Biografi KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah)

 
Biografi KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah)

Daftar Isi Profil KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Aktif Menulis
  6. Terlibat dalam Politik
  7. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  8. Menjadi Wakil Komnas Ham
  9. Menjadi Pengasuh
  10. Karir Gus Solah
  11. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Salahuddin Wahid atau yang biasa dipanggil dengan sapaan Gus Solah adalah putra ketiga dari pasangan KH. Wahid Hasyim dengan Nyai Sholichah. Beliau lahir di Tebuireng, Jombang, pada tanggal 11 September 1942.

Gus Solah merupakan adik kandung dari mantan presiden ke 4, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain itu, Gus Solah juga merupakan seorang aktifis, politisi, dan tokoh HAM (Hak Asasi Manusia).

Wafat

Pada Januari 2020, Salahuddin menjalani operasi ablasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Dia kemudian dirujuk kembali ke rumah sakit karena ada masalah prosedur, yang membutuhkan operasi pada tanggal 31 Januari.

Setelah operasi kondisinya semakin memburuk, dan akhirnya beliau menghebuskan nafas terakhir pada 2 Februari 2020, pukul 20.55 WIB. Jasad beliau diterbangkan pada pagi hari tanggal 3 Februari ke Jombang.

Gus Solah dimakamkan di tanah pemakaman Tebuireng, di kompleks yang sama di dekat orang tua, kakek-nenek, dan almarhum saudaranya, Abdurrahman Wahid.

Baca juga: Wafatnya dan Isyarah 2 Mimpi

Keluarga

Pada tahun 1968, Gus Solah melepas masa lajangnya dengan menikahi Farida, putri mantan Menteri Agama, KH. Syaifudin Zuhri. Buah dari pernikahannya, Gus Solah dikaruniai tiga anak, yaitu Irfan Asy’ari Sudirman (Ipang Wahid), Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.

Pendidikan

Sejak kecil Gus Solah bersama saudara-saudaranya belajar mengaji langsung kepada ayahnya. Setelah ayahnya wafat, tugas itu diambil alih oleh KH. Bisri Syansuri, karena pada waktu itu beliau masih sering bolak-balik ke Jakarta. 

Selain belajar membaca al-Qur’an, Gus Solah belajar fiqh, nahwu, sorof, dan tarikh. Guru-gurunya antara lain Ust. Muhammad Fauzi dan Ust. Abdul Ghoffar. Keduanya alumni Pesantren Tebuireng yang tinggal di Jakarta.

Gus Solah sempat merasakan pendidikan pesantren melalui Pesantren Ramadhan. Selama beberapa kali liburan sekolah di bulan Ramadhan, beliau belajar ke Pesantren Denanyar Jombang bersama adiknya, Umar Wahid. Menginjak usia dewasa, cara yang ditempuhnya untuk belajar adalah dengan membaca sendiri buku-buku keagamaan.

Setelah belajar di pesantren, Gus Solah melanjutkan pendidikannya di SD KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), dimana para gurunya banyak yang menjadi anggota pergerakan, termasuk orang-orang komunis. Pengalaman di sekolah ini membuatnya terbiasa hidup di lingkungan yang heterogen sehingga terbiasa menghadapi perbedaan. Ketika naik ke kelas IV, Gus Solah pindah ke SD Perwari yang terletak di seberang kampus UI Salemba.

Pada tahun 1955-1958, Gus Solah melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri I Cikini. Di SMP ini ia memilih jurusan B (ilmu pasti). Setelah lulus SMP beliau masuk SMA Negeri I yang populer dengan sebutan SMA Budut (Budi Utomo), karena terlatak di Jalan Budi Utomo. Selama di SMA Budut, Gus Solah aktif di Kepanduan Ansor dan OSIS.

Tahun 1962 Gus Solah melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia memilih jurusan arsitektur, meskipun sebenarnya juga berminat masuk jurusan ekonomi atau hukum. Semasa kuliah di Bandung, Gus Solah aktif dalam kegiatan Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa. Sejak tahun 1967, Gus Solah juga aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan memilih Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai wadah bernaungnya.

Pada tahun 1998, Gus Solah mulai memanfaatkan waktunya untuk membaca buku sekaligus mulai menulis. Sejak tahun 1993, beliau menjadi pimpinan redaksi majalah Konsultan. Setalah itu aktif menulis di harian Republika, Kompas, Suara Karya, dan lain sebagainya.

Baca juga: Meski Sakit, Masih Menulis Lewat Ponsel untuk Surat Kabar

Tulisan-tulisannya banyak menyoroti berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat dan bangsa. Pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasannya seringkali berbeda dengan kakak kandungnya, Gus Dur. Bahkan ia pernah berpolemik dengan Gus Dur tentang hubungan agama dan negara di harian Media Indonesia.

Terlibat dalam Politik

Jika Gus Dur dinilai anti ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) karena sering mengkritik lembaga ini, maka Gus Solah bersikap sebaliknya. Ia justru masuk menjadi anggota ICMI, bahkan pernah terpilih menjadi Anggota Dewan Penasehat ICMI sejak 1995 hingga 2005. Lalu pada tahun 2000, terpilih menjadi Ketua MPP ICMI periode 2000-2005. Keanggotaannya di ICMI membuat Gus Solah semakin dekat dengan dunia politik.

Sejak bergulirnya Era Reformasi, keterlibatan Gus Solah dalam bidang politik semakin intens. Pada tahun 1998 ia ditawari menjadi Sekjen PPP dengan calon Ketua Umum, Amien Rais. Akan tetapi rencana itu gagal karena Amien Rais menolak dan memilih mendirikan partai sendiri (PAN). Setelah itu ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Umat (PKU), dan menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat serta Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU. PKU adalah partai yang didirikan oleh Kiai Yusuf Hasyim.

Baca juga:  Pesan Terakhir Gus Solah,  Peran Politik NU Agar Dibahas di Muktamar

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada September 1999 Gus Solah mengundurkan diri dari PKU. Lalu pada Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Solah ikut maju sebagai salah seorang kandidat Ketua Umum PBNU. Gus Solah kemudian terpilih sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004. Pada Muktamar NU tahun 2004 di Solo, Gus Solah yang ditawari kembali menjadi ketua PBNU menolak tawaran tersebut.

Keterlibatan Gus Solah di NU sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Pada tahun 1977 ia bersama aktivis muda NU membentuk ”Kelompok G” yang kelak menjadi cikal bakal tim yang mempersiapkan materi kembalinya NU ke Khittah 1926. Namun keterlibatan itu baru diketahui publik sejak tahun 1990-an, dan semakin intens sejak tahun 2000-an.

Baca juga: Refleksi 94 Tahun NU

Menjadi Wakil Komnas Ham

Pada akhir tahun 2001, Gus Solah didaftarkan oleh adik iparnya, Lukman Hakim Syaifudin, sebagai calon anggota Komnas HAM. Meskipun dengan persiapan sekedarnya, ia berhasil lolos dalam uji kelayakan (fit and proper test), sehingga terpilih sebagai salah satu dari 23 anggota Komnas HAM periode 2002-2007. Pada saat yang sama, Gus Solah terpilih sebagai Wakil Ketua II Komnas HAM.

Selama berkiprah di Komnas HAM, Gus Solah sempat memimpin TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) untuk menyelidiki kasus Kerusuhan Mei 1998 (Januari-September 2003), kemudian Ketua Tim Penyelidik Adhoc Pelanggaran HAM Berat kasus Mei 1998, Ketua Tim Penyelidikan Kasus Pulau Buru, dan lain sebagainya. Sejak saat itu popularitasnya semakin menanjak.

Ketika sistem pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara langsung, Gus Solah dipinang Golkar untuk maju sebagai Cawapres berpasangan dengan Wiranto. Deklarasinya dilakukan di Gedung Bidakara, Jakarta, Selasa 11 Mei 2004. Ini merupakan babak baru dari perjalanan karir politiknya. Untuk menunjukkan keseriusannya sebagai Cawapres, Gus Solah mengundurkan diri dari Komnas HAM dan PBNU.

Menjadi Pengasuh

Pada bulan Pebruari 2006, Pak Ud menelpon Gus Solah dan menyampaikan niatnya untuk mundur dari jabatan pengasuh Tebuireng. Pak Ud meminta Gus Solah untuk menggantikannya. Lalu pada tanggal 12 April 2006, Gus Solah bertemu dengan Pak Ud dan keluarga besar Tebuireng serta para alumni senior, untuk mematangkan rencana pengunduran diri Pak Ud dan naiknya Gus Solah sebagai pengasuh Tebuireng.

Keesokan harinya, pergantian pengasuh diresmikan bersamaan dengan acara Tahlil Akbar Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan Temu Alumni Nasional Pondok Pesantren Tebuireng yang dilangsungkan di halaman pondok.

Langkah pertama yang diambil Gus Solah dalam memimpin Tebuireng adalah melakukan ”diagnosa” atau mendeteksi ”penyakit” yang sedang menimpa Tebuireng. Sejak bulan April hingga akhir tahun 2007, Gus Solah secara berkala mengadakan rapat bersama unit-unit yang ada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari. Dia meminta laporan tentang kendala yang dihadapi, disamping meminta masukan dan kritik dari mereka. Gus Solah juga menurunkan ”mata-mata” yang turun langsung ke kamar-kamar untuk menanyai para santri tentang kinerja pengurus pondok.

Selama memimpin Tebuireng, Gus Solah berupaya menggugah kesadaran para guru, Pembina santri, dan karyawan Tebuireng, untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kinerja berdasar keikhlasan dan kerjasama. Langkah kongkritnya adalah mengadakan pelatihan terhadap para guru dengan mendatangkan konsultan pendidikan Konsorsium Pendidikan Islam (KPI), yang juga membantu para kepala sekolah untuk menyusun SOP, Standard Operating Procedure, bagi kegiatan belajar mengajar (KBM).

Mulai awal tahun 2007, di Tebuireng diterapkan sistem full day school di semua unit pendidikan. Para pembina dibekali dengan latihan khusus, baik latihan kedisiplinan dan psikologi, sehingga dapat menjalankan tugas dengan baik.

Rencananya, seorang pustakawan akan didatangkan guna mengelola perpustakaan secara sistematis dan terarah. Pada saat yang sama, Madrasah Mu’allimin dan Ma’had Aly didirikan, serta kegiatan pengajian dilakukan secara klasikal melalui Madrasah Diniyah dan kelas Takhassus.

Sejak awal kepemimpinannya, Gus Solah berupaya memperbaiki sarana fisik secara bertahap. Klinik kesehatan dibangun di dekat kompleks SMA, masjid diperluas dan ditingkatkan mutunya dengan tetap mempertahankan bangunan lama, ruang makan juga diperbaiki, dan gedung-gedung tua direnovasi. Seluruh proses pembangunan fisik ini ditargetkan selesai dalam 5-7 tahun.

Selain menahkodai Tebuireng, aktivitas Gus Solah di berbagai kegiatan sosial tetap padat. Dia menjadi anggota Forum Pemantauan Pemberantasan Korupsi (2004), Barisan Rakyat Sejahtera (Barasetra), Forum Indonesia Satu (FIS), Kajian Masalah Kepahlawanan yang dibentuk oleh IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia), dan lain-lain.

Karir Gus Solah

Sejak duduk di SMP hingga menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Solah telah banyak meniti karir. Karir-karir Gus Solah diantaranya :

  1. Pengasuh Pesantren Tebuireng
  2. Calon Wakil Presiden 2004
  3. Wakil Ketua Komnas HAM (2002-2007)
  4. Anggota MPR (1998-1999)
  5. Penulis lepas pada berbagai media (1998-sekarang)
  6. Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996)
  7. Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997)
  8. Direktur Utama Perusahaan Kontraktor (1969-1977)
  9. Ketua Gerakan Integritas Nasional (2011-sekarang)
  10. Ketua PB Nahdlatul Utama
  11. 1999 Sekretaris Badan Pendiri Yayasan Wahid Hasyim
  12. 1985 Pendiri Yayasan Wahid Hasyim
  13. 1991-1994 Anggota Badan Pengawas Yayasan Baitussalam
  14. 1982-1991 Ketua Badan Pengurus Yayasan Baitussalam
  15. 1982 Pendiri Yayasan Baitussalam
  16. 1995 Ketua Panitia Lomba Karya Tulis IKPNI
  17. 1993-skrng Anggota Pengurus IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia)
  18. 2000-skrng Ketua Badan Pendiri Yayasan Frum Indonesia Satu.
  19. 2002-2005 Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
  20. 1998-1999 Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU
  21. 1998-1999 Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat
  22. 1995-2005 Anggota Dewan Penasehat ICMI
  23. 2000-2005 Ketua MPP ICMI
  24. 1999-2004 Ketua PBNU
  25. 2002-2005 Anggota Dewan Pembina YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia)
  26. 1995 Mendirikan Ikatan Konsultan Manajemen Indonesia
  27. 1994-1998 Ketua Departemen Konsultan Manajemen Kadin, Wakil dalam Pertemuan Konsultan Internasional
  28. 1993-1994 Pemred Majalah Konsultan
  29. 1991-1994 Sekretaris Jenderal DPP Inkindo
  30. 1989-1990 Ketua DPD DKI Indkindo (Ikatan Konsultan Indonesia)
  31. 1988-sekarang Anggota Persatuan Insinyur Indonesia.
  32. 1973-sekarang Anggota Ikatan Arsitek Indonesia
  33. 1966-1967 Dewan penurus Pendaki Gunung Wanadri
  34. 1964-1966 Wakil Ketua PMII Cabang Bandung
  35. 1964-1966 Komisariat PMII ITB
  36. 1967 Bendahara Dewan Mahasiswa ITB
  37. 1963-1964 Anggota pengurus Senat Mahasiswa Arsitektur ITB
  38. 1961-1962 Wakil Ketua OSIS SMAN 1 Jakarta
  39. 1957-1961 Kepanduan Ansor

Baca juga: ISNU Keberadaannya sangat Penting, Perannya Harus Ditingkatkan

Karya-Karya

Selain menulis di media massa, Gus Solah juga banyak menulis buku. Karya-karyanya yang telah dibukukan, antara lain adalah

  1. Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001)
  2. Mendengar Suara Rakyat (September 2001)
  3. Menggagas Peran Politik NU (2002)
  4. Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November 2003)
  5. Ikut Membangun Demokrasi
  6. Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November 2004)

Selain itu, sejak pertengahan tahun 2007, Gus Solah mengumpulkan naskah-naskah tulisannya yang pernah diterbitkan di berbagai media, untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Selain itu, Gus Solah juga sering diminta memberikan pengantar pada buku-buku karya penulis lain.

Kemampuan menulis Gus Solah tidak lepas dari kegemarannya membaca sejak usia muda. Kebiasaan itu terus dipertahankan hingga usia tua. Setiap ada waktu longgar, Gus Solah selalu menyempatkan diri membaca. Kebiasaan ini semakin intens di bulan Ramadhan. Dalam satu bulan, sepuluh judul buku bisa habis dibacanya. Menurut pengakuan Gus Solah, dia biasanya menyediakan waktu untuk membaca sebelum dan sesudah makan sahur, setelah Salat Subuh, pagi hari, dan juga sore hari.

 

Pengikut Beliau

  • Yuwono Agung Yuwono Agung
  • Ahmad Baihaki Ahmad Baihaki
  • Farid Raharja Farid Raharja
  • Yudi Hidayat Yudi Hidayat