan jadi bu nyai mudhof ilaih, surga ikut neraka ikut).

Berharap para perempuan, terutama adek adek, anak-anakku serta anak-anak didikku menyadari pentingnya belajar. Terutama bagi kita, yang nantinya akan menjadi istri, menjadi ibu dan menjadi menantu. Tak perlu terburu-buru mengejar jodoh di usia belajar.

Menikah terlalu muda, di samping menyalahi aturan hukum negara, juga pasti berat untuk anak-anak keturunan kita nantinya. Karena dunia yang semakin "edan" maka setiap ibu butuh bekal lebih banyak sebelum memasuki gerbang pernikahan.

Jangan coba-coba bandingkan diri kita dengan sayyidah Aisyah yang menikah di usia 9 tahun. Karena kita adalah wanita biasa yang tak memiliki keistimewaan apa-apa. Sehingga untuk menjadi ibu yang baik untuk anak anak kita nantinya, kita perlu belajar dan berpengetahuan.

Coba tanyakan pada dirimu sendiri, sudah cukupkah bekalku untuk membimbing anak-anakku nanti dalam membaca al-Quran, memahami fiqh keseharian dan membimbing mereka untuk menjadi manusia yang berguna untuk sesama dan diridloi-Nya.

Selalu sedih jika melihat para perempuan muda yang seperti tak memiliki gairah belajar. Berada di tengah lautan ilmu tapi tak menginginkan menyerap lezatnya ilmu pengetahuan. Lihatlah para santri yang menempuh perjalanan berkilo kilo meter demi untuk mencecap kenikmatan ilmu dari tetesan pengetahuan para guru.

Lihatlah berbondong manusia berharap memiliki kesempatan untuk berguru kepada paklek, bulek, pakde, bude, simbah, simbah buyutmu, dll. Tidakkah gairah belajar mereka menggerakkan hatimu untuk sekedar belajar dan berhasrat untuk menjadi pintar?

Kita ini bukanlah sayyida Aisyah yang istimewa dan memiliki kecerdasan di atas rata rata. Karena kita wanita biasa, kita perlu bersungguh-sungguh dalam belajar dan berguru. Kita perlu memahami pentingnya nyantri kepada kiai. Sekali lagi jangan bandingkan usia sayyidah aisyah saat menikah dengan menjadikan rujukan usia nikah.

Engkau wanita biasa, belajarlah agar menjadi istimewa. Ngaji Ben Aji.

Cc. Para perempuan di hatiku: semoga Allah menggerakkan hatimu untuk menyadari hakikat penciptaanmu di dunia. Yakni untuk menjadi madrasah bagi anak anakmu dan masyarakatmu. Sing jenenge madrasah iku yo.. kudu iso ngaji. Ora cukup cuma ayu... (Yang namanya madrasah itu ya... harus bisa ngaji. Tidak cukup cuma cantik…)

(Ny.Hj. Tutik N. Jannah #serambilirboyo)