Menelusuri Petilasan dan Berdo'a di Makam Sunan Prawoto Pati

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp 0. Donasi Sekarang
 
Menelusuri Petilasan dan Berdo'a di Makam Sunan Prawoto Pati

Penyebaran Islam oleh Wali Songo banyak tersebar di Pulau Jawa, salah satunya berada di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Letak Desa Prawoto sendiri berada di ujung selatan Pati dan berbatasan dengan Kabupaten Kudus dan Grobogan atau Purwodadi. Dari jantung kota Pati, jaraknya cukup jauh dan bisa ditempuh sekitar satu jam.
 
Sejarah Sunan Prawoto begitu legendaris dan dipenuhi dengan unsur cerita, kisah, dan mitos yang mistis. Wajar saja, tokoh yang bernama asli Raden Bagus Hadi Mukmin ini adalah raja terakhir dari imperium Kerajaan Demak Bintoro.

Sekilas Sejarah

Sunan Prawoto adalah raja keempat Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama aslinya ialah Raden Mukmin. Ia lebih cenderung sebagai seorang ahli agama dari pada ahli politik. Raden Mukmin Semasa Muda Naskah babad dan serat menyebut Raden Mukmin adalah putra sulung Sultan Trenggono. Ia lahir saat ayahnya masih sangat muda dan belum menjadi raja.

Pada tahun 1521 Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia tanpa keturunan. Kedua adiknya bersaing sengit memperebutkan takhta, yakni Sultan Trenggono dan Raden Kikin. Sultan Trenggono merupakan adik kandung Pangeran Sabrang Lor yang lahir dari permaisuri Raden Patah yang makamnya ada di belakang masjid demak, sedangkan Raden Kikin lebih tua usianya, tapi lahir dari selir, yaitu putri bupati Jipang.

Dalam persaingan ini tentu saja Raden Mukmin memihak ayahnya. Ia mengirim pembantunya yang bernama Ki Surayata untuk membunuh Raden Kikin sepulang Salat Jumat. Raden Kikin tewas di tepi sungai, sedangkan para pengawalnya sempat membunuh Ki Surayata.

Sejak saat itu Raden Kikin terkenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lepen, artinya "bunga yang gugur di sungai". Pangeran Sekar Seda Lepen meninggalkan dua orang putra dari dua orang istri, yang bernama Arya Penangsang dan Arya Mataram.



Sultan Trenggono memerintah Kesultanan Demak tahun 1521-1546. Sepeninggalnya, Raden Mukmin selaku putra tertua naik takhta. Ambisinya sangat besar untuk melanjutkan usaha ayahnya menaklukkan Pulau Jawa. Namun keterampilannya dalam berpolitik sangat rendah. Ia lebih suka hidup sebagai ulama suci dari pada sebagai raja. Selain Sunan Prawoto juga terdapat dalam catatan seorang Portugis bernama Manuel Pinto.

Pada tahun 1548 Manuel Pinto singgah ke Jawa sepulang mengantar surat untuk uskup agung Pastor Vicente Viegas di Makassar. Ia sempat bertemu Sunan Prawoto dan mendengar rencananya untuk mengislamkan seluruh Jawa, serta ingin berkuasa seperti sultan Turki. Sunan Prawoto berencana menutup jalur beras ke Malaka dan juga akan menguasai Makassar. Tetapi rencana tersebut berhasil digagalkan oleh Manuel Pinto.

Pada kenyataannya, cita-cita Sunan Prawoto tidak pernah terlaksana. Ia lebih sibuk sebagai ahli agama dari pada mempertahankan kekuasaannya. Satu per satu daerah bawahan, misalnya Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik berkembang bebas sedangkan Demak tidak mampu menghalanginya.

Selain Sunan Prawoto muncul dua orang lagi menjadi tokoh kuat sepeninggal Sultan Trenggono, yaitu Arya Penangsang dan Hadiwijaya . Masing-masing adalah keponakan dan menantu dari Sultan Trenggono. Pangeran Arya Penangsang adalah putra Pangeran Sekar Seda ing Lepen yang mendapatkan dukungan dari gurunya, yaitu Sunan Kudus untuk merebut takhta Demak. Pada tahun 1549 ia mengirim anak buahnya yang bernama Rangkud untuk membalas kematian ayahnya.

Menurut Babad Tanah Jawi, pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto. Beliau mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen. Beliau rela dihukum mati asalkan keluarganya diberiakan ampunan. Rangkud pun setuju. Dia langsung menikam dada Sunan Prawoto yang sudah pasrah.

Dan ternyata istri Sunan pun sedang berlindung di balik punggungnya, alhasil ia pun tewas pula. Melihat istrinya meninggal, beliau marah dan dengan sisa tenaga yang masih di punyai beliau sempat membunuh Rangkud

Letak Makam Sunan Prawoto
yang terletak pekuburan umum desa Prawoto,kecamatan Sukolilo,kabupaten Pati. Sunan Prawoto adalah raja keempat Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549.
 

Kuliner dan Oleh-oleh Khas Pati

1. Nasi Gandul

Masakan yang cukup melegenda dan hampir disetiap sudut dalam kota bisa kita temukan. Masakan yang dihidangkan dengan nasi putih ini terbuat dari kuah bersantan kental dengan rasa manis dan gurih, dalam menghidangkannya dialasi daun pisang bersendok suru atau sudu diberi potongan daging, babat, iso juga telur bacem. Tak lupa tempe garit yang digoreng renyah selalu menjadi pendamping utama dari nasi gandul



2. Soto Kemiri

Soto yang satu ini sama dengan soto santan lainnya ,tetapi yang membuatnya unik adalah cara penyajiannya dan juga lauknya. Nasi putih yang akan dihidangkan dalam mangkok di kopyok dengan kuah sotonya, sedangkan lauknya adalah daging ayam yang masih doro (remaja) jadi jangan kaget kalau melihat daging ayam yang disajikan terlihat mini alias kecil-kecil. Soto ini berasal dari desa Kemiri kecamatan Pati.



3.
Jangan Tewel (sayur nangka muda)
Yaitu sayur nangka muda berkuah santan dengan rasa pedas menggugah selera dalam penyajiannya di atas piring yang dialasi daun jati, satu yang membuat unik adalah lauk yang disajikan akan digoreng saat kita memesan nasi jangan tewel ini, jadi kita akan menikmati lauk yang masih hangat. Yaitu tempe goreng, ampela ati, keripik udang atau dadar telur. Masakan ini bisa kita temukan di desa Tambakromo wilayah Pati bagian selatan.



4. Petis Kambing Runting
Yaitu masakan berbahan dari sumsum tulang kambing atau di Pati biasa disebut balungan, daging kambing bagian iga biasanya juga dicampur jeroan. Uniknya adalah daging kambing ini dimasak dengan tepung beras yang disangrai yang disajikan bersama sate kambing. Disebut petis kambing runting karena masakan ini hanya bisa ditemukan di desa Runting Tambaharjo wilayah Pati bagian utara.