Riwayat Hidup Syekh Hasanuddin Al-Palimbani

 
Riwayat Hidup Syekh Hasanuddin Al-Palimbani

Daftar Isi Profil Syekh Hasanuddin Al-Palimbani

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan

Kelahiran

Ki Agus Haji Hasanuddin atau yang kerap disapa dengan panggilan Syekh Hasanuddin Al-Palimbani lahir di lingkungan Keraton Palembang. Beliau merupakan putra dari Khalifah Jakfar (w. 1715), seorang yang sangat terpelajar di Timur Tengah dan wafat di Mekkah.

Nasab dari jalur ayahnya, Syekh Hasanuddin Al-Palimbani masih turunan Sunan Gunung Jati Cirebon. Nasab beliau diantaranya, Syekh Hasanuddin Al-Palimbani bin Khalifah Jakfar bin Khalifah Gemuk Kgs. Muhammad bin Ki Bodrowongso bin Pangeran Fatahillah Gunung Jati.

Wafat

Syekh Hasanuddin al-Palembani wafat di Palembang dan dimakamkan di komplek Astana Guba Kawah Tekurep Lemabang berdampingan dengan makam anaknya, Kgs. M. Saleh. Oleh karena itu ia dikenal juga dengan sebutan Panglima Kawah Tekurep.

Keluarga

Syekh Hasanuddin melepas masa lajangnya dengan menikahi Syarifah Habibah binti Khatib Muhammad Jamalullail. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai beberapa putra-putri. Sedangkan yang terkenal di antaranya ialah Syekh Muhammad Akib (khalifah Tarekat Sammaniyah), Kgs. M. Saleh, Kgs. M. Amin, dll.

Pendidikan

Syekh Hasanuddin setelah menyelesaikan pendidikan awalnya di Palembang, kemudian melanjutkan studinya ke Timur Tengah kepada paraulama dunia terkenal, di antaranya ialah ayahnya sendiri Khalifah Jakfar (w.1715), Syekh Aid bin Ali al-Misri al-Makki, Syekh Abdullah bin Salim al-Basri (w.1722), Ahmad bin Muhammad al-Nakhli (w.1718), dll. Beliau menguasai berbagai disiplin ilmu agama seperti: Hadis, fiqih, tauhid, tasawuf, tarekat dan lainnya. Beliau menahun menetap di Makkah bersama saudara-saudaranya Kgs.H. Jakfar, Khalifah Mahdi, dll. Keluarga besarnya ini telah lama bermukim di Makkah.

Setelah merampungkan kuliahnya di tanah suci, iapun ikut mengajar di Makkah. Banyak ulama asal dunia Melayu belajar kepadanya. Sekitar tahun 1740-an, ia kemudian pulang ke tanah kelahirannya, menetap dan mengajar ilmu-ilmu agama di guguk Pengulon di lingkungan Masjid Agung dan keraton. Banyak sekali murid-muridnya.