Tahiyyatul Masjid: Dua Rakaat yang Sering Diremehkan

 
Tahiyyatul Masjid: Dua Rakaat yang Sering Diremehkan

Laduni.ID, Jakarta - Langkah kaki terdengar tergesa. Pintu masjid terbuka, seseorang masuk, lalu langsung duduk sambil menggulir layar ponsel. Pemandangan ini semakin lazim di banyak masjid, dari kota besar hingga pelosok desa. Masjid yang semestinya menjadi ruang sakral untuk menyambut kehadiran Ilahi, justru kerap diperlakukan layaknya ruang tunggu biasa. Di tengah fenomena ini, satu sunnah sederhana namun sarat makna shalat tahiyyatul masjid perlahan memudar dari kesadaran umat.

Fenomena kelalaian terhadap adab masuk masjid bukan sekadar persoalan fiqh praktis, tetapi mencerminkan kondisi spiritual umat Islam hari ini. Di era digital yang serba cepat, perhatian manusia terpecah oleh notifikasi, rutinitas padat, dan budaya instan. Masjid, yang seharusnya menjadi tempat menenangkan jiwa, sering dimasuki tanpa kesiapan batin. Shalat tahiyyatul masjid, yang secara harfiah berarti “shalat penghormatan kepada masjid,” menjadi indikator kecil dari kesadaran besar: bagaimana seorang hamba memuliakan rumah Allah.

Dalam khazanah Islam, masjid bukan sekadar bangunan fisik. Masjid merupakan simbol kehadiran Allah dalam kehidupan sosial umat. Oleh karena itu, setiap interaksi dengan masjid mengandung nilai adab. Shalat tahiyyatul masjid bukan hanya ritual dua rakaat, melainkan bentuk penghormatan kepada tempat yang dimuliakan oleh Allah. Dua rakaat tersebut menjadi jeda spiritual sebelum seseorang larut dalam aktivitas, bahkan sebelum duduk sekalipun.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN