Biografi KH. Badawi Hanafi Kesugihan

 
Biografi KH. Badawi Hanafi Kesugihan

Daftar Isi Profil KH. Badawi Hanafi Kesugihan

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Riyadlah KH. Badawi Hanafi

Kelahiran

KH. Badawi Hanafi lahir di kampung Brengkelan, kecamatan Purworejo,  Kabupaten Purworejo,  Jawa Tengah sekitar tahun 1885 M. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Fadlil  dengan Shofiyah binti KH. Abdul Syukur.

Nasab

Nasab beliau adalah KH. Badawi Hanafi bin KH. Fadlil bin H. Asyari (Sengari) bin Soyudo bin Gagak Handoko bin Mbah Bedug (Keturunan Mataram/Yogya).

Ayah beliau, KH. Fadlil adalah seorang pedagang pakaian, dilahirkan di kota Purworejo, Jawa Tengah Tahun 1847. Beliau berbadan tinggi besar, berkumis, berjenggot panjang, dan bersimbar (dada berambut).

Mbah KH. Fadlil dikenal sebagai sosok yang rapi, sangat khusyu' dalam beribadah,  suka berdzikir. Walaupun waktu berjualan dipasar, beliau tidak pernah lepas dari tasbihnya.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang ramah kepada siapapun, tawadu` dan juga suka menolong kepada fakir miskin, dan suka memberikan pinjaman kepada pedagang-pedagang kecil dengan tidak minta keuntungan sedikitpun dari pinjaman yang diberikan. Tidak suka menagih pinjaman walaupun beliau memerlukannya

Pekerjaan sehari-hari beliau adalah berdagang kain. Beliau suka berdakwah Islamiyyah, sehingga sambil berjualan, beliau melaksanakan dakwah.

Mbah KH. Fadlil berasal dari Purworejo, kemudian hijrah ke Kesugihan pada tahun 1910 dan bertempat tinggal di sebuah dusun di desa kesugihan yang benama Salakan, tepatnya di sebelah utara lapangan sepak bola Kesugihan sekarang. Pada tahun 1914 beliau pindah kedusun Platar, sebelah selatan stasiun Kereta Api jurusan Cilacap (atau sebelah utara komplek Raudhotul Qur`an (RQ) putra PPAI sekarang)

Pada tahun 1923, hari Selasa Manis, tanggal 28 Ramadlan terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat, banyak pohon besar yang tumbang, rumah banyak yang roboh, termasuk stasiun kereta api Maos. Atas pertolongan Allah SWT, langgar duwur yang didirikan oleh KH. Fadlil tetap tegak termasuk gentingnya tidak  ada yang patah atau jatuh, pada waktu itu langgar duwur sedang ditempati untuk pengajian oleh Kyai Muda Badawi, putra laki-laki kedua dari mbah KH. Fadlil.

Adipati Cilacap pada waktu itu R. Cakra Wardaya menyempatkan untuk meninjau tempat-tempat yang terkena musibah gempa bumi tersebut, terharu melihat langgar duwur itu tidak roboh, sedangkan bangunan yang dianggap lebih kuat porak-poranda akibat terjadinya gempa tersebut. Ditengah-tengah haru dan keheranan tersebut, Bapak Adipati pada waktu itu mengatakan "Besok ditempat ini akan berdiri Masjid Besar". Dari sinilah mulai terkenal langgar duwur.

Alhamdulillah Allah SWT mengabulkannya, Mbah KH. Badafi Hanafi beserta kerabat, santri dan masyarakat pada hari senin wage tahun 1936 dapat mendirikan Masjid di pondok.

Pada tahun 1927 bulan rojab hari Senin wage jam 14.00, Mbah Nyai H. Fadlil (Shofiyah binti KH. Abdul Syukur) wafat, dan pada tahun 1937 pada bulan rajab juga, tepatnya  hari senin wage jam 06.00 pagi beliau Mbah KH. Fadlil dipanggil menghadap Allah SWT.

Keluarga

Setahun dari pendirian pondok, kemudian beliau berpikir untuk mendapatkan seorang pendamping hidup. Setelah beliau meminta petunjuk pada Allah SWT melalui shalat istikharah, akhirnya beliau diberi petunjuk oleh-Nya untuk menikah dengan seorang wanita shalihah yang bernama Nyai 'Aisyah Badriyah, putri seorang Kiai yang kaya raya, yaitu KH. Abdullah Mukri dari Kebarongan.

Setelah beliau selidiki, wanita yang ditunjukkan Allah SWT. tersebut ternyata sudah dilamar oleh seorang putra seorang Syekh dari Makkah, bahkan hari perkawinannya sudah ditetapkan. Namun beliau tetap berkeyakinan bahwa petunjuk Allah SWT pastilah benar, tidak mungkin meleset.

Ternyata apa yang beliau yakini menjadi kenyataan. Jadwal pernikahan yang sudah direncanakan dengan matang akhirnya tidak menjadi kenyataan. Karena pada tahun itu, adiknya  Nyai 'Aisyah (Gus Syahid) meninggal dunia, dan menurut adat jawa, tidak diperbolehkan menikah pada tahun itu. Sehingga pihak keluarga sepakat untuk menunda pernikahan sampai tahun depan. Mendengar keputusan tersebut, calon pengantin pria yang sudah memutuskan harus menikah pada tahun itu akhirnya mencabut lamaran dan menikah dengan wanita lain.

KH. Badawi Hanafi yang sangat yakin dengan kebenaran petunjuk Allah tersebut, kemudian memberanikan diri untuk melamar. Apa hasilnya ? ibarat gayung bersambut, beliau yang waktu itu bermodalkan keyakinan, tidak bermodalkan harta melimpah, yang kalau dalam masalah harta bagaikan pungguk merindukan bulan, lamarannya diterima dengan suka cita oleh wanita shalihah tercinta, Nyai 'Aisyah Badriyah dan anggota keluarganya. Akhirnya pada tahun 1926 M beliau melangsungkan pernikahan dengan Nyai 'Aisyah Badriyah.

Buah dari pernikahan beliau dengan Nyai 'Aisyah, beliau dikarunia 14 putra-putri, yaitu  :

  1. Nyai Hj. Nasiroh, istri K. Muchson (Pengasuh PP. Al Ihya 'Ulumaddin Kesugihan)
  2. Nyai Hj. Murtajiaturrohmah, istri KH. Abdul Wahhab (Pendiri dan Pengasuh PP. Manarul Huda, Kesugihan)
  3. K. M. Musthofa Al-Makki
  4. Nyai Ma'unah, istri KH. Abdurrahim (Pendiri dan Pengasuh PP. Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Wawa Barat)
  5. Nyai Hj. Mumbasithoh, istri KH. Abdurrahim (Pendiri dan Pengasuh PP. Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Wawa Barat)
  6. KH. Ahmad Mustholih Badawi (Pengasuh PP. Al Ihya 'Ulumaddin Kesugihan setelah KH. Muchson)
  7. KH. Chasbullah Badawi (Pengasuh PP. Al Ihya 'Ulumaddin Kesugihan sekarang)
  8. K. Mukhtaruddin
  9. Ning Mutammimah (meninggal waktu kecil)
  10. Nyai Hj. Muttasingah, istri KH. Zaini Ilyas (Pendiri dan Pengasuh PP. Miftahul Huda, Pesawahan, Rawalo)
  11. Nyai Hj. Marhamah, istri KH. Abdul Qohar (Pengasuh PP. Syamsul Huda, Kedungreja)
  12. Gus Amir (meninggal waktu kecil)
  13. m.Gus Markhum (meninggal waktu kecil)
  14. Nyai Hj. Kholisoh, pernah bersuamikan : KH. Salim, K. Abd. Rozak, K. Sholeh, K. Habib, K. Satori, K. Masrur.

Pendidikan

KH. Badawi Hanafi menuntut ilmu di beberapa Pondok Pesantren, diantaranya

1.  Pondok Pesantren Wono Tulus , Purworejo (Tahun 1891-1894 M)

KH. Badawi Hanafi, waktu kecil, ketika umurnya 7 tahun, tepatnya pada tahun 1891 dititipkan pada KH. Fadlil Pengasuh Pondok Pesantren Wono Tulus,  tempatnya di desa Wono Tulus, Purworejo, jaraknya sekitar 4 km dari rumah beliau untuk diajari membaca al-Qur'an yang baik dan disekolahkan disekolah ongko loro. Pondok ini, disamping mengajarkan al-Qur'an, juga mengajarkan beberapa disiplin ilmu agama lain, seperti ilmu ushuluddin (Tauhid), fiqih dan lain-lain.

Pada waktu itu, pondok pesantren tersebut diasuh oleh KH. Fadlil, menantu dari KH. Ahmad Nur,  putra KH. Imam Puro (Imam Maghfuro), orang pertama yang dakwah Islam didaerah Purworejo. KH. Imam Puro masih keturunan Ki Ageng Pemanahan, Mataram. Menurut cerita,  KH. Fadlil ini adalah santri kinasih KH. Imam Puro.

Sebagai seorang ulama yang sangat sabar dan telaten mengajari murid-muridnya, KH. Imam Puro selalu mengawasi perkembangan santri-santrinya dalam mengaji. Pada suatu malam, ketika KH. Imam Puro sedang keliling mengawasi santri-santrinya yang sedang tidur, beliau melihat ada sinar terang yang keluar dari pusar salah seorang santrinya. Kemudian beliau menyobek sarung santri tersebut.

Pada siang harinya, Beliau mengumpulkan santri-santrinya dan bertanya ; Siapa yang sarungnya sobek tadi malam ? Fadlil mengacungkan jarinya. Kemudian oleh Beliau, Fadlil dijodohkan dengan cucunya, yaitu putri dari KH. Ahmad Nur. Dari pernikahan  tersebut  KH. Fadlil dikaruniai 9 orang putra, yaitu :  KH. M. Thohir (Wono Tulus), KH. M. Sholeh (Klamudan, Karang Rejo, Loano, Purworejo ayah Ny. Khotijah Nadzir, Kebarongan), Nyai Maryam/Nyai Mu'ti (Kedungdowo, Trirejo, Loano), KH. Bakri (Ds. Karangrejo, Kutoarjo, Purworejo). KH. Muhsin (Winong, Kemiri, Purworejo), KH. Ali (Kali geseng, Kemiri, Purworejo), KH. Abu Yahya (meninggal di Makkah), KH. Mahmud (Wono Tulus), KH. Ahmadi (Gintungan, Gebang, Purworejo) .

Setelah menikah, KH. Fadlil diminta oleh masyarakat untuk berdakwah di desa wono Tulus.  Beliau kemudian membangun sebuah masjid  pada tahun 1870, kemudian karena banyaknya santri yang berdatangan dari berbagai pelosok daerah ingin mengaji pada beliau, akhirnya dibangunlah Pondok Pesanren Wono Tulus pada tahun itu.

Sepeninggal KH. Fadlil pada tahun 1920,  Pondok Wono Tulus diasuh oleh putra pertama beliau, yaitu KH. M. Thohir (alias Bahrun, meninggal tahun 1955),  kemudian dilanjutkan oleh putra KH. M. Thohir, yaitu KH. Nur Abbas (meninggal tahun 1998), dan sekarang diasuh oleh putra KH. Nur Abbas, yaitu K. Toha.

Namun Pondok Pesantren Wono Tulus tersebut, sekarang sudah tidak ada, yang ada tinggal Masjid. Tepatnya tahun 1942, waktu itu masih diasuh oleh KH. Thohir, ketika jepang datang menjajah, santri-santri yang mengaji di Pondok ini bubar. Ini tidak lain karena kekejaman penjajah jepang.

Waktu itu, KH. Badawi Hanafi termasuk santri kalong. Sehingga, agar dapat  mengaji, beliau yang waktu itu umurnya masih tujuh tahun, rela berjalan kaki, pulang–pergi dari rumahnya ke Pondok setiap hari, yang jaraknya sekitar 4 km. Disamping itu, untuk sampai ke Pondok juga tidak mudah, karena untuk sampai ke Pondok tersebut, beliau harus menyeberangi sungai Bogowonto yang tak berjembatan. Namun karena tekad dan semangat yang kuat, beliau tetap aktif berangkat. Pernah pada suatu hari,  ketika hari hujan, Sungai Bogowonto tersebut banjir, dengan tekat yang besar beliau tetap menyeberanginya meskipun beliau tidak bisa berenang agar tetap dapat mengaji.

Setelah beberapa lama beliau mengaji di Wono Tulus, kurang lebih selama tiga tahun, tepatnya pada tahun 1893, beliau akhirnya dapat menyelesaikan pengajian al-Qur'an-nya dan lulus sekolah ongko loro, yakni ketika beliau berumur 9 tahun. Selesai mengaji al-Qur'an, beliau kemudian mengaji dirumah beliau kepada Sang Ayah sampai berusia 11 tahun.

2. Pondok Pesantren Loning, Purworejo (Tahun 1895-1901 M)

Setelah KH. Fadlil dan istrinya, Ny. H. Shofiyyah merasa anaknya sudah cukup besar, beliau bertekad bulat mendidik putranya untuk memberikan ilmu-ilmu agama dengan menitipkannya di Pondok Pesantren.  

Melihat semangat anaknya (KH. Badawi Hanafi) yang luar biasa dalam mengaji, pada tahun 1895, ketika beliau berumur 11 tahun, yaitu dua tahun setelah beliau menyelesaikan pengajian al-Qur'an di Pondok Pesantren Wono Tulus, beliau dipondokkan di Pondok Pesantren Loning, yang waktu itu diasuh oleh KH. Abdulloh Mukri dengan dibantu adik-adiknya, yaitu K . Syamhudi, K. Sahlan,  dan K. Abdullah Mahlan, cucu-cucu Imam Rofi'i.

Pondok Pesantren ini didirikan didesa Loning, Purworejo (jauhnya 10 km dari rumah KH. Badawi hanafi) sekitar tahun 1800, oleh Raden Muhammad H. Rofi'i (paman Pangeran Diponegoro , guru Imam Puro yang dikenal dengan sebutan tuan guru Imam Rofi'i)  bin Pangeran Hangabehi bin Sunan Amangkurat IV bin Sunan Pakubuwono I bin Sunan Amangkurat I bin Sultan Agung Hanyokrokusumo bin Sinuhun Sedo Krapyak bin Panembahan Senopati bin Ki Ageng Pemanahan.  Sebelum berdakwah di Loning,  Tuan Guru mengaji di Makkah, sekitar 25 tahun. Tuan Guru terkenal orang yang sangat mumpuni tentang bacaan Al-Qur'an. Imam Puro sendiri mengaji al-Qu'an  kepada beliau.

Adapun ayah beliau, Pangeran Hangabehi, yang dikenal dengan KH. Ageng Mlangi/Mbah Sandiyo/Mbah Nurul Iman adalah orang yang pertama yang dakwah Islam di daerah Mlangi (sekarang makamnya ada disana)

Pondok Pesantren Loning ini pertama diasuh oleh Tuan Guru Imam Rofi'i,  kemudian dilanjutkan oleh menantunya (K. Sangid) dan putra-putra beliau (setelah mereka besar), yaitu K. Mahmud, K. Soleh, dan K. Bustomi. Pada periode berikutnya, yaitu sekitar tahun seribu sembilan ratusan dteruskan oleh cucu-cucu Tuan Guru yaitu : K. Abdullah Mukri, K. Samhudi, K. Sahlan, dan K. Abdullah Mahlan. Pada periode K. Abdullah Mukri inilah,  KH. Badawi Hanafi mondok disini.

Alumni-alumni Pondok Loning adalah pendiri-pendiri pondok di daerah jogja, semarang,  magelang dan sekitarnya antara lain Syeh Sholeh Darat Semarang.

Bangunan Pondok Loning yang dulu, sekarang sudah tiada. Yang ada sekarang adalah masjidnya yang diasuh oleh putra K. Samhudi, yaitu KH. Nasrudin serta Pondok Pesantren Loning baru dan Madrasah Diniyyah yang didirikan oleh KH. Nasrudin pada tahun 1965.

Di Pondok ini, KH. Badawi Hanafi sudah bukan lagi santri kalong. Beliau tidak lagi pulang pergi tiap hari untuk mengaji, tapi disini beliau telah menetap di dalam salah satu kamar Pondok Pesantren. Beliau sangat jarang pulang kerumah, kecuali kalau ada keperluan yang sangat penting, itupun dengan jalan kaki. Beliau adalah orang yang sederhana, tidak suka bermewah-mewah.

Pada waktu disini, beliau masih diberi  bekal oleh orang tuanya. Beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tiada duanya tersebut. Beliau manfaatkan sebaik-baiknya dengan tekun mengaji. Karena tidak sembarang orang yang mau membiayai anaknya untuk keperluan mengaji. Ada orang yang punya harta banyak ingin membiayai anaknya mengaji, tapi anaknya tidak mau. Ada lagi yang anaknya punya kemauan kuat untuk mengaji, tapi orang tuanya tidak mampu atau tidak mendukungnya. Jadi beliau tidak mau menjadi orang yang merugi, dengan mengabaikan kesempatan yang ada.

Selama enam tahun lamanya, beliau mengaji berbagai disiplin ilmu agama disini, antara lain : bacaan Al-Qur'an, ilmu ushuluddin (ilmu tauhid),  ilmu-ilmu alat, ilmu fiqih dll.

3. Pondok Pesantren Bendo, Kediri (Tahun 1901- 1921 M)

Begitu cintanya beliau pada ilmu agama, setelah beliau mengaji dengan tekun berbagai ilmu agama di Pondok Loning, beliau tidak lekas merasa cukup dengan ilmu yang telah ia kaji. Beliau selalu merasa kurang dalam menuntut ilmu. Beliau punya keyakinan bahwa ilmu Allah itu tidak akan ada habis-habisnya. Kesemangatan dan tekad beliau yang kuat inilah yang menjadi penyebab Allah menganugerahinya sebagai sosok yang `alim.

Hal tersebut terbukti manakala usia beliau menginjak umur 17 tahun, tepatnya tahun 1901, dari Pesantren Loning, beliau melanjutkan mengaji di Pondok Bendo,  Kediri, Jawa Timur.

Pada waktu beliau mengaji, Pondok Pesantren ini diasuh oleh Syekh Khozin, adik Syekh Dahlan Jampes.

Syekh Khozin adalah seorang ulama yang ahli dalam berbagai ilmu agama. Beliau termasuk seorang tokoh sufi pada waktu itu. Sehingga KH. Badawi Hanafi banyak belajar ilmu tasawuf pada beliau.

Sebagaimana di Loning, beliau disini juga menetap, bukan sebagai santri kalong. Dalam usia tersebut, beliau sudah sangat dewasa, beliau tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi beliau ikut merasakan betapa susah kedua orang tuanya mencarikan uang untuk mencukupi kebutuhannya dalam mengaji di Pondok Loning.

Oleh karena itulah, selama 20 tahun beliau mengaji dipondok ini, beliau tidak pernah meminta bekal pada kedua orang tuanya.  Hal itu karena beliau tidak ingin membebani mereka. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama mengaji, beliau bekerja sebagai tukang memperbaiki jam, menjahit dan ngedok, sebagai sambian (pekerjaan sampingan).  Hasil dari pekerjaan tersebut tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan pribadinya selama mengaji, tapi juga disisakan untuk ditabung dan dikirimkan kerumah untuk membantu orang tua.

Pada waktu mengaji di Pondok Bendo ini, beliau termasuk santri senior kesayangan Syekh Khozin.  Beliau sering ditunjuk oleh syekh Khozin untuk mengimami shalat, ketika sedang berhalangan. Pernah seorang santri baru (K. Syujangi Purbalingga) mengamati beliau, ia kagum terhadap seorang santri yang ditunjuk Syekh Khozin untuk mengimami, dalam hati ia bertanya ; Apakah orang yang mengimami tadi adalah orang yang tadi siang menjadi tukang batu ? Selidik punya selidik ternyata dugaannya tidak meleset. Memang disamping pandai mengaji, beliau memiliki banyak ketrampilan, salah satunya adalah sebagai tukang batu. Ketrampilan tersebut beliau manfaatkan untuk membangun Pondok Bendo.

Walaupun beliau menetap di Pondok Bendo, tetapi beliau juga mengaji jolok (mengaji dan menempat disuatu pondok sambil mengaji di pondok yang lain)  di Pondok Jampes, yang ditempuh beliau dengan jalan kaki, padahal jaraknya agak jauh, sekitar 12 km. Waktu itu beliau mengaji ilmu falak/ilmu hisab pada syekh Dahlan, sampai beliau memahami ilmu tersebut.

Setelah KH. Badawi Hanafi belajar di Pondok Pesantren ini selama kurang lebih 20 tahun lamanya, yaitu sampai tahun 1921, Syekh Khozin memerintahkan beliau untuk pulang berdakwah dimasyarakat. Waktu beliau akan pulang, Syekh Khozin mengantarkannya sampai kestasiun[6]. Hal ini tidak lain karena beliau adalah santri kesayangannya.

4. Pondok Pesantren Lirap

Setelah didawuhi untuk pulang, beliau tidak langsung menetap dirumah, akan tetapi beliau mondok dulu di pesantren Lirap, Kebumen. Waktu itu Pondok Lirap diasuh oleh Simbah KH. Ibrahim. Kurang lebih tiga tahun lamanya, beliau mondok disini, yaitu dari tahun 1921-1924 M.

Selain untuk menuntut ilmu, disini beliau sambil riyadloh mencari tempat yang tepat untuk digunakan berdakwah.  Ada bebarapa daerah yang beliau tirakati untuk digunakan tempat berdakwah, mendirikan Pondok Pesantren, antara lain : Kuripan, Cilacap kota (dekat daun lumbung), Sumur Gemuling, Sitinggil, dan Kesugihan. Dari beberapa tempat tersebut, akhirnya beliau mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk menempat berdakwah di Kesugihan, tempat orang tuanya tinggal. Setelah menemukan tempat yang tepat tersebut, akhirnya tahun 1924 beliau memutuskan untuk pulang.

Mendirikan Pesantren

Setelah kepulangan beliau dari Pondok Lirap, sebelum bulan Ramadlan tahun 1343 H/tahun 1924 M, atas kesepakatan warga masyarakat platar dan lemah gugur, didirikanlah Pondok Pesantren. Namun pendirian Pondok tersebut baru disahkan pemerintah yang berpusat di Banyumas pada tanggal 24 November 1925 M /1344 H.

Pada waktu itu, bangunan pondoknya hanya terdiri dari beberapa kamar, dengan ruangan tengah yang cukup lebar untuk mengaji dan KH. Badawi menempati salah satu kamar tersebut.

Pada tahun 1936 beliau membangun sebuah masjid, dan langgur duwur yang tadinya digunakan untuk shalat jamaah dibongkar.

Riyadlah KH. Badawi Hanafi

Kebesaran beliau ternyata tidak muncul dengan tiba-tiba. Ada proses panjang yang dilalui beliau sampai namanya dikenang hingga sekarang. Bentuk-bentuk riyadlah (melatih diri mengekang hawa nafsu menuju ridla Allah SWT) beliau sangat bermacam-macam,  antara lain :

a.   Beliau selalu mujahadah setiap malam

Jadi, waktu malam yang panjang tidak beliau gunakan untuk ngobrol ngalor-ngidul (bicara kesana kemari)  yang tidak ada manfaatnya, tapi beliau gunakan untuk muthala'ah kitab dan mujahadah (shalat, dzikir dan lain-lain).

b.   Rajin shalat berjama'ah, Beliau dikenal sebagai orang yang sanyat tekun dan rajin dalam menjalankan shalat jama'ah.

c.   Makannya sedikit

Sebagaimana manusia biasa, tentunya beliau juga memerlukan kekuatan agar dapat beribadah kepada Allah SWT yang mana kekuatan tersebut dapat diperoleh dari makanan. Namun apabila terlalu banyak, akan berakibat yang tidak baik, karena ada beberapa bahaya yang dapat ditimbulkan dari  kebanyakan makan, antara lain banyak menimbulkan berbagai macam penyakit dan menghilangkan kecerdasan. Disamping itu, apabila perut terlalu kenyang, syahwat akan besar sehingga mudah terbujuk oleh godaan syetan. Padahal mencari ilmu itu tidak lain adalah untuk mendapatkan ridla dari Allah SWT . Beliau tetap masak nasi itupun dicampuri krikil, hanya agar tidak dianggap priatin oleh orang lain.

d.  Beliau sangat aktif mengaji dan selalu gasang.

Misalnya, sewaktu kecil, ketika beliau mengaji di Pondok Wono Tulus, terjadi hujan deras dan sungai yang harus beliau lalui agar dapat sampai di Pondok tersebut meluap.  Akhirnya beliau nekad  berenang menyeberangi sungai tersebut agar tetap dapat mengaji. Dan juga pernah suatu hari di Pondok Bendo, sewaktu beliau mengaji kitab Ihya 'Ulumiddin, karya Imam Ghozaly, dalam kondisi sakit yang cukup parah, beliau memaksakan diri untuk tetap mengaji dengan minta digotong pada teman-temannya ketempat pengajian. Melihat hal itu, KH. Khozin sangat iba, sehingga akhirnya beliau meliburkan pengajian sampai sakitnya sembuh. Dalam mengaji Bandungan kitab tersebut, tidak ada satupun korasan (lembaran-lembaran kitab) yang terlewatkan, Semua isi kitab beliau kaji dengan tekun, tidak ada yang ketinggalan sedikitpun.

Disamping beliau tekun mengaji, beliau juga sangat ta'dzim (menghormati) Guru. Waktu mondok di Bendo, beliau sering membantu Syekh Khozin. Beliau adalah orang yang dipercaya untuk mencucikan baju dan menyiapkan air untuk mandi Syekh Khozin.  Beliau dengan tekun setiap hari, mengisi kulah-kulah (kamar Mandi) yang ada di ndalem. Ini adalah dalam rangka mencari ridlo Guru. Karena buat apa mendapat ilmu yang banyak jikalau Gurunya tidak meridloi. Bagaimanapun juga, kita akan sulit mengetahui kebenaran, tanpa bantuan dan bimbingan seorang Guru, karena beliau tentunya lebih mengetahui apa yang terbaik dan akan memberikannya untuk sang murid.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya