Biografi KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah)

 
Biografi KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat
1.3       Riwayat Keluarga     

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Berkelana Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Menjadi Pengasuh Pesantren Tebu Ireng
2.4       Perkembangan Pesantren Tebu Ireng di Era KH. Salahudin Wahid

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa, Karya, dan Karir
4.1       Jasa-jasa Beliau
4.2       Karya-karya Beliau
4.3       Karier Beliau

5          Kisah Teladan
5.1       Santun dan Berbahasa
5.2       Pribadi yang Sederhana
5.3       Toleransi

6          Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

7          Penghargaan

8          Referensi

 

1     Riwayat Hidup dan Keluarga
 

      1.1       Lahir

KH. Salahuddin Wahid atau yang biasa dipanggil dengan sapaan Gus Sholah adalah putra ketiga dari pasangan KH. Wahid Hasyim dengan Nyai Sholichah. Beliau lahir di Tebuireng, Jombang, pada tanggal 11 September 1942. KH. Salahuddin Wahid merupakan adik kandung dari mantan presiden ke 4, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain itu, Gus Solah juga merupakan seorang aktifis, politisi, dan tokoh HAM (Hak Asasi Manusia).

       1.2      Wafat

Pada Januari 2020, KH. Salahuddin Wahid  menjalani operasi ablasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Beliau kemudian dirujuk kembali ke rumah sakit karena ada masalah prosedur, yang membutuhkan operasi pada tanggal 31 Januari.

Setelah operasi kondisinya semakin memburuk, dan akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir pada 2 Februari 2020, pukul 20.55 WIB. Jasad beliau diterbangkan pada pagi hari tanggal 3 Februari ke Jombang.

KH. Salahuddin Wahid dimakamkan di tanah pemakaman Tebuireng, di kompleks yang sama di dekat orang tua, kakek-nenek, dan almarhum saudaranya, Abdurrahman Wahid.

      1. 3       Riwayat Keluarga

Pada tahun 1968, KH. Salahuddin Wahid menikah dengan Farida, putri mantan Menteri Agama, KH. Syaifudin Zuhri. Buah dari pernikahannya, KH. Salahuddin Wahid  dikaruniai tiga anak, yaitu:

  1. Irfan Asy’ari Sudirman (Ipang Wahid)
  2. Iqbal Billy
  3. Arina Saraswati.

 

 2       Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

 

Sejak kecil KH. Salahuddin Wahid bersama saudara-saudaranya belajar mengaji langsung kepada ayahnya. Setelah ayahnya wafat, tugas itu diambil alih oleh KH. Bisri Syansuri, karena pada waktu itu beliau masih sering bolak-balik ke Jakarta. 

Selain belajar membaca al-Qur’an, KH. Salahuddin Wahid belajar fiqh, nahwu, sorof, dan tarikh. Guru-gurunya antara lain KH. Muhammad Fauzi dan KH. Abdul Ghoffar. Keduanya alumni Pesantren Tebuireng yang tinggal di Jakarta.

KH. Salahuddin Wahid sempat merasakan pendidikan pesantren melalui Pesantren Ramadhan. Selama beberapa kali liburan sekolah di bulan Ramadhan, beliau belajar ke Pesantren Denanyar Jombang bersama adiknya, Umar Wahid. Menginjak usia dewasa, cara yang ditempuhnya untuk belajar adalah dengan membaca sendiri buku-buku keagamaan.

Setelah belajar di pesantren, KH. Salahuddin Wahid melanjutkan pendidikannya di SD KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi). Pengalaman di sekolah ini membuatnya terbiasa hidup di lingkungan yang heterogen sehingga terbiasa menghadapi perbedaan. Ketika naik ke kelas IV, KH. Salahuddin Wahid pindah ke SD Perwari yang terletak di seberang kampus UI Salemba.

Pada tahun 1955-1958, KH. Salahuddin Wahid melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri I Cikini. Di SMP ini beliau memilih jurusan B (ilmu pasti). Setelah lulus SMP beliau masuk SMA Negeri I yang populer dengan sebutan SMA Budut (Budi Utomo), karena terletak di Jalan Budi Utomo. Selama di SMA Budut, KH. Salahuddin Wahid aktif di Kepanduan Ansor dan OSIS.

Tahun 1962 KH. Salahuddin Wahid melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia memilih jurusan arsitektur, meskipun sebenarnya juga berminat masuk jurusan ekonomi atau hukum. Semasa kuliah di Bandung, KH. Salahuddin Wahid dalam kegiatan Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa. Sejak tahun 1967, KH. Salahuddin Wahid juga aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan memilih Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai wadah bernaungnya.

       2.2          Guru-Guru Beliau

Guru-guru KH. Salahuddin Wahid yang memberikan pendidikan dasar islam, belajar Qur'an dan kitab-kitab, belajar fiqh, nahwu, sorof, dan tarikh adalah:

  1. KH. Wahid Hasyim (ayah beliau)
  2. KH. Bisri Syansuri (Kakek)
  3. KH. Muhammad Fauzi
  4. KH. Abdul Ghoffar

       2.3          Menjadi Pengasuh Pondok Pesantren

Pada bulan Pebruari 2006 KH. Yusuf Hasyim menelpon KH. Salahuddin Wahid dan menyampaikan niatnya untuk mundur dari jabatan pengasuh Tebuireng. KH. Yusuf Hasyim  meminta KH. Salahuddin Wahid untuk menggantikannya. Lalu pada tanggal 12 April 2006, KH. Salahuddin Wahid bertemu dengan KH. Yusuf Hasyim dan keluarga besar Tebuireng serta para alumni senior, untuk mematangkan rencana pengunduran diri KH. Yusuf Hasyim dan naiknya KH. Salahuddin Wahid sebagai pengasuh Tebuireng.

Keesokan harinya, pergantian pengasuh diresmikan bersamaan dengan acara Tahlil Akbar Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan Temu Alumni Nasional Pondok Pesantren Tebuireng yang dilangsungkan di halaman pondok.

Langkah pertama yang diambil KH. Salahuddin Wahid dalam memimpin Tebuireng adalah melakukan ”diagnosa” atau mendeteksi ”penyakit” yang sedang menimpa Tebuireng. Sejak bulan April hingga akhir tahun 2007, KH. Salahuddin Wahid secara berkala mengadakan rapat bersama unit-unit yang ada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari. Dia meminta laporan tentang kendala yang dihadapi, disamping meminta masukan dan kritik dari mereka.

Selama memimpin Tebuireng, KH. Salahuddin Wahid h berupaya menggugah kesadaran para guru, Pembina santri, dan karyawan Tebuireng, untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kinerja berdasar keikhlasan dan kerjasama. Langkah kongkritnya adalah mengadakan pelatihan terhadap para guru dengan mendatangkan konsultan pendidikan Konsorsium Pendidikan Islam (KPI), yang juga membantu para kepala sekolah untuk menyusun SOP, Standard Operating Procedure, bagi kegiatan belajar mengajar (KBM).

Mulai awal tahun 2007, di Tebuireng diterapkan sistem full day school di semua unit pendidikan. Para pembina dibekali dengan latihan khusus, baik latihan kedisiplinan dan psikologi, sehingga dapat menjalankan tugas dengan baik.

Rencananya, seorang pustakawan akan didatangkan guna mengelola perpustakaan secara sistematis dan terarah. Sejak awal kepemimpinannya, KH. Salahuddin Wahid berupaya memperbaiki sarana fisik secara bertahap. Klinik kesehatan dibangun di dekat kompleks SMA, masjid diperluas dan ditingkatkan mutunya dengan tetap mempertahankan bangunan lama, ruang makan juga diperbaiki, dan gedung-gedung tua direnovasi. Seluruh proses pembangunan fisik ini ditargetkan selesai dalam 5-7 tahun.

      2.4      Perkembangan Pesantren Tebu Ireng di Era KH. Salahudin Wahid

Ketika KH. Salahuddin Wahid memangku jabatan Pengasuh Pesantren Tebuireng, ia banyak melakukan perombakan dan pembaharuan di pesantren. Perombakaan dan pembahruan tersebut bukan tanpa alasan. Tujuan pembaharuan itu adalah agar Pesantren Tebuireng dapat bersaing dengan tuntutan zaman yang semakin maju dan modern. Di tangan KH. Salahuddin Wahid Pesantren Tebuireng telah menjadi cerminan pesantren tua yang selalu siap mengikuti perkembangan zaman.

  1. Salah satunya adalah mendirikan unit penerbitan. Unit Penerbitan Tebuireng (UPT) ini didirikan pada tanggal 1 Januari 2007, merupakan lembaga yang bertugas dibidang pengembangan intelektual santri melalui penerbitan majalah, bulletin, dan buku. Pada mulanya, unit penerbitan hanya menerbitkan (kembali) Majalah Tebuireng; majalah yang pernah ada di tahun 1980-an dan berhenti terbit akibat kendala teknis. Tetapi pada masa kepimipinan KH. Salahuddin Wahid, kini unit penerbitan telah megelola tiga devisi di bawahnya, yaitu Devisi Majalah, Devisi Buletin, dan Devisi Penerbitan Buku. Penerbitan Buku diberi nama Pustaka Tebuireng, kini telah menerbitkan beberapa judul seperti tema sosial, pendidikan, dan keagamaan.
  2. Mendirikan Madrasah Mua’limmin Hasyim As’yari yang berfokus kepada kurikulum kitab kuning sebagaimana yang pernah mengalami masa kejayan pada era kepengasuhan KH. Hasyim Asy’ari.
  3. Mendirikan dan mengembangkan bidang perkulihaan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari yang diharapkan dapat mencetak kader-kader ahli Hadist penerus keilmuan KH. Hasyim Asy’ari yang terkenal sebagai ulama ahli Hadist.
  4. Memberikan inovasi untuk Pesantren Tebuireng dengan mendirikan Pusat Kesehatan Pesantren (PUKESTREN) yang bisa dirasakan   manfaatnya untuk santri dan seluruh warga sekitar.
  5. Mendirikan Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) yang berfokus menjadi lembaga sosial masyarakat berupa menyalurkan bantuan bantuan kepada masyarakat sekitar pesantren yang kurang mampu. Untuk LSPT sendiri, pendapatan dananya ditopang oleh para donatur baik, dari santri, pengurus, masyarakat dan kotak amal yang berada di lorong makam keluarga Pesantren Tebuireng.
  6. Mendirikan Museum Islam Indonesia KH. M. Hasyim Asya’ari.
  7. Mendirikan Rumah Sakit KH. M. Hasyim Asy’ari yang bekerja sama dengan Dompet Dhu’afa. Rumah Sakit tersebut terletak di kawasan Pesantren Tebuireng di atas tanah wakaf keluarga Pendiri NU. Untuk peletakan batu pertama pembangunan dilakukan pada Rabu 19 September 2019. Harapan KH. Salahuddin Wahid, dengan hadirnya RS. Hasyim Asy’ari ini di kawasan Pesantren Tebuireng selain membawa dampak positif kepada masyarakat, juga menjadikan Pesantren Tebuireng sebagai laboratorium ilmiah bagi siapa saja yang ingin menelitinya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan menjadi inspirasi bagi Universitas Hasyim Asya’ari ke depan membuka jurusan kedokteran.

 

3       Penerus Beliau

Penerus beliau dalam keilmuan di pesantren Tebuireng adalah:

     3.1      Anak-anak Beliau

  1. Irfan Asy’ari Sudirman (Ipang Wahid)
  2. Iqbal Billy
  3. Arina Saraswati


      3.2     Murid-murid Beliau

       Murid-murid KH. Salahudin adalah santri-santri di pesantren Tebu Ireng.

4      Jasa, Karya, dan Karir Beliau


    4.1      Jasa-jasa Beliau

    Jasa-jasa KH. Salahuddin Wahid sangat besar dan bermanfaat untuk bangsa dan negara, diantara jasa-jasa beliau adalah:

a. Menggagas Deklarasi Tebuireng untuk melawan budaya korupsi dengan para pemimpin lintas agama.

Jasanya dalam memberantas korupsi dituturkan Ketua Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (WP KPK) Yudi Purnomo Harahap. KH. Salahuddin Wahid menggagas Deklarasi Tebuireng untuk melawan budaya korupsi dengan para pemimpin lintas agama.
Keluarga besar pegawai KPK pun, kata dia, turut berduka cita atas wafatnya KH. Salahuddin Wahid.

"Semoga ke depan akan lahir sosok-sosok pewaris pemikiran beliau yang menjaga negeri ini dalam bingkai kebhinekaan, NKRI, dan menyuarakan gerakan antikorupsi," kata Yudi.

b. Sukses Redam Konflik Aceh

Kala Gus Dur menjabat presiden, saat Indonesia mendapat ancaman besar perpecahan bangsa, KH. Salahuddin Wahid diminta untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan ke wilayah Aceh. Ia membentuk komite kemanusiaan dan memimpinnya sendiri. Komite tersebut, pada akhirnya bisa dibilang cukup sukses meredam konflik yang terjadi di Aceh pada saat itu.

Kepeduliannya pada Aceh terus berlanjut, KH. Salahuddin Wahid mulai masuk dan menjabat di Komnas HAM. Beliau tak henti mendesak pemerintah untuk melakukan cara-cara damai dalam menangani konflik Aceh, sesuai prinsip penghentian permusuhan yang ditandatangani di Jenewa.

c. Meredam Konflik Ambon-Poso dan menjadi Tokoh Lintas Agama

Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP RI Romo Benny Susetyo mengenang kembali pertemuan dengan KH. Salahuddin Wahid bersama para tokoh, kala berdiskusi guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Papua.

"Bersama KH. Salahuddin Wahid waktu bertemu dengan para uskup Papua untuk mencari solusi perdamaian," ujar dia.

Sejak saat itu, Romo Benny dan KH. Salahuddin Wahid bersama-sama mendamaikan konflik Ambon dan Poso dengan tim lintas agama. Terakhir keduanya terlibat dalam gerakan moral para tokoh lintas agama mengingatkan kekuasan agar bertindak adil.

Menurut Romo Benny, almarhum KH. Salahuddin Wahid memiliki figur yang teduh dan pikiran jernih mencermati dinamika bangsa, juga konsisten dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan yang universal, dan selalu berupaya menjaga agar bangsa ini selalu tunduk konstitusi.

"Dalam dialog Tebuireng menjelang Pilpres, beliau berpesan agar bangsa tetap menjaga bhineka tunggal ika dan mengedepankan rekonsiliasi," tandas dia. 

    4.2      Karya-karya Beliau

Selain menulis di media massa, KH. Salahuddin Wahid juga banyak menulis buku. Karya-karyanya yang telah dibukukan, antara lain adalah:

  1. Negeri Dibalik Kabut Sejarah (2000)
  2. Mendengar Suara Rakyat (2001)
  3. Menggagas Peran Politik NU (2002)
  4. Ikut Membangun Demokrasi (2004)
  5. Berguru Pada Realitas (2011)
  6. Transformasi Pesantren Tebuireng (2011)
  7. KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Pandangan 2 Putranya (2015)
  8. Menjaga Martabat Islam (2015)
  9. Ibuku Inspirasiku (2015)
  10. Mengenal Lebih Dekat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (2018)
  11. Memadukan Keindonesiaan dan Keislaman (2018)
  12. Pesantren dari Zaman ke Zaman (sebuah makalah, 2019)
  13. Menjaga Warisan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (2020)​

   4.3      Karier Beliau

KH. Salahuddin Wahid memiliki jenjang karier sangat banyak, kecerdasan beliau, keilmuannya, dan kecakapan beliau banyak dipuji, sehingga banyak yang memerlukan beliau, berikut karier-karier beliau :

  1. Pengasuh Pesantren Tebuireng
  2. Calon Wakil Presiden 2004
  3. Wakil Ketua Komnas HAM (2002-2007)
  4. Anggota MPR (1998-1999)
  5. Penulis lepas pada berbagai media (1998-sekarang)
  6. Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996)
  7. Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997)
  8. Direktur Utama Perusahaan Kontraktor (1969-1977)
  9. Ketua Gerakan Integritas Nasional (2011-sekarang)
  10. Ketua PB Nahdlatul Utama
  11. 1999 Sekretaris Badan Pendiri Yayasan Wahid Hasyim
  12. 1985 Pendiri Yayasan Wahid Hasyim
  13. 1991-1994 Anggota Badan Pengawas Yayasan Baitussalam
  14. 1982-1991 Ketua Badan Pengurus Yayasan Baitussalam
  15. 1982 Pendiri Yayasan Baitussalam
  16. 1995 Ketua Panitia Lomba Karya Tulis IKPNI
  17. 1993-skrng Anggota Pengurus IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia)
  18. 2000-skrng Ketua Badan Pendiri Yayasan Frum Indonesia Satu.
  19. 2002-2005 Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
  20. 1998-1999 Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU
  21. 1998-1999 Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat
  22. 1995-2005 Anggota Dewan Penasehat ICMI
  23. 2000-2005 Ketua MPP ICMI
  24. 1999-2004 Ketua PBNU
  25. 2002-2005 Anggota Dewan Pembina YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia)
  26. 1995 Mendirikan Ikatan Konsultan Manajemen Indonesia
  27. 1994-1998 Ketua Departemen Konsultan Manajemen Kadin, Wakil dalam Pertemuan Konsultan Internasional
  28. 1993-1994 Pemred Majalah Konsultan
  29. 1991-1994 Sekretaris Jenderal DPP Inkindo
  30. 1989-1990 Ketua DPD DKI Indkindo (Ikatan Konsultan Indonesia)
  31. 1988-sekarang Anggota Persatuan Insinyur Indonesia.
  32. 1973-sekarang Anggota Ikatan Arsitek Indonesia
  33. 1966-1967 Dewan penurus Pendaki Gunung Wanadri
  34. 1964-1966 Wakil Ketua PMII Cabang Bandung
  35. 1964-1966 Komisariat PMII ITB
  36. 1967 Bendahara Dewan Mahasiswa ITB
  37. 1963-1964 Anggota pengurus Senat Mahasiswa Arsitektur ITB
  38. 1961-1962 Wakil Ketua OSIS SMAN 1 Jakarta
  39. 1957-1961 Kepanduan Ansor

 

5      Kisah Teladan

    5.1      Santun dalam Berbahasa

KH. Salahuddin Wahid juga selalu menyampaikan pesan-pesan sejuk, tidak pernah menyinggung perasaan orang lain bahkan berkata kasar, apalagi mencaci maki. Di zaman serba terbuka seperti sekarang, orang-orang seolah mendapat izin dan sebebasnya untuk mengajukan pendapat dan kritik. Namun, cenderung kebablasan. Bahkan menjadi cacian dan makian kepada orang yang berbeda sikap. Kenapa demikian? Lantaran ada contoh-contoh dari tokoh-tokoh yang agak militan dan mengesampingkan tata krama.

Sebaliknya, KH. Salahuddin Wahid, saat berbeda pendapat sekalipun, beliau menyampaikannya dengan santun dan bahasa yang sopan. Sebagai adik dari Gus Dur dan putra pahlawan nasional, bukan berarti KH. Salahuddin Wahid selalu sejalan seiring dalam memandang satu persoalan dengan Gus Dur.

Medio 1998, Gus Dur dan KH. Salahuddin Wahid saling berbalas pendapat melalui tulisan di media. Dua tokoh itu, kakak beradik memilih berdebat melalui tulisan pun dengan pilihan kata dan bahasa yang santun dan bernas. Rasanya, rindu pada suasana seperti itu, dimana tradisi literasi di kalangan tokoh bangsa sangat kuat, sehingga menjadi ‘santapan jiwa’ yang memperkaya khazanah berpikir dan bertindak.

    5.2        Pribadi yang Sederhana

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj mengenang sosok KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai pribadi yang berakhlak mulia, memiliki pembawaan tenang, dan sangat sederhana. "Gus Sholah pribadi yang sangat sederhana. Enggak glamor, enggak mewah, sangat sederhana," kata Kiai Said..

Menurut Kiai Said, kemajuan Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur tidak bisa dilepaskan dari KH. Salahuddin Wahid. Dalam hidupnya, KH. Salahuddin Wahid memiliki perhatian bagaimana mengembangkan pesantren yang didirikan oleh kakeknya, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari itu. "Semua perjuangannya, pemikirannya, upayanya untuk Pesantren Tebuireng, bukan untuk pribadinya," ucapnya.

    5.3         Toleransi

KH. Salahuddin Wahid dikenal sebagai tokoh bangsa yang selalu menjunjung toleransi. Dia pernah mengatakan apapun masalah yang kini dihadapi bangsa Indonesia, rasa toleransi antar sesama tidak boleh dilupakan.

"Intinya adalah toleransi, jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang tidak ingin kita lakukan pada diri kita sendiri, begitu," ujar KH. Salahuddin Wahid pada Agustus 2017.

KH. Salahuddin Wahid juga pernah mengingatkan umat muslim untuk tidak dengan mudah melabeli seseorang munafik. "Yang berhak menghakimi itu Allah. Kalau anda membuat pendapat seperti itu untuk diri anda sendiri saya setuju. Tapi kalau untuk orang lain saya tidak setuju. Anda tidak mempunyai hak untuk menghakimi orang lain," ujar mantan Ketua PBNU itu.

 

6         Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada September 1999 KH. Salahuddin Wahid mengundurkan diri dari PKU. Lalu pada Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH. Salahuddin Wahid ikut maju sebagai salah seorang kandidat Ketua Umum PBNU. KH. Salahuddin Wahid kemudian terpilih sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004. Pada Muktamar NU tahun 2004 di Solo, KH. Salahuddin Wahid yang ditawari kembali menjadi ketua PBNU menolak tawaran tersebut.

Keterlibatan KH. Salahuddin Wahid di NU sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Pada tahun 1977 ia bersama aktivis muda NU membentuk ”Kelompok G” yang kelak menjadi cikal bakal tim yang mempersiapkan materi kembalinya NU ke Khittah 1926. Namun keterlibatan itu baru diketahui publik sejak tahun 1990-an, dan semakin intens sejak tahun 2000-an.

 

7          Penghargaan

        Menerima penghargaan Indonesia Fundraising Award 2020 

 

8          Referensi

        https://tebuireng.online/

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya