Biografi K.H. Abdullah Faqih

 
Biografi K.H. Abdullah Faqih

Kelahiran

KH. Abdullah Faqih terlahir dari pasangan Kyai Rofi'i dan Nyai Khadijah. Pasangan ini dikaruniai 3 putra yaitu Abdullah Faqih, Khozin dan Hamim. Namun semenjak kecil kepengasuhan berada dibawah KH. Abdul Hadi Zahid, Pengasuh Ponpes Langitan generasi ke-4. Ini terjadi lantaran ayahanda beliau wafat semenjak KH. Abdullah Faqih masih kecil, kurang lebih umurnya 7 - 8 tahun sebagaimana yang dikatakan oleh KH. Muhammad Faqih putra beliau. Dan ibunya dinikah oleh KH. Abdul Hadi Zahid, semenjak itulah 3 bersaudara itu berada dibawah bimbingan KH. Abdul Hadi Zahid. KH. Abdullah Faqih sendiri lahir bertepatan pada tanggal 2 Mei 1932 M.

KH. Abdullah Faqih (lahir di Widang, Tuban, 2 Mei 1932 – meninggal di Widang, Tuban, 29 Februari 2012 pada umur 79 tahun) adalah seorang kiai atau Ulama yang berpengaruh serta pengasuh Pondok Pesantren Langitan.

Masa Menuntut Ilmu

Menurut KH Zaim Ma'shoem, pengasuh pesantren Kauman, Lasem, Rembang, saat masih menjadi santri, kepandaian Abdullah Faqih sudah terlihat menonjol di antara santri-santri lain. Karenanya, Mbah Kyai Bisri, pembina pesantren Al-Hidayat menunjuk Abdullah Faqih muda sebagai lurah pondok. Lebih dari itu, akhirnya beliau juga dijodohkan dengan putri Kiai Bisri yang bernama Nyai Khunainah. Pernikahannya mereka dikaruniai 12 orang anak. Kyai Faqih juga pernah tinggal di Makkah, Arab Saudi. Di sana ia berguru pada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayah dari Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Setiap kali tokoh yang amat dihormati kalangan kiai di NU itu berkunjung ke Indonesia, selalu mampir ke Pesantren Langitan.

Berikut beberapa guru-guru beliau :

Di Lasem
  1. KH. Baidhowi
  2. KH. Ma'shum
  3. KH. Fathurrahman
  4. KH. Maftuhin
  5. KH. Manshur
  6. KH. Mashduqi 

Di Bangilan

  • KH. Abu Fadhol serta guru-guru lainnya

Selain 2 tempat diatas juga pernah beliau menjadi santri di Pondok Pesantren lain seperti di Watu Congol yang diasuh oleh KH. Dalhar. Di tempat ini pula, pernah  mondok Abuya Dimyathi Pandeglang, Banten.

Sebagaimana para kiai tempo dulu, Faqih juga pernah tinggal di Makkah, Arab Saudi. Di sana ia belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayahnya Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Rupanya selama di Arab Saudi Faqih punya hubungan khusus dengan Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Buktinya, setiap kali tokoh yang amat dihormati kalangan kiai di NU itu berkunjung ke Indonesia, selalu mampir ke Pesantren Langitan. “Sudah 5 kali Sayid Muhammad ke sini,” tambah salah seorang pengurus Langitan.

Pesantren Langitan memang termasuk pesantren tua di Jawa Timur. Didirikan l852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang, Langitan dikenal sebagai pesantren ilmu alat. Para generasi pertama NU pernah belajar di pesantren yang terletak di tepi Bengawan Solo yang melintasi Desa Widang (dekat Babat Lamongan) ini. Antara lain KH Muhammad Cholil (Bangkalan), KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syamsul Arifin (ayahnya KH As’ad Syamsul Arifin), dan KH Shiddiq (ayahnya KH Ahmad Shiddiq).

Kiai Faqih (generasi kelima) memimpin Pesantren Langitan sejak 1971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut. Kiai Faqih didampingi KH Ahmad Marzuki Zahid, yang juga pamannya.

Di mata para santrinya, Kiai Faqih adalah tokoh yang sederhana, istiqomah dan alim. Ia tak hanya pandai mengajar, melainkan menjadi teladan seluruh santri. Dalam shalat lima waktu misalnya, ia selalu memimpin berjamaah. Demikian pula dalam hal kebersihan. “Tak jarang beliau mencincingkan sarungnya, membersihkan sendiri daun jambu di halaman,” tutur Choirie yang pernah menjadi santri Langitan selama 7 tahun.

Meski tetap mempertahankan ke-salaf-annya, pada era Kiai Faqih inilah Pesantren Langitan lebih terbuka. Misalnya, ia mendirikan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Dalam hal penggalian dana, ia membentuk Badan Usaha Milik Pondok berupa toko induk, kantin, dan wartel.

Lebih dari itu lagi, ayah 12 orang anak buah perkawinannya dengan Hj Khunainah ini juga mengarahkan pesantrennya agar lebih dekat dengan masyarakat. Di antaranya ia mengirim da’i ke daerah-daerah sulit di Jawa Timur dan luar Jawa. Setiap Jum’at ia juga menginstruksikan para santrinya shalat Jum’at di kampung-kampung. Lalu membuka pengajian umum di pesantren yang diikuti masyarakat luas.

Dalam hubungan dengan pemerintah Orde Baru, Kiai Faqih sangat hati-hati. Meski tetap menjaga hubungan baik, ia tidak mau terlalu dekat dengan penguasa, apalagi menengadahkan tangan minta bantuan, sekalipun untuk kepentingan pesantrennya. Bahkan, tak jarang, ia menolak bantuan pejabat atau siapapun, bila ia melihat di balik bantuan itu ada `maunya’. Mungkin, karena inilah perkembangan pembangunan fisik Langitan termasuk biasa-biasa saja. Moeslimin Nasoetion, saat menjabat Menteri Kehutanan dan Perkebunan dan berkunjung ke Langitan pernah berucap, “Saya heran melihat sosok Kiai Abdullah Faqih. Kenapa tidak mau membangun rumah dan pondoknya? Padahal, jika mau, tidak sedikit yang mau memberikan sumbangan.”

Tetapi bila terpaksa menerima, ini masih kata Effendy Choirie, bantuan itu akan dimanfaatkan fasilitas umum di mana masyarakat juga turut menikmatinya. Kiai Faqih, kata Choirie, juga tak pernah mengundang para pejabat bila pesantrennya atau dirinya punya hajat. “Tetapi kalau didatangi, beliau akan menerima dengan tangan terbuka,” tambah Choirie yang pernah menggeluti profesi wartawan ini.

Di mata anggota DPR ini, Kiai Faqih adalah sosok yang berpikir jernih dan sangat hati-hati dalam setiap hendak melangkah atau mengambil keputusan. Pernah pada suatu kesempatan, Gus Dur ingin sowan (menghadap) ke Langitan. Demi menghindari munculnya spekulasi yang macam-macam, apalagi saat itu menjelang pemilihan presiden, Kiai Faqih menolak. Justru dialah yang menemui Gus Dur di Jombang, saat Gus Dur berziarah ke makam kakeknya.

.