Biografi KH. Muhammad Said Budairy

 
Biografi KH. Muhammad Said Budairy

Sekilas Sejarah

Muhammad Said Budairy dilahirkan pada tanggal 12 Maret 1936 menjelang subuh. Ia adalah anak ke-3 pasangan Budairy bin Kiai Idris dan Mutmainnah binti Kiai Ali Murtadlo. Kelahirannya disambut gembira oleh keluarga besar dan menjadi rebutan untuk memberikan nama. Karena kedua kakak Said meninggal saat dilahirkan. Kiai Idris memberi nama Tohir, namun kemudian yang digunakan adalah nama Muhtarom pemberian Kiai Alwi Murtadho.

Nama Muhammad Said Budairy adalah nama pengganti karena Muhtarom bayi sering sakit-sakitan. Menurut tradisi jawa, sakit-sakitan si bayi karena keberatan dengan yang diberikan. Hingga suatu hari datanglah seorang kiai dari Gentong, Pasuruan. Beliaulah yang mengganti nama Muhtarom dengan Said “Muhammad Said Budairy”.

Said menempuh pendidikan agama di Pesantren Bungkung Singosari. Sementara pendidikan umum didapat dari Madrasah lbtidaiyah Nahdlatul Ulama, Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama, dan SMA. Saat Malang mengalami situasi sosiai dan pemerintahan penuh gejolak, jalan-jalan dikuasai para ”Iaskar rakyat” pada 1947,

Said mengungsi ke Kediri di rumah KH Abu Suja. Di sana dia sempat mengaji. Keterlibatan Said di NU sudah sejak kecil. Semasa kanak-kanak, dia aktif di Athfal, organisasi kepanduan di bawah Gerakan Pemuda Ansor. Dia juga salah satu pendiri lkatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan pada 1954 menjadi ketua cabang Kabupaten Malang.

Saat muktamar pertama IPNU pada 28 Februari 1955 di Malang, dia bertemu Presiden Soekarno dan tokoh utama NU antara lain Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Masykur, dan Kiai Zainui Arifin. Tahun 1959 hingga 1961 dia menjadi sekretaris perwakilan pimpinan pusat IPNU. Pada tanggal 17 April 1960 di Kaliurang, Yogyakarta, bersama 12 pemuda, pelajar, dan mahasiswa NU, Said turut mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Hingga akhirnya ia dipercaya sebagai salah satu pelopor berdirinya organisasi mahasiswa NU yang kemudian disepakati dengan nama PMII. Keaktifannya di NU menghantarkan Said menjadi anggota DPR-GR/MPRS dari Fraksi NU. Dia pernah menjadi anggota MPR-RI (Badan Pekerja) fraksi PPP.

Said Budairy adalah cerminan sosok aktivis dengan tingkat keilmuan yang luas. Ia juga tidak diragukan lagi soal loyalitasnya terhadap organisasi.

Said Budairy tidak hanya dikenal dilingkungan PMII atau NU saja. Namun ia juga dikenal di komunitas lain. Ia merupakan sosok jurnalis cerdas yang sering memunculkan ide-ide cemerlang.

Muhammad Said Budairy wafat hari senin pada tanggal 30 November 2009, dan jenazahnya dikebumikan sore hari di area pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Pak Said meninggalkan seorang istri bernama Hayatun Nufus dan 3 orang anak.