Biografi KH. Mas Alwi Abdul Aziz

 
Biografi KH. Mas Alwi Abdul Aziz

Daftar Isi Profil KH. Mas Alwi Abdul Aziz

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Pencipta Nama Nahdlatul Ulama (NU)
  4. Sosok Pemikir

Kelahiran

KH. Mas Alwi Abdul Aziz lahir pada sekitar tahun 1890-an di Surabaya. Beliau merupakan putra dari KH. Abdul Aziz yang masuk dalam keluarga besar Ampel, Surabaya.

Pendidikan

KH. Mas Alwi Abdul Aziz memulai pendidikanya dengan belajar di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Ketika belajar kepada Mbah Kholil, beliau satu angkatan dengan Kiai Ridlwan Abdullah, dan Kiai Wahab Hasbullah.

Kiai Ridlwan mengisahkan kepada putranya Kiai Mujib bahwa Kiai Wahab dan Kiai Mas Alwi adalah dua Kiai yang sudah terlihat hebat sejak berada di pondok, baik kecerdasan dan kepandaiannya. Kiai Mujib kemudian menyebutkan bahwa dua Kiai tersebut kemudian melanjutkan ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, kemudian ke Makkah termasuk juga Kiai Ridlwan Abdullah.

Pencipta Nama Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Mas Alwi Abdul Aziz, Surabaya. Nama ini tidak semasyhur Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah. Kiai Mas Alwi sosok yang sunyi, tetapi beliau orang penting dalam jejak lahirnya NU. Ayahnya, Kiai Abdul Aziz al-Zamadghon, seorang ulama besar pada jamannya, termasuk keluarga besar Sunan Ampel. Kiai Mas Alwi punya saudara sepupu yang juga masyhur, yakni KH. Mas Mansur Abdul Aziz, awalnya bersama Kiai Wahab dalam mendirikan tashwirul afkar, tapi kemudian pindah ke Muhammadiyah.

Kiai Mas Alwi Abdul adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama bersama Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Ridlwan Abdul dan lainnya, yang ketiganya bergerak secara aktif sejak NU belum didirikan. Beliaulah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Kiai Mas Alwi Abdul merupakan putra Kiai besar kala itu, yaitu KH. Abdul Aziz yang masuk dalam keluarga Ampel, Surabaya. Beliau pernah belajar di pesantren Syikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo lalu kemudian di Mekkah.

Sebagaimana disebut dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai’ As’ad Syamsul Arifin bahwa, sebelum tahun 1926 KH. M. Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jam’iyah Ulama, atau perkumpulan ulama. Saat didirikan dan mau diberi nama, para Kiai berpendapat dan mengusulkan nama-nama yang berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama.

Kiai Hasyim Asy’ari bertanya : “Kenapa ada Nahdlah, kok tidak Jamiyah Ulama saja?”. Kiai Mas Alwi menjawab : “Karena tidak semua Kiai memilki jiwa Nahdlah (bangkit). Ada Kiai yang sekedar mengurusi pondoknya saja, tidak mau perduli terhadap jamiyah”. Akhirnya para Kiai menyepakati nama Nahdlatul Ulama sebagai pilihan untuk nama sebuah organisasi sampai saat ini.

Sosok Pemikir

KH. Mas Alwi Abdul Aziz bersama Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Hasbullah dan saudara sepupunya Kiai Mas Mansur, turut membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon, dan Kiai Mas Mansur lah yang menjadi kepala sekolah sebelum terpengaruh pemikiran pembaharuan Islam di Mesir yang akhirnya menjadi pengikut Muhammadiyah.

Namun, setelah tersiar kabar bahwa Kiai Mas Alwi ikut kerja dalam pelayaran, maka beliau dipecat dari sekolah tersebut, akan tetapi sepulang dari Eropa beliau diterima kembali mengajar di Nahdlatul Wathon, dan justru Kiai Mas Mansur yang akhirnya dipecat oleh para Kiai karena telah terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh.

Saat merebaknya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi mempelajarinya ke Mesir, kepada Muhammad Abduh. Maklum, Mas Mansur adalah keluarga yang mampu secara finansial sehingga beliau dapat mencari ilmu ke Mesir. Sementara Kiai Mas Alwi bukan dari keluarga yang kaya. Oleh karenanya Kiai Mas Alwi berkata: “Apa sih yang sebenarnya dicari oleh Adik Mansur ke Mesir? Renaissance atau pembaharuan itu tempatnya di Eropa”. Maka beliau pun berusaha untuk mengetahui apa sebanarnya renaissance ke Eropa, saat itu beliau pergi ke Belanda dan Prancis dengan mengikuti pelayaran.

Di masa itu, orang yang bekerja sebagai pelayaran mendapat stigma yang sangat buruk dan memalukan bagi keluarga, sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan lain sebagainya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.

Setiba di tanah air, Kiai Mas Alwi dikucilkan oleh para sahabat dan tetangganya. Akhirnya Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di daerah Jl. Sasak, dekat wilayah Ampel untuk berjualan memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui beliau datang, Kiai Ridlwan mendatanginya, lalu Kiai Mas Alwi berkata: “Kenapa Kang, sampean datang kesini, nanti sampean akan dicuci pakai debu sama Kiai-Kiai lainnya, sebab warung saya ini sudah dianggap mughalladzah?”

Kiai Ridlwan bertanya: “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi pelayaran ke Eropa?”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Din Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)

Beliau melanjutkan: “Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan:

ۚالْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا ۚ

“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al-Maidah: 3).

Inti dari perjalanan beliau ke Eropa adalah menemukan hakikat renaissance yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan bertanya: “Dari mana sampean tahu?” Kiai Mas Alwi: “Karena saya berhasil masuk ke tempat-tempat perpustakaan di Belanda”. Kiai Ridlwan bertanya lebih jauh: “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” Kiai Mas Alwi menjawab: “Dengan menikahi wanita Belanda yang sudah saya Islamkan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya”.

Setelah Kiai Mas Alwi menyampaikan perjalanan beliau ke Eropa secara panjang, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam”. Kiai Ridlwan berkata: “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke sekolah Nahdlatul Wathon. Sebab saya sekarang sudah tidak ada yang membantu. Kiai Wahab sekarang lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya”.

Di pagi harinya, sebelum Kiai Ridlwan sampai di sekolah, ternyata Kiai Alwi sudah ada di sekolah Nahdlatul Wathon. Kiai Ridlwan berkata: “Kok sudah ada disini?” Kiai Alwi menjawab: “Ya Kang Ridlwan, tadi malam saya tawarkan warung saya ternyata laku dibeli orang. Makanya uangnya ini kita gunakan untuk sekolah ini”. Kedua Kiai tersebut kemudian kembali membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon.