Indeks Kitab

Kitab - Itmamu Diroyah

Laduni.id jkrt - Kitab Itmamu Diroyah li Qurroi Nuqoyah merupakan sebuah karya kitab yang membahas tentang berbagai cabang dasar keilmuan yang ada agama Islam. Penulis kitab ini merupakan ulama’ besar bernama Syaikh  Jalaluddin as-Suyuthi (bahasa Arab: جلال الدين السيوطي‎) (gelar lengkapnya Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi'i al-Asy'ari; lahir 1445 (849H) - wafat 1505 (911H)) adalah seorang ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada abad ke-15 di Kairo, Mesir.

Sebenarnya kitab ini merupakan kitab praktis yang meringkas keterangan yang ada di kitab an Nuqoyah karya penulis juga. MAMDUH AL-QOHTHANI Seorang peneliti tentang kajian ilmu tafsir dalam kitab Itmam Ad-Dirayah menemukan infomasi menarik, berdasar informasi tahun lahir Imam As-Suyuthi dan tahun dimana kitab An-Nuqayah di tulis, diperkirakan Imam As-Suyuthi menyusun kitab tersebut pada umur 22 tahun.

Imam As-Suyuti dalam kitab Itmamu al-Diroyah memberikan definisi ilmu al-Qur’an sebagai berikut:

عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيْهِ عَنْ اَحْوَالِ اْلكِتَابِ اْلعَزِيْزِ مِنْ جِهَةِ نُزُوْلِهِ وَسَنَدِهِ وَاَدَبِهِ وَاَلْفَاظِهِ وَمَعَانِهِ اَلْمُتَعَلَّقَةِ بِاْلاَحْكَامِ وَغَيْرِذلِكَ[3]

Artinya: Ulum al-Qur’an ial-ah suatu ilmu yang membahas tentang keadaan al-Qur’an dari segi turunnya,sanandnya, adab makna-maknanya baik yang berhubungan dengan lafal-lafalnya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya dan sebagainya.

Secara garis besar kitab ini terdiri dari 233 halaman, dimana di dalamnya penulis membahas 14 cabang dasar keilmuan, yang tentunya dijelaskan oleh penulis dengan bahasa yang mudah difahami, sederhana seingkat padat dan jelas.
14 cabang dasar keilmuan tersebut adalah sebagai berikut:

1.           Ilmu Dasar Agama

2.           Ilmu Tafsir

3.           Ilmu Hadist

4.           Ilmu Ushul Fiqh

5.           Ilmu Faroidl

6.           Ilmu Nahwu

7.           Ilmu Shorof

8.           Ilmu Khot

9.           Ilmu Ma’ani

10.         Ilmu Bayani

11.         Ilmu Badi’

12.         Ilmu Anatomi Tubuh

13.         Ilmu Kedokteran

14.         Ilmu Tasawuf

 

Penulis mencoba memberikan penjelasan singkat tentang macam-macam dasar keilmuan yang hendaknya harus dipelajari oleh setiap orang Islam. Dimulai dengan pembahasan tentang dasar-dasar agama hingga ilmu kedokteran bahkan ilmu kerohanian/tasawuf.  

Baik, itu tadi sekilas resensi dari kitab Itmamu Diroyah li Qurroi Nuqoyah, yang bisa kami bagikan. Semoga apa yang sudah dibagikan dan Sampaikan bisa bermanfaat.

Lihat Kitab

Kitab - Itba'us Sunan Wajtinabun Bida'

 Laduni.id jkrt -  Kitab Itba’us Sunan Wajtinabul Bida’ merupakan kitab fan Hadist. Kitab ini merupakan sebuah karya seorang ulama’ terkemuka bermadzhab Hambali yang bernama Syaikh Dliya`uddin al Hambali.

Secara garis besar kitab ini memuat hadist-hadist penting yang membahas tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan lain mahrom. Seperti hukum zina, kholwat, menjaga pandangan mata dll. Penulis dalam memberikan penjelasan langsung menampilkan hadist tertentu sesuai topik pembahasan dan hanya menyebutkan perawi dan matan hadist.

 Adapun hadist-hadist yang tertulis dalam kitab ini merupakan hadist-hadist pilihan yang memiliki derajat shohih karna rata-rata perawinya adalah Imam Bukhori dan Imam Muslim. Penulis juga menambahkan penguatan dalil yang diambil dari ayat-ayat al qur`an. Kitab ini memuat sekitar 94 halaman, pada bagian awal penulis menambahkan keterangan biografi penulis dan pen-tahqiq (editor). Kemudian isi kandungan kitab berupa kumpulan hadist-hadist yang dimulai dengan pembahasan tentang fitnah perempuan dan diakhiri dengan pembahasan tentang hukum menari. Di bagian akhir penulis menambahkan keterangn daftar isi pembahasan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita. [14] Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 5.096) dan Muslim (no. 2.740 (97)), dari Sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhuma.

Fitnah ini akan masuk ke dalam hati manusia yang merupakan sebab hati menjadi sakit. Dan fitnah ini banyak sekali macamnya.

DI ANTARA JENIS FITNAH WANITA

Melihat kepada perkara-perkara yang haram dilihat, sering memandang perempuan, membaca majalah porno, melihat gambar-gambar yang membuka aurat, menonton film cabul, menonton TV, sinetron, dan lain-lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَزِنَى الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ

… dan zinanya kedua mata adalah dengan memandang… [15] Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6.612), Muslim (no. 2.657 (20)), Ahmad (II/276) dan Abu Dawud (no. 2.152)

Menjaga pandangan dan kemaluan termasuk dalam tazkiyatun–nufus.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allâh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. [an-Nûr/24:30].

 *Ikhtilâth (campur-baur laki-laki dan perempuan), khalwat (berdua-duaan laki-laki dan perempuan), pacaran, mabuk asmara (kasmaran), dan sebagainya.

*Bersentuhan antara laki-laki dan perempuan, atau berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dan sebagainya.

*Zina, kumpul kebo, nikah mut’ah, dan sebagainya. Nikah mut’ah sama dengan zina. Nas-alullâhal-‘afwa wal-‘âfiyah.

 FAWÂA-ID
1.
Sesungguhnya dunia dijadikan Allâh indah dan manis.

2.Hendaklah seorang Mukmin jangan tertipu dengan dunia, dan tidak tenggelam dalam gemerlapnya dunia.

3.Anjuran untuk bersikap zuhud terhadap dunia.

4.Allâh Azza wa Jalla menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, yang sebagian mereka menggantikan sebagian yang lain, agar Allâh Azza wa Jalla dapat melihat bagaimana mereka bertindak terhadapnya.

5.Dunia adalah tempat ujian dan cobaan, bukan tempat yang kekal.

6.Peringatan agar berhati-hati terhadap fitnah dunia.

7.Peringatan agar berhati-hati terhadap fitnah wanita.

8.Fitnah dunia dan wanita merusak agama seseorang.

9.Dianjurkan belajar dan mengambil pelajaran dari ummat-ummat terdahulu. Karena apa yang menimpa Bani Israil bisa juga menimpa kaum lainnya, yakni jika kaum itu berbuat yang sama seperti mereka.

10.Orang yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah dunia dan wanita dan ia bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla .

Baik, itu tadi sekilas resensi dari kitab Itba’us Sunan Wajtinabul Bida’, yang bisa kami bagikan. Semoga apa yang sudah dibagikan dan Sampaikan bisa bermanfaat.

Lihat Kitab

Kitab - Is'adur Rofiq (221 hlm)

  Laduni.id jkrt- Kitab Is’adur Rofiq Wa Bughyatus Sidhiq merupakan sebuah karya kitab fan Tasawuf.
Sebuah karya besar yang menguak ajaran-ajaran kerohanian yang merupakan karya seorang Ulama` terkemuka juga ahli fatwa bermadzhab Syafi’i ahli dalam bidang tasawuf bernama Syaikh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil as Syafi’i.

Karya besar ini merupakan syarh (kitab penjelas) kitab Sulamut Taufiq karya Habib Abdulloh bin Husain bin Thohir bin Muhammad bin Hasyim Ba’alawiy. Salah satu kitab masyhur di bidang fiqh taswauf. Kitab Is’adur Rofiq secara garis besar memuat keterangan yang sama dengan kitab asalnya, namun oleh penulis dilengkapi dengan penjelasan yang luas dan lebih kompleks serta diberikan keterangan tambahan yang sangat penting khusunya dlaam bidang tasawuf.
 Kitab ini terdiri dari dua juz setiap juznya memuat 100 halaman lebih jadi total ada sekitar 200 an halaman. Pada juz awal dibagian pertama penulis menjelaskan tentang keimanan dan ketauhidan khsusunya tentang kewajiban-kewajiban orang mukallaf, ketuhanan dan kenabian.
Di bagian selanjutnya penulis menjabarkan keterangan tentang hukum-hukum fiqih khususnya bab ubudiyyah tentunya dengan menggunakan sudut pandang ilmu tasawuf.
Pada bagian akhir jus satu penulis mengakhiri pembahasan dengan bab nafaqah.
Pada jus dua penulis lebih fokus memberikan penjelasan tentang kerohanian.

 Pada bagian ini pembahasan dimulai dengan bab kepatuhan hati dan tatacara amal bathiniyah. Mulai dari amal yang baik seperti keyaqinan, keikhlasan, berbaik sangka, ridho dll, juga penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, bangga diri dll. Di samping itu penulis juga menjelaskan berbagai macam kemaksiatan anggota badan dan tentunya dilengkapi dengan cara mengobatinya. Pada juz dua ini penulis mengakhiri pembahasan dengan pembahasan tentang taubat juga berbagai macam dzikir dan do’a dilengkapi dengan tatacara dan adabnya.

Baik, itu tadi sekilas resensi dari kitab Is’adur Rofiq Wa Bughyatus Sidhiq,yang bisa kami bagikan. Semoga apa yang sudah dibagikan dan Sampaikan bisa bermanfaat.

Lihat Kitab

Kitab Al - Iqna' Fi Halli Alfadz Abi Syuja'

  Kitab Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’ Ditulis oleh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Asy-Syarbini Al-Khatib (w. 977 H) merupakan kitab fan Fiqih.
Sesuai dengan nama kitabnya, penulis mencoba memberikan penjelasan secara lebih luas tentang hukum-hukum fiqih dari kitab fiqih yang lebih ringkas keterangannya.

Dalam kitabnya al-Iqna fi Halli Alfadz Abi Syuja’, beliau menjelaskan tentang hari jumat. Beliau menyatakan tentang sedekah hari jumat,

ويسن كثرة الصدقة وفعل الخير في يومها وليلتها، ويكثر من الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في يومها وليلتها لخبر: إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي

Dianjurkan memperbanyak sedekah dan beramal soleh di hari jumat atau malam jumat. Memperbanyak shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam atau siang hari jumat. Berdasarkan hadis: “Sesungguhnya hari yang paling afdhal adalah hari jumat. Karena itu, perbanyaklah membaca shalawat untukku. Karena shalawat kalian diperlihatan kepadaku.” (al-Iqna’, 1/170)
 
Kitab Iqna’ sendiri merupakan kitab penjelas kitab mungil tentang fiqih yang sering dikenal dengan nama kitab Taqrib, karangan Syaikh Abi Syuja’. Sebagaimana kitab asalnya, kitab ini tentunya tidak jauh beda isi kandungannya. Yakni meliputi pembahasan Ubudiyyah, Munakahah, Mu’amlah, dan Jinayah.
Tentunya pembahasanya sangat meluas dilengkapi dengan berbagai dalil baik naqli (Al qur`an & Hadist) dan dalil aqli (rasionalitas). Yang membedakan adalah penjelasan dan penjabarannya, bahkan sampai terbagi menjadi 3 Juz. Kitab ini memuat sekitar 1700 an halaman.

Pada juz 1 penulis membahas tuntas tentang Thoharoh (bersuci) & Sholat.
Kemudian pada juz 2 diawali pembahasan tentang Zakat dan diakhiri dengan bab Nikah.
Selanjutnya pada juz 3 diawali dengan pembahasan tentang Hukum Pidana dan ditutup dengan bab ithqi (Pembebasan budak).

Nama lengkap kitab “Al-Iqna’” (الإقناع) adalah “Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’” (الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع). Lafaz “iqna’” adalah mashdar “aqna’a” yang bermakna “memuaskan”. Jadi, dengan judul itu, pengarang memaksudkan agar orang yang membaca sudah merasa cukup dan puas dengan penjelasan yang ada di dalamnya sehingga tidak perlu bertanya-tanya lagi terkait memahami kalimat-kalimat yang terdapat pada “Matan Abu Syuja’”.

“Al-Iqna’ adalah kitab fikih bermazhab Asy-Syafi’i yang merupakan syarah untuk kitab “Matan Abu Syuja’”. Dari sisi posisinya sebagai syarah, kedudukannya seperti kitab “Fathu Al-Qorib” karya Ibnu Al-Ghorobili/Ibnu Qosim Al-Ghozzi, “Kifayatu Al-Akhyar” karya Al-Hishni, “Tuhfatu Al-Labib” karya Ibnu Daqiqi Al-‘Id, “An-Nihayah” karya Waliyyuddion Al-Bashir dan semisalnya. Hanya saja, kitab “Al-Iqna’” bisa digolongkan syarah panjang (“muthowwal”) meskipun juga tidak terlalu panjang lebar. Kitab “Al-Iqna’” tidak seringkas “Fathu Al-Qorib” atau pertengahan seperti “Kifayatu Al-Akhyar”. Al-Ghozzi menyebutnya sebagai “syarhun muthowwalun hafil” (syarah panjang nan padat)

Motivasi penulisan “Al-Iqna’” adalah atas permintaan kawan-kawan dan murid-murid Asy-Syirbini yang sering mengkaji ilmu bersama beliau. Asy-Syirbini diminta agar berkenan membuat syarah untuk “Matan Abu Syuja’” yang bisa mengurai ungkapan-ungkapan yang sulit dan samar, disertai penjelasan “fawaid fiqhiyyah”, penjelasan ushul fikih, dan pembahasan soal-soal fikih aktual sebagaimana yang ditulis oleh Asy-Syirbini dalam syarah “At-Tanbih”, syarah “Minhaj Ath-Tholibin” dan syarah “Al-Bahjah”. Setelah Asy-Syirbini beristikhoroh beberapa waktu dan salat di dekat makam imam Asy-Syafi’i lalu merasakan dada telah menjadi lapang, barulah beliau memulai menulis “Al-Iqna’” ini.

Sasaran kitab ini sebagaimana ditulis oleh Asy-Syirbini adalah muqoddimahnya adalah untuk para pelajar pemula dan pertengahan. Untuk pelajar pemula diharapkan sudah cukup berpegang kitab ini jika ingin menguasai fikih mazhab Asy-Syafi’i, sementara untuk pelajar pertengahan diharapkan sudah cukup merujuk padanya jika ingin mengajarkan pada orang lain.

Baik, itu tadi sekilas resensi dari kitab Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’, yang bisa kami bagikan. Semoga apa yang sudah dibagikan dan Sampaikan bisa bermanfaat.

Lihat Kitab

Kitab - Inarotud Duja fi Maghazi

  Kitab Inarotud Duja merupakan kitab tentang fan Sejarah, lebih tepatnya tentang perjalanan Jihad Nabi Muhammad SAW. Merupakan karya agung seorang ulama Imam Hadist yang ahli ushul fiqh bernama Syaikh Hasan Muhammad Masath. Penulis lahir di kota Makkah pada tahun 1317 H.

Kitab ini merupakan sebuah karya Agung yang khusus membahas sejarah peperangan yang pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Kitab ini sangat tebal sekali memuat sekitar 800 an halaman dimana kitab ini merupakan kitab Syarh (penjelas) sebuah karya nadlom kitab yang berjudul ‘Amuudun Nasab karangan Syaikh Ahmad bin Amin al Alawiy as Syanqitiy.
Dalam kitab ini penulis membagi pembahasan menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama berupa pembukaan membahas tentang biografi penulis, metode penjelasan yang digunakan penulis serta keistimewaan penjelasan yang ada. Pada bagian kedua penulis menjabarkan secara terperinci syarh (penjelasan) dari nadlom kitab ‘Amuudun Nasab serta penjelasan tentang perang-perang yang terjadi pada Nabi SAW.

Tepatnya ada sekitar 30 Peperangan yang penulis jabarkan dalam kitab ini dengan penjelasan yang terperinci di setiap peristiwa perang. Lebih menariknya lagi penulis juga menjabarkan sebab terjadinya peperangan serta sejarahnya di setiap peristiwa perang. Di samping itu penulis juga menambahkan berbagai peristiwa penting ketika peperangan terjadi begitu pula sebelum dan sesudah peperangan. Tentunya hal itu sangat penting dalam perkembangan hukum syariat islam khususnya dalam bidang fiqih. Sehingga selain memuat sejarah kitab ini juga banyak memuat berbagai hukum fiqih. Pada bagian akhir penulis juga menambahkan catatan-catatan penting serta penutup kitab yang memuat ringkasan sejarah peristiwa yang terjadi pada masa kelahiran Nabi SAW sampai hari wafatnya.

Baik, itu tadi sekilas resensi dari kitab Inarotud Duja,  yang bisa kami bagikan. Semoga apa yang sudah dibagikan dan Sampaikan bisa bermanfaat.

Lihat Kitab

Kitab - Ibnu Mardawaih

Kitab Juz`un Fiihi Ma Intaqo Abu Bakar Ahmad Bin Musa Bin Mardawaih merupakan salah satu karya fan Hadist. Kitab ini disusun oleh seorang ulama` ahli hadist yang Bernama Al Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar Musa bin Mardawaih (lahir 323 - wafat 410 hijriah).
Kitab yang berisi beribu hadist yang berasal dari hadist-hadist yang dikumpulkan oleh al Hafidz Abi Qosim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub at Thobroniy (W. 360 H).

Kitab ini memuat sekitar 390 an halaman, yang birisi banyak hadist lengkap dengan sanadnya. Hadist-hadist dalam kitab ini merupakan berbagai hadist yang disampaikan oleh al Hafidz at Thobroniy kepada penduduk Bashroh. Matan dan sanad hadist ditulis dalam setiap halamannya disertai catatan kaki yang cukup panjang serta beberapa penjelasan kata-kata yang asing ditambah dengan sumber referensi dari berbagai kitab hadist lain yang mu’tabar. Jumlah keseluruhan hadist sekitar 170 lebih hadist dengan diulang-ulang penulisannya karna beda proses sanadnya.

Dalam pembukaan kitab penulis menambahkan biografi singkat Imam al Hafidz at Thobroniy, Imam al Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Mardawah, juga beberapa ulama ahli hadist lain. Selain itu penulis juga menambahkan keterangan tentang kriteria hadist yang tahqiq (benar/nyata) juga metode pen-tahqiq¬-an hadist. Secara garis besar hadist di dalam kitab ini dibagi dua bagian yakni hadist yang disandarkan pada penulis dan hadist yang disandarkan pada editornya. Di bagian akhir penulis menambahkan keterangan tentanf guru-guru Syaikh Imam at Thobroniy.

Baik, itu tadi sekilas resensi dari k Kitab Juz`un Fiihi Ma Intaqo Abu Bakar Ahmad Bin Musa Bin Mardawaih, yang bisa kami bagikan. Semoga apa yang sudah dibagikan dan Sampaikan bisa bermanfaat.

Lihat Kitab

Kitab - Hushunul Hamidiyyah

       Kitab Hushunul Hamidiyyah merupakan sebuah karya yang menjelaskan tentang Aqidah, tepatnya membahas tentang Tauhid. Kitab ini disusun oleh seorang Ulama Mesir ahli ilmu kalam yang bernama As Sayyid As Syaikh Husain Afandi al Jisr at Torobalisi.

Secara garis besar kitab ini memuat 3 bagian besar pembahasan, yakni muqoddimah (pembukaan), isi dan penutup.
Dalam muqodimah-nya penulis menjelaskan tentang dasar aqidah agama Islam yang dijelaskan dalam 4 pembahasan.
Yakni meliputi pembahasan tentang ilmu tauhid, hakikat iman dan islam, penjelasan tentang sesuatu yang bisa menafikan keimanan, dan pembahasan tentang sifat wajib jaiz dan muhal.

Kemudian selanjutnya berupa inti pembahasan kitab atau isi kitab, yang mana penulis membaginya menjadi 3 bab.
 Bab pertama menjelaskan Iman kepada Allah dan I’tiqod ahlu sunnah,Yang mana terdiri dari 6 fashl. Selanjutnya bab kedua menjelaskan tentang Iman kepada para utusan, para nabi, malaikat, kitab Allah, hari qiyamat dan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan hal-hal tersebut.
Dalam bab kedua ini terdapat 5 fashl.
Bab ketiga memuat penjelasan tentang penolakan keserupaan dari nash-nas¬h syara’, yang berkaitan dengan keyakinan. Dalam bab ketiga ini penulis membagi pembahasan menjadi 4 fashl. Dalam bagian penutup penulis menjelaskan tentang kewajiban adanya khilafah islam.

Dalam kitab Husunul Hamidiyah, aqidah yang harus dipegang oleh seorang muslim meliputi hal-hal sebagai berikut : 

1. Definisi Ilmu Tauhid, keutamaan, dan kewajiban mempelajarinya. Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas tentang ketetapan kepercayaan/ aqidah agama dengan dalil yang yakin. Buahnya ialah mengenal sifat-sifat Allah ta’ala dan para utusanNya dengan bukti-bukti yang pasti, dan memperoleh kebahagian yang abadi.

2.  Hakikat Iman dan Islam. Iman adalah membenarkan bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah dan membenarkan apa saja yang dibawa oleh yang diketahui datangnya dari nabi secara dharuri. Yaitu percaya akan kebenaran Muhammad saw dengan kepercayaan yang kokoh terhadap apa saja yang di bawa oleh Muhammad dari Allah ta’ala dan diketahui datangnya dari Nabi dengan yakin dan kepercayaan tersebut disertai ketetapan hati. Misalnya iman kepada Allah ta’ala, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, qadla dan qadar, difardlukannya sholat, dan seluruh ibadah-ibadah lainnya membunuh dengan aniaya terhadap jiwa yang terjaga, haramnya zina dan sebagainya.

Islam adalah tunduk dan patuh zhahir-batin terhadap apa saja yang satu dan lainnya tidak dapat terlepas. Maka setiap mu’min adalah muslim dan setiap muslim adalah mu’min. Karena setiap orang yang membenarkan kebenaran Rasul, wajiblah ia tunduk terhadap hal-hal yang di bawa oleh beliau; dan setiap orang yang tunduk itupun wajib untuk membenarkan beliau.

3. Hal-hal yang menghapus dan membatalkan Keimanan. Islam melalui Al Qur’an yang mulia, melarang dan mengingatkan hal-hal yang dapat membatalkan keimanan: orang yang melakukannya dihukumi kafir, walaupun dalam hatinya membenarkan dan patuh terhadap apa-apa yang dibawa oleh Rasul saw, hal-hal itu misalnya mengucapkan kata-kata kafir dan sebagainya.

4. Tiga hukum akli yaitu: Wajib, Mustahil dan Jaiz. Pengertian wajib menurut akal ialah: sesuatu yang tidak dapat diterima ketidak adaannya. Misalnya: Satu adalah separoh dari dua, dan adanya Pencipta alam. Perihal satu adalah separoh dari dua dan adanya Pencipta alam, adalah wajib akli. Keduanya tidak dapat diterima akan ketidak adaanya. Tetapi yang pertama itu wajib akli badhi’ (jelas sekali) tidak membutuhkan kepada pembuktian. Yang kedua wajib akli nazhari (pemikiran) yang membutuhkan kepada pembuktian.

Selain keempat hal tersebut, dalam kitab Husunul Hamidiyah juga dijelaskan tentang rukun iman, tetapi penjabaran rukun iman tersebut berbeda dengan urutan atau susunan rukun iman pada umumnya.
Rukun iman yang dipahami oleh mayoritas umat Islam adalah :
(1) iman Kepada Allah swt,
(2) iman kepada Malaikat,
(3) iman kepada Kitab-kitab Allah,
 (4) iman kepada Nabi dan rasul,
 (5) iman kepada hari Kiamat, dan
 (6) iman kepada Qadla dan Qadar.
Sedangkan rukun iman yang dijabarkan dalam kitab Husunul hamidiyah adalah : (1) iman iman Kepada Allah swt, (2) iman kepada Nabi dan rasul, (3) iman kepada Malaikat, (4) iman kepada Kitab-kitab Allah, (5) iman kepada hari Kiamat, dan (6) iman kepada Qadla dan Qadar.

Perbedaan urutan rukun iman tersebut terdapat pada penempatan iman kepada Malaikat setelah iman kepada kitab dan Rasul. Berbeda dengan urutan rukun iman yang secara umum, menempatkan iman kepada Malaikat setelah iman kepada Allah swt. Adapun lebih jelasnya urutan dan pengertian rukun iman dalam kitab tauhid Husunul Hamidiyah adalah sebagai berikut :

1. Iman kepada Allah Swt

Iman kepada Allah ta’ala ialah agar hamba itu mengetahui dan mempercayai dengan kepercayaan yang kokoh sifat-sifat Wajib, mustahil dan sifat-sifat jaiz-Nya. Seorang hamba seharusnya percaya secara global (ijmal) dengan kepercayaan yang kokoh bahwa wajib bagi Allah ta’ala seluruh sifat-sifat kesempurnaan yang sesuai dengan sifat ketuhanan dan mustahil atas-Nya segala sifat kekurangan. Jaiz bagi Allah ta’ala membuat setiap yang mungkin atau meninggalkan.

2.  Iman Kepada Para Rasul

Rasul (utusan Allah) adalah seorang laki-laki dan merdeka yang diberi wahyu oleh Allah dengan syari’at, dia disuruh untuk menyampaikan wahyu itu kepada mahluk, jika tidak diperintah untuk menyampaikannya maka disebut nabi saja. Iman kepada para Rasul adalah kita percaya bahwa Allah ta’ala mengutus mereka dengan membawa khabar gembira dan peringatan. Mereka dikuatkan dengan mu’jizat yang luar biasa. Dan agar kita mempercayai sesuatu yang wajib, mustahil dan jaiz atas mereka.

3. Iman Kepada Malaikat

Menurut syara’, wajib bagi setiap muslim beriman kepada malaikat, yaitu percaya dengan kepercayaan yang kokoh akan adanya mereka, dan mereka itu adalah hamba Allah yang mu’min kepada-Nya serta mereka itu dimuliakan.

Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan sedang mereka melaksanakan perintahNya mereka takut kepada Tuhan dan mereka mengerjakan apa yan diperintahkan. Hakikat mereka adalah jisim-jisim halus, yang diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat berubah dalam bentuk yang berbeda-beda, tempat tingggal mereka di langit.

4. Iman Kepada Kitab-kitab Allah Swt

Setiap orang Islam wajib beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan dari Allah ta’ala kepada para Rasul a.s. Sesungguhnya Allah itu menurunkan kitab-kitab pada para utusan-Nya, dan di dalamnya Allah menjelaskan perintah dan larangan-Nya, janji dan ancaman-Nya. Kitab-kitab yang diturunkan dari Allah yang paling utama adalah Al-Qur’an, kemudian Taurat, Injil, Zabur dan seluruh Kalamullah.

5.  Iman Kepada Qadla dan Qadar

Termasuk hal yang wajib menurut syara’ bagi setiap mukallaf ialah iman kepada qhada’ dan qadhar , sebagaimana kita diperintahkan untuk iman kepada keduanya maka kita telah dilarang untuk mendalami pembahasan keduanya itu.

Qadar adalah ketentuan Allah ta’ala sejak azali terhadap semua makhluk yang mana Allah mewujudkannya dalam batas-batas itu, yaitu baik, buruk, manfaat serta lain sebagainya. Maksudnya yaitu Allah mengetahui dengan azali akan sifat-sifat makhluk. Hal ini kembali kepada sifat ilmu. Qadha’ ialah Allah mewujudkan segala sesuatu sesuai dengan ilmu dan ketentuan-Nya kepada sesuatu itu di zaman azali. Maka jelaslah bahwa qadha’ dan qadar itu kembali kepada hubungan (ta’alluq) sifat ilmu Tuhan yang azali kepada sesuatu dan berbuhungan (ta’alluq) dengan sifat kekuasaan Tuhan kepadanya.

6.  Iman kepada hari Akhir (Kiamat)

Setiap orang Islam wajib beriman kepada hari akhir (hari kemudian) yaitu hari Kiamat. Mulainya sejak waktu dikumpulkan dan berakhir dengan masuknya penghuni surga ke surga dan penghuni neraka ke neraka. Yang wajib adalah iman kepada-Nya dan kandungan-Nya sebagaimana wajib iman kepada tanda-tanda yang mendahuluinya yang telah tetap dengan nash-nash syara’, pencabutan nyawa (ruh), perihal kubur dan lain-lain sebagainya.

Lihat Kitab

Kitab - Hikmatut Tasyri' wa Falsafatuhu

   Kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu merupakan kitab fan Filsafat.
 Lebih tepatnya sebuah karya besar membahas tentang filsafat agama islam, khususnya membedah tentang bagaimana sebuah syariat agama islam itu diperintahkan. Kitab ini disusun oleh Ulama Mesir salah satu guru besar Universitas Al Azhar yang bernama Syaikh Ali Ahmad Al Jurjawi.

Kitab ini terdiri dari 2 jus, jus 1 memuat sekitar 200 -an halaman dan jus 2 memuat sekitar 300- an halaman total sekitar 500 halaman. Penulis mencoba mengajak pembaca memahami segala ajaran agama Islam melalui nalar kritis dengan berdasarkan dalil-dalil agama Islam dan juga hukum alam (Sains).
 Pada jus 1 penulis menjabarkan tentang tujuan serta hikmah adanya ajaran-ajaran Islam yang berkaitan dengan keyaqinan dan penghambaan yakni penjelasan-penjelasan tentang ketauhidan, kenabian, ubudiyah, dll. Kemudian pada jus 2 penulis menjabarkan tujuan serta hikmah adanya perintah atau ajaran yang berhubungan dengan hukum keluarga (pernikahan, nafkah, warisan dll), hukum mu’amalah (transaksional) serta hukum pidana (had, ta’zir, qishos dll). Di samping itu penulis juga menjelaskan berbagai pendapat tokoh dunia tentang suatu tema bahasan tentang hikmah pensyariatan suatu ajaran.

Di antaranya, yang termaktub dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu yang ditulis oleh al-Allamah al-Faqih Syaikh Ali bin Ahmad al-Jurjawi al-Atsari al-Hambali (W. 1380 H/1961 M) sebagai berikut:

1.Bersyukur kepada Allah Ta’ala

Ibadah puasa merupakan bentuk syukur kepada Allah. Sebab ibadah secara mutlaq ialah bersyukurnya hamba kepada tuhannya atas kenikmatan yang tidak terhitung.

 

2.Menjaga Amanah, Tidak Menyianyiakan dan Melalaikannya

Perintah menahan makan, minum, dan apapun yang serupa dengan keduanya, berlaku di siang hari merupakan amanah dari Allah Ta’ala yang menjadi tanggung jawab kita. Amanah yang menuntut kepayahan dan kesulitan yang memang menentang hasrat manusiawi dan melemahkan anggota tubuh. Oleh karenanya, ketika seorang manusia tidak beranjak dari kesendirian dalam kondisi lapar dan haus maka akan berupaya mengisi energi tubuhnya. Keadaan ini membuka kesempatan agar makan dan minum tanpa pengawasan hingga berdampak menghianati amanah dan berhak menerima adzab.

 

Jadi, seharusnya dengan memaksakan diri menahan keperihan, harus berusaha tetap menjaga amanah tersebut, dari pada menerima siksa pedih di akhirat kelak.

 

3.Menjernihkan Hati dan Membersihkan Jiwa dari Sifat Hewani

Hewan tidak memiliki tujuan kecuali makan, minum dan sesuatu untuk keberlangsungan hidup seperti panganan, air, bersetubuh, dan lainnya. Lalu ketika manusia menahan diri dari hal tersebut maka akan jernih hatinya dan bersih jiwanya dari sifat hewani, lantas naik ketingkatan derajat para malaikat. Sebab hikmah ini pula, manusia akan mengerjakan ibadah lainnya dengan ikhlasnya hati dan jiwa dari noda keraguan.

 

Bahkan para ahli hikmah, filsuf, orang zuhud, ahli ibadah ketika terkungkung kemalasan dan kejenuhan saat hendak menulis ilmu atau beribadah, mereka menjaga perutnya memperbanyak makanan. Sehingga mereka mampu melakukan apa yang dikehendaki.

 

4.Terhindar dari Penyakit Berbahaya

Para medis menjabarkan bahwasannya seseorang tidak boleh rakus makan apapun serta melebih-lebihkan makan, sebab dari perut akan menimbulkan penyakit berbahaya. Sebagaimana tertera dalam nash hadist:

 

المعدة بيت الداء والحمية رأس الدواد

 

“Perut adalah rumahnya penyakit dan diet merupakan rajanya obat.”

 

Mereka mengungkapkan: “Barang siapa yang banyak makan, akan banyak minum. Barang siapa yang seperti itu, akan banyak tidur. Barang siapa yang banyak tidur, akan menyianyiakan usia.”

 

Kita telah melihat para dokter saat mengobati pasien, ialah mengkosongkan bagian dalam perutnya kemudian yang dimasukkan ke dalam perutnya makanan halus seperti susu. Oleh karenanya, puasa dari segi menahan makan dan minum menyehatkan tubuh.

 

5.Melemahkan Syahwat

Manusia dan hewan memiliki syahwat berhubungan intim yang sulit dicegah —salah satu solusi ialah dengan menikah. Namun ketika seseorang fakir dan belum mampu untuk menikah, khawatir terjerumus perzinahan maka baginya berpuasa hingga lemah syahwatnya.

 

Oleh karenanya kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء

 

Artinya, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu menikah (secara finansial) maka menikahlah, dan yang tidak mampu maka berpuasalah sebab puasa adalah benteng (penawar syahwat).”

 

6.Bersimpati Kepada Orang Fakir dan Miskin

Manusia ketika berpuasa merasakan kepedihan lapar, maka akan terpancar rasa simpati kepada orang fakir dan miskin yang sulit menemukan sesuap makanan untuk menyambung hidupnya.

Demikianlah hikmah disyariatkannya ibadah puasa yang terangkum dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu. Begitu besar hikmah dari ibadah puasa yang telah Allah Ta’ala perintahkan.

Lihat Kitab

Kitab - Hikam Ibnu Athaillah (Matan)

Kitab Matnul Hikam merupakan sebuah karya tentang fan Tasawuf. Kitab ini merupakan sebuah karya yang disusun oleh ulama yang sangat masyhur dengan derajat ke Waliannya. Seorang ulama Sufi ahli wira’i dan ahli hukum bernama Syaikh Ahmad bin Athoillah As- Sakandariy.

Kitab ini cukup mungil hanya memuat sekitar 25 halaman, namun isi kandungan kitab ini sangat tinggi dan penuh dengan makna ajaran tasawuf. Penulis langsung memberikan gambaran singkat menggunakan bahasa yang sangat padat dan jelas dalam mengungkapkan pesan makna ajaran tasawuf. Lebih-lebih ungkapan ke-tauhid-an, ke-zuhud-an serta ke-wirai-an penulis yang sangat serat penuh makna. Ungkapan-ungkapannya sangat menarik dan sering dikutip oleh ulama-ulama sufi yang lain.

Syaikh Ibnu Athailah As-Sakandari melalui kitab tasawuf Al-Hikam, memberi peringatan agar seorang mukmin senantiasa memelihara kemampuannya berdzikir.

 

اِذاَ رَأيْتَ عَبْداً أقاَمهُ اللهُ تعالى بِوُجُودِ الاَورَدِ وَاَدَمَهُ عليهاَ مَعَ طُولَ الامساَدَ فَلاَ تـَسْتحْقِرَنَّ ماَمنَحَهُ مَولاهُ لاَنَّكَ لم تَرَعليهِ سِيماَ العاَرِفِينَ ولاَ بَهْجَةَ المُحِبِّينَ فَلولاَ واَرِدٌ ماكاَنَ وِرْدٌ

 

"Jika engkau melihat seseorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, dan sampai lama tidak juga menerima karunia [keistimewaan] dari Allah (warid), maka jangan engkau rendahkan [remehkan] pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid [karunia Allah], maka tidak mungkin ada wirid."

Penjelasan (Syarah)

Wirid dan warid yang telah diterangkan pada Hikmah 64 disinggung lagi dalam Hikmah 77 ini.

Wirid ialah macam-macamnya ibadah yang dikerjakan oleh hamba, seperti sholat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, baca shalawat dan lainnya.

Jadi apabila Anda merendahkan pemberian Allah pada sebagian hamba yang berupa wirid itu berarti Anda kurang tatakrama pada hamba tersebut.

Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam:

1. Muqarrabin.

2. Abror.

Adapun hamba yang muqarrabin yaitu mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan nafsunya, dan ia hanya sibuk menunaikan ibadah dan taat kepada Allah, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhoan Allah semata-mata, dan mereka ini juga yang disebut Arifin, Muhibbin.

Adapun orang Abrar yaitu mereka yang masih merasa banyak kepentingan dunia / nafsu keinginannya, dan mereka juga mengerjakan ibadah kepada Allah, mereka masih menginginkan masuk ke Surga dan selamat dari neraka. Dan mereka yang dinamakan orang Zahid dan Abid.
Dan masing-masing mendapat karunia sendiri-sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah Ta'ala.

Sebenarnya seseorang yang mendapat taufik dan hidayah dari Allah, sehingga dia istiqamah dalam menjalankan suatu wirid [taat ibadah], berarti telah mendapat karunia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan karunia yang lain dan kebesaran Allah.

 

Kesimpulan:

1. Muqarrabin adalah orang yang sangat dekat dan intim kepada Allah.

2. Arifin adalah orang yang sangat mengenal Allah.

3. Muhibbin adalah orang yang sangat mencintai Allah melebihi cinta pada dirinya sendiri.

4. Abrar adalah orang yang senang dan senantiasa berbuat kebaikan-kebaikan karena Allah.

5. Zahid adalah orang yang sangat berhati-hati pada keserakahan nafsu, syahwat dan rakus pada harta, jabatan dan kesenangan duniawi.

6. Abid adalah orang yang sangat rajin beribadah kepada Allah.

 

*) Berdasar kitab, Al-Imam Asy-Syaikh Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha'illah As-Sakandari, Kitab Al-Hikam, Pasal 77.

 

Baik, itu tadi sekilas resensi dari kitab Matnul Hikam, yang bisa kami bagikan. Semoga apa yang sudah dibagikan dan Sampaikan bisa bermanfaat.

 

Lihat Kitab

Kitab - Hadyul Muhibbin ila Siyaroti Sayyidil Mursalin

Kitab Hadyul Muhibbin ila Siiroti Imamil Mursalin merupakan kitab fan Sejarah. Tepatnya sebuah karya yang menjabarkan sejarah perjalanan Rasulullah SAW, mulai dari kelahiran beliau sampai beliau wafat. Kitab ini disusun oleh Ulama kontemporer Bernama Dr. Fuad Abdullah Umar.

Kitab ini memuat sekitar 200- an halaman, yang terdiri dari 7 tema besar. Penulis mencoba mengungkap sejarah perjalanan kehidupan Rasulullah SAW yang bersumber dari berbagai kitab sejarah dan tentunya kitab-kitab hadist.
Di awali dengan pembahasan tentang hakikat cinta pada Nabi dan bagaimana konsep mencintai Nabi dan Allah SWT.
Pembahasan kedua menjelaskan tentang kelahiran Nabi masih kecil Nabi dan masa kehidupan Nabi sebelum mendapat wahyu ke Nabian.
Pembahasan ketiga menjelaskan tentang titah Kenabian dan perintah untuk berdakwah serta proses perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Pada bagian keempat membahas tentang proses Hijrah dan pendirian sebuah Negara/kerajaan/peradaban Islam.
Bagian kelima membahas tentang Jihad, yakni menjabarkan berbagai peperangan yang pernah di perjuangkan oleh Nabi SAW juga berbagai hukum syariat yang berkaitan dengan Jihad.
Bagian Ke enam membahas tentang kemenangan dan penyempurnaan Agama.
 Dan yang terakhir membahas tentang Wada.

Baik, itu tadi sekilas resensi dari kitab Hadyul Muhibbin, yang bisa kami bagikan. Semoga apa yang sudah dibagikan dan Sampaikan bisa bermanfaat.

Lihat Kitab