Hukum Perayaan untuk Memperingati Jin Penjaga Desa

 
Hukum Perayaan untuk Memperingati Jin Penjaga Desa

Perayaan untuk Memperingati Jin Penjaga Desa/Sedekah Bumi

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya mengadakan pesta dan perayaan guna mmemperingati jin penjaga desa (mbahu rekso, Jawa) untuk mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan, dan kadang terdapat hal-hal yang mungkar. Perayaan tersebut dinamakan sedekah bumi yang biasa dikerjakan penduduk desa (kampung), karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dahulu kala?

Jawab :

Adat kebiasaan sedemikian itu hukumnya haram.

Keterangan, dalam kitab:

  1. Futuhat al-Ilahiyah[1]

قَالَ مُقَاتِلُ كَانَ أَوَّلُ مَنْ تَعَوَّذَ بِالْجِنِّ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ بَنِي حَنِيْفَةَ ثُمَّ فَشَا ذَلِكَ فِي الْعَرَبِ فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ صَارَ التَّعَوُّذُ بِاللهِ تَعَالَى لاَ بِالْجِنِّ.

Orang yang pertama meminta perlindungan kepada jin adalah kaum dari Bani Hanifah di Yaman, kemudian hal tersebut menyebar di Arab. Setelah Islam datang, maka berlindung kepada Allah menggantikan berlindung kepada jin.

  1. Ihya’ Ulum al-Din[2]

فَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يُمْزَحَ بِالْحَقِّ الْمَحْضِ مَا هُوَ لَهْوٌ عِنْدَ الْعَامَةِ وَصُوْرَتُهُ صُوْرَةُ اللَّهْوِ عِنْدَ الْخَاصَّةِ وَإِنْ كَانُوْا لاَ يَنْظُرُوْنَ إِلَيْهَا مِنْ حَيْثُ أَنَّهَا لَهْوٌ.

Maka tidak boleh mencampurkan kebenaran murni dengan perkara yang dianggap sebagai suatu permainan oleh kalangan orang awam, sementara bentuk permainan tersebut merupakan bentuk permainan bagi kalangan orang khusus, walaupun mereka tidak menilainya sebagai suatu permainan.

[1]   Al-Jamal, Futuhat al-Ilahiyah ‘ala al-Jalalain, surah al-Jin.

[2]   Hujjah al-Islam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din dalam Murtadha al-Zabidi, Ithaf Sadah al-Muttaqin, (Beirut: Maktabah Dar al-Fikr, t.th.), Juz VI, h. 557.

 

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 100

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-5

Di Pekalongan Pada Tanggal 13 Rabiuts Tsani 1349 H. / 7 September 1930 M.