02 Apr 2019 · 5.528 dibaca · Artikel Keagamaan
Laduni.ID, Jakarta – Kita tidak bisa memungkiri bahwa sebagian kawasan Timur Tengah silih berganti dilanda konflik. Tak jarang, di tengah gejolak itu, muncul seruan-seruan jihad dengan jalur kekerasan. Sementara di Indonesia, narasi jihad bersenjata lebih banyak diangkat oleh kelompok-kelompok kecil, bukan oleh para kyai pesantren.
Justru para kyai yang ilmunya mendalam cenderung enggan membahas topik-topik ekstrem seperti jihad dalam arti perang. Bukan karena tidak paham, melainkan karena sangat memahami risiko besarnya.
Di pesantren-pesantren, kitab-kitab klasik yang dikaji tidak serta merta memulai pembahasan dari bab jihad. Urutannya jelas: dimulai dari ibadah (ubudiyyah), kemudian transaksi atau sosial (muamalah), lalu bab nikah. Bab jihad baru dikaji jika santri sudah matang secara ilmu. Jadi, sangat keliru jika ada yang lompat langsung ke bab jihad tanpa membekali diri dengan pemahaman dasar.
Gus Baha memberikan penjelasan bijak berdasarkan sebuah hadits:
"Lisan akan disiksa dengan siksaan yang tidak dike
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+