Kenangan Manis Pelatih Timnas U-16 tentang Almarhum Alfin Lestaluhu

Kenangan Manis Pelatih Timnas U-16 tentang Almarhum Alfin Lestaluhu

LADUNI.ID, Jakarta - Kepala Pelatih Timnas Indonesia U-16, Bima Sakti Tukiman menyampaikan rasa duka terhadap pemain Tim Nasional U-16, Alfin Lestaluhu yang meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Kamis (31/10) lalu.

Bima meluapkan dukanya melalui media sosial Instagram pribadinya. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan Alfin, semoga husnul khotimah. Terima kasih atas perjuanganmu buat bangsa ini,” tulis @bimasakti230176.

“Kau telah berjuang tanpa kenal lelah, tanpa rasa takut sedikitpun, seperti pesan kedua orang tuamu. Jasamu pasti kami kenang, dan meneruskan cita-citamu agar Timnas ke depan bisa lebih baik lagi, Aamiin YRA,” sambungnya.

Sang Pelatih juga menuliskan beberapa kenangan manis tentang Alvin, salah satunya, kata Bima, suara Azan Alfin begitu merdu. “(Alvin) Pemain yang selalu tampil maksimal tanpa kenal kompromi dan selalu siap dipasang kapan saja.

“Mau dipasang 90 menit, 45 menit, 1 menit pun, ‘SIAP Coach’, itu sepenggal kata yang diucapkan Alfin ke saya, dan selalu saya ingat. Banyak kenangan indah di dalam dan di luar lapangan bersama Alfin.

“Suara Azannya merdu sekali. Selalu ceria, serta yang paling mengejutkan sewaktu adu pinalti melawan Vietnam di ajang piala AFF 2019, di Chonbury Thailand.

"Begitu peluit berakhir dan dilanjutkan ke adu pinalti, Alfin pemain pertama yang menghampiri saya dan berkata, ‘Saya mau dan siap ambil pinalti Coach”.

"Saya dengarnya malu, dan berkata dalam hati, luar biasa mental anak ini, karena waktu saya main dulu, mohon maaf, saat tampil di final Sea Games 1997, Jakarta melawan Thailand, saya salah satu pemain yang gak berani ambil pinalti.

"Walau dia gagal dan langsung meminta maaf ke saya, tanpa banyak bicara, langsung saya peluk dia. “Gak apa-apa Alfin, terima kasih kamu udah berani ambil pinalti”, dan memang sebenarnya dalam sesi latihan pinalti, dia bukan pilihan utama untuk menendang pinalti.

"Dan setelah masuk ruang ganti, saya sampaikan ke semua pelatih, ofisial, dan para pemain, bahwa saya respect, salut, dan bangga dengan perjuangan, dedikasi Alfin.

“Saya dan mungkin semua anak muda di Indonesia, bisa belajar dari keberanian Alfin, dan dedikasinya buat tim. Bahwa segala sesuatu, kita harus berani mencoba dan yakin dengan kemampuan kita, serta di dalam setiap pertandingan, selalu siap dimainkan kapan saja,” kenang Bima.

***

Menurut diagnosis dokter, Alfin meninggal karena encephalitis (infeksi otak). Bima begitu kehilangan sosok Alfin, salah satu komponen penting di balik kesuksesan Timnas U-16, hingga berhasil lolos ke Piala Asia 2020. Jenazah Alfin dimakamkan di kampung halamannya, Tulehu, Ambon.