Islam Menghapuskan Kesalahan di Masa Lalu

  1. Hadis:

    أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامِ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ

    Artinya:
    "Apakah tiada engkau mengetahui bahwa Islam menghapuskan (dosa) yang terjadi sebelumnya, dan bahwa hijrah menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya, dan bahwa haji menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya?"

    Asbabul Wurud:
    Abu Syamasah menceritakan: "Telah hadir di hadapan kami Amru bin Ash yang sedang menghadapi sakit payah. Lama sekali Beliau mdhangis. Dia palingkan wajahnya ke dinding. Lalu puteranya ber­kata: Hai bapakku, Bukan Rasulullah SAW telah menggembirakanmu dengan ini? Lalu Dia palingkan kembali wajahnya, dan berkata: Sesungguhnya yang paling utama kita hitung adalah pengakuan (syahadat) bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu Rasulullah SAW. Sesungguhnya aku berada dalam tiga tingkatan (sejarah kehidupan): (1) Sungguh engkau telah melihatku demikian bencinya kepada Rasulullah SAW, sehingga Beliau lah orang yang paling aku benci. Belumlah aku senang kecuali.bila aku sanggup aku bunuh Beliau. Seandainya aku mati dalam kehidupan demikian, pastilah aku menjadi penghuni neraka. (2) Setelah Allah menjadikan hatiku menerima Islam, aku datangi Nabi SAW, lalu aku katakan pada Beliau : Bcntangkanlah tanganmu, sungguh aku akan membai’ahkanmu. Maka Beliau bentangkan (ulurkan) tangannya. Lalu aku genggam tangan itu erat sekali. Beliau bertanya: Kenapa begini hai Amru? aku menja­wab: Aku ingin memberikan suatu syarat. Nabi bertanya lagi: Syarat apa? Aku menjawab: Syaratnya, Allah mengampuni dosa-dosaku. Beliau bersabda: 'Tiadakah engkau mengetahui, bahwa Islam itu menghapuskan (dosa) yang terjadi sebelumnya. Bahwa haji itu menghapuskan apa yang teijadi sebelum­nya. Maka setelah itu tiada seorang pun yang paling aku cintai di dunia ini melainkan adalah Rasulullah SAW. Tiada sanggup aku menantang tatapan wajahnya, karena demikian agung (mulia)nya Beliau dalam pandanganku. Kalau engkau minta aku menggambarkan sifat-sifat Beliau , tak sangguplah aku rasanya, karena tidak pernah mataku dapat bertatapan dengan matanya. Andaikata aku mati dalam keadaan demikian, sungguh aku mengharapkan kelak akan menjadi penghuni surga. (3) kemudian kami (setelah Beliau wafat) kami menghadapi banyak urusan, yang aku tidak mengetahui lagi kedudukanku waktu itu (di zaman Khalifah Ali, Amru bin Ash berpihak pada Mu’akhyah dalam perang Shiffein). Maka kalau aku meninggal dunia, Janganlah kamu meratap dan jangan pula membuat api (mempestakan kematianku ). Apabila kamu menguburku, timbunilah (jenazahku) pelan-pelan. kemudian berdirilah kamu sekitar kuburku selama hewan disembelih (sampai benar-benar mati), dan dibagi- bagikan dagingnya sehingga aku minta izinmu dan aku menunggu apa yang dikembalikan oleh utusan Tuhanku.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN