LADUNI.ID - Tiba-tiba tangan yang lembut bagai sutera menyentuh pundakku. Aku menoleh. O, aduhai, seorang gadis jelita dari Romawi. Aku belum pernah melihat perempuan secantik ini. Dia begitu anggun. Suaranya terdengar begitu sedap. Tutur-katanya begitu lembut tetapi betapa padat, dan sarat makna. Lirikan matanya amat tajam dan menggetarkan kalbu. Sungguh betapa asyiknya aku bicara dengan dia. Namanya menjulang, budinya begitu halus.
Begitu usai aku menyampaikan syair itu, perempuan itu mengatakan kepadaku:
عجبا منك. وانت عارف زمانك تقول مثل هذا
Aduhai tuan, kau telah memesonaku
Engkaulah kearifan zaman yang bicara seperti ini.
Selanjutnya mengalirlah dialog antara kedua orang ini dalam suasana mesra, saling memuji, mengagumi dan dengan keramahan yang anggun. Sang perempuan memberikan komentar-komentar spiritualitas ketuhanan secara spontan atas puisi-puisi Ibn Arabi di atas, bait demi bait. Sesudah itu ia memperkenalkan dirinya sebagai Qurrah al-Ain (cahaya mata) lalu ia pamit pulang dan melambaikan tangan sambil mengucapkan &ld
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+