Saran Berharga KH Azaim Ibrahimy tentang Polemik Film The Santri

Saran Berharga KH Azaim Ibrahimy tentang Polemik Film The Santri

LADUNI.ID, Jakarta - Pengasuh pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy menanggapi dan memberi saran terkait polemik film The Santri yang akhir-akhir ini ramai di media sosial. Kiai Azaim memberi saran untuk seluruh pihak agar bisa menahan diri dan saling menjaga perasaan, terlebih di zaman fitnah seperti hari ini.

Saran dari KH Azaim ini disampaikan saat pengajian kitab al-Hikam bersama santri Ma’had Aly Situbondo. Menurut Kiai Azaim, perdebatan-perdebatan yang terjadi itu apakah sudah memberi sumbangsih atau hanya adu urat saraf yang rentan menjadi awal dari sebuah permusuhan.

“Mari tolong saling menjaga perasaan, termasuk menjaga perasaan orang banyak supaya tidak terganggu dengan apa yang kita lakukan. Jangan sampai hal-hal remeh seperti ini menghabiskan tenaga, gara-gara film ini sesama santri saling debat kusir dan marah-marah penuh kecurigaan, eman! Padahal masih banyak persoalan dan perjuangan yang lebih besar yang membutuhkan perhatian kita,” demikian Kiai Azaim menyarankan.

Dalam polemik film The Santri itu, kelompok yang pro berpendapat bahwa film tersebut mengandung syiar dan dakwah dari dunia pesantren. Akan tetapi bagi yang kontra, film itu bukan menjadi syiar dan dakwah, akan tetapi justru akan merusak citra pesantren, seperti beberapa adegan yang dianggap tidak mencerminkan tradisi pesantren.

“Pertama, bahwa kita tak bisa mengomentari terlalu jauh soal polemik dalam film tersebut, karena yang muncul di media hanya trailernya saja. Belum film secara utuh,” terang Kiai Azaim kepada para santri, seperti dilansir mahadaly-situbondo.ac.id, Selasa (17/9).

Sementara itu, Kiai Azaim juga memberikan saran kepada mereka yang sangat kontra setelah melihat beberapa adegan, semisal adegan santri putra-putri naik dokar bersama, adegan campur baur santri putra-putri dan lain sebagainya.

“Silahkan masuk dalam perdebatan dan diskusi, tapi tetap menggunakan akhlak dan budi pekerti. Ilmu dilawan dengan ilmu, analisis dilawan dengan analisis. Kalau mau mengkritik harus punya hujjah, argumen,” terang Kiai Azaim Ibrahimy.

Dalam catatan Kiai Azaim, duduk perkara dalam polemik ini adalah soal logika. Dari judul, film ini menggunakan “The Santri” yang masuk kategori lafadz universal/kulli, di mana mencakup seluruh santri. Sementara ada beberapa adegan yang kurang sesuai dengan tradisi pesantren misalnya, pacaran, adegan santri putra-putri naik delman bersama dan lain-lain. Lalu orang-orang menduga bahwa hal tersebut adalah tradisi santri karena dipengaruhi keumuman judul. Bahwa campur baur antara santri putra-putri adalah hal yang lumrah. Lebih-lebih, yang menjadi promotor dan inisiator adalah Nahdlatul Ulama. Catatan tambahan dari beliau adalah bahwa istilah santri adalah istilah yang sakral. Dan menjadi milik banyak orang islam di Indonesia.

Sebelumnya, seperti tanpa henti, setiap hari linimasa media sosial selalu menampilkan polemik soal Film “The Santri”. Hal ini bahkan terjadi sejak pertama kali trailer film tersebut dirilis secara resmi oleh Nahdlatul Ulama sebagai promotor film, publik terpecah menjadi dua kubu yang berbeda secara diametral. Di satu sisi, ada yang mengapresiasi dan memuji di sisi lain ada yang menolak sekaligus mencaci.