Kesultanan Aceh Darussalam, Poros Intelektual dan Episentrum Diplomasi
Laduni.ID, Jakarta - Menengok kembali konstelasi global pada abad ke-16 dan ke-17 akan membawa ingatan kita pada kemegahan Konstantinopel di bawah panji Turki Utsmani atau eksotisme Isfahan di Persia. Di saat yang sama, sebuah kekuatan maritim raksasa yang tidak kalah disegani tengah bangkit di ujung barat Kepulauan Nusantara. Itulah Kesultanan Aceh Darussalam. Kerap dijuluki sebagai “Serambi Mekah”, imperium ini sejatinya tidak hanya bertumpu pada keandalan armada perang atau melimpahnya komoditas lada. Lebih dari itu, Aceh tumbuh menjadi mercusuar ilmu pengetahuan sekaligus motor penggerak diplomasi Islam yang menghubungkan peradaban Timur dan Barat.
Titik balik geopolitik di Asia Tenggara terjadi ketika Malaka takluk ke tangan Portugis pada 1511. Di tengah situasi genting tersebut, Aceh segera mengambil alih peran strategis kawasan. Di bawah kepemimpinan peletak batu pertamanya, Sultan Ali Mughayat Syah, kawasan ini bermutasi menjadi benteng pertahanan iman sekaligus ruang perjumpaan kebudayaan yang inklusif. Keberhasilan Aceh merajut peradaban yang begitu agung ini ditopang oleh dua pilar utama yang saling berkelindan: kekuatan tradisi akademik dan kecerdasan dalam berdiplomasi.
Saat Ulama dan Karya Sastra Membentuk Peradaban
Pada masa keemasannya, khususnya di era kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Banda Aceh bertransformasi layaknya replika kota Baghdad zaman Abbasiyah di Asia Tenggara. Jantung kota tidak sekadar dipadati oleh barak-barak militer, melainkan dipenuhi oleh pusat-pusat studi keagamaan (dayah) serta lembaga pendidikan tinggi yang terstruktur secara hierarkis. Sistem pendidikan di Aceh kala itu telah mengenal jenjang yang rapi, mulai dari tingkat dasar yang mempelajari literasi dasar Al-Qur'an, hingga tingkat tinggi (dayah manyang) yang mengkaji teologi, hukum internasional, astronomi, hingga sastra Arab-Melayu. Episentrum dari seluruh dinamika intelektual ini bermuara di Masjid Raya Baiturrahman, sebuah institusi yang merangkap sebagai universitas agung (Jamiah Baiturrahman) tempat bernaungnya ribuan penuntut ilmu dari berbagai penjuru angin. Guru-guru besar didatangkan langsung dari luar negeri, termasuk dari Hijaz, Mesir, dan Yaman, menjadikan koridor-koridor institusi ini selalu bising oleh perdebatan ilmiah bertaraf global.
UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN
Masuk dengan GoogleDan dapatkan fitur-fitur menarik lainnya.
Support kami dengan berbelanja di sini:
Rp94.000
Rp134.160
Rp219.900
Memuat Komentar ...