Agama itu Nasihat

Agama itu Nasihat

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: الدِّينُ النَّصِيحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: ِللهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ (رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي)

Artinya: Dari Tamim al-Dari ra, Nabi s.a.w. bersabda, “Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa (kami bernasehat)?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan untuk orang Islam pada umumnya.” (Hadis Shahih, Riwayat Muslim: 82, Abu Dawud: 4293, al-Tirmidzi: 1849, al-Nasa`i: 4126, dan Ahmad: 16332, al-Darimi: 2636. teks hadis di atas riwayat Muslim)

Pengertian Nasehat
Nasehat (dalam bahasa Arab: Nashihah) berasal dari suku kata kerja nashaha- yanshahu-nashihah, artinya menasehati. Untuk menjabarkan arti nasehat ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan menjahit. Apabila dikatakan, “tanashaha al-rajulu tsaubahu”, artinya seseorang telah menjahit pakaiannya. Seorang penasehat disamakan dengan seorang penjahit kain, karena usaha seorang penasehat untuk menyampaikan fatwa-fatwanya demi kemaslahatan bersama, adalah sama dengan pekerjaan seorang penjahit yang selalu menusukkan jarum dan benang pada kain sasarannya dengan maksud untuk merajut dan mencipta mode pakaian yang sesuai dengan kehendaknya atau untuk memperbaiki pakaian yang telah rusak. (Fatchurrahman: 1966: 1/68)

Pendapat lainnya mendefinisikan nasehat dengan membersihkan. Apabila dikatakan, nashahtu al-‘asala, artinya aku telah membersihkan madu dari malamnya (yang menjadi sarang lebah). Seorang pemberi nasehat hendaknya membersihkan ucapan-ucapan yang dapat menimbulkan tipu muslihat, khianat, dan fitnah. Sebagaimana tukang madu membersihkan madu dari malam yang melekat. Pendapat terakhir ini mengharapkan kepada para penasehat agar ikhlas dan tulus dalam menjalankan tugas-tugas syariat. Nasehat dalam arti ikhlas ini disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:      “Tiada dosa (karena tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Taubah, 9: 91)

Pada hakikatnya, antara pendapat pertama dan pendapat kedua mempunyai kesimpulan yang sama, bahwa nashihah (nasehat) merupakan kata tunggal yang ringkas dan tegas, tetapi mengandung makna yang sangat luas, mencakup kemaslahatan di dunia dan di akhirat. Seorang yang memberitahukan jalan-jalan kemaslahatan di dunia dan di akhirat disebut “Nashih” seperti yang tercantum dalam al-Qur’an: Aku menyampaikan amanah-amanah Tuhanku kepadamu dan Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” (QS. al-A’raf, 7: 68)

Dengan demikian, seorang penasehat adalah orang yang memberikan petunjuk jalan kepada yang lainnya dengan tulus  ikhlas, walaupun petunjuk atau nasehat itu tidak diindahkan oleh mereka. Ia harus tekun dan telaten menasehati mereka dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab untuk membawa mereka ke arah kemaslahatan bersama.

Dalam hadis di atas, Rasulullah s.a.w. menginformasikan bahwa agama Islam yang dibawanya itu adalah gudang nasehat yang mengarah pada setiap pribadi orang Islam untuk mentaati perintah Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, dan memberikan masukan kepada pemerintah, serta saling mengontrol antar sesama, menuju kebahagiaan yang hakiki, di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, nasehat dalam Islam mempunyai peranan yang sangat siginifikan. Beliau juga, dalam sabdanya, mengkhususkan isi agama ini secara keseluruhan hanya berupa nasehat, padahal kenyataannya banyak yang terkandung dalam agama ini selain dari nasehat, misalnya keimanan, amalan, dan lain sebagainya. Hal ini memperkuat asumsi di atas bahwa nasehat ini mempunyai peranan penting dalam agama.

Nasehat untuk Hamba Allah
Nasehat yang pertama, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas, adalah untuk Allah. Kemudian timbul pertanyaan, apa yang dimaksud dengan bernasehat untuk Allah? Masihkah Dia memerlukan nasehat?

Allah s.w.t. adalah Dzat Yang Mahatinggi dari segala-galanya. Dia berdiri sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari siapapun, apalagi fatwa atau nasehat dari makhluk-Nya. Oleh karena itu, menurut al-Khaththabi, bernasehat untuk Allah adalah bernasehat  untuk hamba-Nya agar beriman kepada Allah, mengesakan dzat-Nya, mengagungkan sifat-Nya yang serba sempurna, mentaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mengikhlaskan hatinya dalam segala amal perbuatan. 

Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang plural. Sebagai salah satu komponen di antara mereka, kita harus bahu membahu mewujudkan masyarakat yang aman, tentram, adil, dan sejahtera. Budaya kerjasama, gotong royong, tepo seliro, dan tolong menolong merupakan bentuk solidaritas yang tinggi antar sesama. Jika ada salah satu anggota masyarakat yang kurang mampu atau miskin, maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk membantu meringankan bebannya. Sebab tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai sesamanya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Inilah keadilan Islam, agama yang selalu mensugesti umatnya untuk berbuat baik, berbudi luhur, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi kepada sesama. Demikian itu dijelaskan dalam sebuah hadis:

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي وابن ماجه وأحمد والدارمي)

Artinya: Dari Anas bin Malik r.a., Nabi s.a.w. bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Hadis Shahih, Riwayat al-Bukhari: 12, Muslim: 64, al-Tirmidzi: 2439, al-Nasa`i: 4930, Ibnu Majah: 65, Ahmad: 12338, al-Darimi: 2623. teks hadis di atas riwayat al-Bukhari)

Islam menganggap semua umat manusia adalah bersaudara, yaitu saudara se-agama (ukhuwwah Islamiyah), saudara se-tanah air (ukhuwwah wathaniyah), dan saudara sesama manusia (ukhuwwah insaniyah). Mencintai orang lain sejajar dengan mencintai diri sendiri, mengandung pengertian bahwa manusia beriman tidak boleh mencampuri urusan pribadi orang lain, tidak memaksakan kehendak, dan tidak berbuat hal-hal yang menyebabkan hak-hak sesama manusia terabaikan. Hal ini bukan merupakan sesuatu yang berat bagi orang yang berjiwa besar, ia akan tulus memberikan pelayanan terbaik bagi manusia lainnya. Tetapi bagi orang yang melalaikan ajaran agama, hal tersebut dirasakan sangat berat. Seorang koruptor tentu akan sayang sekali melewatkan kesempatan emas berupa ‘lahan basah’ yang ada di depan matanya. Begitu pula seorang perompak tentu akan menyesal jika membiarkan kapal laut tidak dibajaknya, dan lain sebagainya. 

Tabiat manusia dalam mencintai dirinya sangat berlebihan daripada mencintai orang lain. Tetapi jika seseorang mencintai orang lain seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri, maka ia termasuk orang yang memiliki keutamaan. Oleh karena itu, tepat sekali jika Nabi s.a.w. mengategorikan orang yang mencintai sesama seperti halnya mencintai diri sendiri sebagai orang yang sudah mencapai kesempurnaan imannya. Inilah Islam, sesuai dengan namanya yang berarti damai, mengajarkan umatnya untuk bersikap humanis dan toleran kepada sesamanya, melarang kerusakan, penindasan, penganiyaan, dan perpecahan. Dengannya, diharapkan semua umat Islam berada dalam satu panji ukhuwwah Islamiyah yang teguh dan abadi.

Seseorang tidak dapat dikatakan sebagai penasehat untuk hamba Allah, rasul-Nya, kitab-Nya, pemimpin-pemimpin Islam dan orang-orang Islam pada umumnya, jika ia tidak memulai sedini mungkin untuk menasehati dirinya sendiri dengan memperbaiki amal perbuatan dan tingkah lakunya. Allah tidak membenarkan, bahkan sangat membenci, orang yang hanya pandai bernasehat kepada orang lain, tetapi ia sendiri enggan mengamalkannya. Allah berfirman:“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. al-Shaff, 61: 3)

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA