INFAK / SEDEKAH/ DONASI/ SUMBANGAN untuk LADUNI.ID
Seluruh dana yang terkumpul untuk operasional dan pengembangan portal dakwah Islam ini
Kritik-kritik Ibrahim bin Adham terhadap kehidupan masyarakat yang banyak dipenuhi oleh sikap hipokrit senantiasa mengena. Kritik-kritik moralnya begitu tajam, demikian juga kritik sosialnya.
Sungguh Syaikh al-Buthi hanya melihat Allah dalam sikapnya. Beliau dengan tegar menjalankan hukum syariat dalam masalah kepemimpinan dan pemimpin. Beliau tidak takut menasihati langsung para pemimpin dengan nasihat yang mungkin tidak mereka sukai.
Tidak terhitung banyaknya teladan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Namun di antara sekian teladan itu, beberapa bisa dihimpun dalam tulisan berikut ini. Telada-teladan ini bisa ditemukan di berbagai kitab maulid, Hadis ataupun sirah (sejarah riwayat hidup Nabi).
“Dan sekiranya mereka, ketika menzalimi diri mereka, datang kepadamu (wahai Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka akan mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Cinta Rasulullah SAW kepada kita semua merentang lebar dan dalam, hingga kepada pengertiannya yang manusiawi sekali terkait betapa terbatasnya kemampuan kita dalam beribadah kepada-Nya.
Pada masa itu, terdapat salah seorang sahabat yang bernama Abu Dujanah. Setiap selesai menjalankan ibadah shalat Subuh berjamaah yang diimami oleh Rasulullah SAW, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW.
Shalawat Nariyah merupakan salah satu bacaan yang sangat populer di kalangan umat Islam, khususnya warga Nahdliyin. Shalawat ini biasanya diamalkan melalui sanad ijazah yang bersambung hingga kepada penyusunnya, Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ali At-Tazi.
Seandainya Rasulullah SAW lahir di waktu yang telah disebutkan di awal, seperti bulan Ramadhan, atau hari Jumat yang mana waktu-waktu tersebut sudah dianggap mulia oleh orang-orang, bisa jadi nanti orang akan mengira bahwa kemuliaan Rasulullah karena lahir di waktu tersebut. Padahal tidak.
Dalam membangun mentalitas dakwah, cara berdakwah harus dilambari (diberi alas) dengan akhlak para muballighnya. Begitu juga harus menjunjung tinggi etika dalam berdakwah. Dan berdakwah itu harus dilakukan dengan optimis, tabah, sabar dan ikhlas.
Shalawat yang dilantunkan dengan tulus menjadi pancaran cinta kepada Rasulullah SAW, sekaligus bukti penghormatan yang menyejukkan hati dan mengangkat derajat pembacanya di sisi Allah SWT.