Biografi KH. Saifuddin Amsir

 
Biografi KH. Saifuddin Amsir
Sumber Gambar: Foto Ist

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karya, dan Karier
4.1       Karya-karya Beliau
4.2       Karier Beliau

5          Penghargaan 
 
6         Teladan 
 
7         Kisah-kisah 
 
8         Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Saifuddin Amsir lahir pada tanggal 31 Januari 1955, dilahirkan di Kampung Berlan, Matraman. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara, dari pasangan Bapak Amsir Naiman, seorang guru mengaji di kampung tempat tinggalnya, Kebon Manggis, Matraman, dengan Ibu Nur’ain, seorang ibu rumah tangga yang secara penuh mengabdikan diri untuk mengurus keluarga.

Sejak kecil, ini sudah diajari sifat-sifat yang menjadi teladan bagi dirinya kelak di kemudian hari. Dengan keras sang ayah mendidiknya untuk berperilaku lurus dan mandiri. Tidak ada kompromi bagi suatu pelanggaran yang telah ditetapkan ayahnya.

Bersama sembilan orang saudaranya, beliau dibiasakan untuk menunaikan shalat secara berjamaah. Keinginan kuatnya dalam menimba ilmu-ilmu agama sudah terpatri kuat sedari kecil.

Menyadari bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga ulama dan juga bukan dari kalangan yang berada, Saifuddin kecil menyiasatinya untuk berusaha mandiri dan tidak bergantung kepada kedua orangtuanya. Beliau berusaha menutupi biaya kebutuhan pendidikannya sendiri, bahkan sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

1.2       Riwayat KeluargaKH. Saifuddin Amsir 

KH. Saifuddin Amsir melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. Siti Mas’udah. Buah dari pernikahannya beliau dikaruniai empat orang putri, yaitu:

  1. Ustadzah HJ. Badrah Uyuni, MA
  2. Raichanatul Quddus
  3. Kasyifatudduja
  4. Hj. Robiah al-Adawiyyah

1.3       Wafat

KH. Saifuddin Amsir  wafat di Rumah Sakit OMNI Rawamangun, Jakarta, Kamis, 19 Juli 2018, sekitar pukul 01.41 WIB. Beliau dimakamkan di komplek makam keluarga di Jakarta Timur.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Sejak kecil, selain mengaji kepada kedua orangtuanya sendiri, KH. Saifuddin Amsir juga belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Washliyah. Di sela-sela waktunya, beliau mempelajari berbagai macam ilmu secara otodidak. Beliau juga senang membaca berbagai macam bacaan sejak masih kecil. Sewaktu duduk di bangku tsanawiyah, beliau mulai banyak berguru ke beberapa ulama di Jakarta.

Di antara ulama yang tercatat sebagai guru-gurunya adalah KH. Abdullah Syafi’i, Muallim Syafi’i Hadzami, Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas, dan Guru Hasan Murtoha. Kepada guru-gurunya tersebut, beliau mempelajari berbagai cabang ilmu-ilmu keislaman. Pada saat menimba ilmu kepada Habib Abdullah Syami, di antara kitab yang beliau khatamkan di hadapan gurunya itu adalah kitab Minhajuth Thalibin (karya Imam Nawawi) dan kitab Bughyatul Mustarsyidin (karya Habib Abdurrahman Al-Masyhur).

Di sisi lain, setelah pendidikan formalnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah usai beliau lewati, beliau menjadi mahasiswa di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dan mendapat gelar sarjana muda di sana. Kemudian beliau merampungkan gelar sarjana lengkapnya di Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, atau Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta saat ini.

Dari waktu ke waktu dalam menempuh pendidikan formalnya itu, beliau selalu menorehkan prestasi yang gemilang. Sewaktu lulus aliyah, beliau tercatat sebagai lulusan aliyah dengan nilai terbaik se-Jakarta.

Pada tahun 1982, beliau mendaftarkan diri di Jurusan Akidah dan Filsafat IAIN saat jurusan itu baru dibuka oleh Rektor IAIN Prof. Dr. Harun Nasution, M.A. dalam sebuah program pendidikan yang saat itu dinamakannya sebagai Program Doktoral. Karena berbagai prestasi yang telah dicapai sebelumnya, beliau menjadi satu-satunya mahasiswa yang diterima di IAIN tanpa melewati tes masuk pada tahun itu. Dan setelah merampungkan masa kuliahnya, di waktu kelulusan lagi-lagi beliau tercatat sebagai lulusan IAIN terbaik.

2.2       Guru-Guru Beliau

KH. Saifuddin Amsir berguru kepada KH. Syafi’I Hadzami, seorang rais syuriyah PBNU 1994-1999, pendiri pesantren Ma‘had Ali Al-Arbain Al-Asyirotus Syafi‘iyah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Beliau juga pernah berguru cukup lama kepada KH. Abdullah Syafi‘i, pendiri perguruan Asy-Syafi‘iyyah, Tebet dan Pondok Gede. Selain pada keduanya. Kiai Saifuddin juga menimba ilmu agama dari para kiai Betawi seperti Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas dan Guru Hasan Murtohadi serta guru lainnya.

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

KH. Saifuddin Amsir mendirikan lembaga pendidikan Islam setara S1 dan S2 dalam wadah yang bernama  Ma`had Aly Zawiyah Jakarta.

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

  1. Ustadzah HJ. Badrah Uyuni, MA
  2. Raichanatul Quddus
  3. Kasyifatudduja
  4. Hj. Robiah al-Adawiyyah

3.2       Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau adalah para santri di Ma'had  Aly Zawiyah Jakarta.

4         Karya, dan Karier

4.1       Karya-karya Beliau

Karya-karya beliau yang telah dibukukan antara lain:

  1. Tafsir Jawāhir al-Qur’ān (empat jilid)
  2. Majmū’ al-Furū’ wa al-Masāil (tiga jilid)
  3. Al-Qur’ān, I’jazan wa Khawāshan, wa Falsafatan
  4. Al-`Asyirah Al-Qur`aniyyah

4.2       Karier Beliau

  1. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode sampai dengan tahun 2015
  2. Mustasyar PBNU
  3. Menjabat dosen tetap di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta
  4. Mengajar tafsir Ibnu Katsir pada majelis taklim Ahad pagi di Masjid Ni’matul Ittihad, Pondok Pinang
  5. Mengajar kitab Ihya Ulumiddin pada di Masjid Taman Puring, Gandaria, Jakarta Selatan
  6. Menjadi Pengawas Syari`ah di Bank Pemata

5        Penghargaan

Atas keteguhan dan keistiqomahan beliau di bidang fikih, KH. Saifuddin Amsir dianugerahi "Fikih Award" bersama tokoh lainnya, seperti KH. Abdul Aziz Arbi dan KH. Ali Musthofa Ya'kub dalam bidang ilmu Al Qur'an dan Hadist oleh penerbit buku Islam di Jakarta, Pena Ilmu dan Amal. Selanjut beliau akan diangkat sebagai "Duta Fikih Indonesia" untuk menjadi tokoh pembicara utama di bidang fikih.

6        Teladan

6.1      Menjaga Keutuhan Bangsa

KH. Saifuddin Amsir juga mengajak semua warga agar senantiasa menjaga keutuhan bangsa yang harus didahului dengan menjaga ukhuwah basyariah atau persatuan umat manusia. KH. Saifuddin berpesan kepada ribuan jamaah agar mementingkan untuk membantu dan menolong saudara-saudara dan tetangga yang hidup dalam kesulitan.

Karena tidaklah cukup menjadi seorang Muslim, hanya rajin shalat dan berdzikir tetapi mengabaikan keadaan saudara-saudara dan tetangganya. Lebih lanjut ulama yang disegani masyarakat Jakarta ini menjelaskan, seorang muslim yang baik adalah yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan rajin beribadah dan dekat dengan lingkungannya.

"Mereka yang dekat dengan lingkungan, berarti dekat kepada Tuhannya. Mereka yang jauh dari lingkungan berarti juga jauh dari Tuhannya. Allah memerintahkan hamba-hambanya untuk peduli kepada saudaranya, karenanya muslim sejati harus juga memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan para tetangganya," terang beliau.

6.2     Menjauhi Syubhat

Di dalam keluarga, KH. Saifuddin Amsir adalah sosok seorang ayah yang sederhana, demokratis, sabar, tapi tegas dalam hal mendidik anak. Ayah empat orang putri ini adalah seorang yang sangat mengutamakan keluarga dan sangat memperhatikan sisi pendidikan anak-anaknya. beliau menyadari, ilmu pengetahuan adalah warisan terbaik kepada anak-anaknya kelak.

Pendidikan dalam keluarganya dimulai dengan menerapkan aturan-aturan yang harus ditaati segenap anggota keluarga, dengan bersandar pada pola hidup yang diterapkan Rasullullah SAW. Pola hidup yang dimaksud adalah pola hidup sederhana dan menjauhi hal-hal yang syubhat. Menurut Hj. Siti Mas’udah, istrinya, KH. Saifuddin Amsir adalah ayah sekaligus guru dan sahabat bagi istri dan putri-putrinya.

Beliau senantiasa menekankan pentingnya agama dan ilmu kepada anak sejak mereka masih kecil. Shalat berjamaah adalah suatu keharusan dalam keluarga ini. Dalam hal makanan, beliau tidak memperkenankan anggota keluarganya mengonsumsi makanan-makanan yang belum terjamin kehalalannya, seperti makanan-makanan produk luar negeri.

Sejak dari usia bayi, mereka juga sudah dijauhkan dari makanan-makanan yang belum terjamin kesehatannya, seperti makanan-makanan yang banyak menggunakan bahan pengawet, makanan siap saji, atau makanan yang menggunakan bahan-bahan penyedap. Setali tiga uang, istrinya, yang akrab disapa Umi, juga tidak kurang perannya dalam membentuk citra kebersahajaan dan kemandirian dalam keluarga.

Di samping menangani segala urusan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci, bahkan menjahit, ia juga masih menyempatkan diri aktif pada bidang-bidang sosial keagamaan dan mengajar di sejumlah majelis ta’lim. Dengan menerapkan pola pembinaan dan pendidikan keluarga yang demikian, beliau telah berhasil menjadikan putri-putrinya sebagai insan-insan pecinta ilmu agama dan pengetahuan.

Banyak sudah yang telah diraih keempat putrinya itu. Mengikuti jejak sang ayah, mereka selalu mendapatkan beasiswa dan menjadi lulusan terbaik di almamaternya. Bahkan si bungsu, Rabi’ah Al-Adawiyah, misalnya, sejak berusia 12 tahun sudah hafal tiga puluh juz Al-Quran dengan baik.

7        Kisah-kisah

Ketokohan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat luar biasa. Keberaniannya melakukan manuver politik patut kita hargai dan teladani. Banyak hal yang tidak dilakukan orang karena takut, Gus Dur berani melakukannya. Contoh, Gus Dur dengan tanpa beban menyebut SDSB (Soeharto dalang segala bencana). Padahal, zaman itu sedang musim Petrus (penembakan misterius).

Banyak orang yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru tiba-tiba mati tertembak atau hilang tanpa kabar. Kiai Amsir juga menceritakan, pada Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo pada November 1999, pemikiran Gus Dur tentang doa bersama non muslim banyak dipersoalkan. Namun, ketika ulama Betawi ini didaulat untuk memimpin sidang bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, beliau berpendapat bahwa kegiatan tersebut boleh, asal dipimpin oleh orang Islam.

Tidak jarang kiai yang mengritik keras pendapat Gus Dur, namun banyak pula yang mengajukan pembelaan. Kiai Saifuddin Amsir sendiri tak jarang memberikan catatan atas sejumlah pendapat yang disampaikan Gus Dur. Terkait keberanian Gus Dur, satu hal yang menarik bagi Saifuddin Amsir, Gus Dur pernah menulis kata pengantar di buku biografi LB Moerdani.

Ada satu kalimat Gus Dur yang mencengangkan: “Meskipun intelektualitasnya mumpuni, namun saya tidak setuju dengan penembakan misterius (petrus).” “Ini kan menunjukkan betapa Gus Dur itu tidak sekedar berani namun piawai memainkan kritiknya. Satu sisi dia memuji Moerdani, tetapi pada saat yang sama dia dengan tegas menolak aksi yang dilakukan jenderal itu,” ujar Rais Syuriyah PBNU ini.

8        Referensi

       https://www.zawiyahjakarta.or.id/2019/03/10/mengenal-sang-muassis-mahad-aly-zawiyah-jakarta-abuya-kh-saifuddin-amsir/

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya