Biografi Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi (Habib Kwitang)

 
Biografi Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi (Habib Kwitang)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat
1.3       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Murid-murid Beliau
2.4       Mendirikan dan Mengasuh Majelis Taklim

3.         Kisah Habib Abdurrahman Menegur Muridnya Karena Menghina (Gus Dur)

4          Jasa, Karya, dan Karier
4.1.1    Jasa-jasa Beliau
4.1.2    Habib Ali Kwitang Pencetus Hari dan Waktu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
4.1.3    Mendeklarasikan NU di Jakarta
4.2       Karya-karya Beliau
4.3       Karier Beliau

5          Teladan   

6          Referensi

Laduni.ID, Jakarta - Habib Ali Kwitang Al-Habsy merupakan tokoh penting dalam jejaring habaib pada akhir abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20. Hampir seluruh jejaring habaib di Nusantara dan Haramain terkoneksi dengannya, bahkan ia juga menghubungkan generasi sebelumnya dengan generasi setelahnya, juga antara ulama pribumi dan ulama hadrami.

1        Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1     Lahir

Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi lahir pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil ‘Awal 1286 atau pada 20 April 1870 di Kampung Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Beliau merupakan putra dari pasangan Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi dengan Nyai Salmah. 

Kelahiran Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi merupakan kelahiran yang sangat ditunggu-tunggu kedua orang tuanya, karena setelah bertahun-tahun menikah, Habib Abdurrahman dan Nyai Salmah belum juga diberi keturunan. Pada suatu waktu, Nyai Salmah kemudian bermimpi menggali sumur yang airnya melimpah ruah hingga membanjiri sekelilingnya. Lalu, diceritakanlah mimpi itu kepada sang suami.

Setelah mendengar mimpi istrinya itu, Habib Abdurrahman langsung menceritakannya kepada Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih. Kemudian, Habib Syekh menjelaskan, mimpi tersebut sebagai tanda akan la hirnya seorang putra yang saleh dan ilmunya akan melimpah ruah berikut keberkahannya.

Tapi sayangnya, ayah beliau, Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi tidak lama hidup mendampingi putra yang beliau cintai tersebut. Beliau berpulang ke Rahmatulloh pada saat putra beliau masih berumur 10 tahun.

1.2     Wafat

Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi pada akhirnya memenuhi panggilan Allah, beliau berpulang ke haribaan Allah SWT pada usianya ke 98 tahun, tepatnya pada hari Minggu tanggal 20 Rajab 1388 bertepatan dengan 13 Oktober 1968, di tempat kediaman beliau di Kwitang Jakarta.

1.3     Riwayat Keluarga

Ketika Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi berusia 20 tahun, beliau mengadakan pengajian sambil berdagang kecil-kecilan di Pasar Tanah Abang. Pada usia itu pula Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi menikah dengan Hababah Aisyah Aisyah Assegaf dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beliau dikaruniai sepuluh anak :

Anak-Anak Beliau:

  1. Sa’diyah
  2. Fatimah
  3.  Zahra
  4.  Muhammad
  5.  Khadijah
  6.  Rogayah
  7.  Zainab
  8.  Mahani
  9.  Abdurrahman
  10.  Maryam

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

Sebelum beliau wafat, Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi sempat menyampaikan suatu wasiat kepada istrinya agar putra beliau hendaknya dikirim ke Hadramaut dan Makkah untuk belajar ilmu agama Islam di tempat-tempat tersebut.

Untuk memenuhi wasiat suaminya, Nyai Salmah menjual gelang satu-satunya perhiasan yang dimilikinya untuk biaya perjalanan Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi ke Hadramaut dan Makkah. Karena di waktu wafatnya Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi tidak meninggalkan harta benda apapun.

Dalam usia yang masih beliau (12 tahun), berangkatlah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi dari Jakarta menuju Hadramaut, dengan bekal sekedar ongkos tiket kapal laut sampai di tempat yang dituju.

Sesampainya di Hadramaut, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi sebagai seorang anak yang sholeh, tidak mau berbuat sia-sia pada masa mudanya yang berharga itu untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Ketika di sana Habib Ali Alhabsyi tidak hanya belajar untuk mencari ilmu, tetapi beliau juga sambil mencari rizki yang halal untuk bekal hidup. Sebab beliau menyadari bahwa ibunya tidak mampu untuk mengirimkan uang kepada beliau selama menuntut ilmu di luar negeri tersebut.

Diantara pekerjaan beliau selama di Hadramaut adalah dengan bekerja sebagai penggembala kambing. Pekerjaan penggembala  ini rupanya telah menjadi kebiasaan kebanyakan para sholihin, terutama para Anbiya’.

Selama di Hadramaut, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi telah belajar kepada banyak guru-guru, diantara guru-guru beliau adalah sebagai berikut :

  1. Al-’Arif billah Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi (Shohibul maulid di Seiwun)
  2. Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-’Attos (Huraidha)
  3. Al-Habib Al-Allammah Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Hadramaut)
  4. Al-Habib Ahmad bin Hasan Alaydrus (Bor)
  5. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor (Guwairah)
  6. Al-Habib Idrus bin Umar Alhabsyi (Ghurfah)
  7. Al-Habib Muhammad bin Sholeh bin Abdullah Alatas (Wadi Amed)
  8. As-Syeikh Hasan bin Mukhandan (Bor)

Setelah belajar di Hadramaut, kemudian Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi melanjutkan pendidikannya ke tanah suci Makkah. Ketika belajar di Makkah, beliau belajar kepada banyak guru, diantara guru-guru beliau adalah sebagai berikut :

  1. Mufti Makkah Al-Imam Muhammad bin Husin Alhabsyi
  2. Sayid Bakri Syaththa’
  3. As-Syeikh Muhammad Said Babsail
  4. As-Syeikh Umar Hamdan

Selama belajar pada kedua tempat, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi telah menyelesaikannya selama 6,5 tahun. Kemudian ketika dirasa sudah cukup, akhirnya beliau kembali ke Indonesia.

Setiba di Indonesia, Habib Ali Alhabsy masih melanjutkan pendidikanya dengan belajar kepada para guru-guru yang ada di Indonesia. Para guru-guru tersebut diantaranya :

  1. Al-Habib Muhammad bin Thohir Alhaddad (Tegal)
  2. Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya)
  3. Al-Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Empang, Bogor)
  4. Al-Habib Husin bin Muhsin Asy-Syami Alatas (Jakarta)
  5. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (Bondowoso)
  6. Al-Habib Ahmad bin Muhsin Alhaddar (Bangil)
  7. Al-Habib Abdullah bin Ali Alhaddad (Bangil)
  8. Al-Habib Abdullah bin Usman Bin Yahya (Mufti Jakarta)

2.2       Guru-Guru Beliau

Guru-guru Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi saat menuntut ilmu adalah:

  1. Al-’Arif billah Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi (Shohibul maulid di Seiwun)
  2. Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-’Attos (Huraidha)
  3. Al-Habib Al-Allammah Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Hadramaut)
  4. Al-Habib Ahmad bin Hasan Alaydrus (Bor)
  5. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor (Guwairah)
  6. Al-Habib Idrus bin Umar Alhabsyi (Ghurfah)
  7. Al-Habib Muhammad bin Sholeh bin Abdullah Alatas (Wadi Amed)
  8. As-Syeikh Hasan bin Mukhandan (Bor)
  9. Mufti Makkah Al-Imam Muhammad bin Husin Alhabsyi
  10. Sayid Bakri Syaththa’
  11. As-Syeikh Muhammad Said Babsail
  12. As-Syeikh Umar Hamdan
  13. Al-Habib Muhammad bin Thohir Alhaddad (Tegal)
  14. Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya)
  15. Al-Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Empang, Bogor)
  16. Al-Habib Husin bin Muhsin Asy-Syami Alatas (Jakarta)
  17. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (Bondowoso)
  18. Al-Habib Ahmad bin Muhsin Alhaddar (Bangil)
  19. Al-Habib Abdullah bin Ali Alhaddad (Bangil)
  20. Al-Habib Abdullah bin Usman Bin Yahya (Mufti Jakarta)

2.3      Murid Beliau

  1. Dr. KH. Idham Chalid
  2. Guru Tohir Rohili Kampung Melayu
  3. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
  4. Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri Tebet (Sayyidil Walid)
  5. KH. ‘Abdullah Syafi’i (pendiri majlis taklim Assyafi'iyah
  6. KH. Fathullah Harun (ayah dari Dr. Musa Fathullah Harun, seorang kesan pensyarah UKM).

2.4       Mendirikan dan Mengasuh Majelis Taklim

Habib Ali Alhabsy merupakan sosok yang aktif dalam mengembangkan dakwah Islamiyyah, mengajak umat Islam untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam yang suci dengan dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya SAW. Akhirnya beliau mendirikan majlis taklim Kwitang pada tahun 1948.

Majelis taklim Kwitang diadakan setiap hari Minggu pagi. Dengan karamah beliau, majelis taklim Kwitang selalu dikunjungi oleh berpuluh-puluh ribu umat Islam dari berbagai daerah.

Selain di majelis taklim, beliau juga aktif menjalankan dakwah di tempat lain di seluruh Indonesia. Bahkan hingga ke desa-desa yang terpencil di lereng-lereng gunung. Tidak hanya itu, beliau juga berdakwah ke Singapura, Malaysia, India, Pakistan, Srilangka dan Mesir.

Beliau juga sempat mendirikan sebuah madrasah yang bernama Unwanul Ulum dan mendirikan langgar dan musholla, yang kemudian diperbesar menjadi masjid.

3. Kisah Habib Abdurrahman Menegur Muridnya Karena Menghina (Gus Dur)

Pada suatu ketika Habibana Al-Walid Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri Tebet memanggil muridnya yang paling senior mengenai hal penghinaan yang dilakukan kedua muballigh itu kepada Gus Dur yang pada saat itu telah menjadi Presiden RI ke-4.

Menurut penuturan Ustadz Anto yang ketika itu hadir di pengajian hari Senin pagi itu Al-Walid bertanya kepada jama'ah yang hadir.

Dan keduanya yang hadir mengaji sama menyahut, "Maujud ya habib."
Lalu Habibana berkata, "Ente berdua jangan pulang ya, ana ada perlu."

Habib menegur murid seniornya tersebut, ente berdua kalau jadi muballigh gak usah kata-kata kotor sama orang, apalagi sama cucunya KH. Hasyim Asy'ari itu. Ente tahu yang namanya Gus Dur itu siapa? Biar ente faham ya... seluruh Auliya'illah min Masyariqil Ardhi ilaa Maghoribiha, kenal dengan Gus Dur dan ente ini siapa berani mencela - mencela dia. Dan ana sangat malu kalau ada murid atau orang yang pernah belajar sama ana menghina Gus Dur dan juga menghina lainnya. Kalau ente belum bisa jadi seperti Gus Dur, diam lebih baik. Kalau sudah bisa jadi seperti Gus Dur, ngomong dah sana sampe berbusa-berbusa."

Maka sejak mendapat teguran dari Al Walid itulah, bungkam kalau pas bicara masalah Gus Dur.

Menurut keterangan yang diperoleh ternyata Gus Dur adalah murid langsung dari Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang. Gus Dur waktu kecil diajak ayahnya, KH. Abdul Wahid Hasyim. Dan di Jakarta beliau sempat mengkhatamkan 9 kitab di hadapan Habib Ali Al Habsyi. sebagaimana langsung dikatakan oleh GusDur sendiri bahwa beliau mengkhatamkan beberapa kitab kecil dihadapan Habib Ali, yang ( di sampaikan di acara Maulid Nabi SAW Th 1990an di daerah Comal ).

4          Jasa, Karya, dan Karier

4.1.1    Jasa-jasa Beliau

4.1.2    Habib Ali Kwitang Pencetus Hari dan Waktu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Suatu hari saat Bung Karno sedang ikut hadir pada pengajiannya Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi di Masjid Kwitang M Husni Thamrin datang untuk menjemputnya guna menghadiri pertemuan dengan masyarakat Batavia.

Lalu Bung Karno meminta ijin kepada Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi untuk menghadiri acara tersebut. Dan Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi pun mempersilakannya.

Dengan masih bersarung Bung Karno menghadiri pertemuan tersebut didampingi M Husni Thamrin. 

Itulah permulaan dekatnya Bung Karno dengan Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Jakarta. 

Pada tanggal 16 gustus 1945 terjadilah peristiwa Rengas Dengklok. Dimana Bung Karno dan Bung Hatta serta lainnya diamankan oleh para peAmuda di Rengas Dengklok Karawang. 

Haji Darip dari Klender salah satu yang ikut pada waktu itu sempat mengusulkan agar para tokoh ditempatkan di tempat yang layak, karena waktu itu mereka ditempatkan di pinggir kali.

Haji Darip mengusulkan kepada Sukarni dan kawan-kawan agar Bung Karno dan Bung Hatta ditempatkan di rumah yang layak dan akhirnya ditempatkan di rumah warga etnis Tionghoa yang bernama Djie Kiaw Siong. 

Pada waktu itu ada perundingan antara Golongan Tua dan Golongan Muda dalam merumuskan dan menyusun teks Proklamasi yang berlangsung pada pukul 2 dini hari hingga pukul 4 menjelang waktu sahur. 

Teks Proklamasi ditulis di ruang makan Laksamana Tadashi Maida di Jl. Imam Bonjol. Setelah Sahur dan sesudah adzan Shubuh Bung Karno menyempatkan diri ke Kwitang dengan menyamar untuk menemui Habib Ali al-Habsyi guna memohon doa restu besok akan diadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Maka tak heran jika pembacaan teks proklamasi yang semula dijadwalkan pagi hari tertunda sampai jam 10. Dikarenakan Bung Karno sowan dulu ke kediaman Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi guna meminta restu.

Hari Jum’at 17 Agustus 1945 M. bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H jam 10 siang dibacakan teks Proklamasi oleh Bung Karno sekaligus pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati. 

Selang dua jam setelah dibacakan Proklamasi, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi mengumumkan kepada Jamaah Sholat Jum’at di Masjid Kwitang Bahwa negara ini telah diproklamirkan kemerdekaannya, Habib Ali memerintahkan agar seluruh Umat Islam memasang bendera merah putih di rumah dan kampungnya masing masing. 

Habib Ali menegaskan agar apa yang di umumkannya disebarluaskan. 

Kabar tentang pengumuman oleh Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang cepat menyebar dikalangan Masyarakat Jakarta khususnya para Ulama dan Habaib, Guru Mansur dari Jembatan Lima yang mendengar maklumat dari sang guru langsung membuat bendera Merah putih dan dipasang di atas menara Masjidnya.

Habib Ali bin Husein Al-Attas pula tidak ketinggalan ikut memasang bendera merah putih di depan kediamannya, begitu pula Habib Salim bin Jindan memasang bendera di depan rumahnya, sampai sampai banyak masyarakat yang bertanya kepada Habib Salim. 

”Ya Habib Salim, ada apa dan kenapa bendera merah putih kau kibarkan di depan rumahmu ?”

Habib Salim menjawab, ”Apa kalian tak dengar kabar bahwa ini negeri telah merdeka, ketahuilah ini negeri telah merdeka dan lambang dari kemerdekaannya adalah bendera Merah putih ini, sudah kalian jangan banyak tanya lagi, lekas kalian buat bendera merah dan putih lalu pasang di rumah kalian, kalau ada yang tanya, bilang kalau negeri ini sudah Merdeka “

Karena banyaknya masyarakat Jakarta yang tiba-tiba memasang Bendera Merah putih di rumahnya, Para Penjajah Jepang gusar dan masih belum rela menerima kemerdekaan Indonesia. Para tentara Jepang pun diturunkan untuk merampas bendera merah putih dari rumah-rumah penduduk khususnya di kediaman para tokoh, tidak ketinggalan penggeledahan dilakukan di rumah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi di Kwitang. Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi menolak sama sekali untuk menurunkannya hingga Habib Ali pun ditahan, begitu juga Guru Mansur , beliau diminta menurunkan bendera dari menara Masjid akan tetapi Guru Mansur mempertahankannya hingga di berondongkannya peluru ke menara Masjid, tapi Guru Mansur tetap Pada pendiriannya yang pada akhirnya Guru Mansur pun ikut ditahan oleh Jepang. 

Pihak Jepang pun kewalahan karena makin banyaknya orang yang ditahan, mengakibatkan tidak cukupnya ruang tahanan, lalu dengan sangat terpaksa pihak Jepang membebaskan masyarakat yang ditahan termasuk para Alim Ulama dan Habaib. Pada akhirnya Jepang pun hanya bisa pasrah dengan Masyarakat Jakarta yang mendukung Kemerdekaan Negara Indonesia. 

4.1.3    Mendeklarasikan NU di Jakarta

Kolektor ArsipHabib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi di Kwitang Anto Jibril mengatakan, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau lebih dikenal Habib Ali Kwitang mendapatkan surat dari ulama-ulama di Jawa ketika Nahdlatul Ulama (NU) lahir pada 1926. Dia ditanya bagaimana sikapnya tentang NU. Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi kemudian mengundang salah seorang muridnya, KH Ahmad Marzuki bin Mirshod, untuk menyelediki seluk-beluk NU. 

Habib Ali Kwitang, kemudian mengutus Kiai Marzuki untuk datang ke tempatnya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari untuk mencatat apapun yang dilihatnya di sana. Ketika sampai di sana, Kiai Marzuki kemudian meminta satu hal kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Yaitu agar jilbab yang dipakai perempuan NU dibenarkan. Jika itu dilakukan, Kiai Marzuki yakin NU akan bisa masuk ke tanah Batavia. Dia menuturkan, setahun kemudian Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim datang ke Batavia.

Mereka ingin agar NU didirikan di Batavia. Ketika sampai di Batavia, orang yang pertama kali ditemui Hadratussyekh Hasyim Asy’ari adalahHabib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi (Kwitang). “Setelah itu tahun 1928, NU dibentuk di Batavia. Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi izinkan itu waktu. Lagi-lagi Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi masih pegang fatwanya Habib Utsman bin Yahya. Jadi jangan dimasukkan namanya (Habib Ali Kwitang di jajaran pengurus NU),” kata Kolektor Arsip Habib Ali Kwitang Anto saat mengisi acara Kajian Manuskrip Ulama Nusantara di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (27/4).

Menurut Anto, semula orang-orang di Batavia kurang tertarik masuk NU karena tidak ada nama Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi di sana. Kemudian Kiai Marzuki ‘menegur’ Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi karena dulu dirinya lah yang meminta untuk mendirikan NU di Batavia, namun ternyata setelah berdiriHabib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi malah tidak bersedia gabung. “Sampai pada akhirnya Habib Ali memproklamirkan dirinya jadi warga Nahdliyin. Ini jarang yang ungkapkan, padahal ini dipublikasikan di Koran-koran zaman dulu.

Salah satu korannya berbahasa Belanda, koran Het Nieuws van den Dag (terbit) tanggal 20 Maret 1933,” jelasnya. Anto menuturkan, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi mendeklarasikan dirinya menjadi Nahdliyin pada 1933, atau setahun sebelum wafatnya Kiai Marzuki. Kemudian diadakan Kongres NU di daerah Kramat, Batavia. KH. Abdul Wahab Chasbullah yang bertugas memimpin jalannya kongres tersebut. Setelah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi mendeklarasikan diri menjadi Nahdliyin, ada sekitar 800 ulama yang saat itu siap masuk NU.  “Dan kurang lebih seribu, disebutkan di koran itu, siap masuk pula menjadi warga Nahdlatul Ulama.

Pertama Habib Salim bin Jindan,” jelasnya. Di koran Belanda itu, lanjut Anto, pada saat itu Habib Salim bin Jindan mengkritik NU. Namun kemudian, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi (Kwitang) menenangkannya. Kemudian Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi mendeklarasikan dirinya sebagai Nahdliyin. Setelah mendengar ‘pengakuan Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi’, peserta yang hadir berdiri dan bertepuk tangan bersama. KH. Abdullah Wahab Chasbullah juga senang dengan sikap yang ditunjukkan Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi tersebut.

4.2       Karya-karya Beliau

Selama belajar kepada guru-gurunya, Habib Ali Alhabsy, akhirnya menulis beberapa kitab, diantaranya:

  1. Al-Azhar Al-Wardiyyah fi As-Shuurah An-Nabawiyyah
  2. Ad-Durar fi As-Shalawat ala Khair Al-Bariyyah.

4.3       Karier Beliau

Menjadi Pengasuh Majelis Taklim Kwitang

5.         Teladan

Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi adalah sosok yang terkenal dengan akhlaknya yang tinggi, baik terhadap kawan maupun terhadap orang yang tidak suka kepadanya. Semuanya dihadapinya dengan ramah-tamah dan sopan santun yang tinggi. Terlebih lagi khidmat beliau terhadap ibunya adalah sangat luar biasa.

Dalam melakukan rasa bakti kepada ibunya sedemikian ikhlas dan tawadunya, sehingga tidak pernah beliau membantah perintah ibunya. Biarpun beliau sedang berada di tempat yang jauh, misalnya sewaktu beliau sedang berdakwah di Surabaya ataupun di Singapura, bila beliau menerima telegram panggilan dari ibunya, segera beliau pulang secepat-cepatnya ke Jakarta untuk memenuhi panggilan ibunya tersebut.

Maka tidak heran apabila ilmu beliau sangat berkat, dan dakwah beliau dimana-mana mendapat sambutan yang menggembirakan. Setiap orang yang jumpa dengan beliau, apalagi sampai mendengarkan pidatonya, pastilah akan tertarik. Terutama di saat beliau mentalqinkan dzikir atau membaca sholawat dengan suara mengharukan, disertai tetesan air mata, maka segenap yang hadir turut meneteskan air mata. Dan yang demikian itu tidak mungkin jika tidak dikarenakan keluar dari suatu hati yang ikhlas, hati yang disinari oleh nur iman dan nur mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya Saw.

6         Referensi

https://wiki.laduni.id/
Pustaka Pejaten

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya