DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Ziarah di Makam KH. Abul Fadhol Senori Tuban
Pondok Pesantren Nurut Taqwa didirikan pada tahun 1976 M. Sebelum pesantren ini didirikan oleh KH. Ma’shum Zainullah, sebenarnya sudah ada bangunan masjid sederhana yang kurang terawat.
Pesantren Roudlotus Sholihin berdiri pada tanggal 1 Januari 1963 yang berlokasi di Kampung Purwosari Kecamatan Padangratu Kabupaten Lampung Tengah yang didirikan oleh KH. Muhammad Busthomil Karim.
Abdurrahim Izuddin dalam buku Mbah Jabbar: Leluhur dan Dzuriyyahnya (2009) menyatakan bahwa Mbah Jabbar atau Syekh Abdul Jabbar nama aslinya adalah Pangeran Kusumoyudo.
KH. Abu Dzarrin adalah nama asal beliau sebelum haji. Kemudian setelah haji beliau diberi nama Adnan. Beliau dilahirkan di desa Sukorejo kec. Bojonegoro pada tahun 1894 M.
Umur itu seperti halnya urusan rezeki dan jodoh, kesemuanya adalah bahagian dari rahasia Allah SWT yang telah ditetapkan oleh-Nya sejak zaman azali, tidak ada satu pun orang yang tahu bahkan dapat memprediksi dengan tepat kapan ajal akan datang menghentikan laju umur, sekalipun itu seorang dokter atau paranormal.
KH. Dimyati Ihsan lahir di Dukuh Waru, Desa Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang. Ayah beliau merupakan kiai kampung bernama Kyai Ihsan, satu angkatan saat mondok di Tremas Pacitan dengan KH. Bisri Mustofa ayahanda Gus Mus.
Humor-humor Gus Dur tersaji begitu saja, tanpa batas antara si kaum A dengan si kaum B. Salah satunya adalah saat kunjungan kenegaraan ke Arab Saudi yang di mana rakyatnya bahagia karena melihat sang raja tertawa karena humor Gus Dur.
KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus menceritakan awal pertama bertemu dengan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Cerita ini dituangkan Gus Mus di dalam sebuah postingan di akun instagram pribadinya, @s.kakung, yang diunggah pada Kamis (26/12) hari ini.
Dr. KH. Husein Muhammad yang akrab disapa Buya Husein menyebutkan sebuah istilah menarik yang beliau temukan, yaitu istilah “Mantiqotul Jisr” yang berarti tempat pertemuan di tengah-tengah jembatan. Namun, maksud sebenarnya bukanlah “letterlijk” demikian, sebab istilah ini hanya sebuah analogi atas sebuah kondisi realitas yang ingin diuraikan.