Mbah Kiai Abdullah Faqih bin Umar, Ulama Pejuang dari Ujung Timur Pulau Jawa

Mbah Kiai Abdullah Faqih bin Umar, Ulama Pejuang dari Ujung Timur Pulau Jawa

LADUNI.ID, Jakarta - Melalui gerakan melawan penjajah, KH Abdullah Faqih bin Umar atau yang dikenal dengan Kiai Faqih Cemoro, ini termasuk kiai karismatis dan ulama besar. Kiai Faqih yang lahir pada tahun 1870 Masehi  dan meninggal pada tahun 1953, dikenal bukan hanya penyebar Islam, tapi juga pejuang kemerdekaan yang gigih melawan penjajah Belanda.

Melalui bendera Hizbullah, ia pernah memimpin sejumlah peperangan di ujung timur Pulau jawa, tepatnya di wilayah Banyuwangi. Ia pernah ikut perang Parangharjo, perang Hizbullah Lemahbang, dan beberapa perang lain.

“Dulu santrinya Mbah Kiai Faqih  ini ribuan,” ungkap Gus Umar Abdullah (58), salah satu cucu KH Abdullah Faqih bin Umar.

Kiai Faqih ini santri urutan ke-22 dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Saat belajar, satu angkatan dengan KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbullah, dua kiai besar asal Jombang yang dikenal sebagai pendiri NU.

Kiai Faqih juga satu angkatan dengan KH Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta,  KH Ma’shum pendiri Pondok Pesantren Lasem Rembang,  dan KH Syamsul Arifin pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah  Asembagus Situbondo.

Usai belajar dari maha guru Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai  Faqih diberi mandat menyebarkan Islam di daerah Banyuwangi. Dan pada tahun 1917 dia masuk Dusun Cemoro, Desa Balak. “Ketemu dengan bapak Haji Hambali, juragan tanah, Kiai Faqih diberi tanah dan dibuatkan pondok pesantren,” katanya.

Dalam perkembangannya, pesantren yang didirikan kiai Faqih  itu pesat. Santri yang ada saat itu mencapai ribuan. Para santri itu tidak hanya dari daerah Banyuwangi, tapi juga banyak dari Jember, Bondowoso, hingga Banten. “Mbah Kiai ini keturunan Raden Umar Banten, jadi namanya tersohor  hingga Banten,” ungkap Gus Umar.

Dalam perkawinannya dengan al marhumah Suryati, Kiai Faqih memiliki lima putra, yakni KH. Ahmad Muhtarom, KH. Sholeh Abdullah, Siti Maryam, Mohammad Idris, dan Salamah. “Saya cucu dari anak kedua Mbah Kiai,” terangnya. Gus Umar mengaku semasa kecil sering mendapat cerita tentang Kiai Faqih dari ayahnya, KH. Sholeh Abdullah.

Kawasan Cemoro pada tahun 1917 hingga 1970 merupakan pondok pesantren besar dan  terkemuka di bumi Blambangan. Diantara santri Pesantren Cemoro adalah KH. Harun, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi; KH. Abdul Manan, Mberasan, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar; dan KH. Ahmad Kyusairi.

Kiai Faqih masa kecilnya bernama Mudasir merupakan sosok anak muda yang giat belajar. Sejak belia ia rajin menuntut ilmu serta tirakat. Melalui bimbingan ayahnya yang terkenal memiliki ilmu agama dan kanuragan yang pilih tanding, Mudasir kecil rajin berpuasa sunnah.

Pada tahun 1887, kala itu Mudasir masih berusia sembilan tahun. Dia sudah memutuskan untuk berkelana mencari ilmu.  Mudasir muda telah berkelana ke berbagai tempat. Diantaranya ke Kiai Purwosono di Lumajang. Kurang lebih dua tahun, ia menuntut ilmu sekaligus mengabdi disana.

Selain ke Lumajang, Mudasir muda juga pergi ke Lirboyo. Ditempat itu, ia berkeinginan untuk menuntut ilmu disebuah pesantren yang diasuh oleh ayahanda KH Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo.

Setelah itu, Kiai Faqih muda melanjutkan pengembaraannya ke Pasuruan. Ia berguru kepada Kiai Siddiq ulama besar asal Lasem yang bermukim di Pasuruan lalu menetap di Jember. Dari Kiai Siddiq ini, banyak terlahir ulama besar. Baik secara biologis maupun ideologis. Diantara putranya, ialah KH. Achmad Siddik, Rois Syuriah PBNU periode 1984 – 1989.

Usai nyantri di Pasuruan, Kiai Faqih menyebrang ke Madura. Ia menuntut ilmu ke soko guru para ulama Nusantara, Syaikhona Kholil Bangkalan. Tak kurang dari sembilan tahun, ia menyerap ilmu dari waliyullah tersebut.

Puas menuntut ilmu syariah, Kiai Faqih berkelana lagi menuntut ilmu hikmah. Tercatat ia singgah selama dua tahun di pesantren Kiai Sholeh Kaliwungu, Semarang. Lalu, setahun ke Kiai Syamsuri di Cirebon. Setahun kemudian ia berguru ke tanah kelahiran kakeknya, Banten. Tak tercatat kepada siapa ia berguru di bumi para jawara itu.

Pada 1904, Kiai Faqih menyempurnakan ilmu dan juga rukun Islam ke tanah suci Mekkah. Di tempat kelahiran Islam ini, Kiai Faqih belajar lagi kepada Kiai Mahfud Termas dan ulama lain sejamannya. Enam tahun lebih, ia tuntaskan dahaga ilmunya di tanah haram tersebut.

Berbekal ilmu, spiritualitas, mentalitas, pengalaman dan jaringan ulama nusantara yang telah dirangkai, mendorong Kiai Faqih untuk merintis pesantren di kampungnya. Ia memulainya sejak tahun 1911, namun baru mendapatkan legalitas dari Pemerintah Hindia Belanda pada 17 Agustus 1917. Pemberlakuan Ordonasi Guru menjadi rintangan administratif yang kerap mengkungkung pertumbuhan pesantren saat itu.

Awalnya hanya dua tiga orang santri yang mengaji ke Kiai Faqih. Namun karena kealimannya, lambat laun Pesantren Cemoro mulai menarik minat masyarakat luas untuk belajar disana. Ratusan santri dari berbagai daerah, tidak hanya dari dalam Banyuwangi, juga turut berdatangan.

Kiai Faqih wafat pada malam Jumat Kliwon tahun 1953 di usia  83 tahun. Kiai karismatik itu dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di dekat istrinya, almarhumah Suryati, yang meninggal lebih dulu di usia 60 tahun.